
Hari pernikahan seharusnya menjadi hari bahagia bagi setiap pasangan yang baru saja mengucapkan janji dan ikrar pernikahan.
Tapi berbeda dengan Aruna William dan Kenzo Smith yang menikah karena terpaksa.
Gadis cantik bergaun pengantin warna putih itu tersenyum hangat saat tamu undangan memberikan selamat untuknya.
Berbeda dengan Aruna yang masih bisa mengontrol raut wajahnya, suaminya yang bernama Kenzo Smith tidak demikian.
Pria tampan yang menggunakan jas berwarna senada dengan sang istri hanya berdiri kaku diatas pelaminan. Raut wajahnya datar dan dingin. Ketara sekali jika ia menikah karena terpaksa. Tak ada rona bahagia sedikitpun diwajahnya yang tampan dan mempesona itu.
Sesekali Aruna melirik pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
"Jangan menatapku!"
Aruna terkesiap mendengar suara bariton dan dingin Kenzo. Dia memilih untuk menunduk meratapi nasib sialnya ini. Bagaimana bisa ia menikah dengan pria mengerikan ini? Bukankah seharusnya Aruna menikah dengan pria yang sangat ia cintai? Daniel.
Daniel adalah kekasih Aruna yang kabur di hari pernikahan mereka dua Minggu yang lalu. Setelah kekacauan yang dibuat oleh calon suami Aruna, hal yang tak terduga pun terjadi dimana ayahnya mengalami serangan jantung.
Tubuhnya ambruk ketik melihat betapa hancurnya hati sang puteri tercinta.
Aruna menangis. Memeluk tubuh ayahnya yang sedang berusaha dibangunkan oleh ibunya.
Setelah dilarikan kerumah sakit, dan sudah sadarkan diri. Sang ayah seperti melemparkan nuklir yang menambah hancurnya hati Aruna.
Pria paruh baya itu memohon untuk dirinya menikah dengan anak sahabatnya yang sejak dulu ingin ayahnya kenalkan padanya.
Demi menutup malu wajah ayahnya akibat pernikahan nya yang gagal akhirnya Aruna mengangguk mengiyakan. Menerimanya meski berat hati, itu dia lakukan karena tak mau ayahnya bertambah sakit.
Meski dalam lisan ia begitu membenci Daniel. Sakit hati yang daniel berikan padanya belum juga mengikis rasa cinta Aruna padanya. Bodoh memang, tapi inilah yang Aruna rasakan. Menjalin hubungan selama dua tahun membuat perasaan cinta Aruna sangat besar padanya.
Kembali kepesta pernikahan.
Aruna seperti tertampar oleh kenyataan pahit saat melihat pria gagah yang berdiri disisinya bukanlah Daniel.
Sejujurnya jauh di lubuk hati nya ia mengharapkan Daniel bisa datang hanya untuk mencegahnya menikah dengan pria lain tapi sampai janji pernikahan terikrar Daniel tak kunjung datang. Padahal ia cukup berharap tapi yang ada hanya kekecewaan yang ia dapat.
"Aruna.. Selamat menempuh hidup yang baru" ujar seseorang yang yang baru saja menghampiri sepasang pengantin baru itu.
Aruna tersenyum dan memeluk wanita cantik yang baru saja memberinya selamat "terimakasih Dara" ucapnya membalas. Wanita cantik yang saat ini masih dipeluk oleh Aruna adalah sahabatnya.
Dara mengetahui apa yang terjadi pada Aruna. Sehingga ia menatap sendu sahabatnya itu. Lalu ia melirik pria tampan yang ada disisi Aruna dengan perasaan kalut karena ia mengetahui dengan pasti jika mereka menikah mendadak dan belum saling
Kenal. "Kuharap kamu baik-baik saja dan bahagia. Lupakan si breng-sek itu!"
Aruna mengangguk sembari tersenyum. Lalu ia mencari keberadaan seseorang. "Mana Vivian?" Vivian adalah sahabatnya juga.
"Dia tidak bisa datang. Vivian meminta maaf karena dia harus pergi keluar negeri bersama dengan keluarganya"
"Kapan dia berangkat? Kenapa tidak mengabariku?"
"Entahlah.. Akupun heran, tapi dia kemarin menelfonku dan mengatakan hal itu"
Aruna mengangguk sebagaimana jawaban.
Dara yang melijat ada beberapa orang yang hendak memberikan selamat pada Aruna segera bergeser, dia sedikit mendongak agar dapat melihat wajah suami sahabatnya ini.
Deg
Jantung Dara berdegup, dia langsung mengalihkan pandangannya saat matanya bertemu pandang dengan manik tajam pria tampan ini. Bukan karena ia suka, tapi tatapan mengintimidasinya sungguh membuta Dara takut "selamat tuan"
"Suami Aruna menakutkan sekali. Hiii.. lebih baik aku segera kabur" batin Dara sembari berlalu. Dara segera turun dari atas panggung. Dia ketakuan.
Aruna menghela nafasnya panjang saat melihat sahabatnya itu ketakutan, dia saja yang sekarang sudah sah menjadi istrinya tidak terlalu berani menatap mata tajam suaminya yang terasa begitu mengintimidasi.
Setelah acara pernikahan itu berakhir. Kenzo membawa Aruna menuju kediamannya. Sepanjang jalan Aruna hanya diam sembari terus meremas jemarinya. Rasanya sungguh tegang sekaligus takut.
Bagaimana nasibnya bisa sesial ini menikah dengan pria menakutkan yang ada disisinya.
Menghela nafasnya panjang untuk menguasai dirinya yang mulai pias. Saat mobil berhenti didepan sebuah mansion. Gadis cantik dengan berbalut baju pengantin itu terperangah melihat betapa besar dan mewahnya mansion yang ada dihadapannya sekarang.
Mansion ini juah lebih mewah dan besar dari mansion miliknya. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Kenzo yang berjalan tanpa mau menoleh kearah nya. Aruna mendengus melihat betapa dinginnya pria yang sialnya sekarang sudah menjadi suaminya.
Saat langkah kaki Kenzo berhenti, Aruna mengintip dengan menelengkan kepalanya kesamping. Beberapa pelayan berdiri berjejer menyambut kedatangan tuan rumah. Seorang pria paruh baya berdiri dihadapan Kenzo, dia menunduk "selamat datang tuan"
"Perkenalkan dirimu padanya!"
Pria paruh baya itu mengangguk dan kemudian sedikit mendongak.
Kenzo yang menyadari jika pelayanan nya itu kesulitan melihat Aruna, menolehkan kepalanya kebelakang lalu tangannya yang kokoh menarik bahu Aruna. Menarik istrinya itu agar berdiri disisinya.
"Selamat sore nona. Perkenalkan saya Ferdi. Saya kepala pelayan dimansion ini. Kedepannya jika anda memerlukan sesuatu anda bisa memanggil saya"
Aruna sedikit terkejut, tapi sejurus kemudian dia tersenyum "saya Aruna. Senang berkenalan dengan anda Pak Ferdi"
"Antar dia kekamar!"
"Baik.. mari nona saya antar kekamar"
Aruna mengangguk, tapi dia sekilas melirik suaminya.
"Kenapa? Kau mau aku menemanimu kekamar? Apa sudah tidak sabar tidur denganku?"
Aruna terkesiap dan menggeleng panik "tidak. Bukan begitu."
Kenzo hanya melengos dan pergi begitu saja. Dia hendak pergi menuju ruang kerjanya dari pada harus berduaan dengan gadis yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
"Mari nona"
Aruna yang sedang memperhatikan punggung kenzo terkesiap "oh iya.. hehehe ayo pak" ucapnya dengan riang untuk menutupi rasa kalutnya.
Pak Ferdi membawa Aruna kelantai dua.
Saat masuk kedalam kamar yang luas dan mewah itu, Aruna menatap sekeliling. Memperhatikan dengan seksama kamar yang nantinya akan menemani waktu malamnya.
"Semua kebutuhan anda sudah saya siapkan. Silahkan beristirahat nona"
"Tunggu.."
Pak Ferdi menghentikan langkahnya yang akan segera pergi dari kamar. "Iya nona. Ada yang bisa saya bantu?"
Aruna menatap ragu pak Ferdi "apa tuan Kenzo tidur disini juga?" ucapnya takut-takut.
Tapi bukannya terkesiap atau apapun pria paruh baya itu hanya mengangguk "tentu saja. Ini adalah kamar tuan Kenzo"
Duaar..
Hancur sudah harapan Aruna yang mengira jika dirinya akan tidur dikamar yang berbeda mengingat mereka menikah karena terpaksa. "Baiklah.. terimakasih pak"
"Jangan sungkan nona. Selamat beristirahat" ucap pak Ferdi sembari berlalu.
Aruna yang merasa tubuhnya lelah segera mendekati tempat tidur yang sedari tadi memanggil-manggilnya. Dia ingin ambruk saja dan tidur karena energinya terkuras habis dipesta pernikahan yang tak dia harapkan ini.
Setelah beberapa saat kalut dengan pikirannya, Aruna akhirnya benar-benar tertidur pulas diatas ranjang milik pria yang selalu membuatnya sesak nafas akibat tatapan matanya yang tajam selalu membuatnya ketakutan.