
Aruna keluar dari kamar sudah dalam keadaan cantik. Dia memakai dress branded yang ada didalam lemari yang sudah disiapkan oleh Kenzo, dress tersebut membalut tubuhnya yang indah. Wajahnya ia rias dengan make up tipis namun justru itu membuat kecantikan Aruna semakin menonjol.
Aruna memakai sepatu heels yang senada dengan tas yang ia kenakan , jam tangan yang Aruna yakin harganya fantastis juga melingkari pergelangan tangannya.
Penampilan Aruna terlihat mahal dan berkelas saat ini, padahal biasanya meski ia adalah anak pebisnis yang cukup sukses Aruna selalu memakai pakaian yang cukup sederhana.
Kontras sekali dengan penampilannya saat ini, namun Aruna hanya bisa memakai semua yang ada diruang ganti karena ia memang tak membawa apapun setelah menikah dan memasuki mansion ini.
Semua kebutuhan Aruna sudah tersedia diruang ganti sehingga saat ia pulang untuk mengambil beberapa barang Aruna tak membawa pakaiannya sama sekali. Toh didalam lemari banyak sekali pakaian yang belum ia pakai.
Langkah kaki Aruna terlihat sangat anggun dan menawan ketika menuruni tangga.
"Waaah... Cantiknya kakak ipar ku"
Aruna yang baru saja sampai dilantai bawah menatap jengah Sky yang sedang menatapnya dengan berbinar. Dia sedang duduk disofa dengan ponsel ditangannya. Dan kemudian ia berdiri mendekati Aruna "kakak ipar mau kemana?"
Aruna memutar bola matanya jengah "menjauhlah dariku!" mendorong tubuh Sky agar menjauhi tubuhnya. Tapi dengan keras kepala Sky terus mengikuti langkah kaki Aruna.
"Mau kemana sih? Jangan bilang kakak ipar mau tebar pesona dimall" tuduh Sky seenaknya saat melihat penampilan Aruna yang cukup wow saat ini. "Nanti kak Kenzo murka loh"
Aruna berdecak lalu menatap jengkel Sky saat ia sudah sampai diteras "ck! Dasar lambe turah!"
Sky mengerucutkan bibirnya ketika Aruna mengatai dirinya "lalu.. kau mau kemana kakak ipar? Ayo biar ku antar"
Saat hendak menarik tangannya. Aruna menampik tangan Sky "tidak perlu!"
"Ish.. kakak ipar kenapa ketus sekali padaku." gerutu Sky terdengar mengeluh. Padahal ia memang benar-benar ingin dekat dengan wanita kakaknya.
Meski ia terlihat nakal saat berhadapan dengan Kenzo, tapi sejujurnya itu dia lakukan agar ia bisa dekat dengan kakaknya itu.
Meski Kenzo berkali-kali menolak kehadiran Sky, namun seiring berjalannya waktu Kenzo mulai terbiasa akan kehadiran Sky yang suka mengganggu dan kadang merengek padanya.
Aruna mengambil ponselnya saat mendapat notifikasi pesan. Setelah membaca, Aruna berjalan menuju pintu gerbang.
"Kakak ipar"
Aruna mendesah lagi saat menyadari jika Sky masih mengekori dirinya "ya ampun! Bocah ini" gerutu Aruna sembari menatap jengkel Sky. "Dengar ya bocah.. aku mau kuliah jadi jangan mengikuti ku lagi"
"Boleh aku ikut? Aku bosan dirumah" masih mencoba merengek dihadapan Aruna. Sky memang selalu seperti itu saat menginginkan sesuatu. Terus merengek agar keinginannya terpenuhi.
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain?"
Sky tampak berfikir sejenak "aku juga kuliah sih. Tapi nanti siang." ucapnya saat memikirkan agendanya hari ini. Dia menatap penuh permohonan sekarang "bawa aku ya? Aku ingin melihat kampus kakak ipar"
Aruna pada akhirnya mengangguk membuat pemuda itu tersenyum semringah. Walau dilarangpun Sky pasti akan ngotot karena ia memang mempunyai sifat keras kepala dan cenderung seenaknya.
"Ayo naik mobilku"
Aruna menggeleng "aku sudah dijemput" ucapnya sembari memberi isyarat jika mobil yang menjemputnya ada diluar gerbang.
Sky menatap Aruna dengan curiga "apa seorang pria?"
Aruna hanya diam dan memilih untuk pergi. Malas sekali meladeni ucapan Sky yang tak ada habisnya.
Dan saat keluar dari gerbang, mobil jemputannya memang sudah ada diseberang
jalan. Dengan seorang gadis yang duduk dicup mobil bagaian depan. Itu adalah Dara sahabat Aruna.
"Oh ternyata bukan pria. Tapi wanita yang seperti pria" ucap Sky mengomentari penampilan Dara yang menurutnya seperti seorang lelaki.
Aruna kembali menoleh saat mendengar Sky mengomentari penampilan Dara. Dia memicing tak suka.
Sky yang merasa salah bicara meringiskan giginya "tapi dia cantik kok" ralatnya supaya Aruna tak marah.
"Kenapa lama sekali?!"
Aruna menghela nafas "apa kau tak lihat sebesar apa mansion itu?! Aku berjalan dari pintu utama yang jaraknya sangat jauh makanya lama"
"Ck. Alasan saja! Kau pasti lama karena berdandan" gerutu Dara sembari turun dari cup mobilnya lalu ia menoleh kearah seseorang yang berdiri dibelakang Aruna "kau bawa siapa ini? Kenapa wajahnya seperti perempuan" ucap Dara mengomentari wajah Sky yang menurutnya seperti seorang wanita. Atau lebih tepatnya pria cantik.
"Apanya yang seperti perempuan! Justru kau yang seperti lelaki" karena jengkel dikatai, Sky membalas ucapan Dara tak kalah ketus.
Dara hanya berdecak dan menatap jengah Sky. Dia melipat tangannya didepan dada.
"Dia Sky adik iparku"
Dara mengangguk tapi saat melihat Sky yang berjalan mengikuti membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil "kau mau ikut?"
Sky mengangguk "iya. Sini kunci mobilnya! Aku saja yang nyetir" tangannya terulur dihadapan Dara.
Dara menampik tangan Sky "aku saja!"
Aruna menggeleng melihat interaksi Dara dan Sky, dia mengikuti Dara yang sudah masuk kedalam mobil "Sky! Kau tak masuk?"
Sky yang merasa kesal akhirnya masuk kedalam mobil, dibelakang. Karena Aruna yang duduk disamping Dara. "Oh harga diriku sebagai pria macho tercoreng gara-gara disupiri oleh wanita"
Dara yang mendengar gerutuan Sky menoleh kebelakang "heh.. wajah sefeminim ini memang cocok disupiri" ucapnya sembari menatap remeh Sky.
"What?! Dasar gadis sialan!" umpat Sky saat dirinya dikatai oleh Dara. Kalau saja ia tak penasaran akan kehidupan Aruna sudah pergi dia dari mobil gadis menyebalkan ini.
"Sudahlah.. jangan bertengkar terus! Ayo pergi" Aruna menengahi.
Mobil akhirnya pergi meninggalkan komplek mansion tersebut, cukup panjang perjalanan menuju jalan raya.
"Aku selalu heran dengan para pebisnis yang memiliki banyak uang. Kenapa mereka selalu memiliki mansion yang terpencil seperti ini. Untuk keluar dari area ini saja kita harus menempuh perjalanan hampir sepuluh menit" keluh Dara memecah keheningan.
Aruna menoleh "kau berbicara seperti ini seperti mansionmu tak jauh dari keramaian juga! Ingat Dara, kau juga salah satu anak pebisnis!"
"Hahahah benar juga. Mansionku tak berbeda jauh dengan milikmu. Dan aku juga sampai lupa jika memiliki ayah brengsek yang bekerja sebagai seorang pebisnis"
Sky membuka mulutnya mendengar ucapan kurang ajar dari gadis yang tadi berdebat dengannya.
Ia bahkan tak segan untuk mengatai ayahnya sendiri.
"Husstt.. jaga bicaramu itu!"
Dara hanya tertawa mendengar peringatan dari Aruna "apa kita langsung kekampus?" Ucap Dara bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Aruna menggangguk. "Iya. Apa kau sudah sarapan? Aku lapar"
"Belum. Nanti kita makan dicafetaria kampus saja"
"Aku juga lapar" Sky yang sejak tadi diabaikan ikut menimbrung. Dia melongokkan kepalanya kedepan sehingga sekarang kepalanya ada diantara Aruna dan Dara.
Dara melirik Sky jengah. Dan ia terlalu malas untuk menanggapi ucapan pria ini.
"Ck.. kalian jahat sekali tak mengajakku bicara. Aku terabaikan sejak tadi" keluh Sky terdengar tak terima.
"Heh.. aku bahkan lupa ada makhluk lain dijok belakang" ucapan Dara terdengar menyebalkan diteling Sky.
"Kakak ipar. Kenapa mulut temanmu ini sangat pedas? Aku sakit hati" ucap Sky sembari merebahkan kepalanya dibahu Aruna.
Aruna mendorong kepala Sky agar menjauh. Dia menoleh kebelakang "jangan kebanyakan drama deh!"
Sky pada akhirnya memilih diam. Dia tak lagi protes karena tadi Aruna menatapnya dengan kesal.