
Saat ini Sky dan Aruna serta Dara sedang berada dicafetaria kampus kedua gadis itu.
Makanan dan minuman sudah terhidang dihadapan mereka.
Suasana cafetaria ini lumayan ramai karena saat ini masih terbilang jam sarapan. Sepertinya banyak sekali mahasiswa yang tak sempat sarapan seperti Aruna.
Beberapa gadis terlihat memperhatikan Sky. Berbisik-bisik.
Jelas saja Sky menjadi pusat perhatian mengingat bagaimana bentuk wajahnya yang tampan serta badannya yang proposional.
Sky sangat berbanding terbalik dengan Kenzo.
Meski mereka memiliki ayah yang sama, tapi sangat kontras perbedaan antara keduanya.
Wajah mereka sama-sama tampan. Yang membedakan adalah sorot mata mereka yang berbanding terbalik.
Kenzo memiliki wajah yang jauh lebih berkarisma dan kuat. Hal itu karena wajahnya yang tampan itu dibalut dengan tatapan mata tajam dan mendominasi. Karena tatapan matanya itulah yang membuat siapa saja tak berani menatap wajahnya yang bisa dibilang sangat tampan.
Berbeda dengan Sky yang memiliki wajah tampan namun lembut. Senyumnya ramah dan bersahabat.
Karena itu membuat gadis-gadis disana sangat penasaran karena melihat betapa ramahnya seorang Sky.
Banyak yang penasaran siapa Sky karena mereka memang baru pertama kali melihatnya.
"Ck.. kita jadi pusat perhatian gara-gara banci ini"
Sky memicing mendengar ucapan ketus Dara. Apalagi kata terakhir menghina dirinya "Kalau kau terus menghinaku, aku tak akan segan melemparkan makanan ini kewajahmu yang jutek itu" ucap Sky sembari mengangkat makanannya. Membalas tatapan tak suka Dara dengan tatapan yang sama.
Aruna yang mendengar perdebatan antara dua orang itu tergelak. Dia mengaduk minumannya dengan sedotan. "Jangan marah. Dara juga bicara fakta. Wajahmu itu sangat mencolok sehingga membuat semua gadis disini penasaran"
Sky menatap Aruna dengan jengah. Meski ia tak memuji diri nya tapi ia juga membenarkan ucapan Dara. Hal itu membuat kesal "ck.. kalian berdua memang sangat kompak saat menghina aku ya"
Aruna kembali terkikik, dia mulai menyendokkan makannya. Mengunyah dengan pelan. Mengabaikan gerutuan Sky.
Setelah selesai, Aruna mengangkat tangannya untuk melihat jam berapa sekarang. "Sepertinya sebentar lagi kelas dimulai" dia mendongak dan menoleh. Menatap manik mata milik adik iparnya "kau pulang saja"
Sky menggeleng. Menolak ucapan Aruna. "Aku akan menunggu kalian. Kakak ipar kau harus mengantarku kekampus nanti"
Aruna memutar bola matanya malas "aku saja tak membawa mobil" ucapnya membeberkan fakta karena ia memang tak membawa mobil.
"Kan ada supir yang menganggur"
Dara menyernyit tidak suka saat Sky meliriknya. "kau urusi pemuda manja ini. Aku duluan kekelas" ucapnya sembari berdiri dari duduknya.
"Hey..!! Kau harus bertanggung jawab mengantarku"
Dara hanya angkat bahu cuek lalu pergi begitu saja. Mengabaikan Sky.
"Jangan kekanakan! Cepat sana pergi atau nanti kau dimakan oleh gadis-gadis disini"
Sky melirik kesekeliling. Benar apa yang Aruna ucapkan, semua mata wanita disana tertuju padanya. "Baiklah.. aku pergi"
"Good! Hati-hati dijalan adik ipar.." setelah mengatakan hal itu Aruna menepuk kepala Sky beberapa kali seolah ia sedang menepuk kepala anak kecil. Lalu ia pergi begitu saja. Meninggalkan Sky yang tengah loading akibat perlakuan Aruna padanya.
"Oi.. aku ini hanya berbeda dua tahun denganmu!" Pekik Sky tak terima saat kesadarannya kembali, namun diabaikan oleh Aruna.
Berdecak kesal karena ditinggalkan oleh kedua gadis yang bersamanya "mereka berdua benar-benar menjengkelkan"
Setelah itu Sky memilih untuk pergi karena beberapa gadis mulai mendekati dirinya untuk berkenalan. Meski ia terlihat ramah tapi Sky tak terlalu menyukai gadis yang berinisiatif dan agresif seperti itu.
Aruna dan Dara keluar dari dalam kelas setelah pelajaran telah selesai. Berjalan sembari mengobrol.
Dara memperhatikan wajah Aruna yang terlihat jauh lebih baik dibanding terakhir kali mereka bertemu. Dia sudah kembali ceria meski ia tahu jika hatinya pasti belum sembuh akibat penghianatan kedua orang yang ia sayangi.
Apalagi jika mendengar cerita bagaimana keadaan rumah tangganya membuat Dara merasa sedih. Tapi anehnya Aruna sepertinya tak terlalu keberatan akan kelakuan suaminya yang bisa dibilang brengsek itu.
"Mau langsung pulang?" tanya Dara saat mereka baru masuk mobil.
Aruna menoleh sembari memasang saltbelt kebadannya "aku mau beli buku dulu."
Dara mengangguk.
"Apa kau tak ada pekerjaan lain?"
Dara tampak berfikir sejenak "aku sebenarnya ada janji dengan seseorang"
Aruna menatap Dara dengan penuh selidik. "Siapa?"
"Ck.. kau seperti seorang kekasih yang curiga aku hendak melakukan perselingkuhan saja"
Aruna mengerucutkan bibirnya "aku kan memang pacarmu"
Dara menatap Aruna tak suka "Hoek.. jijik sekali mendengarnya!"
Aruna terkikik mendengar ucapan ketus dan terkesan kasar Dara. Aruna sudah terbiasa makanya ia tak akan marah "hehehe.. lalu siapa? Jangan membuatku mati penasaran makanya"
"Aku akan bertemu seseorang"
Binar mata Dara berubah sekilas tapi Aruna dapat menangkapnya. Sudah beberapa tahun berteman dengan Dara membuatnya paham akan perubahan ekspresi sahabatnya ini. Karena hal itu sungguh membuat Aruna penasaran sekali.
"Siapa? Cepat beritahu aku!"
"Oh Aruna.. kau tak pernah berubah ya?" ucap Dara remeh. Sahabatnya ini memang selalu tak sabaran dan akan mencerca banyak pertanyaan kalau apa yang ia mau tak dapat ia dapatkan. Dia mulai menginjak pedal gas mobilnya. "Aku hanya mau bertemu dengan klien ayahku saja"
Aruna mengangguk sembari beroh ria. Aruna paham karena Dara memang sudah bekerja di perusahaan ayahnya. Makanya tak heran jika ia menemui klien ayahnya karena ia sudah sering melakukannya.
Tapi yang menjadi pertanyaan nya adalah kenapa tadi ia melihat binar berbeda dari sorot mata Dara. Tapi mengingat bagaimana Dara, ia memilih diam. Tak terlalu kepo karena Dara tak menyukainya. Nanti ia pasti akan berbicara tanpa ia bertanya.
"Kalau begitu kau cukup mengantarkan aku saja. Jangan sampai kau terlambat dan
Membuat ayahmu murka"
Dara tergelak dan melirik Aruna "aku memang suka membuat ayah marah."
"Cih.. dasar anak durhaka."
Sesampainya didepan toko buku, Aruna melepaskan saltbelt lalu menoleh kearah Dara "thanks Ra" ucapnya sembari tersenyum. Dia beruntung masih memiliki satu orang sahabat yang selalu baik padanya.
Meski Dara selalu berbicara ketus dan apa adanya. Aruna sangat menyukainya. Dara adalah seorang gadis yang akan berterus terang meski itu adalah hal yang menyakitkan. Tapi meski begitu, Dara bukanlah sosok wanita munafik seperti Vivian.
"Hmm.. hati-hati saat menyebrang. Sorry aku tak bisa putar balik karena jauh" ucap Dara dengan wajah menyesal.
Aruna menggeleng dan tersenyum "iya.. aku juga bukan anak kecil yang harus diantar sampai didepan pintu. Sekali lagi terimakasih. Bye Dara.." ucapnya sembari melambaikan tangan.
Dara hanya mengangguk dan memperhatikan Aruna melalui jendela mobil. Sampai ia tak lagi melihat tubuh Aruna barulah ia pergi.