
Pada akhirnya honeymoon yang menurut Aruna aneh ini akhirnya berakhir. Gadis cantik itu tersenyum saat pesawat yang membawanya telah lepas landas.
Aruna menatap jendela pesawat yang hanya menampakan langit hitam. Sembari menyandarkan tubuhnya kekursi mencoba untuk senyaman mungkin menikmati perjalanan yang sangat membosankan ini.
Untung saja Kenzo tidak berada di pesawat yang sama sehingga ia menjadi lebih nyaman, tidak bisa ia bayangkan jika Kenzo juga berada di pesawat yang sama. Pasti pria jahat itu akan terus mengganggunya.
Kilasan memori beberapa hari saat berlibur terlintas dibenaknya. Benar berlibur bukan honeymoon seperti apa yang ayah mertuanya siapkan untuknya dan Kenzo, acara berlibur yang sangat melelahkan menurutnya .
Diawali dengan dirinya yang sakit disana dan kemudian setelah sembuh ia bisa bersantai dan berjalan-jalan menikmati keindahan pulau. Tapi diakhir Aruna harus menelan pil pahit saat ia dijadikan pelayan oleh suami dan selingkuhan nya.
Bug
Saat perasaan kesal menguar Aruna memukul kursi yang ia tempati. Hal itu membuat Raka yang memang duduk tak jauh dari Aruna menoleh.
"Ada apa nona? Anda terlihat kesal?"
Aruna menoleh dan angkat bahu acuh. Lalu kembali menghadap kearah jendela.
Raka yang diabaikan menyernyit bingung "aneh" setelah bergumam seperti itu Raka
pada akhirnya pun mengabaikan nona Aruna karena wanita itu hanya diam saja.
**
Setelah sampai Aruna masih saja diam dan Raka yang biasanya pedulipun saat ini membiarkannya.
Aruna menatap pintu kamarnya, kalau saja bisa Aruna ingin sekali tidur di kamarnya yang ada dimansion orang tuanya. Tapi melihat bagaimana statusnya yang sudah berubah membuatnya mendesah frustrasi. Tak mungkin ia kembali saat dirinya sudah memiliki suami. Dengan pelan Aruna membuka handle pintu. Masuk kedalam kamar yang selalu membuatnya sesak karena bukan hanya dirinya lah penghuni kamar ini.
Saat masuk ke dalam kamar, tempat itu dalam keadaan remang. Hanya lampu tidur saja yang menyala, dapat Aruna lihat pria yang sudah terlelap dibawah selimut, pria yang berstatus suaminya.
Setelah berdecak kecil. Aruna memasuki bathroom untuk sekedar mencuci wajah kemudian melepas bajunya untuk diganti menjadi piyama tidur.
Setelah selesai dengan urusannya. Aruna kembali mendekati rajang. Dapat ia dengar nafas teratur dari Kenzo.
Wajahnya terlihat polos dan lugu saat tertidur.
Tak ada aura jahat atau tatapan sinis membuat Kenzo terlihat sangat tampan dan lebih manusiawi. "Kalau saja anda seperti ini saat terbangun, aku pasti akan jatuh hati akan ketampanannya yang tak bisa diabaikan ini" bergumam kecil. Kenzo memang memiliki wajah yang sangat tampan dan bahkan menurut Aruna lebih tampan dari seorang model.
Tapi ketampanan itu tertutup oleh tatapan matanya yang begitu mengintimidasi, tak ada seorangpun yang berani menatap lama wajah menawan Kenzo termasuk Aruna sendiri.
Saat Aruna menyadari ucapnya yang ngawur, Aruna menepuk mulutnya dua kali "dasar bodoh! Apa yang kau ucapkan barusan" gerutunya dengan kesal, dia mulai naik keatas tempat tidur dengan pelan karena takut membangunkan singa yang sudah tidur. Bisa gawat kalau sampai singa ini bangun dan nantinya akan menyulitkan dirinya. Aruna merinding membayangkan hal itu.
Gadis itu masuk kedalam selimut, dia kembali menatap wajah suaminya yang memang benar-benar menawan jika diperhatikan. Semakin ia memperhatikan wajah Kenzo akan terlihat semakin menarik.
Tidak! Aruna menggeleng.
Dia tidak boleh mengagumi wajah Kenzo, pria tampan selalu membuatnya patah hati contohnya Daniel. Mengingat mantan kekasihnya itu malah membuat mood Aruna hancur, sudah lelah ditambah badmood membuat Aruna merasa sangat jengkel sekarang "ck.." berdecak lalu mengambil guling untuk pembatas antara ia dan Kenzo lalu Aruna membelakangi Kenzo. Dia mulai memejamkan matanya dan berusaha melupakan wajah Daniel yang tadi tanpa sengaja terbayang dalam benaknya.
Entah sudah jam berapa saat Aruna merasakan tubuhnya tertarik kebelakang. Dan tangan kekar merengkuh tubuhnya. Gadis itu membuka matanya sebentar, dia ling-lung.
Tapi karena Aruna terlalu lelah dan mengantuk sehingga ia sama sekali tidak peduli dan memejamkan matanya kembali. Dan anehnya, Aruna merasakan kenyamanan yang pada akhirnya membawanya tertidur jauh lebih nyenyak dari biasanya.
**
Pagi harinya, Aruna yang baru saja tertidur beberapa jam terbangun. Dengan wajah yang masih mengantuk Aruna duduk, ia mengambil bantalnya dan ia letakan diatas pangkuan. Kemudian Aruna memeluk bantal tersebut dan merebahkan kepalanya disana. Membenamkan wajah kemudian menggesekkan wajahnya ke bantal beberapa kali.
Mata Aruna terbuka sedikit lalu kembali terpejam saat mencium aroma maskulin yang menyeruak didalam kamar, aroma maskulin ini membuatnya merasa nyaman dan menenangkan. Hampir saja ia terlelap kembali dalam keadaan duduk.
"Ck.. dasar gadis pemalas!"
Aruna meluruskan kepala lalu menoleh kesumber suara dimana Kenzo yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Sudah mengenakan setelan jas yang mahal dan rambutnya terlihat agak sedikit lembab tapi sudah disisir dengan rapi.
Ternyata aroma yang menenangkan yang baru saja ia cium itu berasal dari parfum Kenzo. "Ah. Anda sudah mau berangkat ya?" ucap Aruna dengan wajah polos yang terkesan lugu. Apalagi salah satu tangannya mengusap wajahnya yang terlihat cantik padahal ia baru saja terbangun dari tidurnya.
Kenzo yang tadi tertegun mengalihkan pandangannya, dia mendengus saat tadi tanpa sadar mengagumi wajah bantal Aruna. "Kalau masih mengantuk tidur lagi saja!" ucap Kenzo dingin seperti biasa.
Dia sedang memperbaiki letak dasi yang ia kenakan. Melirik Aruna yang terlihat hendak beranjak dari tempat tidur.
Aruna menoleh kearah jam dinding yang mana sekarang menunjukan hampir pukul tujuh pagi "Oh saya sudah tidak mengantuk tuan" dustanya karena sebenarnya ia memang masih mengantuk hanya saja ia yang memang penghuni baru mansion ini akan merasa tidak enak hati jika tak menyapa kedua mertuanya pagi ini.
Kenzo berdecak kemudian mendekati ranjang. Dia mendorong kening Aruna sampai membuat gadis itu terjengkang kebelakang. "Tidur!" ucap Kenzo dengan menekan dan penuh perintah, wajahnya serius saat mengatakannya sehingga Aruna hanya bisa mengangguk dengan patuh.
Pada akhirnya kantuknya juga sudah lenyap akibat perbuatan menjengkelkan Kenzo barusan.
"Kalau kau turun dari tempat tidur aku akan menghukum mu!" kembali mengancam dengan kata-katanya. Lalu dia mengambil tas kerjanya dan keluar dari kamar tanpa berucap apa-apa lagi.
Aruna mendesah kasar, dia menendang selimutnya "ck.. bagaimana aku bisa tidur lagi kalau dia memperlakukan diriku seperti itu!" gerutunya sembari turun dari tempat tidur. Merentangkan tubuhnya sembari menguap, dan ia kemudian membereskan kasur yang masih berantakan.
Setelah selesai Aruna masuk kedalam bathroom untuk mandi.
Aruna akan pergi kuliah karena beberapa hari ia sudah tak berangkat.
Setelah masuk, Aruna menatap wajahnya didepan cermin yang ada didepan westafel. Gadis itu mulai bengong sembari menatap wajahnya.
"Kenapa aku semalam merasa dipeluk seseorang?" bergumam kecil saat memori saat ia tidur bermunculan diotaknya.
"Apa tuan Kenzo yang.." mata Aruna terbelalak saat pikirkan nya melanglang buana memikirkan jika yang memeluknya semalam adalah Kenzo. Menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari ia pukul pelan "ck.. pikiran dari mana itu Aruna! Apa aku merasa begitu kesepian sampai mimpi dipeluk oleh seseorang?!"
Aruna membasuh wajahnya dengan cepat berkali-kali. Hal itu ia lakukan untuk menyadarkan dirinya akan pikiran ngawurnya barusan "kalau sampai tuan Kenzo tahu aku berfikiran seperti itu aku pasti akan ditertawakan olehnya!" masih menggerutu.