
Kenzo meminum kelapa muda miliknya dengan santai. Tatapan matanya yang tajam tak dapat Aruna lihat karena pria itu memakai kaca mata hitam.
Kenzo yang merasa diperhatikan menoleh, membuat gadis cantik itu sedikit terkesiap. Dia mengalihkan pandangannya kelain arah agar tak bersitatap dengan mata elang Kenzo.
"Kenapa kau memelototiku terus?!" tegur Kenzo dengan suara datar dan dingin.
Aruna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali lalu melirik kenzo lagi "oh. Tidak tuan, maaf" ucapnya sembari menunduk, apalagi Kenzo menurunkan sedikit kacamata hitamnya sehingga tatapan yang menurut Aruna begitu mengintimidasi dirinya terlihat. Hal itu membuat jantung Aruna berdetak dengan kencang, bukan karena jatuh cinta tapi lebih tepatnya karena ia merasa takut dan tertekan.
Tangan Aruna saling bertaut, menahan perasaan yang menyesakkan dadanya.
"Kau pergilah! Kenapa terus berdiri disini?! Kau membuat pemandangan didepanku menjadi jelek saja!"
Mata Aruna terbelalak, dia yang awalnya merasa takut berubah menjadi geram. Aruna mendongakkan kepalanya sehingga pandangan mata mereka kembali bertemu.
"Kenapa memelototiku lagi?!" Bukan lagi teguran, sekarang Kenzo membentak Aruna.
Aruna kembali menunduk. Gadis itu benar-benar tak berkutik dihadapan Kenzo.
"Ka-kalau begitu saya pergi saja tuan"
"Cih.. pergi saja kalau kau mau! Kau membuatku muak!" Ucap Kenzo seperti biasanya, ketus dan jengah. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah Aruna. Melipat tangannya didada.
Aruna mengangguk "saya permisi" setelah berucap seperti itu, Aruna pergi meninggalkan Kenzo.
***
Malam harinya..
"Tuan.. kapan kita kembali?" tanya Aruna pada Kenzo yang tengah duduk diruang santai dengan ponsel ditangan nya. Aruna memberanikan diri bertanya setelah meminta izin pastinya.
Kenzo sama sekali tak memandang gadis yang tengah bertanya padanya. Dia terlalu sibuk untuk membalas chat dari kliennya.
"Tuan.."
Kenzo menggeram membuat Aruna menghentikan ucapannya, gadis itu menghela nafas panjang saat menghadapi pria ini. Mencoba bersabar dan selembut mungkin agar lelaki yang menurutnya memiliki tempramen tidak jelas itu tak kembali marah. "Kalau anda hendak berlibur dengan kekasih anda, bolehkah saya pulang terlebih dahulu? Saya tak mau menganggu kalian"
Brak
Kenzo menggebrak meja. Hal itu membuat Aruna hampir saja berteriak karena terkejut. Dia memegang dadanya dengan spontan.
"Kau menganggu saja!" Pekik Kenzo.
"Maaf tuan" hanya permintaan maaf saja yang Aruna pikirkan, dia tak mau sampai membuat Kenzo bertambah kesal. Dia saja sudah gemetar takut sekarang, Aruna hanya bisa meminta maaf.
Menyesal. Satu kata yang tersemat dibenak Aruna. Kenapa juga ia memprovokasi pria mengerikan ini. Rasanya ia terasa sangat bodoh.
"Kau bicara apa tadi?"
Saat mendengar suara Kenzo tak terlalu dingin, Aruna menatap wajah Kenzo yang saat ini menatapnya juga, tapi hanya sekilas karena Aruna tak kuat menatap tatapan tajam pria ini.
Ponsel yang sejak tadi ditangan Kenzo sudah tergeletak diatas meja.
"Bolehkah saya pulang lebih dulu tuan?"
"Kenapa? Kukira kau menyukai tempat ini" Kenzo berucap dengan tenang. Tak ada amarah disetiap katanya. Tadi dia hanya kesal saja saat Aruna menganggu dirinya yang sedang membalas chat dari kliennya. Tapi saat melihat wajah terkejut Aruna Kenzo melembut, dia tak segalak tadi.
"Ah. Saya menyukainya, tapi tuan saya ada urusan. Dan lagi saya tidak mau menganggu anda dan kekasih anda tuan. Bolehkah saya pulang duluan" ucapnya sembari menautkan jari-jarinya. Dia panik sendiri padahal Kenzo hanya diam.
Kenzo memperhatikan wajah Aruna dengan seksama. "Ck.. aku malah suka kau berada disini"
"Aku senang saat melihat kau melihat kemesraanku dengan Laura. Bagaimana? Apa kau merasa dikhianati untuk yang kedua kali?"
Aruna menggeleng. Aruna memang tak merasa kesal atau bagaimana karena ia memang tak memiliki perasaan pada suaminya itu. Hanya perasaan kesal saat melihat Laura yang terlihat begitu arogan dihadapannya.
"Sial!" batin Kenzo mengumpat. Dia menatap tajam gadis yang terlihat jujur dengan jawabannya. Meski hanya menggeleng, tapi matanya berkata jika ia tak membual. Aruna memang tak keberatan jika ia bermesraan dengan wanita lain. Entah kenapa hal itu justru membuat Kenzo merasa kesal. "Oh aku tahu. Kau pasti sengaja ingin memperkeruh keadaan dengan pulang duluan kan? Kau mau ayah Leon memarahiku!"
Aruna menggeleng dengan panik "tidak tuan. Saya akan pulang kemansion saya, saya akan pulang saat tuan juga sudah pulang"
Kenzo menyeringai membuat buku kuduk Aruna berdiri. Dia merasa tatapan Kenzo kali ini begitu menakutkan, bahkan dua kali lipat saat ia sedang menatapnya sinis "kenapa aku merasa dia tengah merencanakan sesuatu"
"Kau tidak boleh pergi! Kau harus disini untuk melayaniku dan Laura!"
Nah.. benar bukan? Jika Kenzo merencanakan rencana jahat untuk dirinya.
Aruna mendesah pasrah, dia hanya bisa menuruti ucapan Kenzo karena memang ia tak bisa pergi dari sana sendiri. Pulau ini adalah pulau pribadi dan hanya bisa dijangkau menggunakan kapal ataupun helicopter. Tak ada jalur darat yang bisa dilalui sehingga Aruna hanya bisa menjadi gadis penurut hanya untuk beberapa hari kedepan.
**
Setelah berbicara dengan Kenzo. Pria itu benar-benar membuat Aruna seperti seorang pelayan. Aruna harus mengikuti perintah dari Kenzo dan kekasihnya itu.
Sudah dua hari berlalu, dan Aruna terus dikerjai oleh pasangan kekasih itu.
Dan hal yang membuat jengkel adalah Laura, wanita seksi itu terus memanfaatkan keadaan. Membuat harga diri Aruna terinjak-injak dengan menuruti semua ucapan Laura.
"Sialan! Apa aku sekarang sudah bisa disebut sebagai babu? Menyebalkan sekali" gerutu Aruna sembari mengaduk minuman yang Laura minta buatkan. Sudah dua kali ia mengganti minuman yang disemburkan oleh Laura karena katanya rasanya aneh.
Apalagi melihat tatapan senang Kenzo saat ia dikerjai oleh kekasihnya, membuat Aruna mengumpati pria itu sepanjang hari.
"Aish.. pria jahat itu benar-benar memanfaatkan ketidak berdayaanku" masih menggerutu. Dia ingat saat tidak mau melakukan pekerjaannya, tapi pria jahat itu mengancam jika gadis itu tak bisa kembali.
Dia akan membuat Aruna menetap dipulau ini.
Menghela nafasnya kasar. Aruna membawa dua juice yang ia buat kedepan. Meletakan didepan pasangan yang sedang saling lendot itu. Dalam hati Aruna berdecih kesal, kalau saja Aruna tak di ancam oleh Kenzo Aruna akan melemparkan minuman ini kewajah angkuh Laura.
"Sayang. Bagaimana kalau kita berlayar? Aku bosan" rengek Laura terdengar, membuat Aruna jengah setengah mati.
Kenzo tampak berfikir sejenak, lalu ia mengangguk hingga membuat Laura tersenyum senang.
Laura melirik istri sah Kenzo yang seperti pelayan itu. Menatap penuh kemenangan kearah Aruna . Meski ia bukan istri dari Kenzo tapi ia sudah seperti nyonya disana. Sedangkan si istri sah tak lebih seperti seorang pelayan saja. "hahahaha.. rasanya puas sekali melihat gadis itu menderita!"
"Kau ikut juga!"
Aruna menatap tidak percaya Kenzo. Padahal tadi ia ingin sekali beristirahat. Dan merasa senang saat mendengar jika mereka akan pergi. Tapi sekarang harapannya musnah saat mendengar ucapan datar Kenzo yang memintanya untuk ikut.
"Kenapa dia diajak sayang? Nanti menganggu kita" Laura segera menolak. Dia tak mau melihat batang hidung Aruna karena ia ingin menggoda Kenzo saat dikapal nanti.
Kenzo menatap tajam kekasihnya itu. Tatapan tajam itu mengartikan jika Kenzo tak mau dibantah. Dengan berdecak kesal, Laura mengalihkan pandangannya dari mata elang Kenzo "maaf" satu kata itu terucap karena merasa bersalah telah menyela keputusan Kenzo, Laura tahu sekali bagaimana sifat dan karakter Kenzo yang memang tidak suka dibantah.
Aruna yang melihat hal itu menarik sudut bibirnya, ternyata Laura tak bisa menyentuh keputusan Kenzo. Bisa dia lihat seperti apa hati Kenzo pada Laura.
Lalu Aruna menatap wajah Laura yang awalnya kesal menjadi takut.
"Dia saja takut setelah ditatap seperti itu. Apalagi aku yang masih baru mengenalnya, aku bahkan sampai hampir pingsan saat menatap mata tajamnya yang seperti mau menguliti ku"
Aruna memilih untuk menurut dan mengikuti perintah Kenzo agar hidupnya tenang.