FAKE WIFE

FAKE WIFE
adik ipar



Selepas sarapan. Aruna mengikuti Kenzo yang hendak pergi kekantor. Dia berjalan dibelakang Kenzo sembari membawa tas yang cukup berat. Entah apa isinya Aruna tak tahu.


"Kak.. kau membuat istrimu seperti budak" ejek Sky sembari menggigit apel merah. Dia menatap iba wanita cantik yang baru saja dipersunting oleh kakaknya itu.


Kenzo menoleh kebelakang. Ternyata sky mengikutinya keluar "diam kau bocah!"


Sky berdecak dan menggeleng "kasihan sekali kau kakak ipar. Mendapatkan suami pemarah sepertinya"


Bug


"Ahhk--" pekik Aruna saat ia melihat Kenzo memukul Sky.


Dia melihat darah segar mengalir disudut bibir Sky. Sepertinya bibirnya pecah. Tapi hal yang membuatnya heran adalah Sky tidak membalas malah tersenyum mengejek Kenzo.


"Ka-kau tidak papa?" Tanya Aruna khawatir. Dia memegang lengan Sky.


Sky mengusap sudut bibirnya. Dia menatap wajah Aruna dengan sendu  "aduh.. sakit sekali"


"Ayo aku obati"


"Biarkan dia atau kau akan menerima akibatnya!"


Aruna tertegun mendengar sebuah ancaman dari Kenzo.  Dia menoleh kearah wajah Kenzo yang memerah akibat emosi. Aruna tak jadi mengajak Sky masuk kedalam masion.


"Ck.. kakak sungguh keterlaluan. Kakak ipar ketakutan loh~"


"Diam kau!" Pekik Kenzo pada adiknya. Lalu Kenzo menoleh kearah Aruna "jangan kau dekati berandal ini"


Aruna mengangguk. Sebenarnya dia bingung tapi demi keselamatan nya ia memilih untuk mengiyakan saja.


Kenzo menarik tas yang didekap oleh Aruna. Lalu masuk kedalam mobil. Dan kemudian mobil melesat pergi meninggalkan Mension.


Aruna menghela nafasnya panjang. Rasanya ia ingin sekali berteriak karena dia harus menahan bentakan ini setiap saat.


"Sabar ya.."


Puk puk


Sky menepuk lengan Aruna dua kali. Sebagai tanda jika ia merasa prihatin.


Aruna menoleh dan sedikit terkejut.


Sky menatap Aruna dengan raut wajah tersinggung "Kenapa kau terkejut saat melihatku? Aku sangat tampan loh.. tak jauh beda dengan suamimu"


Aruna kembali menghela nafasnya "kau dengar kan jika aku tak boleh mendekatimu?"


Sky angkat bahu acuh "ucapannya kok didengar. Kau pernah dengar tidak jika larangan adalah perintah?" ucap Sky sembari tersenyum jenaka.


Aruna melengos dan memilih masuk kedalam mansion. Dia merasa kesal sekali menatap wajah sok dekat adik iparnya itu.


"Hey tunggu!"


Sky mencekal lengan Aruna. Membuat gadis cantik itu menggeram.


"Apa lagi? Aku mau pergi" geram berucap. Dia menampik tangan Sky yang langsung mendapatkan decakan dari sky.


"Apa kau lupa jika aku terluka? Aku dipukul oleh suamimu loh.. kau harus bertanggung jawab mengobatinya."


"Tidak mau! Apa kau tak dengar tadi apa yang diucapkan oleh kakakmu?"


"Ada apa ini?"


Aruna dan Sky menoleh kesumber suara dimana ayah Leon tengah berjalan mendekati mereka berdua. Ibu Maria juga ada disisinya. Hendak mengantar suaminya yang hendak pergi bekerja.


"Ini yah... Kakak ipar mau mengobatiku"


Aruna membelalakan matanya mendengar ucapan terus terang Sky.


"Kenapa wajahmu? Apa kau membuat kakakmu marah?" tanya ayah Leon dengan santai.


Sepertinya hal ini sudah sering terjadi sehingga mereka tak lagi terkejut melihatnya.


Sky hanya angkat bahu "aku hanya mengusilinya saja. Dia memang pemarah kan?" ucap santai Sky.


Ibu Maria memegang kedua pipi Sky "ayo ibu obati"


Sky menggelengkan kepalanya "tidak mau. kakak ipar yang akan mengobatiku"


Ibu Maria melotot. Dia menarik telinga Sky untuk mengikutinya.


"Jangan terkejut ya nak. Memang keluarga ini sedikit kurang sehat" ucap ayah Leon dengan sendu. Dia mengusap kepala Aruna dengan lembut. Tersenyum kearah menantunya.


Aruna memejamkan matanya. Sungguh tangan ayah Leon hangat. Aruna menyukainya.


"Ayah berangkat bekerja dulu ya?"


Aruna mengangguk dan tersenyum "hati-hati"


Ayah Leon mengangguk dan segera masuk kedalam mobil yang memang sudah terparkir didepan pintu utama.


Aruna masuk kedalam mansion. Terdengar suara Sky dan ibu. Aruna melirik mereka saat sampai disofa ruang tamu dimana mereka berdua sedang duduk. "permisi Bu" ucapnya sopan.


Ibu Maria hanya melengos. Malas sekali ia menatap gadis ini.


"Kenapa ibu membuang muka? Apa nanti tak takut mukanya hilang?"


Ibu Maria melotot kan matanya saat mendengar ucapan menyebalkan dari Sky. Dia menepuk kening Sky sampai membuat pemuda itu mengaduh.


Aruna hanya angkat bahu acuh lalu ia memilih untuk kembali kekamar. Aruna hendak bersiap untuk menjenguk ayahnya. Tapi saat ia sudah siap, Aruna teringat jika ia belum meminta izin pada suaminya. Tadi ia lupa karena Kenzo marah akibat ulah Sky.


"Ck... Bukankah dia tak peduli jika aku pergi. Dia kemarin bilang jika kita  hidup masing-masing" gumamnya saat teringat akan kata-kata Kenzo kemarin.


Dia meraih tas kecil yang berisi dompet dan ponsel. Sebelumnya ia sudah memesan taksi online.


"Kakak ipar mau kemana?"


Aruna mend-esah saat turun dari tangga, ternyata Sky masih duduk disofa ruang tamu. "Bukan urusanmu!" ucapnya ketus lalu ia memilih untuk mencari keberadaan pak Ferdi untuk minta izin.


"Pak" panggil Aruna saat melihat pria paruh baya itu tengah berdiri mengawasi bahan makanan yang baru saja dibeli.


"Iya nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Aku mau pergi"


Pak Ferdi menyernyit saat menatap nona mudanya itu "akan saya siapkan mobil"


"Lebih baik anda memakai mobil milik tuan nona. Takutnya tuan marah"


Aruna menghela nafasnya kesal. Walau bagaimanapun juga hubungan nya dengan Kenzo tak seperti pasangan pada umumnya. Mereka tetap orang asing meski mereka telah menikah.


Dan kemarin dengan arogannya Kenzo mengatakan jika dia tak memperbolehkan dirinya untuk mencampuri urusan nya. "Tuan tidak akan marah. Aku pergi pak" meski sebenarnya jika ia bisa saja pergi tanpa perlu meminta izin. Tapi rasanya ia masih canggung dan belum bebas mengingat ini adalah tempat tinggalnya yang baru.


Aruna menatap ponselnya. Ternyata mobil taksi yang ia pesan sudah ada didepan.


"Kakak ipar sedang melihat apa?"


Mata Aruna terbelalak saat ponsel yang ada ditangannya tiba-tiba saja direbut oleh Sky. "Sky... Kembalikan ponselku!"


Sky menyeringai saat melihat wajah kesal Aruna. "Yah... Maaf kakak ipar. Aku tidak sengaja meng-cancel taksimu"


"Apa?!" Aruna mencoba mengambil ponselnya. Tapi dengan iseng Sky mengangkat tangannya sehingga Aruna tak bisa mengambilnya. Tubuh mereka terpaut cukup jauh sehingga Aruna kesulitan. Dia sampai meloncat-loncat akan tetapi percuma saja, ponselnya tidak bisa ia gapai.


"Astaga.... Dosa apa yang kuperbuat dikehidupanku yang sebelumnya sehingga bisa sesial ini memiliki adik ipar yang begitu lak-nat!" Ucap frustrasi Aruna saat merasa dirinya terus dipermainkan oleh pria jangkung yang berstatus adik iparnya.


Mata Sky terbelalak mendengar ucapan Aruna "jahatnya mulut kakak ipar"


"Bodo amat!" saat melihat Sky lengah, dia berhasil merebut ponselnya kembali. Dia menatap nanar chat dari driver taksi online nya yang marah-marah akibat pembatalan secara tiba-tiba padahal ia sudah sampai didepan mansion.


"Kakak ipar mau kemana? Ayo kuantar"


"Apa kau tak punya kesibukan lain? Sana minggir! Wajahmu sungguh sangat menyebalkan sekali"


Bibir Sky mengerucut "ganteng gini, dari mananya yang terlihat menyebalkan?" dia menarik tangan Aruna "pokoknya aku mau mengantar kakak ipar. Titik tanpa koma!"


Aruna memberontak tapi tak bisa kabur dari cengkeraman tangan Sky. Kekuatan mereka beda jauh.


Dan disinilah sekarang. Aruna duduk sembari mengerucut kan bibirnya didalam mobil milik adik iparnya ini.


"Awas jatuh tuh bibir!"


Aruna menatap jengah Sky "apa hobimu itu membuat orang kesal? Tadi kau membuat kak Kenzo marah, sekarang kau memaksaku!"


"benar apa yang kakak ipar ucapkan. Aku memang paling pro dalam hal membuat orang darah tinggi. Hahaha" tawa Sky meledak. Apalagi saat melihat wajah Aruna yang bertambah kesal, membuatnya sangat terhibur.


**


Dan setelah Aruna memberitahu kemana ia akan pergi, gadis cantik itu memilih untuk diam dari pada ia nanti terkena darah tinggi seperti apa yang Sky ucapkan tadi.


Sesampainya diparkiran. Sky menatap bangunan berlantai tiga itu lalu ia menoleh kearah Aruna. "siapa yang sakit?"


Aruna melepas saltbelt lalu ia menoleh kearah Sky "ayahku"


Wajah Sky terlihat terkejut. Sepertinya dia memang tak mengetahui apa yang terjadi sebelum ia menikahi kakaknya "Aku pergi. Terimakasih banyak telah mengantarku"


"Kau mau kemana?" tanya Aruna saat melihat Sky melepaskan saltbelt nya.


"Aku ingin menyapa ayah"


"Ayah kepalamu! Jangan bicara sembarangan!"


Sky terkikik. Dia tak tersinggung sama sekali saat gadis cantik ini memakinya "ayahmu kan ayah mertua kakakku. Jadi secara tidak langsung dia ayahku juga. Ayo keluar menjenguk ayah" ucapnya sembari tersenyum usil.


"Teori dari mana itu. Kau gila ya?" ucap Aruna sembari membuka pintu mobilnya. Dia membiarkan Sky. Lagipula jika ia larangpun, pria menyebalkan itu tak mungkin mendengarkan ucapannya.


"Aku memang gila. Selamat ya kakak ipar, sekarang kau memiliki adik yang tidak waras"


Aruna mendengus lalu membanting pintu mobil milik Sky. Dia berjalan meninggalkan sky yang masih berada didalam mobil.


Aruna yang sudah mengetahui dimana letak kamar ayahnya segera naik lift karena kamar inap ayahnya berada dilantai tiga.


"Tunggu kakak ipar"


Aruna mendengar  adik iparnya  yang sok dekat itu memanggilnya tapi ia tak peduli. Dia tidak mau menahan pintu lift yang tertutup. Dia tergelak setelah sadar jika ia pasti telah membuat Sky kesal.


Sesampainya dilantai tiga, Aruna segera masuk kedalam ruang rawat inap ayahnya.


Menghela nafasnya panjang lalu ia tersenyum ceria.


Tok tok tok


Dia membuka pintu. Lalu melongokkan kepalanya "selamat pagi ayah.."


"Aruna.."


Aruna tersenyum dan segera berlari kecil kearah ranjang. Dia menatap sayang ayahnya yang masih terlihat lemah. Memeluk tubuh ayahnya sebentar. "Bagaimana keadaan ayah sekarang?"


Pria paruh baya itu tersenyum. Dia mengusap kepala anaknya yang terbenam didadanya "jauh lebih baik. Terimakasih sudah mau menjenguk ayah"


Aruna menegakkan tubuhnya lalu menoleh kearah ibunya. Dia juga memeluk tubuh ibunya sebentar.


"Kamu kemari dengan siapa?" tanya ibu. Dia menoleh kearah pintu siapa tahu menantunya ikut.


Dan detik berikutnya masuklah seorang pria. Tapi bukan menantunya. "Eh siapa dia?"


"Hallo ibunya kakak ipar.. selamat pagi" sapa Sky dengan wajah riang sesaat setelah ia berada didepan wanita paruh baya yang Sky yakini adalah ibu dari Aruna.


"Pagi" ibu menerima jabatan tangan Sky.


"Dia Sky Bu. Adik ipar ku. Dia juga yang mengantarku kemari.


Ibu tersenyum "terimakasih banyak nak"


"Ah.. tidak masalah Bu. Aku senang kok mengantar kakak ipar" ucap Sky.


Lalu ia menoleh kearah pria paruh baya yang terlentang lemah diatas tempat tidur. "Selamat pagi ayah.. bagaimana keadaan mu?"


Ayah William tersenyum. Apalagi saat pemuda itu memanggil nya ayah, hatinya seperti tergelitik.  "Sudah lebih baik"


Sky tersenyum hangat. Tak ada senyum usil seperti biasanya membuat Aruna sedikit tercengang. Padahal biasanya ia sangat pandai membuat orang kesal, tapi dihadapan kedua orang tuanya Sky malah sok manis. Sungguh pemuda ini pintar sekali berakting.


"Maaf ya yah.. kakak sangat sibuk hari ini. Jadi tidak bisa menjenguk ayah." Ucap Sky dengan wajah yang menyesal dan tak berdaya.


Ayah hanya tersenyum dan menggeleng"tak apa .. ayah tahu sekali jika nak Kenzo sangat sibuk"


Aruna menatap lekat Sky. Dia terenyuh saat pria petakilan ini membuat alasan untuk menutupi ketidakhadiran kakaknya kesana. "Ternyata dia lumayan baik." batin Aruna.


Lalu setelah itu, mereka mengobrol dengan santai.