FAKE WIFE

FAKE WIFE
obat



Aruna berdiri kaku didepan pintu, ia mengepalkan tangannya saat melihat Kenzo tengah duduk disofa sebuah kamar. Setelah ia diantar oleh Raka kesana Aruna hampir saja terjengkang saat mendapati tatapan tajam dan mematikan dari pria tampan yang sedang duduk sembari melipat salah satu kakinya diatas paha.


Tubuhnya diam membeku saat ia ditatap sedemikian rupa oleh Kenzo. Dia secara alami menunduk agar tak satu kontak dengan Kenzo.


"Kau punya nyali juga" ucap Kenzo dengan suara datar dan dingin, tapi terdengar seperti sedang mengejek Aruna yang hanya bisa menunduk sedari tadi.


Sumpah demi apapun, Aruna tak menyangka jika ia akan berhadapan dengan Kenzo secepat ini. Tadinya Aruna kira jika Kenzo akan menghabiskan waktunya bersama kekasihnya.


Aruna sampai kesulitan menelan ludah saat ini, bibirnya kelu hanya sekedar untuk membalas ucapan Kenzo.


Kenzo mendapati Aruna hanya menunduk mendesah kesal, dia berdiri dari duduknya kemudian berdiri dihadapan Aruna. Dia raih dagu gadis ini dengan kasar, menekannya sampai membuat bibir Aruna seperti bibir ikan. Mendongakkan wajah cantik Aruna sehingga mata mereka berada dalam  satu titik. Mata hazel Aruna bersitatap dengan mata tajam Kenzo. "Kau mulai berani sekarang?"


Aruna menggeleng. Dia merasa begitu terintimidasi.


"Tidak? Lalu kenapa kau dengan begitu berani mempermalukan aku dan Laura?"


Mata Aruna terlihat jengah saat nama kekasih Kenzo disebut. "Cih.. kesal sekali rasanya mendengar namanya" 


"Kau sepertinya ingin melihat bagaimana aku marah"


Mata Aruna terbelalak mendengar ucapan Kenzo yang masih saja datar. "Tidak" ucapnya dengan kesulitan karena saat ini mulutnya masih ditekan oleh Kenzo.


Kenzo menatap Aruna dengan jengah, dia melepaskan pipi Aruna yang tadi ia tekan dengan kuat. Pipi putih itu terlihat merah sekarang.


Aruna kembali terkesiap saat Kenzo mendekati tubuhnya. Aruna secara spontan mundur menghindar, dia merasa tertekan dengan aura yang Kenzo keluarkan. Sangat kuat dan membuatnya hampir pingsan.


"Kenapa menghindar? Aku akan menghukum mu yang dengan berani mempermalukan aku didepan umum!"


Deg deg deg


Jantung Aruna berdetak dengan sangat kencang saat tubuhnya yang menghindar telah membentur pintu. "Bagaimana ini? Aku sangat takut sekarang." 


Aruna terus menghindari kontak mata dengan suaminya ini. "Aku hanya bisa...." 


"Maaf tuan..." Ucapnya dengan wajah memohon. Sorot matanya berubah mengiba. Aruna hanya bisa memohon karena merasa takut.


"Hahahaha.."


Tawa Kenzo semakin membuat Aruna ketakutan. Hal itu justru membuat Kenzo merasa senang saat gadis yang ada didepannya ini gemetaran.


"Maaf tuan.. sepertinya saya sudah gila tadi"


"Alasan apa itu Aruna William?"


Aruna terdiam, dia benar-benar merutuki ucapannya tadi. Alasannya sungguh tak masuk akal sama sekali. Dia juga merutuki otaknya yang tak bisa diajak kerja sama saat ia tengah tertekan. Pikirannya blank dan tak bisa mencari ide untuk bisa terlepas dari kemarahan Kenzo saat aura Kenzo yang menakutkan menekannya seperti ini. "Tuan.. maafkan saya, saya sungguh bodoh."


"Apa aku terlihat seperti orang yang suka berbelas kasih?"


Gluk


Aruna menelan saliva dengan susah payah. Tentu saja ia tak menyangkal jika Kenzo memang tak memiliki belas kasih.


Greb


Aruna terkesiap saat bahunya tiba-tiba saja bahunya dicengkeram oleh Kenzo. "Ahhk--tuan! Jangan banting saya" pekiknya dengan kencang.


Kenzo mendengus, dia menatap jengah gadis yang sekarang sedang memejamkan matanya. "Kau kira aku akan menyiksamu?"


Aruna membuka matanya perlahan, mendongak agar ia bisa melihat wajah Kenzo "oh syukurlah.. ternyata tuan tak sekejam itu"


"Heh.. aku memang tak akan menyiksamu, tapi aku akan langsung membunuhmu! Akan kubuang tubuhmu kelaut!"


"Jangan tuan.." wajahnya berubah pucat.


Kenzo membelai leher putih dan jenjang Aruna "bersihkan leher ini! Aku akan mencekik nya nanti" dan setelah mengucapkan kata-kata menakutkan, Kenzo menggeser tubuh Aruna agar menyingkir dari depan pintu lalu dia keluar kamar dengan wajah santai. Kenzo keluar seperti tidak pernah terjadi apapun padahal ia habis  mengancam seseorang.


Sedangkan Aruna, gadis itu luruh kelantai. Air matanya turun membasahi pipinya. Tangannya terangkat untuk mengusap lehernya "ahhhkk--" pekiknya kencang saat teringat kembali ucapan Kenzo.


"Di-dia tak benar-benar akan membunuhku kan?" Ucapnya terbata. "Tidak mungkin, dia pasti hanya mengancam ku saja." Setelah meyakinkan diri bahwa Kenzo hanya membual saja, Aruna memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas pembaringan.


Aruna memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh nya yang lelah setelah beberapa jam perjalanan. Dia juga jetlag sehingga membuatnya pusing dan sedikit mual.


***


Aruna membuka matanya dengan perlahan, gadis itu cukup lama tertidur. Pandangan matanya kabur dan kepalanya benar-benar terasa berputar-putar. Aruna memegangi kepalanya dan memukulnya pelan "ugh.. pusing sekali"


Aruna turun dari atas tempat tidur. Dia akan keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Kerongkongan nya terasa kering.


Dengan langkah lemas, Aruna keluar kamar dan menuruni tangga. Lalu dia mencari letak dapur dimana.


"Nona"


Aruna menoleh kearah sumber suara "oh Raka. Dimana dapurnya? Aku ingin minum"


Raka mendekati nona Aruna lalu memperhatikan wajah nya yang terlihat pucat "anda sakit?"


"Biar saya panggilkan dokter"


Aruna memegang lengan Raka yang hampir berlalu "ish.. tidak perlu dokter, aku hanya perlu minum Paracetamol saja. Raka ayo tunjukan dimana dapurnya"


"Oh astaga.. biar saya ambilkan saja" ucapnya dengan panik setelah melupakan keinginan nona mudanya itu.


Aruna menggeleng "ayo tunjukan dimana dapurnya saja"


Raka mengangguk dan menuntun arah dengan berjalan mendahului Aruna.


Saat sampai diruang makan. Aruna hanya melirik suaminya yang sedang makan bersama dengan Laura. Dia berdecih kecil lalu melanjutkan langkahnya.  Aruna memilih untuk mengabaikan pasangan itu dari pada nantinya Kenzo akan bertambah marah.


Saat ia mengingat jika Kenzo sedang marah, Aruna menoleh kebelakang. Ternyata pria itu tengah menatapnya dengan tatapan tajam seperti biasanya. "Sial.. kenapa aku menoleh tadi"  gerutu Aruna dalam hati, lalu ia memilih untuk menghadap kedepan lagi.


Tangannya terangkat untuk mengusap leher bagian belakang karena ia teringat akan ancaman Kenzo tadi yang karyanya hendak mencekik lehernya ini. "Hiii.. dia benar-benar menakutkan sekali" 


Aruna menghembuskan nafas nya panjang dan memilih untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Raka. Membuat pria itu sedikit terkesiap.


"Tolong jaga jarak nona" ucap Kenzo memperingatkan.


Aruna hanya angkat bahu acuh, dia sama sekali tak mengindahkan ucapan Raka, membuat pria itu menghela nafasnya kasar.


Sesampainya di dapur, Aruna segara meraih pintu kulkas.


Greb


Aruna menoleh saat tangannya ditahan oleh Raka. Gadis cantik yang terlihat pucat itu menatap tidak suka pria yang ia ketahui adalah asisten Kenzo. Apalagi pria ini menahan pergerakannya.


Aruna sudah mengetahui identitas nya saat mereka tadi berada didalam pesawat yang sama. Aruna meminta pria itu untuk memperkenalkan diri. "Kenapa?"


"Lebih baik anda minum air hangat nona. Biar saya ambilkan" ucap Raka dengan ucapan tegas. Dia tak mau sampai nona Aruna bertambah sakit karena minum air dingin.


Aruna menghela nafasnya panjang. Memilih untuk mengalah. Dia duduk dikursi yang ada didekat kulkas. Memperhatikan Raka yang sedang menuangkan air hangat dari dispenser.


Setelah airnya penuh, Aruna menerima gelas yang disodorkan oleh Raka. "Terimakasih"


Gluk gluk gluk


Aruna meminumnya hampir setengah gelas, dia memang benar-benar merasa kehausan.


"Apa nona mau makan dulu sebelum minum obat?"


Aruna menggeleng menolak  "aku tidak lapar"


Raka menghela nafasnya panjang "setidaknya makanlah sedikit nona. Akan saya panggilkan koki untuk memasak sesuatu untuk anda"


"Tidak perlu. Aku benar-benar tidak lapar Raka."


"Jangan menyusahkan saya nona. Saya tidak mau sampai tuan murka karena anda tidak mau makan"


Aruna berdecak "ck.. kalaupun aku tidak makan dia juga tak akan marah, mungkin dia akan senang karena hal itu bisa membuat ku mati dan akhirnya membebaskan nya dari jerat pernikahan palsu ini" bergumam kecil.


"Nona bicara apa?" Tanya Raka karena ia tak terlalu mendengar ucapan Aruna.


Aruna menggeleng "apa ada roti disini? Aku makan roti selai saja"


"Ada" Raka mengambilkan roti tawar untuk  Aruna. Menarik meja kecil dan kursi untuk Raka duduki. Lalu secara tidak sadar, Raka mengoleskan selai kacang untuk Aruna.


Setelah terolesi selai, Raka memberikan roti tersebut pada gadis yang ada dihadapannya saat ini.


Aruna menerimanya "terimakasih"


"Eh--" seperti baru saja tersadar dari lamunannya, Raka mengangguk canggung. Secara tidak sadar Raka memperlakukan Aruna seperti adiknya yang ada dirumah. Adik yang selalu manja padanya.


"Kenapa?"


Raka menggeleng "makanlah nona, saya akan mengambilkan obat untuk anda"


Aruna mengangguk dan mulai menggigit rotinya sedikit. Sembari ia memperhatikan punggung Raka yang sedang berjalan keluar dapur. Sikap hangat Raka membuatnya merasa nyaman dan aman. Rasanya seperti diperlakukan secara istimewa oleh seorang ayah. "Ck.. apa yang aku pikirkan!" gerutu Aruna sembari memukul kepalanya sendiri. Merasa bodoh akan pikirannya tadi.


Selang beberapa menit, Raka kembali dengan membawa satu tablet obat penurun panas yang ia ambil dikotak obat. Raka duduk dikursi yang tadi karena melihat Aruna belum menghabiskan rotinya. "Apa rotinya sekeras itu makan sampai selama ini?"  Batin Raka berkomentar.


"Minumlah obat ini nona" Raka memberikan obat yang tadi dia pegang setelah Aruna menghabiskan roti yang menurutnya begitu lama .


Aruna menerimanya. Mengambil obat yang ada ditangan Raka.


Ehem


Aruna menoleh kesumber suara dimana Kenzo tengah berdiri disisi pintu. Begitupun dengan Raka yang menoleh dan sedikit terkejut melihat tuannya itu.


"Raka! Ikut denganku!"


Raka mengangguk dan segera pergi mengikuti Kenzo yang lebih dulu pergi dari sana. Sedangkah Aruna hanya angkat bahu acuh. Dia meminum obatnya kemudian memilih untuk kembali kekamar karena kepalanya benar-benar terasa sakit.