
Aruna tersenyum senang saat memandang hamparan laut biru yang ada dihadapannya. Tangannya terlentang dan ia kemudian memejamkan matanya, merasakan angin yang menerpa wajah cantiknya. "Ah. Segar sekali" bergumam kecil kemudian membuka matanya. Netra hazel Aruna tampak bercahaya. Gadis itu benar-benar merasa senang karena ia diperbolehkan keluar.
Kakinya ia biarkan tela-njang. Dia berjalan santai menyusuri pantai.
"Ck.. aku ingin sekali masuk kedalam air" keluhnya sembari kakinya ia arahkan keair laut yang mulai mendekati nya karena terdorong ombak.
Aruna menoleh kearah villa, dia mendengus melihat Raka yang selalu mengawasi dirinya meski saat ini ia berdiri cukup jauh "ck.. apa sekarang seorang asisten melakukan pekerjaan seperti ini? Mengawasi pergerakan aku sejak semalam, membuatku kesal saja" gerutu Aruna.
Setelah menggerutu Aruna memilih untuk berjalan-jalan sampai kakinya sakit.
Gadis itu duduk dibawah pohon kelapa untuk beristirahat, berteduh karena hari semakin panas. Aruna kembali menoleh kearah villa dan Raka masih berada disana.
Aruna mendongakkan kepalanya keatas. Matanya berbinar melihat sesuatu. Lalu gadis itu menoleh lagi kearah Raka. "Raka! Sini" pekiknya sembari melambaikan tangannya. Memberi isyarat bahwa ia memanggil pria itu.
Raka yang melihat nona Aruna memanggil dirinya, berjalan mendekat. Dia segera menghampiri gadis itu. "Ya nona. Ada apa?"
Aruna yang sudah berdiri menunjuk kearah atas. Membuat pria itu menyernyitkan keningnya karena tak terlalu paham akan maksud nona mudanya ini.
Aruna berdecak "ck. Petikan aku buah kelapa!"
Mata Raka membola mendengar permintaan Aruna. "saya yang harus manjat pohon ini?" ucapnya sembari menunjuk pohon kelapa yang berdiri dengan gagah tak jauh darinya.
Aruna mengangguk dengan semangat "please..Aku mohon Raka" ucapnya sembari mengaitkan kedua tangannya didepan wajah. Ia sangat berharap jika Raka mau mengabulkan permintaannya "sepertinya segar sekali minum air kelapa ditepi pantai apalagi cuacanya sedang terik"
Raka menghela nafas berat "maaf nona" memilih untuk meminta maaf terlebih dahulu karena ia memang tak bisa memanjat pohon yang menjulang tinggi tersebut. "Saya tidak bisa naik untuk mengambil buah ini" meski agak malu, Raka mengakuinya. Jika ia memang benar-benar tidak bisa melakukannya.
Sorot mata memohon Aruna berubah menjadi kecewa. Hal itu membuat Raka merasa kasihan, apalagi sepertinya nona Aruna memang benar-benar menginginkan buah tersebut. "Tunggu sebentar. Akan saya panggilkan seseorang"
Mata Aruna kembali berbinar, dia mengangguk senang.
Setelah kepergian Raka, tak berlangsung lama Raka kembali dengan membawa seseorang yang mengikuti langkahnya. Ia juga membawa golok.
"Nona menyingkirlah dari sana. Dia akan memetikan buah untuk anda"
Aruna mengangguk dan kemudian menyingkir. Begitu juga Raka yang mengikuti nona Aruna, dia tak mau sampai buah kelapa itu mengenai kepalanya nanti.
Sekitar lima buah kelapa berhasil dipetik oleh pria berbadan kekar itu, sepertinya ia adalah salah satu bodyguard tuan Kenzo.
Dengan semangat Aruna mendekati pohon kelapa lagi saat pria yang memetikkan buah kelapa itu sudah turun. "Terimakasih" ucap Aruna sembari tersenyum.
Pria itu tertegun sebentar saat nona Aruna berterima kasih padanya. Apalagi ia juga tanpa sungkan tersenyum padanya "sama-sama." ucapnya sedikit malu. Merasa jika apa yang ia lakukan dihargai, dan itu dilakukan oleh nona mudanya. Hal itu terasa sangat istimewa.
Plak
Raka memukul lengan pria itu "sudah sana pergi!" ucapnya mengusir saat melihat senyum bodoh dari pria tersebut.
Pria itu mengangguk dan membungkuk dihadapan Aruna "saya permisi nona"
Aruna mengangguk dan membiarkannya pergi. Dia memilih untuk berjongkok "kau mengusir dia pergi, apa kau bisa membuka buah ini?"
"Kalau ini saya bisa nona" Raka ikut berjongkok dan mengambil golok yang ditinggalkan oleh anak buahnya itu.
Aruna tersenyum saat Raka memberikan buah kelapa itu padanya. "Terimakasih"
Raka mengangguk, pria itu mengalihkan pandangan nya kearah lain. Entah kenapa ia merasa nona Aruna sangat baik, Raka menyukai sifat gadis ini.
***
Setelah melakukan video conference bersama dengan rekan bisnisnya yang ada diluar negeri. Kenzo memilih untuk berjalan menuju balkon kamarnya. Balkon kamarnya ini menghadap langsung kelaut sehingga pemandangan indah selalu dapat ia lihat kapanpun ia mau. Pria tampan itu mengambil sebatang roko dan mulai menyulutnya menggunakan korek.
Kenzo menghisapnya perlahan lalu ia kepulkan asap roko miliknya keluar. Irish tajamnya menangkap keberadaan gadis cantik yang tengah berdiri ditepi pantai.
Alisnya menyernyit melihat celana yang ia kenakan sangat pendek. Aruna memakai hotpants yang cukup seksi sehingga kaki jenjangnya terekspos.
"nona Aruna merengek minta untuk keluar dari kamar"
Meski cukup jauh, tapi Kenzo dapat melihat wajah memohon dari ekspresi yang Aruna keluarkan. "Apa yang dia inginkan?" Tanpa sadar Kenzo begitu penasaran.
Gadis itu terlihat beberapa kali menghentakkan kedua kakinya, melompat kecil saat sepertinya keinginan nya dipenuhi oleh Raka. Jika ditelisik, Aruna memang memiliki sifat ceria. Dia beberapa kali tertawa senang.
"Oh jadi dia menginginkan buah kelapa" kembali berucap saat melihat salah satu bodyguard nya naik ke atas pohon kelapa. Kenzo mengelus rahangnya dengan ibu jari. Sepertinya ia sedang berfikir.
Seringai tipis muncul dibibirnya. Jika ia mengerjai gadis itu sepertinya menyenangkan. Kenzo masuk kedalam kamar, mengambil kacamata hitam dan langsung memakainya.
Kenzo terlihat dua kali lebih tampan saat memakai kaca mata, apalagi pakaian santai yang membalut tubuh kekarnya menambah kesan santai tapi tetap terlihat keren. Tapi jika dipikir-pikir sepertinya bukan karena apa yang Kenzo gunakan, tapi wajahnya yang diatas rata-rata makanya saat ia mengenakan apapun akan terlihat menawan.
Kenzo turun dari tangga, tak ia lihat batang hidung Laura membuatnya menghembuskan nafas lega, karena ia sedikit malas kalau sampai kekasih nya itu ikut dan nantinya merepotkan dirinya. Apalagi Laura selalu merengek menbuatnya sedikit jengah. Entah kenapa, tapi akhir-akhir ini Kenzo selalu tak nyaman berada disisi Laura.
Kenzo keluar dan langsung berjalan menuju tepi pantai. Menyusul Raka dan Aruna.
Saat sudah dekat, terdengar suara gelak tawa dari Aruna. Kenzo mempercepat langkah kakinya. Saat melihat dimana Aruna dan Raka duduk, Kenzo terdiam saat melihat wajah Aruna yang terlihat bahagia saat berbicara dengan Raka.
Tak terlihat tertekan atau ketakutan, yang ada hanya aura bahagia. Berbeda saat sedang berada didekatnya. Entah kenapa Kenzo merasa tidak senang.
Ehem
Aruna terkesiap lalu menoleh kearah Kenzo. Gadis itu langsung berdiri begitu pula dengan Raka.
"Ah. Tuan saya sudah diberi izin oleh anda boleh keluar kan ya.." ucap gadis itu dengan hati-hati. Mengingatkan fakta karena ia takut jika Kenzo lupa yang akhirnya nanti ia akan dihukum lagi.
Kenzo hanya menatap tajam gadis cantik itu. Membenarkan letak kacamatanya lalu ia duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Raka. Duduk dengan angkuh tanpa memperdulikan ucapan atau kehadiran Aruna.
Aruna berdecak pelan, dia menatap jengah pria menyebalkan yang sialnya sangat tampan dan hal yang lebih mengesalkan lagi Kenzo adalah suami Aruna. "Aku mau air kelapa"
Raka mengangguk saat mendengar permintaan dari Kenzo "akan saya bukakan"
"Aku tak bicara denganmu!"
Raka yang hendak mengambil golok mengurungkan niatnya. Dia menatap heran bosnya itu, apa dia mau membukanya sendiri?
"Aku mau minum air kelapa apa kau tak dengar?!"
Aruna terkesiap "a-apa aku yang harus membukanya?" tanya Aruna sembari menunjuk dirinya.
Terdengar dengusan dari bibir Kenzo. Lalu ia menoleh kearah Aruna, membuka kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Menatap tajam Irish Aruna "kau kira siapa yang kusuruh?"
"Oh baiklah, akan saya kerjakan" Aruna menggaruk tengkuknya yang tak gatal "kalau menyuruhku kenapa memalingkan wajah! Aku kan jadi salah paham" gerutu Aruna dalam hati. Dia berjalan menuju kearah kelapa, mengambil golok dan kemudian berjongkok.
Dia putar-putar kelapa hijau tersebut, lalu ia menatap golok yang terlihat sangat tajam yang ada ditangannya. "ini kalau tanganku ikut ketebas, bahaya" gumam Aruna. Gadis itu sama sekali tak tahu bagaimana caranya, meski tadi ia melihat Raka dan terlihat sangat mudah melakukannya tapi saat ia yang mencobanya kenapa sulit sekali.
Aruna menoleh kearah Raka "bantu aku" ucapnya tanpa mengeluarkan suara, Aruna hanya menggerakkan bibirnya tapi sepertinya Raka paham karena pria itu terlihat mendekat.
"Letakan tangan anda diatas kelapa nona.
Lalu mulai ayunkan golok itu keujungnya secara perlahan saja, karena takutnya nanti tangan anda terluka"
Kenzo merasa jengah akan kedekatan Aruna dan asistennya. "Kau saja Raka! Dia memang tidak berguna!"
Raka menoleh dan mengangguk, mengambil golok yang ada ditangan Aruna lalu membuka kelapa tersebut. Setelah terbuka, Raka memberikannya pada Kenzo.
Aruna menatap kesal lelaki yang tengah duduk santai diatas kursi dan menikmati kelapa mudanya "sepertinya dia puas sekali setelah mengerjaiku! Apa hidupnya akan hampa tanpa membuatku kesal?! Aku doakan semoga kau tersedak!"
Uhuk Uhuk..
Tanpa Aruna duga Kenzo benar-benar tersedak. Pria itu terbatuk.
Aruna menutup mulutnya dengan panik, bukannya merasa senang karena doanya langsung terkabul, ia malah terlihat ketakutan "astaga.. jangan-jangan aku adalah sipahit lidah, bisa-bisanya ucapan ku menjadi kenyataan"