FAKE WIFE

FAKE WIFE
Alasan Daniel pergi



Aruna meletakkan kepalanya diatas meja sembari menghela nafasnya panjang. Gadis cantik itu tengah duduk diteras depan mansion. Setelah kepulangannya dari rumah sakit, gadis itu merasa kesepian karena Sky entah pergi kemana.


Ibu mertuanya juga tak terlihat batang hidungnya sama sekali padahal sekarang sudah sore.


Dreet


Aruna membuka pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Dia menatap benda pipih itu.


"Dimana kau Aruna tralalala?" 


Aruna menghela nafasnya melihat isi pesan tersebut. Pesan yang baru saja dikirim kan oleh sahabatnya. Dara.


"Dirumah"


Tring


Seperti nya Dara memang sedang menunggu balasannya karena temannya itu langsung membalas chat tersebut. "Kemarilah. Aku sedang ada dicafe tempat biasa kita nongkrong" 


Aruna menatap jam yang ada dilayar ponsel. Masih pukul tiga sehingga ia memilih untuk datang "aku datang sekarang" ucapnya membalas. Aruna segera masuk kedalam mansion.


Saat masuk Aruna terkejut saat melihat pak Ferdi tengah berdiri tak jauh dari pintu. "Aku mau pergi pak"


Pak Ferdi hanya mengangguk dan membiarkan Aruna pergi ke kamarnya.


Setelah mengganti dress rumahan dengan celana jeans panjang yang dipadukan dengan kaos press body berwarna putih. Aruna mengambil tas kecilnya lalu keluar dari kamar.


Sesampainya diteras, Aruna kembali menyernyit melihat pak Ferdi yang berdiri dengan gagah didepan sebuah mobil mewah "silahkan nona" ucapnya sembari membukakan pintu belakang.


Aruna yang terkejut menatap wajah pak Ferdi. Padahal ia tak menyuruh kepala pelayan itu untuk menyiapkan mobil untuknya "tapi pak.."


"Silahkan nona.." potong pak Ferdi saat mengetahui nona Aruna hendak menolak. Dia tersenyum saat melihat nona mudanya masuk kedalam mobil meski terdengar decakan.


Lalu sebelum menutup pintu, pak Ferdi memberikan sesuatu untuk Aruna.


"Apa ini?"


"Nona bisa menggunakan kartu ini" ucapnya dengan sopan memberikan black card.


"Aku tidak membutuhkan nya pak"


Pak Ferdi memohon untuk Aruna menerima kartu tersebut. Ini adalah perintah tuan Kenzo.


Aruna menghela nafasnya panjang lalu menerima kartu tersebut. Walau ia tak memiliki kartu inipun, Aruna masih memiliki uang didalam kartunya sendiri. Dan lihatlah, ini adalah kartu kredit yang hanya dimiliki oleh kaum elit saja sebab jumlahnya memang terbatas.  "Terimakasih pak"


Pak Ferdi mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia menutup pintu mobil dengan hati-hati.


Aruna menjelaskan pada supir kemana ia akan pergi. Dan setelah mengatakan hal itu, Aruna hanya diam sembari menatap jalanan melalui jendela mobil.


Pikirannya berlarian entah kemana, bahkan saat ia sudah sampai dicafe Aruna tak menyadarinya.


"Sudah sampai nona"


Aruna sedikit terkesiap. Dia melihat kesekeliling. Ternyata benar jika dia telah sampai "terimakasih pak. Bapak boleh pulang lebih dulu"


"Saya akan menunggu anda nona sesuai dengan apa yang diperintahkan pak Ferdi pada saya"


"Terserah bapak saja.." malas berdebat ia memilih berucap seperti itu, Aruna keluar dan segera masuk kedalam cafe langganan nya. Cafe yang biasanya digunakan Aruna untuk nongkrong dengan sahabatnya.


Dara yang sudah disana, melambaikan tangannya saat melihat Aruna datang "Aruna.."


Aruna tersenyum kemudian berjalan menghampiri. Memeluk tubuh sahabatnya sekilas lalu ia duduk dihadapan Dara.


"Wajahmu lesu sekali. Seperti bukan pengantin baru saja" ejek Dara saat melihat wajah Aruna yang biasanya bersemangat kali ini terlihat lesu. Tak seperti biasanya.


"Ck.. mau ku timpuk hah?!" ketus Aruna berucap sembari mengangkat vas bunga kecil yang ada dihadapannya.


"Hahahaha.." bukannya takut, Dara malah terbahak. Tentu saja Dara mengetahui jika wanita cantik yang ada dihadapannya ini menikah karena terpaksa. Dengan orang yang menyeramkan pula, sungguh nasib Aruna sangat malang menurutnya.


"Aku yang memesan saat kamu bilang mau kesini"


Aruna tersenyum senang "kau memang sahabat terbaikku Ra.. Sini ku cium" ucapnya sembari berdiri kemudian duduk didekat Dara.


"Jangan macam-macam kau! Mau ku pukul hah?!"


Kali ini Aruna tergelak, dia mencubit pipi Dara yang langsung mendapatkan decakan sebal darinya. "Kenapa kamu memintaku datang kecafe?"


Dara menatap sinis Aruna "mentang-mentang sudah punya suami tampan, diajak nongkrong malah tanya kenapa"


Aruna kembali tergelak "suami dingin lebih tepatnya" setelah berucap seperti itu Aruna mendengus mengingat bagaimana perlakuan Kenzo padanya. Dia selalu ketus dan marah-marah saat dirumah.


"Sebenarnya aku datang kesini mau memberitahu sesuatu"


Aruna yang sedang menyesap minumannya menoleh. "Apa sudah ada kabar?"


Dara mengangguk ragu.


"Dimana dia sekarang?"


Dara menyerahkan ponsel miliknya. Dia menatap sendu sahabat baiknya ini yang telah dikhianati oleh dua orang yang dia percaya sekaligus. Dara telah mengumpulkan bukti-bukti tentang Daniel dibantu oleh temannya.


Deg


Mata Aruna membola melihat foto yang ada diponsel Dara. Dia mendongak dan menatap tak percaya pada sahabatnya itu. "A-apa ini serius Ra? Ini bukan foto editan kan?" tanyanya dengan suara bergetar. Dia menatap penuh harap jika apa yang baru saja ia lihat ini adalah palsu.


Dara menggeleng "Itu bukan editan"


Mata Aruna mulai memerah. Tangannya terkepal dan nafasnya mulai naik turun.


"Kalau mau menangis. Menangis saja.." ucap Dara pelan. Dia merentangkan tangannya agar sahabatnya itu masuk kedalam pelukannya.


Kata-kata Dara seperti sugesti. Aruna benar-benar meledakkan tangisannya didalam pelukan sahabatnya ini.


Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sahabat yang dia percaya bisa menusuknya seperti ini? Dan bagaimana bisa orang yang sangat dia cintai melakukan hal menjijikkan ini?


Berselingkuh? Mungkin kalau wanitanya bukan sahabatnya sendiri, Aruna tidak akan sehancur ini. Tapi ini Vivian, sahabatnya dari mereka bahkan belum mengerti apa itu Cinta. Sahabat nya yang ia percaya sama seperti Dara tega melakukan hal ini.


"Hiks.. hiks.. hiks.."


Dara menepuk punggung Aruna. Matanya juga memerah. Fakta yang baru saja ia berikan pada sahabatnya ini sungguh melukai dan menghancurkan hati Aruna.


Sebelumnya, Dara sedikit ragu untuk memberitahu Aruna akan tetapi ia tak mau sampai sahabatnya yang sudah menikah ini terus berlarut dalam kesedihan. Dara tahu sekali secinta apa Aruna pada Daniel.


Dia memilih untuk berterus terang sekarang. Cepat atau lambat itu akan sama saja kan rasa yang Aruna rasakan, jadi Dara memilih untuk segera memberitahunya sekarang.


Hancur? Sudah pasti, Dara tahu jika Aruna akan histeris seperti ini. Tapi ia harus memberitahu kan hal ini agar Aruna tak lagi meratapi nasibnya yang ditinggal oleh Daniel.


"Hiks hiks hiks"


Air mata terus luruh diwajah cantik Aruna. Gadis itu menumpahkan perasaan marah dan kecewanya pada Daniel dan Vivian dengan menangis.


Saat ini yang Aruna butuhkan adalah pelukan dari sahabatnya ini. Agar dia bisa kuat menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menghantam jantungnya.


Dara terus mengusap punggung Aruna. Dia memperhatikan sekeliling dimana orang-orang mulai berbisik-bisik membicarakan Aruna.


Dia mendengus dan kemudian padangan matanya tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang membuatnya terkejut setengah mati. "I-itu kan suami Aruna" 


Tatapan tajamnya sungguh seperti bisa menusuk dada Dara. Dara juga melihat disebelah Kenzo, ada seorang wanita cantik dan seksi sedang melendoti bahunya. 


"Ck.. semua pria sama saja!"  batin Dara sembari mengusap kepala Aruna, dia merasa kasihan sekali akan nasib buruk yang menimpa Aruna.


Diselingkuhi oleh kekasih yang dia cintai. Lalu ia juga diselingkuhi oleh suaminya sendiri, sungguh Dara tak membayangkan perasaan Aruna bagaimana.