FAKE WIFE

FAKE WIFE
bubur



"emmhh" masih dengan mata terpejam, Aruna mendudukkan tubuhnya yang terasa pegal dan kemudian meregangkannya.


Pluk


Aruna terkejut saat sesuatu jatuh kepangkuannya. Matanya terbuka dan melihat sebuah kain. Dia ambil kain tersebut dan masih terasa lembab. "siapa yang mengompres aku?" Gumamnya sembari menoleh kekanan dan kiri. Tapi tak ada seorangpun yang ada didalam kamarnya.


Lalu pandangan matanya terarah pada tangannya.


"Ssshh" Aruna yang melihat infus yang terpasang dipergelangan tangan nya meringis merasakan sakit, padahal tadi sebelum ia melihat infus tersebut Aruna belum merasakan apapun.


Klek


Pintu terbuka dan masuklah seorang wanita "oh anda sudah sadar nona?"


Aruna mengangguk "ya. Kamu siapa?" tanyanya sembari terus menatap lekat wanita dewasa itu. Sepertinya jika dilihat dari wajahnya usia mereka terpaut cukup jauh.


"Saya adalah suster yang merawat anda selama pingsan. Nama saya Delia nona"  jelasnya sekalian memperkenalkan diri.


Aruna mengangguk, sudah terjawab sudah pertanyaan siapa yang dengan telaten mengompres keningnya. Tadi sekilas ia berfikir jika Kenzo yang berbaik hati padanya dengan merawat dirinya selama sakit.


Cih.. mana mau pria itu mengurusi dirinya? Pasti sekarang ia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya.


Suster Delia memegang kening Aruna untuk memastikan suhu tubuhnya "ah syukurlah sudah tak panas."


"Oh bisakah kamu melepaskan infus ini suster Delia?" tanya Aruna yang merasa sudah baikan sekarang.


"Tunggu sampai infusnya habis, saya akan melepaskan nya" ucap Delia sembari tersenyum. Infusnya memang sedikit lagi habis dan keadaan Aruna memang sudah baik.


"Aku sudah tidak apa-apa!" ucap Aruna dengan keras kepala "kalau kamu tak mau melepaskan ini, aku akan mencabutnya sendiri"


Delia menghela nafasnya panjang "baiklah.. padahal anda seharian tidak sadarkan diri, kenapa keras kepala sekali" gerutu Delia tapi ia tetap menuruti ucapan Aruna.


"Eh... Benarkah?"


Delia mengangguk sembari melepaskan jarum infus yang menempel dipunggung tangan Aruna dengan hati-hati "benar, tuan Kenzo saja sampai panik karena anda tak bangun-bangun"


Aruna hanya bisa diam mendengar ucapan suster Delia. "Panik? "


"Terimakasih sus. Saya mau ketoilet sebentar" ucap Aruna saat infusnya sudah berhasil terlepas.


Suster Delia mengangguk "mari saya papah" ucapnya sembari mengulurkan tangannya.


Aruna menampik pelan tangan suster Delia "Ck.. saya sudah sembuh sus.." ucapnya menolak niatnya.


"Tapi nona, ini adalah tugas saya" tetap kekeh dengan pendiriannya. Jika nona yang ia rawat ini keras kepala ,ia juga bisa sama keras kepalanya dengannya.


Aruna menggeleng "aku bisa sendiri sus, jangan khawatir"


Suater Delia menghela nafasnya panjang lalu mengangguk "Saya akan keluar untuk mengambilkan makanan. Nona berhati-hatilah"


"Iya iya.." Aruna turun dari atas ranjang kemudian berjalan menuju toilet. Meski sebenarnya kepalanya masih cukup pusing tapi ia masih bisa menahannya.


Setelah beberapa saat Aruna keluar dari toilet. Wajahnya terlihat segar, sepertinya ia habis mencuci wajahnya.


Saat baru satu langkah keluar , Aruna memegang tengkuknya yang terasa merinding. Lalu gadis itu menoleh kearah sofa "astaga!" Aruna terkesiap dan memegang dadanya karena terkejut saat melihat tatapan tajam dari seseorang yang sedang duduk dengan angkuh disofa kamarnya. Pria yang tak lain adalah suaminya, Kenzo.


"Aku kira kau tak akan bangun lagi"


Aruna mengepalkan tangannya mencoba bersabar mendengar ucapan ketus dari Kenzo, dia mulai terbiasa akan sikapnya yang seperti itu  "tapi sayangnya saya bangun tuan" ucapnya berusaha semampu Aruna untuk tidak bergetar takut.


Terlihat Kenzo yang berdecih kesal saat Aruna berhasil menjawab ucapannya.


Aruna berjalan mendekati sofa, dia berdiri saja karena tak berani duduk.


Saat mendengar ucapan kesal Kenzo, Aruna langsung duduk dengan patuh. Dia menatap wajah Kenzo dengan takut "tuan"


Kenzo yang awalnya malas menatap mata hazel yang menurutnya begitu teduh itu akhirnya menoleh, dia mengangkat dagu.


"Maaf merepotkan Anda karena saya sakit"


"Memangnya apa yang aku lakukan sampai kau harus meminta maaf?" Pertanyaan dingin berucap dari mulut Kenzo.


"Saya sakit disaat anda berlibur bersama kekasih anda. Anda pasti sangat kesal karena saya anda jadi repot memanggil suster Delia untuk mengurusi saya" ucap Aruna dengan pelan dan menunduk.


"Cih.. Semua yang mengurus itu adalah Raka! Aku mana peduli padamu! Lebih baik aku berkencan dengan Laura"


Aruna mendongak dan dapat ia lihat kesungguhan ucapan Kenzo barusan  "mana ada orang yang mengkhawatirkan aku! Dasar suster sialan!"  Umpat Aruna saat merasa ucapan suster Delia adalah bohong adanya.


Mana mungkin Kenzo khawatir akan kondisi Aruna , yang ada dia pasti akan sangat senang jika ia sakit atau bahkan mati sehingga ia tak lagi terikat pernikahan dengannya. Konyol sekali saat ia sedikit mempercayai ucapan Delia tadi.


Tok tok tok


Aruna menoleh kearah pintu dan mempersilahkan untuk masuk. Suster Delia masuk dengan membawa nampan berisi satu mangkok bubur dan air hangat, tak lupa juga obat yang ada disisi gelas yang sudah diresepkan oleh dokter Thony.


Lalu Delia meletakannya didepan Aruna "mau saya suapi nona?" tawarnya dengan nada sopan.


"Dia bukan bayi! Kau keluarlah!" ucap Kenzo dengan tegas dan tak terbantahkan.


Delia yang sudah mengetahui sikap dan perilaku Kenzo mengangguk "baik tuan. Saya permisi" setelah berpamitan Delia keluar dari kamar. Karena sejujurnya ia selalu merasa tak nyaman jika satu ruangan dengan pria dingin seperti tuan Kenzo. Wajahnya sama sekali tak pernah ramah, dan terkesan mengintimidasi saat ia tak sengaja bersitatap dengannya.


Aruna menatap bubur yang ada didepannya saat ini. Melihat makanan tak berwarna dan becek itu membuatnya sama sekali tak bernafsu . Sudah bisa Aruna bayangkan rasanya seperti apa, pasti hambar dan tidak enak.


"Kenapa kau pelototi makanan itu?! Cepat makan bodoh!"


Aruna mendongak, dia menatap Kenzo dengan pandangan memohon "maaf tuan. Bisakah saya makan yang lain saja?"


"Biar aku suapi saja. Akan kusuapkan bubur itu beserta mangkoknya!"


Aruna terkesiap mendengar ucapan datar Kenzo. Dia dengan cepat mangambil mangkok tersebut saat melihat Kenzo hendak mengulurkan tangannya. "Saya bisa makan sendiri tuan. Terimakasih atas perhatian anda" ucapnya dengan memaksakan senyumnya.


Kenzo menyeringai melihat Aruna yang mulai menyuapkan bubur tersebut kedalam mulut. Dia tahu jika gadis itu tak menyukai makanan orang sakit itu.


"Hoeek.. benar-benar makanan ayam!" Batin Aruna menggerutu. Tapi ia berusaha untuk tetap menelannya meski dengan sedikit usaha.


"Awas kalau tidak habis!"


Aruna mendongak saat mendengar ucapan Kenzo yang kembali mengancam dirinya "hahaha mana mungkin aku tidak menghabiskan nya , ini sangat enak kok" ucapnya dengan wajah riang.


"Tidaaak.. ini sungguh tidak enak! Aku hampir muntah!" Batin Aruna berteriak.


"Kalau enak, aku akan menyuruh koki memasakkan bubur itu setiap hari untukmu"


Mata Aruna terbelalak mendengar ucapan Kenzo yang terdengar serius. Dia menatap panik Kenzo yang sekarang terlihat senang setelah ia berhasil membuat Aruna kalang kabut "tapi tuan.."


"Apa?! Mau membantah? Aku dengan berbaik hati mau mengabulkan keinginan mu yang tak terucap dari bibir mu itu. Seharusnya kau itu berterimakasih!"


Aruna menatap Kenzo dengan nanar. Sungguh dia merasa kesal setengah mati setelah mendengar ucapan Kenzo yang sepertinya sedang mempermainkan Aruna.


"Hahahaha.. dia lucu sekali" batin Kenzo tertawa melihat bagaimana lucunya reaksi wajah Aruna.


Tapi meski ia sedang senang, entah bagaimana Kenzo  bisa menguasai raut wajahnya. Kenzo memang sangat pandai menutupi perasaannya dengan cara mendatarkan wajahnya yang tampan itu. Kenzo paling jago dalam hal menutupi perasaannya sendiri.


Bahkan orang-orang yang mengenal Kenzo kesulitan untuk menerka suasana hatinya.