
"Ayolah sayang.. Temani aku makan. Aku masih sedih"
Kenzo berdecak mendengar suara manja dan merengek kekasihnya. Dia memijat pelipisnya yang terasa pusing. Padahal ia masih ada agenda sore ini, tapi kekasihnya ini sungguh keras kepala mengajaknya keluar hanya untuk makan dengan alasan sedih.
"Sayang"
"Bersiap-siaplah! Aku akan datang dalam setengah jam"
Terdengar teriakan senang dari balik telefon dan setelah itu panggilan telefon diakhiri. Kenzo menghela nafasnya panjang, dia meraih telefon dan menghubungi seseorang. "Kemari sekarang!"
Dan setelah berucap, Kenzo mematikan sambungan telefon tersebut. Dia meletakan gagang telefon dengan kesal.
Tok tok tok
Masuklah seorang pria berbaju semi formal. Dia berdiri didepan meja kerja Kenzo "ada apa tuan?" tanyanya. Dia adalah Raka, asisten pribadi Kenzo.
"Undur semua jadwal sore ini. Aku akan pergi"
"Apa?!" pekik Raka dalam hati sembari menatap tidak percaya bosnya itu. Dia kemudian memohon melalui sorot matanya. "Tolonglah tuan.. anda masih banyak scadule"
Kenzo menatap tajam Raka sehingga asistennya itu mend-esah pasrah "baik tuan" akhirnya menjawab demikian atau nanti ia yang terkena imbasnya.
Kenzo segera berdiri "kau kembalilah bekerja! Nanti aku akan mengeceknya dimansion"
"Baik tuan" Raka membungkuk saat Kenzo melewatinya. Wajahnya menunduk dengan patuh meski dalam hatinya mengumpati bosnya yang selalu seenaknya sendiri ini. Menghela nafasnya kasar lalu berjalan keluar dari ruang kerja milik atasannya itu.
**
Tin tin
Kenzo membunyikan klakson saat melihat kekasihnya yang sedang berjalan keluar dari loby apartemen.
Wanita cantik dan seksi itu segera lari kecil menghampiri mobil kekasihnya "Hay sayang" memeluk tubuh tegap dan kekar Kenzo sekilas saat ia baru saja masuk kedalam mobil.
Kenzo hanya diam tak membalas karena ia masih merasa kesal. Dia bahkan tak menatap wajah kekasihnya itu. "Bisa tidak jangan suka seenaknya sendiri?!"
Wanita cantik itu memberengut. Dia melipat tangannya didepan dada "kenapa kamu marah-marah? Aku masih sedih asal kau tahu" ucapnya dengan suara sendu. Bagaimanapun ia benar-benar merasa marah dan kesal saat kekasihnya itu menikah dengan wanita lain.
Kenzo menghela nafasnya panjang. Dia akhirnya memaklumi sikap kekanakan kekasihnya. Dia menoleh dan mengusap kepala Laura. "Jangan ulangi lagi"
Laura mengangguk, dia tersenyum senang saat Kenzo tak lagi marah padanya. Dia memeluk lengan kekar Kenzo saat mobil mulai jalan.
"Mau makan dimana?"
"Cafe XXX"
Kenzo mengangguk dan membawa mobilnya menuju cafe tersebut. Membelah jalanan yang cukup lengang karena sekarang masih jam kerja.
Sesampainya dicafe, Laura terus menggandeng mesra kekasihnya itu masuk kedalam. Dia seolah sedang memamerkan pada dunia bahwa Kenzo adalah miliknya seorang.
Berbeda dengan Kenzo yang terlihat mengerutkan keningnya saat tadi dia melihat mobil yang ia kenali. Mobil miliknya. Kenzo mulai bertanya-tanya siapa yang membawa mobil tersebut? Dan saat masuk pun ia memperhatikan sekeliling dimana para pengunjung yang sedang duduk. Mencari tahu siapa yang membawa mobil miliknya kesana.
Kalau sampai Sky yang membawanya. Akan Kenzo hajar dia.
Saat matanya berkeliling, dia melihat seseorang yang ia kenali. Duduk dipojok dekat jendela bersisian dengan seorang wanita. Mereka terlihat sedang mengobrol dengan serius. "Aruna.."
Jadi Aruna yang membawa mobilnya? Kenzo sampai lupa jika ia menyuruh pak Ferdi untuk memberikan satu mobil koleksinya untuk dipakai Aruna.
"Sayang.. apa yang kamu lihat?"
Kenzo menggeleng. Dia kembali menatap Laura "tidak ada"
Laura sedikit curiga. Tapi saat ia hendak menoleh kemana kekasihnya tadi bengong, pelayan Cafe datang dan memberikan buku menu "kamu mau pesan apa sayang?"
"Kamu tahu apa yang aku suka"
Laura mengangguk dan menyebutkan apa yang ingin dipesan dan Laura juga memesan untuk Kenzo.
Kenzo sesekali menoleh kearah tempat duduk Aruna. Tatapan matanya yang tajam terus memindai apa yang sedang dilakukan gadis itu.
"Sayang.." rengek manja Laura, dia melendoti bahu lebar Kenzo saat kekasihnya itu tak memperhatikan dirinya.
"Hmm?" Kenzo menoleh dan mengusap kepala Laura lembut.
Kenzo mengangguk dan mengecup kepala Laura dengan lembut. Tapi tatapan matanya terus mengarah ke tempat duduk Aruna. Dia penasaran sekali apa yang Aruna lakukan disana.
"Dia kenapa?" batinnya bermonolog saat melihat Aruna memeluk temannya. Bahunya terlihat bergetar dan naik turun. Kenzo tahu jika sekarang Aruna tengah menangis. "Cih.. paling dia sedang menangisi kekasihnya yang baji-ngan itu! Dasar gadis bodoh!"
Sudah beberapa saat, tangis pilu Aruna berhasil membuat orang-orang yang ada didalam cafe penasaran. Bahkan ada beberapa orang yang menatap jengah kearah Aruna duduk.
"Ish.. siapa yang menangis sekencang itu?! Mengganggu saja!"
Kenzo menahan kepala Laura saat wanita ini hendak menegakkan tubuhnya dan menoleh kearah Aruna "biarkan seperti ini. Aku merindukanmu" ucapnya pelan.
Hal itu membuat Laura merona merah. Dia merasa bahagia meski Kenzo telah menikah tapi ia masih sama seperti sebelumnya. Dia jadi sangat percaya diri jika ia harus merebut posisi nyonya Smith dengan istri sah Kenzo.
Kenzo yang terus menatap tajam dimana Aruna duduk tanpa sengaja bersitatap dan satu kontak dengan mata teman Aruna. Terlihat jika ia terkejut dan keget melihat keberadaan Kenzo. Tapi ia tak peduli, dia terus memperhatikan Aruna yang masih sesegukan.
***
Dara mengusap air mata Aruna yang masih terus mengalir di pipinya. Wajahnya sudah berantakan sekali. Mata sembab dan hidung yang memerah. "Ck.. kau jelek sekali Run"
"Huaaa"
Mata Dara terbelalak saat sahabatnya ini malah bertambah histeris setelah ia katai. Padahal ia niatnya hanya mau menggoda Aruna agar dia tak lagi menangis. "Astaga.. sudahlah.. jangan menangis lagi, aku jadi seperti seorang pria bajin-gan yang baru saja memutuskan hubungan secara sepihak dengan gadis malang seperti mu"
Aruna masih saja sesegukan.
Plak
Dia memukul lengan Dara untuk melampiaskan kekesalannya pada sahabatnya itu. "Kau menyindir aku?!"
"Aw sakit sialan!" Pekik Dara sembari mengusap lengannya.
"Bodo amat! Huhuhu" meski masih menangis, Aruna sudah bisa mengeluarkan suara yang menandakan jika ia sudah lebih baik.
"Kau itu sudah menangis selama satu jam empat menit tigapuluh detik. Kalau ditampung pasti sudah satu ember tuh air mata"
Aruna mengusap air matanya, dia menatap sahabatnya itu dengan wajah sendu "aku jelek banget ya sekarang?"
Dara mengangguk tanpa ragu "banget"
"Huaaaa"
Dara kelimpungan, dia menatap sekeliling lagi karena semua orang sepertinya terganggu dengan suara Aruna. Dia juga menoleh kearah Kenzo yang sepertinya belum ada niat untuk pergi dari sana. "Cup cup cup.. jangan menangis lagi oke? Nanti kubelikan ice cream" ucapnya sembari menepuk-nepuk kepala Aruna.
Aruna mengangguk.
"Ra.. kamu memang sahabat terbaikku. Terimakasih" memeluk tubuh Dara lagi saat ia sedikit tenang. Aruna merasa beruntung memiliki Dara disaat ia sedang terpuruk seperti sekarang.
"Kamu kuat. lupakan orang-orang yang telah menyakitimu Run! itu akan membuatmu lebih baik"
Aruna mengangguk. Dia kemudian duduk dengan tegak. Masih terdengar suara sesegukan meski tak seintens tadi "tapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi Ra"
Dara menggeleng "tidak usah! Aku tak mau kau terluka lagi. Cukup kali ini kamu menangisi baji-ngan itu"
Aruna menatap kedepan. Pandangan nya kosong.
"Percaya padaku.. kamu akan jauh lebih baik saat tak lagi memikirkan hal menyakitkan itu"
Aruna menghela nafasnya panjang. Lalu ia mengangguk "kamu benar Ra" ucapnya tanpa ragu. Aruna bertekad untuk melupakan Daniel dan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya pada Daniel. "Aku pasti bisa"
Dara menarik salah satu sudut bibirnya "itu baru Aruna.. ayo pesan apapun yang kau mau. Aku traktir"
Aruna menatap tidak percaya Dara "benarkah?"
Dara mengangguk "ya. Anggap saja aku bersedekah untuk gadis malang seperti mu"
"Sialan kau!"
"Hahahaha.." tawa Dara meledak. Aruna pun ikut tertular, ia juga tertawa pada akhirnya.
Perasaan marah dan benci Aruna sudah ia lampiaskan dengan menangis. Mulai saat ini Aruna bertekad untuk melupakan Daniel dan memulai hidupnya yang baru.