
Aruna memakan habis bubur dengan terpaksa karena tekanan yang diakibatkan oleh tatapan tajam Kenzo yang tak membiarkan dirinya melepeh bubur hambar tersebut.
"Good! Sekarang minum obat itu!" Ucapan Kenzo kambali menginterupsi.
Aruna hanya bisa menurut dan meminum obat tersebut.
Sedangkan Kenzo keluar kamar setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Aruna sudah meminum obatnya. Dia harus memastikan tubuh Aruna dalam keadaan baik setelah pulang honeymoon. Jangan sampai ayah Leon mengetahui jika Aruna sakit selama berada dipulau ini.
Kenzo memilih untuk segera pergi kekamar sebelah untuk beristirahat.
**
Aruna yang merasa bosan karena ia hanya berguling-guling saja diatas tempat tidur memilih untuk keluar dari kamar. Apalagi tubuhnya sudah baikan setelah ia diinfus.
Langkah kakinya berjalan menuju kearah pintu keluar.
Saat ia baru sampai disana , Aruna sangat mengagumi pulau yang baru saja ia datangi. Banyak rencana yang sudah Aruna susun dikepalanya.
Tapi karena tubuhnya yang tiba-tiba drop membuatnya harus beristirahat. Aruna bertekad akan menikmati keindahan pulau ini sekarang.
"Nona"
Aruna tersenyum saat melihat Raka yang sedang duduk dikusi yang berada diteras. Didepannya terdapat leptop yang masih menyala. Sepertinya pria itu sedang bekerja sembari menikmati keindahan pulau ini. Apalagi cuaca sore ini sangat cerah dan hamparan pasir putih dan pantai langsung terlihat dari sana.
"Anda mau kemana? Bukankah Anda sedang sakit?"
Aruna menggeleng "aku sudah sembuh. Bolehkah aku berkeliling untuk melihat-lihat sekitar?"
Raka menutup leptopnya dan kemudian berdiri "biar saya temani"
Aruna menggeleng dengan cepat. Aruna juga melambaikan tangan kekanan dan kiri sebagai jawaban jika ia keberatan "tidak perlu!"
"Abaikan keberadaan saya nona. Saya akan menjaga jarak"
"Ck.. aku hanya mau kepantai dan melihat sunset. Kau cukup duduk disini aku tak akan pergi jauh juga"
Raka memperhatikan penampilan nona Aruna. Sepertinya ia memang sudah mempersiapkan segalanya dengan menggunakan celana panjang juga hoodie oversize yang melekat ditubuhnya. Menghela nafasnya panjang lalu mengangguk "baik. Pergilah nona"
Aruna tersenyum dengan lebar membuat Raka tertegun. Ternyata nona mudanya memiliki lesung pipi dan terlihat ketika ia tersenyum dengan lebar. Sangat cantik sekali. "Eh" garuk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal saat otaknya berfikir lancang.
Raka memperhatikan punggung Aruna yang semakin menjauh. Gadis itu terlihat sedang menikmati indahnya pantai yang berpasir putih itu.
***
Aruna tersenyum senang saat dia sampai ditepi pantai. Jaraknya tak terlalu jauh, bahkan jika ia menoleh kebelakang Raka si asisten Kenzo itu masih terlihat.
Kepalanya lurus menghadap kedepan. Menatap ombak yang terlihat lari berkejaran. Angin yang lumayan kencang menerbangkan rambut panjang Aruna.
Langit sudah terlihat berwarna jingga, sebentar lagi matahari juga akan kembali keberadaban.
Lalu Aruna duduk diatas pasir putih. Melepaskan sendal jepit yang ia kenakan agar kakinya yang halus menyentuh pasir. Kakinya tertekuk. Aruna memeluk lututnya sendiri kemudian merebahkan kepalanya disana.
Dia akan duduk disana sembari menatap matahari yang terlihat seperti hendak tenggelam kelaut. "Heh.. senja mengajarkan ku bahwa sesuatu yang indah hanya bersifat sementara" ucapnya bergumam sembari mengingat bagaimana hubungannya yang kandas dengan Daniel.
Yah... Aruna mengakui jika saat bersama dengan Daniel Aruna merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu ternyata tak bisa selamanya ia rasakan. Itu seperti kebahagiaan semu.
Hubungannya dengan Daniel yang menurutnya lurus-lurus saja tanpa ia duga harus hancur akibat laki-laki itu tidak datang keacara pernikahan mereka. Hal itu sungguh meremukkan hati dan perasaan Aruna.
Pernikahan yang selama ini ia impikan harus gagal dengan meninggalkan luka dan trauma untuk Aruna.
Hubungan yang terjalin baik ternyata retak akibat hadirnya orang ketiga.
Aruna mendesah kesal saat lagi-lagi kenangan buruk yang terjadi belum lama ini kembali menguasai pikirannya. Selama dua tahun ia menjalin hubungan dengan Daniel tak ada kecurigaan apapun karena ia memilih untuk mempercayai Daniel seutuhnya.
Terlalu naif dan bodoh memang jika sekarang Aruna pikirkan. "Hahahaha.. aku memang tolol tak tertolong karena jatuh cinta" bibirnya tertawa tapi matanya berkaca-kaca. Menandakan jika ia masih belum baik-baik saja. Hatinya masih saja perih padahal ia sudah berjanji pada Dara jika dirinya akan tegar.
"Nona"
Aruna menoleh saat mendengar Raka memanggilnya. Tapi sejurus kemudian Aruna menatap kedepan lagi "Dia seperti senja. Terasa menyenangkan namun tak bertahan lama" ucapnya sembari meremas dadanya yang terasa nyeri. Rasa cinta yang ia rasakan memang bisa digambarkan seperti kata yang baru saja Aruna ucapkan.
Dapat Raka dengar suara getir dan sedih dari ucapan nona Aruna barusan. Tatapan mata Raka melembut saat melihat kesedihan yang ketara diwajah cantik itu.
Aruna menoleh kearah Raka lalu terkekeh saat menyadari jika ia telah berbicara ambigu yang kemungkinan membuat Raka bingung "hehehe.. maaf ya, aku malah bicara melantur seperti tadi. Jangan dipikirkan ya"
Aruna menghela nafasnya panjang untuk menguasai dirinya. Lalu ia kembali memberanikan diri menatap manik mata Raka "ada apa Raka kemari?"
"Oh.. saya disuruh tuan untuk memanggil anda kembali"
Aruna menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan. Dia harus melupakan pria brengsek yang selalu membuat hatinya kacau.
Terlebih sekarang ia harus bekerja keras untuk bertahan hidup disisi Kenzo. Pria berdarah dingin yang selalu menatapnya dengan datar itu selalu membuat Aruna ketakutan.
Aruna berdiri dari duduknya lalu memukul pantatnya agar pasir putih yang menempel dicelananya jatuh. Dia menoleh kearah teras dimana Kenzo tengah berdiri dengan gagah disana. Tatapan matanya seperti biasanya, tajam dan membuat bulu kuduk nya berdiri. "Raka.. bagaimana kau bisa tahan bekerja bersama pria mengerikan sepertinya?"
Raka sedikit terkesiap mendengar pertanyaan tak terduga dari istri tuannya ini "saya sudah lama bekerja bersama tuan jadi sudah terbiasa."
"jika bekerja bersama pria angkuh seperti nya pasti sangat merepotkan kan?" ucap Aruna menerka.
Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Aruna. Raka memang selalu kerepotan oleh sifat dan karakter bosnya itu. Akan tetapi ia masih bertahan demi gaji yang besar. Meski tak jarang ia terkena omelan dari Kenzo tapi Raka masih bisa menahannya karena kinerja dan stabilitas Kenzo selama ini sungguh luar biasa. Hal itu juga yang memotivasi Raka agar ia bisa bekerja lebih giat dan bekerja sama kerasnya dengan tuan Kenzo.
"Tidak kok. Tuan sangat baik sebenarnya kalau kita sudah mengenalnya secara dekat. Kalau nona ingin tahu sebaik apa tuan Kenzo, saya bisa sarankan untuk anda bisa membuka diri padanya dan mulai mencoba mengenal tuan dengan baik" ucap Raka mencoba memberikan saran.
Aruna merinding mendengar saran dari Raka "tidak terimakasih. Ayo pergi kesana atau nanti kaisar kita murka"
Raka tergelak dan mengangguk. Lalu ia mengikuti langkah kaki Aruna yang sekarang berjalan menuju villa.