FAKE WIFE

FAKE WIFE
Pergi honeymoon?



Kenzo keluar dari bathroom dalam keadaan yang lebih segar. Tubuhnya menjadi rileks setelah ia berendam dengan air hangat yang Aruna siapkan untuknya.


Mengusap rambut yang masih basah dengan handuk kecil. Tetesan air mengalir ditubuhnya membuat ia terlihat begitu seksi dan menggoda. Dadanya yang bidang dan perut kotak-kotak membuatnya terlihat begitu gagah.


Aruna yang sedang mengerjakan sesuatu dileptopnya sesekali melirik dan mencuri pandang pria tampan yang saat ini sedang menyesap kopi buatannya.


Sungguh pemandangan indah saat ini membuat jantung Aruna berdetak kencang sekali. Dia beberapa kali menelan saliva dengan susah payah "sialan.. kenapa aku sepertinya tergoda oleh tubuhnya" ucapnya menggerutu.


Aruna memilih untuk konsentrasi kearah leptop yang ia ambil tadi siang. Dia sengaja mampir untuk mengambil barang-barang miliknya yang tertinggal dimansion milik keluarganya.


Kenzo menyesap kopi yang masih panas itu dengan perlahan. Mengecap beberapa kali untuk memastikan rasa kopi yang dibuat oleh Aruna "boleh juga" batinnya berucap. Kenzo menoleh kearah Aruna duduk. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan dengan leptop nya, bahkan ia sama sekali tidak menoleh kearahnya.


Kenzo angkat bahu acuh, dia memilih untuk memakai baju yang juga sudah disiapkan oleh Aruna. Kemudian ia duduk bersebrangan dengan Aruna yang memang duduk disofa.


Dia menatap gadis itu yang terlihat serius sekali. Sembari menyesap kopi.


Aruna yang merasa diperhatikan mendongak, dia menatap heran pria yang sedang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam "kenapa? Apa tuan memerlukan sesuatu?"


Kenzo hanya menggeleng "aku hanya sedang melihat wajahmu itu. Pantas saja kau ditinggal oleh kekasihmu, kau benar-benar jelek"


Aruna menghela nafasnya lelah. Baru kali ini ia dikatai jelek oleh seseorang, padahal jika dia sedang bercermin Aruna bisa melihat wajahnya yang sepertinya dia tak jelek-jelek amat. Bahkan beberapa pria sering kali mengatakan jika ia cantik.


Moodnya menjadi buruk bukan karena dikatai jelek, tapi saat Aruna  diingatkan tentang Daniel. Tak tahukah dia jika saat ini Aruna sedang berusaha tegar akan apa yang dia alami?


Ah.. memang sepertinya Kenzo tak tahu, jadi Aruna memilih untuk diam.


"Kenapa diam?"


Aruna menggeleng "aku tidak bisa menampik ucapan anda tuan. Aku memang jelek!"


Pfftt


Kenzo hampir saja tertawa mendengar ucapan gadis yang ada didepannya saat ini. Tapi saat gadis itu mendongak Kenzo berdehem dan kembali memasang wajah datar. "Ayo keluar!"


Aruna mengangguk, dia melipat layar leptop miliknya kemudian berdiri. Diikuti oleh Kenzo yang juga berdiri.


Mereka keluar kamar menuju ruang makan. Disana sudah ada Sky yang sedang asik bermain ponsel. Sedangkan ayah Leon dan ibu Maria tidak terlihat.


Mendengar suara langkah kaki mendekat, Sky mendongak. Dia kemudian tersenyum sumringah menatap Aruna dan Kenzo.


"Ada apa dengan wajahmu?! Kau seperti orang idiot!"


Sky mendengus mendengar suara ketus Kenzo. Dia mengerucutkan bibirnya. "Kurasa kakak tak akan bisa bicara baik padaku. Huh.. menjengkelkan sekali" lalu Sky menoleh kearah Aruna "hay kak-- eh kenapa dengan wajahmu?" Sky yang hendak menyapa Aruna malah terkejut melihat wajah Aruna.


Aruna menggeleng "aku tidak papa"


"Kau habis menangis ya kakak ipar? Apa dia menyakitimu?" Ucap Sky sembari melirik sinis kearah Kenzo.


Aruna menggeleng "tidak"


"Dia menangisi mantan kekasihnya!"


Sky menoleh kearah Kenzo yang tidak seperti biasanya mau menyahuti obrolan seseorang. Lalu ia menoleh kearah Aruna yang terlihat menjadi canggung. Sepertinya apa yang Kenzo ucapkan benar adanya.


"Dimana ayah?" tanya Aruna mengalihkan pembicaraan.


"Ayah pergi keluar kota bersama ibu." Sky menjawab dengan santai. Sebenarnya ia ingin sekali tahu kenapa kakak iparnya itu menangis, tapi ia urungkan karena Aruna terlihat tak menyukai nya.


Aruna menganggukkan kepalanya. Pantas saja sejak Aruna sore ia tak melihat batang hidung wanita paruh baya yang adalah mertuanya itu.


"Ambilkan aku makanan!"


Aruna yang tadi hampir menimpali ucapan Sky terkesiap mendengar sentakan Kenzo. Dia mengangguk dan segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Dan setelah Aruna mengambil makanan untuk dirinya sendiri, dia mulai makan. Mengabaikan Sky yang memang terlihat jelas sekali jika ia masih penasaran.


"Oh iya kakak ipar... Ayah bilang dia sudah menyiapkan perjalanan honeymoon untuk kalian"


Uhuk


Aruna tersedak saat mendengar ucapan Sky, dia mendongak dan menatap mata Sky, lalu ia menoleh kearah Kenzo yang hanya diam menikmati makan malamnya. "Ho-honeymoon?"


Aruna kembali melirik suaminya. Tapi ia sama sekali tak bereaksi berlebihan. "Aku rasa itu tidak perlu"


Kenzo yang mendengar penolakan Aruna akhirnya menoleh "kita berangkat besok! Kalau kau keberatan aku akan menyeretmu!"


Aruna menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan dengan pelan. Honeymoon? Hal itu sungguh tak ada didalam pikirannya sama sekali. Dan lagi, memangnya apa yang akan mereka lakukan disana? mengingat bagaimana hubungan dirinya dengan Kenzo tak cukup baik.


"Kau kelihatannya keberatan kakak ipar? Apa mau kutemani?" tanya sky dengan nada menggoda. Dia menaik turunkan alisnya dengan senyum usil seperti biasanya.


"Boleh juga. Sepertinya aku memang membutuhkan pelayan untuk mengangkat koper dan membersihkan Vila"


Sky terlihat terkesiap. Lalu menggeleng "ah.. lupakan. Padahal kalau aku ikut aku bisa refreshing sebentar. Meninggalkan tugas kampus yang menumpuk itu" keluh Sky.  Dia memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan enggan.


"Kau ikut saja kalau begitu" ucap Aruna sembari menatap Sky penuh harap. Jika ada Sky disana, paling tidak Aruna memiliki teman untuk mengobrol.


Kenzo menoleh kearah Aruna. Dia menatap kesal wanita itu. "Tidak!" Ucapnya segera membantah.


Aruna menunduk. Dia sebenarnya tak ingin pergi. Tapi melihat tatapan mematikan Kenzo ia memilih untuk mengangguk saja.


"Kakak pasti takut aku mengganggu waktu kalian ya? Hehehe apa kalian ingin cepat memiliki momongan?"


Mata Aruna terbelalak mendengar ucapan Sky. Gadis cantik itu tak membayangkan hal ini. Dia melirik takut Kenzo.


"Diam atau aku akan menyuapi mu dengan piring-piring nya sekaligus!"


Sky yang tadi sedang tersenyum menggoda Aruna sekarang membungkam. Dia menunduk saat melihat wajah serius Kenzo, jika ia terus berbicara dan menggoda bisa-bisa apa yang kakaknya itu ucapkan direalisasikan. Kakaknya itu memang sangat kejam.


Aruna memakan makanannya dengan pandangan kosong. Dia terus saja menunduk dengan pemikiran yang berkecamuk diotaknya.


**


Pagi hari yang cukup cerah menyapa bumi. Matahari sudah tebit dan memancarkan cahaya hangatnya. Mengikis embun pagi yang mulai menguap saat terkena paparan sinarnya yang hangat.


"Arunaaaa!"


Kenzo sudah berteriak menggelegar memanggil Aruna yang sedang mandi. Dia terus menatap jam mewah yang melingkari tangannya.


"Kau mau mati ya membuatku menunggu?!"


Aruna menunduk "maaf tuan"  gadis itu sudah sangat cantik dengan make-up tipis diwajahnya. Ia mengenakan dress dan sepatu heels lima senti senada dengan dress yang ia kenakan. Tak lupa ia menenteng tas branded yang memang sudah pak Ferdi siapkan untuknya.


"Dasar bodoh! Aku sudah mengatakan semalam kalau kita berangkat pagi ini. Kau tidak mendengarkan ku ya?!"


Aruna semakin menunduk dalam "maaf tuan" hanya kata maaf yang bisa Aruna ucapkan saat Kenzo sedang marah seperti sekarang. Kalaupun ia menjawab, sudah dipastikan jika Kenzo akan semakin menggila.


Kenzo melengos saat melihat wajah takut Aruna. Kenzo memilih untuk segera berjalan keluar. Pria tampan yang saat ini terlihat menawan dengan baju santainya melangkah dengan cepat karena merasa waktunya terbuang sia-sia setelah menunggu Aruna.


Aruna hanya diam pasrah. Dia mengikuti Kenzo dengan berlari kecil. Aruna tahu jika ia memang salah karena bangun terlambat. Tapi pria menyebalkan ini yang sudah bangun terlebih dahulu kenapa tak mau membangunkan nya? Padahal mereka tidur dikasur yang sama.  Sepertinya Kenzo sengaja agar dia bisa memarahi Aruna pagi ini. Sungguh pria menyebalkan.


Sesampainya dibandara. Kenzo keluar dari dalam mobil dengan pandangan mata yang begitu arogan.


Dia membuat orang-orang yang memang berada disana terperangah melihat karya ciptaan Tuhan yang sangat sempurna itu. Tubuhnya yang tinggi dengan wajah yang menawan memang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.


Aruna hanya bisa menghela nafas nya panjang melihat hal itu "cih.. kalian semua terpesona melihatnya? Kalian tak tahu saja bagaimana mulutnya yang beracun itu saat berbicara." 


Aruna melirik dua orang gadis yang masih terbengong-bengong menatap Kenzo "astaga.. mata kalian hampir jatuh itu"  


Padahal ada seorang gadis cantik yang berjalan disisi Kenzo, tapi para gadis itu sepertinya tak peduli.


"Sayang.."


Aruna dan Kenzo menoleh kebelakang saat mendengar pekikan seseorang.


Mata Aruna terbelalak saat melihat dengan jelas Kenzo tersenyum hangat kearah wanita yang sedang berlari kearah mereka "di-dia tersenyum?"  Senyum Kenzo  yang jarang sekali Aruna lihat merekah dengan sendirinya membuat kening Aruna menyernyit.


Bukannya terpesona saat melihat pria ini tersenyum yang menambah kadar ketampanan nya, Aruna malah merindiing dibuatnya.


Kemudian Kenzo  menerima tubuh gadis yang lari menubruk tubuhnya. Memeluknya dengan erat kemudian mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.


"Siapa dia?" batin Aruna bertanya-tanya siapa wanita yang saat ini tengah memeluk mesra Kenzo.  Wanita cantik yang terlihat begitu seksi dengan dress pres body itu membuat lekukan tubuhnya tercetak dengan jelas. "Jangan-jangan dia..."