FAKE WIFE

FAKE WIFE
diperiksa



Kenzo yang baru saja masuk kedalam kamar menyernyit saat mendapati kamar dalam keadaan gelap. Dia berjalan menuju kearah saklar yang tak jauh dari pintu masuk. Menekan tombolnya sampai membuat kamar yang ia tempati itu terang.


Lalu pandangan matanya menoleh kearah tempat tidur dimana seorang gadis tengah meringkuk dibawah selimut. "Apa dia tak keluar kamar sejak sore?" bergumam kecil. Jika dilihat dari keadaan kamar ini, tentu bisa Kenzo simpulkan bahwa Aruna bahkan tak turun dari ranjang hanya sekedar untuk menyalakan lampu.


Dengan langkah ragu, Kenzo berjalan menuju tempat tidur.


Dia melihat alis Aruna yang menyernyit meski dia dalam keadaan terpejam. Tangannya terulur dan menempel dikening Aruna untuk mengecek suhu tubuhnya. Matanya terbelalak saat merasa jika suhu badan Aruna sangat tinggi "astaga.." ucapnya terkejut.


Pria tampan itu mundur satu langkah, bingung ia harus melakukan apa. "Ck.. merepotkan sekali" gerutu Kenzo kemudian, dia mengambil ponsel yang ada disaku celana panjang yang ia kenakan.


"Panggilkan dokter sekarang!"


Tut


Panggilan segera diakhiri setelah ia selesai berucap. Kenzo memilih untuk duduk disofa.


Tok tok tok


"Masuk!" Kenzo mempersilahkan seseorang yang sudah ia ketahui untuk masuk.


"Anda sakit tuan?" Tanya pria yang tak lain adalah Raka, asisten yang tadi Kenzo telefon. Pria itu tampak mengkhawatirkan tuannya itu.


Kenzo menunjuk kearah ranjang dengan dagunya, sehingga Raka menoleh. Oh benar, nona Aruna yang tadi demam. Kenapa juga Raka bisa lupa. Dia tengah mengerjakan pekerjaan nya sehingga ia melupakan hal ini.


Raka melangkah mendekati ranjang, dia memegang kening Aruna untuk mengecek suhu tubuhnya "ugh.. panasnya"


"Apa yang kau lakukan?!"


Raka menoleh dan tersenyum kikuk "saya hanya mengecek suhu tubuh nona Aruna tuan" ucapnya


"Ck.. tidak perlu! Aku sudah mengeceknya tadi" ucapnya terdengar tak suka. Dia menatap tajam Raka.


Raka mengangguk dan berjalan mendekati tuan Kenzo.


"Kau sudah menelfon dokter?" tanya Kenzo dengan suara malas.


"Sudah tuan"


Kenzo mengangguk, dia menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah setelah ia beberapa jam berjalan-jalan dengan Laura.


Setelah hampir setengah jam lamanya, dokterpun sampai kevilla. Dan langsung diarahkan menuju kamar.


"Selamat malam tuan" sapa dokter saat ia sampai didalam kamar. Dia membungkuk hormat dihadapan Kenzo.


"Periksalah dia!" ucap Kenzo sembari menunjuk Aruna yang masih saja memejamkan matanya.


"Baik tuan"


"Ken.. siapa yang sakit?"


Kenzo menoleh kearah Laura yang terlihat panik.  Lalu ia memberikan jawaban dengan tatapan matanya yang terarah keranjang.


Laura terdiam, dia menatap Aruna yang sedang diperiksa oleh dokter. Dokter khusus keluarga Smith. Lalu ia duduk disisi Kenzo. "Cih.. gadis ini merepotkan sekali" 


Raka melirik Laura dengan tatapan tak suka. Apalagi ia dengan jelas melihat mata Laura yang berkobar kebencian saat menatap nona Aruna "dasar siluman rubah! Awas kalau sampai kau menyakiti nona Aruna" batin Raka berucap.


Sungguh, Raka tidak menyukai gadis berbulu domba itu. Lalu ia memilih untuk memperhatikan Aruna saja. Berjalan mendekati dokter yang terlihat sedang memeriksa Aruna menggunakan stetoskop.


"Bagaimana dok?" tanya Raka penasaran.


"Tuan. Bisakan mencarikan saya sesuatu untuk menggantung infus?"


"Apa separah itu?" tanya Raka dengan khawatir.


"Nona ini demam tinggi dan mengakibatkan dia pingsan"


"What?! Pingsan?"


Dokter mengangguk tanpa ragu "iya tuan. Apa anda tidak melihat keanehan pada nona ini? Bahkan ia tak bangun saat kondisi berisik seperti ini"


Raka menggaruk tengkuknya. Bagaimana ia bisa tahu karena Kenzo melarang dirinya untuk memegang Aruna. "Oh kalau begitu akan saya ambilkan tiang hanger baju diruang ganti baju"


Dokter mendongak saat melihat gadis itu sepertinya terkejut. Tapi matanya masih saja terpejam.


"Ini tiangnya dok"


Dokter itu menoleh dan memberikan infus ketangan Raka "tolong gantungkan ini tuan"


Raka mengangguk lalu ia mencantelkan infus ditiang hanger. Dia memperhatikan dokter yang sedang memasang plester untuk menutupi jarum yang menusuk tangan Aruna.  "Sudah dok?"


Dokter mengangguk dan kemudian memasukkan peralatan medisnya kedalam tas. Lalu pria itu memberikan obat ketangan Raka "nanti akan ada satu perawat yang akan merawat nona ini" ucapnya dengan serius.


Raka mengangguk"terimakasih dok"


Dokter mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian berjalan mendekati tuan Kenzo "saya sudah memeriksa nya tuan"


Kenzo mengangguk "Raka. Transferkan uang untuk dokter Thony"


"Baik tuan"


"Kalau begitu saya permisi tuan. Terimakasih"


Kenzo mengangguk dan mengayunkan tangannya agar dokter keluarganya itu segera pergi.


Dokter Thony mengangguk dan membungkuk "saya permisi tuan" ucapnya dengan tenang. Lalu dokter Thony melirik wanita yang ada disisi Kenzo. Wanita itu hanya diam tapi tubuhnya melendoti Kenzo sejak tadi.


"Mari saya antar dok"


Dokter Thony mengangguk. Dan kemudian mengikuti Raka keluar dari kamar "tuan" panggil dokter Thony pada Raka saat mereka telah keluar dari kamar.


Raka menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya "iya?"


"Tadi yang sakit istri tuan Kenzo kan?" tanyanya dengan ragu. Dia mengetahui fakta ini karena saat hari pernikahan tuan Kenzo dan istrinya dirinya hadir sebagai tamu undangan.


"Iya. Dia memang istri tuan Kenzo"


"Lalu wanita yang ada disofa--" ucapnya terhenti saat melihat reaksi wajah Raka yang berubah. Dia mendatarkan wajahnya dengan tatapan tajam ia menatap mata dokter yang dengan berani bertanya tentang tuannya.


"Silahkan pulang dok. Sepertinya saya hanya bisa mengantar anda sampai disini" ucapnya datar.


Dokter Thony mengangguk dan menyadari kebodohannya telah bertanya tentang hal pribadi tuannya itu. "Maaf saya telah lancang tuan. Saya permisi"


"Apa anda mengingat ucapan saya tuan?"


Dokter Thony mengangguk mengerti "saya tidak melihat apapun tuan" ucapnya dengan serius saat teringat akan ucapan Raka yang selalu memperingatkan hal itu ketika ia selesai memeriksa keluarga Smith.


"Good! Pergilah!"


Raka menatap punggung dokter keluarga Smith dengan tatapan datar. Menghela nafasnya kasar lalu ia duduk dikursi yang ada didepan kamar nona Aruna.


***


"Sayang ayo keluar.." ucap Laura saat merasa bosan duduk dikamar Aruna.


Masih melendoti lengan Kenzo tanpa malu sedikit pun.


"Kau kembalilah kekamar sana"


Laura menggeleng menolak  "kamu tidak akan menjaganya kan?"


Kenzo menghela nafas panjang lalu menggeleng "untuk apa menjaganya? Aku tidak sudi, Aku akan tidur dikamar sebelah"


Laura mendongak lalu tangannya mengelus dada bidang Kenzo "bagaimana kalau kamu tidur di kamarku saja?" Tanyanya sembari tersenyum menggoda. Jari lentiknya terus turun kebawah.


Kenzo menangkap tangan Laura "sudah aku katakan jangan seperti ini" desah kesal terdengar dari hembusan nafas Kenzo.


Laura menarik tangannya. Dia berdecak dan kemudian berdiri dari duduknya.


Melangkah pergi dengan perasaan dongkol dihatinya. Meski ia tahu jika Kenzo mencintainya, tapi ia sampai sekarang belum mendapatkan tubuh pria tampan itu.


Padahal Laura sering kali menggoda Kenzo, tapi anehnya ia memiliki pertahanan diri yang kuat. Kenzo  sama sekali tak tertarik ataupun tergoda padanya. "Ck.. dasar pria menyebalkan! Sebenarnya dia normal nggak sih! "  gerutunya sembari menghentakkan kaki untuk melampiaskan emosinya.