
Pagi hari yang cerah. Matahari mulai sedikit demi sedikit terbit. Suara kicau burung yang menyambut pagi terdengar sangat merdu.
Seorang gadis cantik bernama Aruna mulai mengerjap-erjapkan kedua matanya. Karena merasa silau, Aruna kembali memejamkan matanya. Mengusal pada guling yang sedang ia peluk dengan begitu nyaman. Sangking nyamannya Aruna jadi ingin kembali tertidur. "Ahh.. nyaman sekali . Aku seperti sedang memeluk manusia"
Manusia? Tunggu tunggu..
Kenapa gulingnya terasa berbeda dan seperti manusia? Dengan cepat Aruna membuka matanya lalu mendongak "aaaahhhkk.." pekikan melengking saat ia terkejut sedang memeluk seorang pria yang tak lain adalah suaminya. Kenzo juga meletakkan tangannya di atas pinggang ramping Aruna. Mereka sedang saling peluk satu sama lain.
Kenzo terkesiap dan langsung terbangun dari tidurnya "apa yang kau lakukan?!" pekik Kenzo yang merasa kesal akibat tidurnya yang terganggu.
"Kenapa anda memelukku?!" tanya Aruna sembari menatap tajam pria tampan yang sedang mengucek matanya. Dia terlihat sedang mengumpulkan nyawanya.
Kenzo berdecak, dia mendorong kepala Aruna agar menjauhi dirinya. "Kau yang mendekatiku!" ucap Kenzo sembari menunjuk Aruna. Kenzo menguap dan tampak tak peduli. Padahal Aruna tadi sangat marah.
"Eh.." Aruna terkejut karena memang ia yang mendekati tubuh Kenzo. Dia sudah berada ditempat yang seharusnya adalah tempat Kenzo.
"Dasar gadis bodoh! Kau yang mendekatiku malah kau menuduhku begitu?! Cih.. apa ini adalah caramu untuk menggodaku?"
Wajah Aruna memerah karena malu "maaf" gumamnya pelan sembari menunduk.
Kenzo hanya diam lalu turun dari atas tempat tidur. Dia hendak pergi kebathroom untuk membersihkan diri dari pada dia harus menatap gadis menyebalkan ini.
Aruna memukul kepalanya sendiri "bodoh! Bodoh! Bodoh!" ucapnya pada diri sendiri. Rasanya Aruna ingin tenggelam saja kedasar laut karena malu. Dia yang telah menuduh eh ternyata kenyataannya adalah ia yang tanpa sadar mendekati Kenzo saat ia sedang tidur.
Setelah hampir lima belas menit, Kenzo keluar dari dalam bathroom hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Hal itu membuat Aruna yang memang ada didalam kamar itu kembali menjerit.
"Bisakah kau tak berisik?! Kau teriak-teriak dari tadi" keluh kesal Kenzo sembari menatap jengah gadis yang tengah menutup wajahnya dengan tangan.
"Tapi anda telanjang. Aku terkejut" ucap Aruna. Padahal tempat ganti bajunya terhubung dengan bathroom, tapi kenapa ia keluar hanya mengenakan handuk saja? Apa dia sedang pamer tubuhnya yang kekar dan
proposional? Batin Aruna terus menggerutu.
"Apa kau tak melihat aku pakai handuk?!"
Aruna menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Kenzo. Walaupun dia menggunakan handuk tapi perutnya yang kotak-kotak kan terlihat. Dan lagi apa dia tak tahu kalau perbuatannya saat ini mengotori mata perawan Aruna?
Aruna memilih untuk berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju bathroom. Dia juga akan mandi dari pada ia harus melihat Kenzo dalam keadaan seperti itu.
Greb
Tangan Aruna dicekal oleh Kenzo saat gadis ini melewatinya.
Aruna menoleh "apa?" tanyanya tanpa mau menatap Kenzo.
"Ambilkan aku pakaian!"
Pada akhirnya Aruna menoleh dan menatap suaminya itu. Mengerutkan keningnya karena tak mengerti.
"Kau harus melayaniku!" Ucap datar Kenzo dihadapan Aruna.
Aruna yang mendengar ucapan ambigu Kenzo membelalakan matanya "Melayani? Maksudnya?"
"Ck kau bodoh sekali ya! Aku mau kau mengambilkan aku pakaian!"
Aruna menghela nafas panjang, dia mengangguk dan segera pergi keruang ganti baju. Dia memperhatikan sekeliling dimana baju-baju branded milik Kenzo tergantung.
Dia mengambil celana panjang berwana navi, kemeja putih lalu ia meraih jas dan dasi berwarna senada dengan celana. Aruna keluar dan memberikan baju itu keKenzo.
Kenzo menerimanya. Dia menatap tajam gadis yang terus berusaha mengalihkan pandangan matanya darinya. "Bersihkan dirimu! Kau bau sekali"
"What?!" Mata Aruna terbelalak . Dia secara spontan memekik karena dikatai bau oleh Kenzo.
"Cepat sana mandi! Kau hampir membuatku muntah!"
Dengan jengkel Aruna melengos dan berjalan menuju bathroom "apa hobinya itu membuat orang darah tinggi ya?! Sungguh menjengkelkan sekali"
Kenzo menyeringai "cih.. terlalu awal kau kesal. Aku akan menjadikanmu pelayan pribadiku" ucapnya sembari tergelak.
Kenzo harus mau menerima kenyataan bahwa Aruna benar-benar ia nikahi sekarang. Hal itu diluar kuasanya karena ayahnya mengancam akan mencabut nama Kenzo dari daftar warisan. Properti dan sebuah perusahaan besar yang maju akan ayah Leon berikan pada adik tiri Kenzo.
Dengan begitu Kenzo tak bisa berkutik. Karena dia tak sudi jika harta yang seharusnya miliknya akan diserahkan pada adik tirinya.
Kenzo menghela nafasnya panjang jika mengingat wanita yang ia cintai pasti sedang sedih sekarang. Rasanya ia ingin sekali pergi ke apartemen nya. Dia ingin menghibur kekasihnya yang semalam menangis disambung telefon.
Kenzo menatap pintu bathroom yang tertutup. Dia menyeringai tipis saat teringat akan gadis bodoh itu "akan kubuat kau tak betah tinggal disini. Dan pada akhirnya kau akan dengan suka rela meninggalkan mansion. Jadi aku tak perlu lagi repot-repot mencari alasan untuk meninggalkannya yang nantinya akan membuat ayah murka" ucap Kenzo.
Cukup lama Kenzo menunggu istrinya. Dia sampai berdecak kesal. Lalu saat Aruna keluar dari bathroom dia menatap jengah gadis yang tampak segar dengan balutan dress cantik yang membalut tubuhnya "kenapa lama sekali?! Kau mau membuatku terlambat kekantor hah?!"
"Apa aku menyuruhmu menunggu ku?"
Kenzo menggeram. Dia mencengkram lengan Aruna dengan kasar. Merasa emosi saat gadis yang biasanya diam dan takut padanya berani menjawab. Apalagi jawabannya terdengar begitu menyebalkan.
"Aw.. sakit" keluh Aruna. Tapi bukannya kasihan Kenzo malah menatap muak Aruna.
"Kau mau membuat ayahmu yang hampir mati itu tahu hubungan kita bagaimana?"
Aruna menggeleng. Benar apa yang Kenzo ucapkan. Kalau ayah Leon memberitahu ayahnya jika hubungannya dengan Kenzo tak berjalan dengan baik, Aruna takut jika nanti jantung ayahnya kembali sakit. "Maaf" ucapnya sembari menunduk.
Kenzo menghempaskan lengan Aruna "bawa tas itu! Kita keluar sekarang!"
Aruna mengangguk dan menuruti ucapan Kenzo. Dia mengambil tas kerja Kenzo kemudian ikut keluar.
Senyum manis Aruna tercetak saat melihat ayah mertuanya yang tersenyum hangat padanya. Senyum tulus itu mengingatkan nya akan ayahnya. "Selamat pagi ayah" sapa Aruna dengan lembut.
"Pagi"
Aruna menoleh kearah ibu mertuanya "selamat pagi Bu"
Ibu mertuanya itu hanya berdehem. Ketara sekali jika ia tak terlalu menyukainya. Lalu ia menatap seorang pemuda tampan yang juga duduk disana. Alisnya menyernyit karena dia tak mengenalnya.
"Hay kakak ipar. Perkenalkan aku Sky. Maaf kemarin tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian"
Aruna tersenyum saat pemuda itu menyapa dirinya terlebih dahulu "tidak papa" ucapnya dengan lembut. Tapi saat ia mendengar suaminya berdecih Aruna bingung.
Dia menoleh kearah Kenzo yang sudah duduk di kursinya. Aruna memilih untuk segera duduk dan kemudian melayani suaminya seperti kemarin. Hari ini Aruna melakukan nya dengan baik karena telah belajar dari kesalahannya kemarin.
Setelah ia mengisi piringnya juga. Aruna mulai menyantap sarapannya sembari sesekali mencuri pandang pada pemuda yang tadi mengaku bernama Sky. Dia sedikit penasaran siapa lelaki tampan yang sepertinya seumuran dengannya itu.
Tapi dari garis wajahnya, sepertinya Sky cukup mirip dengan Kenzo. Apa dia memang benar adik dari Kenzo? Sepertinya kemarin ibunya tak memberitahu dengan detail.
Ehem
Aruna yang tadi tenggelam dengan pemikiran terkejut saat mendengar deheman dari orang yang duduk disisinya. Dia menoleh.
"Jangan menatapnya!" bisiknya didekat telinga Aruna. Terdengar geram.
Aruna mengangguk "maaf"
"Wah.. apa yang kalian bicarakan? Kenapa bisik-bisik begitu? Aku jadi penasaran"
"Sky!" Tegur ayah Leon saat Sky berucap menggoda pasangan pengantin baru itu. Dia tak mau nantinya Sky membuat Kenzo kesal.
"Mereka sangat mesra, aku jadi iri ingin menikah juga"
Brak
Ayah Leon menggebrak meja. "Diam dan lanjutkan makanmu!"
Sky yang hendak menjawab ucapan ayahnya ia urungkan saat melihat tatapan tajam dari ibunya "maaf ayah.." hanya itu yang keluar dari mulut Sky.
Aruna memperhatikan situasi yang ada. Sarapan bersama dalam keluarga memang terlihat harmonis. Tapi siapa sangka jika hubungan mereka sebenarnya tidak terlalu dekat. "Tuhaan.. keluarga macam apa yang aku masuki ini?" batin Aruna sembari mengunyah makanannya.