
Aruna pulang kemansion hampir senja. Dan setelah membersihkan diri, Aruna duduk disofa kamarnya. Duduk tenang dengan tatapan kosong. Rasanya ia masih tak percaya jika ia telah dikhianati oleh dua orang yang sangat berarti didalam hidup Aruna.
Hal ini sungguh memukul telak jantung dan perasaannya. Ada rasa marah dan benci, juga ada perasaan tidak rela jika orang yang sangat ia sayangi menusuknya dari belakang.
Merebut kekasihnya tanpa berperasaan. Ingin rasanya ia menemui Daniel dan Vivian. Akan tetapi apa yang Dara ucapkan benar. Dia tak mau menambah luka yang sedang menganga ini.
Tangannya terangkat. Meremas dadanya yang terasa nyeri. Rasanya ia seperti dihujam oleh ratusan pedang. Hatinya benar-benar hancur.
Dikhianati oleh dua orang yang sangat ia percaya sungguh membuat Aruna hampir gila.
"Mereka sangat jahat padaku"
Matanya memerah dan pandangan matanya kembali memburam saat air matanya hampir memenuhi pelupuk matanya kembali "tidak! Aku tak boleh lemah!" ucapnya sembari mengusap kasar matanya. "Mereka saja tak memikirkan perasaan ku kenapa aku harus sehancur ini?"
Menghela nafasnya beberapa kali. Aruna mencoba untuk menahan perasaan sakit ini.
Tok tok tok
Aruna mengusap matanya agar tak terlihat sembab. Dia melangkah mendekati pintu dan kemudian membukanya.
"Maaf nona tuan sudah kembali" ucap pak Ferdi sesaat setelah Aruna membuka pintunya.
Alis Aruna menyatu. Dia menyernyit dalam karena tak mengerti akan perkataan pak Ferdi.
"nona.. mari kita sambut tuan" ucapnya menjelaskan karena melihat wajah bingung Aruna.
"Hah.. apa dia yang mulia kaisar?" mata Aruna terbelalak saat ia menyadari jika dia telah salah bicara. Apalagi melihat wajah terkejut pak Ferdi. Aruna meringiskan giginya "hehehe aku hanya asal bicara pak. Sepertinya aku sudah gila"
Pak Ferdi terlihat menghela nafas panjang. Dia pun tak mengerti kenapa tuan mudanya itu menyuruh nona Aruna untuk menyambut kedatangannya "mari.."
Aruna memilih untuk segera pergi. Dia mendahului pak Ferdi.
Sesampainya didepan pintu utama. Mobil mewah milik Kenzo terlihat baru saja memasuki area mansion. Mobil tersebut berhenti didepan teras.
Aruna menautkan tangannya didepan tubuh saat melihat pak Ferdi membukakan pintu mobil untuk Kenzo.
Dia masih diam saat Kenzo datang menghampiri. Tatapan tajamnya sungguh hampir membuat Aruna tak nyaman. Dia berdebar tak karuan saat aura mengintimidasi Kenzo seperti sedang menyayat kulitnya.
"Selamat datang tuan" ucap Aruna sembari menunduk. Itu ia lakukan agar dia tak bersitatap dengan sorot tajam mata Kenzo.
Tanpa ia duga. Kenzo meraih dagunya. Mendongakkan wajahnya sehingga mau tak mau Aruna harus menatap mata tajam suaminya ini.
Kenzo masih diam. Dia memperhatikan wajah sayu gadis ini. Matanya sembab dan merah. Matanya juga menyipit menandakan jika gadis ini menangis lama.
Tentu saja lama, Kenzo saja sempat heran saat di cafe. Untung saja gadis ini tak menyadari kehadirannya, dan temannya itu sepertinya juga tidak memberitahu Aruna jika ia juga ada disana. "Kau menangis?"
Aruna menggeleng dengan cepat.
"Heh.. tidak? Lalu mata sembab ini kenapa?" Tanya Kenzo dengan nada ketus.
"I-ini"
"Ck.. jangan bohong!" Ucapnya membentak. Dia mencengkeram dagu Aruna dengan kencang. "Kau menangisi kekasihmu yang kabur?"
Mata Aruna terbelalak. Jika dilihat dari reaksi nya sudah terlihat jelas sekali jawabannya. Jika Aruna menangisi kekasihnya. "Cih.... Pria baji-ngan sepertinya tak pantas kau tangis bodoh!"
Kenzo melepaskan dagu Aruna dengan kasar. Dia meletakkan tas kerjanya ketangan Aruna.
Aruna menerimanya dengan gelagapan. Dia menatap punggung Kenzo yang masuk kedalam mansion tanpa menoleh sedikitpun.
"Siapa juga yang menangisi Daniel. Aku menangis juga karena dikhianati oleh dua orang yang aku percaya." gumam Aruna menggerutu. Dia memilih untuk segera menyusul Kenzo.
Didalam kamar. Kenzo sedang duduk disofa yang nyaman. Dia membuka dasi yang telah menyekiknya seharian, dia juga melepas dua kancing teratas agar ia bisa bernafas dengan leluasa.
"Gadis bodoh! Kemari kau!"
Aruna yang tengah meletakkan tas kerja Kenzo dengan panik berlari menghampiri Kenzo "iya tuan?"
Aruna mengangguk "baik"
"Kau mau kemana?" Tanya Kenzo saat melihat Aruna berbalik badan hendak pergi.
"Katanya anda mau saya menyiapkan air hangat?"
Kenzo berdecak "lepaskan dulu sepatu ku!"
Aruna yang terkejut membelalakan matanya "ma-maksudnya?"
"Ck kau tuli ya?!"
Aruna menghela nafasnya panjang lalu ia berjongkok didepan Kenzo. Melepaskan sepatu pantofel dan kaos kakinya juga. Dan setelah itu Aruna meletakan sepatunya dirak kemudian ia mengambilkan sendal rumahan untuk Kenzo.
Setelah itu, Aruna pergi kebathroom untuk mengisi bathub dengan air hangat. Gadis itu memperhatikan keran air dengan pandangan lelah "apa dia kira aku ini pelayannya?" gerutunya terdengar kesal.
Dengan perasan dongkol, dia menuangkan aroma terapi kedalam bathub. "Sabar Aruna.." ucapnya menguatkan diri meski sebenarnya ia sungguh merasa tertindas.
Aruna keluar dari bathroom. Dia mendekati Kenzo yang sedang bermain ponsel "airnya sudah siap tuan"
Kenzo mendongak, dia meletakkan ponselnya lalu berdiri berhadapan dengan Aruna "kau berguna juga rupanya" ucapnya dengan wajah puas. Puas telah mengerjai Aruna.
Aruna mengepalkan tangannya geram.
"Siapkan baju ganti untukku! Dan buatkan aku kopi"
Aruna mengangguk meski sebenarnya ia merasa kesal sekali.
"Kau kesal?" tanya Kenzo dengan santai.
Aruna memaksakan diri tersenyum "tentu saja tidak. Ini adalah tugasku sebagai istri untuk melayani suami"
Kenzo berdecak, dia merasa kesal saat diingatkan kembali jika mereka adalah pasangan suami istri "cih.. menjengkelkan sekali"
Aruna terhenyak saat Kenzo menabrak bahunya. Gadis cantik itu menatap kesal punggung Kenzo yang menjauh. "Kau yang menjengkelkan! Dasar tak tahu diri" ucap Aruna tapi setelah Kenzo masuk kedalam bathroom. Tentu saja Aruna tak akan berani jika Kenzo masih ada disana.
"Aku dengar Aruna William!"
Mata Aruna terbelalak mendengar pekikan dari dalam bathroom "maaf tuan.." Aruna juga memekik.
"Dasar bodoh! Awas kalau kau mengumpatiku dibelakang lagi"
"Tidak tuan, saya tidak berani"
Aruna menghela nafasnya panjang saat Kenzo sudah tak lagi berteriak, dia akan menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.
Aruna mengambil kaos dan celana pendek untuk Kenzo. Dia merentangkan dala-man milik pria itu, wajahnya memerah "sial! Aku merasa sangat rendah sekali sekarang" gerutunya sembari membejek-bejek dalam-an milik Kenzo. Dia merasa harga dirinya terinjak-injak saat Kenzo memperlakukan dirinya seperti pelayan.
"Sabar Aruna.. ini demi kesahatan ayah, aku harus bertahan!" gumamnya pelan sembari membuang nafasnya berkali-kali.
Aruna meletakan baju ganti milik Kenzo diatas tempat tidur. Kemudian gadis cantik itu pergi menuju dapur untuk membuat kopi.
**
"Ada yang bisa saya bantu nona?"
Aruna menggeleng saat pak Ferdi bertanya "aku hanya mau buat kopi untuk kak Kenzo" ucapnya. Dia akan memanggil kak pada Kenzo saat diluar, termasuk didepan pria paruh baya ini.
Pak Ferdi mengangguk dan menunjukan dimana mesin kopi berada, pria paruh baya itu memperhatikan dengan teliti bagaimana nona mudanya sedang meracik kopi yang katanya untuk suaminya.
Pak Ferdi cukup tertarik melihat bagaimana nona Aruna membuat kopi, karena gadis itu ternyata cukup jago membuat nya.
"Saya permisi pak"
Pak Ferdi mengangguk dan membiarkan Aruna membawa satu cangkir kopi ditangannya. Tatapan matanya memindai langkah Aruna yang semakin menjauh.