
Semilir angin menerbangkan rambut panjang nan halus milik Aruna. Gadis cantik itu tengah menatap lurus kedepan.
Senyum kecil tercetak diwajahnya saat menatap hamparan laut biru yang terlihat sangat indah. Apalagi ada beberapa awan yang berjejer menambah kecantikan pemandangan yang ada dihadapannya kali ini.
Menghembuskan nafas panjang, Aruna memejamkan matanya merasakan nyaman saat angin menyentuh wajahnya dengan lembut.
"Indah sekali sore ini bukan?"
Aruna membuka matanya lalu menoleh. Seorang pemuda berdiri disisinya, melakukan hal yang sama dengannya yaitu meletakan kedua tangannya diatas tralis besi pembatas kapal. "Hmm" bergumam hanya untuk menimpali ucapan pria yang tak lain adalah Raka, asisten suaminya.
Raka menoleh sehingga matanya bertemu pandangan dengan irish hazel yang menatapnya dengan pandangan yang menurutnya sulit untuk ia tebak.
Matanya terlihat begitu lelah mungkin ia memang sangat lelah menghadapi tuan Kenzo dan kekasihnya "anda pasti sangat lelah bukan meladeni kegilaan tuan dan nona Laura?"
Sudut bibir Aruna tertarik sedikit. Lalu kembali menatap kedepan, menghela nafasnya lagi karena ia merasa benar-benar nyaman disuasana sore ini. "Lelah?" bergumam kecil tapi Raka masih dapat mendengarnya.
"Ya. Tuan sangat keterlaluan pada anda, padahal anda adalah istrinya"
"Istri? Hahahaha.." tawa Aruna pecah mendengar ucapan Raka. Terdengar menggelikan sekali menurut Aruna. "istri palsu maksudnya?" tambahnya setelah ia berhasil menguasai tawanya. Hanya lebel istri yang ia terima karena pada kenyataannya Aruna bukanlah istri yang sesungguhnya.
Hati kecilnya sebenarnya terasa tercubit, dia merasa percintaan nya memang sangat tragis. Saat ia benar-benar mencintai seseorang, eh- malah ia kabur bersama dengan sahabatnya pada saat hari pernikahan.
Kemudian ia harus menikah dengan pria yang tak ia kenal. Pria dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi saat menatapnya. Tak ada kelembutan apapun saat ia menatap atau memperlakukan dirinya.
Dan lagi ia memiliki kekasih. Apa bedanya Kenzo dan Daniel? Mereka berdua sama-sama tidak memiliki komitmen dalam menjalin hubungan.
Aruna tentu saja tak akan pernah mau membuka hati untuk pria baji-ngan seperti Kenzo.
"Kenapa anda menerima semua perlakuan mereka? Saya saja yang hanya melihat merasa geram"
"Kalau geram, kenapa kau tak menolongku?"
Raka terkesiap saat tiba-tiba saja nona Aruna menoleh dan menatapnya dengan serius, "ah. saya tidak memiliki kuasa untuk membantu anda, maaf nona" ucap Raka terdengar menyesal.
Aruna angkat bahu "posisi kita sama Raka. Aku juga tak mempunyai kuasa untuk menolak perlakuan mereka. Aku hanya bisa menerimanya"
Raka hanya bisa menatap iba nona mudanya yang terdengar pasrah saat ia berucap seperti itu. Padahal Aruna adalah anak orang kaya yang tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk sebelumnya, tapi ia terlihat tegar dan tak pernah mengeluh. Raka merasa jika nona Aruna benar-benar keren sekali.
"Jangan hiraukan aku Raka! Aku sedang mencoba membiasakan diri" ucapnya dengan suara serius, dia tak mau nantinya Raka harus berurusan dengan Kenzo.
"Apa nona bisa bertahan di pernikahan ini? Saya rasa ini sudah sangat keterlaluan"
Aruna hanya diam. Perselingkuhan dan perlakuan buruk adalah noda pernikahan yang saat ini sedang ia jalani. Sakit hati? Tentu saja. Bukan karena ia merasa terkhianati, tapi karena ia merasa harga dirinya diinjak-injak saat pria yang berstatus suaminya membiarkan ia diperlakukan tidak baik oleh Laura.
Saat ini Aruna hanya mencoba bertahan, tapi kedepannya tidak ada yang tahu bukan?
"Jika anda tidak kuat--" ucapan Raka terhenti saat melihat Aruna menoleh dan menatapnya tak suka. Tangannya terangkat untuk menghentikan ucapan Raka.
"Aku akan mencoba bertahan. Tapi, terimakasih karena telah mengkhawatirkan aku." Aruna tidak mau kesehatan ayahnya terganggu sehingga ia memilih untuk mempertahankan rumah tangganya. Mencoba sekuat tenaga menahan semua penghinaan yang ia terima.
Mengingat bagaimana kondisi kesehatan ayahnya yang belum stabil, ia tak mau terlalu egois sampai kesehatan ayah William mulai
Membaik. Aruna akan bertahan semampunya.
Raka menghela nafasnya panjang saat menyadari jika ia telah ikut campur akan permasalahan rumah tangga majikannya "maaf saya yang begitu lancang nona"
Raka mengangguk.
"Oh bolehkah aku tahu, kapan kita pulang? Aku sudah beberapa hari tidak masuk kuliah" ujarnya. Aruna adalah mahasiswi semester akhir jurusan managemen bisnis. Sekarang ia sedang sibuk-sibuknya tapi Kenzo malah mengajaknya honeymoon.
Cih.. memang benar honeymoon tapi bukan Aruna lah yang menjadi pasangan Kenzo melainkan Laura.
Disini peran Aruna bukanlah istri melainkan pelayan. Jika memikirkan hal ini membuat Aruna geram setengah mati.
Kenzo benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk bermanja dengan kekasihnya dan juga begitu sibuk untuk mengerjainya.
"Nanti malam kita pulang karena besok tuan Kenzo akan meeting dengan klien dari luar negeri"
Aruna menatap penuh binar kearah Raka "benarkah?"
Raka mengangguk.
"Yes.. akhirnya aku akan terbebas dari penderitaan ini" ucap Aruna dengan semangat.
"Penderitaan?"
Aruna membeku saat mendengar suara seseorang. Dia berbalik badan dan melihat Kenzo yang sedang berjalan mendekat kearahnya. Dengan santai Kenzo berjalan sembari memasukkan kedua tangannya kesaku celana.
Aruna membeku, rasanya jantung Aruna seperti mau melompat dari tempatnya karena ditatap dengan begitu dingin oleh Kenzo.
"Siapa yang menderita? Apa itu kau?" Kenzo bertanya dengan seringai tipis dibibirnya, dia menatap lekat gadis yang saat ini masih saja diam. Dapat Kenzo lihat kekhawatiran dimata hazel Aruna. "Jawab!"
Bentakan Kenzo membuat Aruna menelan ludah dengan susah payah. Gadis cantik itu bingung hendak menjawab apa sekarang. "Bu-bukan tuan" pada akhirnya Aruna memilih untuk berbohong.
Tapi dengan mudahnya Kenzo mengetahui jika gadis ini tidak jujur saat berucap, Kenzo dapat melihat dari manik matanya yang terlihat panik. "Oh.. bukan kau ya? Lalu siapa yang terlepas dari penderitaan? Apa itu kau Raka?"
"Oh sialan.. kalau kalian bertengkar kenapa membawa-bawa aku" gerutu Raka dalam hati, padahal ia hanya diam memperhatikan interaksi kedua majikannya, tapi pada akhirnya ia terseret juga. "Ya tuan"
"Heh.. kalian berdua memang sangat cocok dalam hal berbohong ya. aku rasanya sangat iri dengan keserasian kalian" suara rendah mengalun dari bibir Kenzo. Dia menatap Aruna dan Raka secara bergantian "oh atau aku harus menikahkan kalian saja? Kalian memiliki chemistry yang bagus"
Mata Raka melotot panik mendengar candaan Kenzo yang terdengar tak lucu sama sekali. Apalagi tatapan Kenzo yang seperti sebilah pedang menatapnya.
"Memangnya boleh wanita yang sudah menikah, menikah lagi?"
Raka menatap nanar wajah Aruna yang terlihat polos saat bertanya. "Ya Tuhan! Kenapa anda bodoh sekali nona" batin Raka mengumpati nona Aruna.
"Aruna William.." ucap Kenzo dengan suara geram dan tertahan.
Aruna yang merasa terancam mundur dua langkah lalu saat Kenzo hendak mendekat Aruna segara lari meninggalkan tempat tersebut "ahhhkk-- maaf tuan saya hanya asal bicara.."
Kenzo berdecak saat melihat gadis itu telah kabur, dia menoleh kearah Raka yang juga memperhatikan Aruna dengan senyum tipis dibibirnya "ck.. apa yang kau lihat?!" tanya Kenzo terdengar tak suka.
Raka terkesiap lalu menatap tuannya "nona Aruna sangat lucu tu--" ucapnya terhenti saat melihat aura membunuh keluar dari diri Kenzo. Dalam hati Raka merutuki mulutnya yang berbicara tanpa berfikir tadi.
Raka kemudian melakukan pergerakan yang hampir sama dengan Aruna yaitu mundur dua langkah lalu segara lari "maaf tuaaan"
Kenzo mendesah lelah melihat asistennya itu, kalau saja kinerja Raka tak baik sudah dia depak karena membuatnya kesal. Tapi mengingat jika hanya Raka lah yang tahan akan tempramen nya membuat Kenzo pada akhirnya terus mempekerjakan Raka dengan segala pertimbangan.
Dulu ia sangat kesulitan mencari asisten, Kenzo tahu sekali jika dirinya memang susah untuk dihadapi dan hanya Raka yang bisa bertahan sampai tiga tahun lamanya.