Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 9. Hari pertama bekerja di rumah tuan Arga



Alya terpaku menatap bangunan megah di depannya itu, dan tanpa sadar mulutnya terbuka lebar. Rumah besar bertingkat dua itu terbuat dari batu alam dan kayu yang indah berpadu asri dengan alam di sekitarnya. Di belakang rumah terhampar danau dan dermaga pribadi milik keluarga Winata, dan di sekelilingnya banyak terdapat pohon-pohon cemara.


Arga yang baru saja turun dari mobil dengan dibantu sopir, mengernyitkan kening. Ia mengibaskan tangannya saat sopir menawarkan bantuan untuk mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.


“Ekhem!”


Alya tersentak dan sontak menolehkan wajah, tersenyum malu saat menyadari Arga tengah menatapnya sembari memutar kursi roda berjalan mendekat ke arahnya.


“Rumah Tuan sangat indah, Saya bisa membayangkan keindahannya saat cahaya matahari menyinari tempat ini.” Kata Alya, menarik napas seraya memejamkan mata merasakan embusan angin menerpa kulit tubuhnya yang terbuka.


Arga tersenyum tipis mendengarnya, ia bergerak maju memunggungi Alya yang tengah berdiri di belakangnya. Pandangannya kini lurus ke depan, menatap riak air danau yang tersapu gelombang pasang.


“Kalau Kau mau, kita bisa menaiki rumah perahu yang ada di sana.” Tunjuk Arga ke arah dermaga di samping kiri mereka.


“Benarkah, Tuan?” sahut Alya senang, ia sudah bisa membayangkan memancing saat cuaca di tempat itu sedang cerah.


Arga mengangguk dan kembali memutar kursi rodanya. “Tapi untuk saat ini, lebih baik Kau bantu Aku masuk ke dalam kamarku. Aku ingin istirahat sekarang,” pinta Arga, dan Alya dengan sigap langsung mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.


Di depan pintu masuk sudah ada asisten rumah tangga yang menunggu, ia membantu membawakan ransel milik Alya dan menaruhnya di kamar yang memang sudah disiapkan untuknya.


“Saya Gina,” wanita itu tersenyum ramah memperkenalkan dirinya pada Alya, lalu menundukkan kepalanya pada Arga. “Nyonya besar sedang menunggu Tuan dan Nona di meja makan sekarang,” katanya menyampaikan pesan dari majikannya untuk membawa Alya dan Arga langsung ke meja makan.


“Katakan pada mama, Aku ingin istirahat di kamarku sekarang.” Sahut Arga yang langsung diangguki Gina. “Lagi pula Aku juga sudah makan siang di rumah sakit tadi.”


“Ini kan sudah sore, Tuan. Sudah hampir jam lima, waktunya Tuan minum obat. Jadi, lebih baik perutnya diisi dulu biar tidak kosong saat hendak minum obat.” Alya menyela ucapan Arga, lalu menawarkan pilihan lain padanya. “Atau, biar Saya bawakan makanannya ke kamar. Jadi setelah itu, Tuan bisa langsung beristirahat.”


“Terserah Kau saja. Yang jelas saat ini Aku hanya ingin beristirahat di kamarku.” Balas Arga.


Alya tersenyum dan mengangguk pada Gina, memberi isyarat dengan mengerjapkan matanya. Gina mengerti, dan langsung berbalik menuju ruang makan keluarga.


Alya mendorong kursi roda Arga memasuki kamarnya. Setelah peristiwa kecelakaan yang membuat mata kirinya tak bisa melihat dengan sempurna dan kaki kirinya mengalami kerusakan parah, Bian Winata langsung memindahkan kamar Arga yang tadinya berada di lantai atas ke kamar utama yang berada di lantai bawah. Ia juga yang mengatur kamar untuk Alya agar berdampingan dengan kamar Arga, hingga memudahkan wanita itu untuk bisa terus mengawasi keadaan putranya itu.


“Biar Aku sendiri saja,” tolak Arga ketika Alya ingin membantunya berpindah tempat dari kursi roda ke atas tempat tidurnya.


“Baiklah,” kata Alya membiarkan laki-laki itu berusaha sendiri. Ia bergegas menyusun beberapa bantal untuk sandaran Arga.


Meski kakinya terluka parah dan sedikit mengalami kesulitan saat berpindah tempat, tapi tangan Arga masih berfungsi dengan baik dan ia berhasil naik ke atas ranjang sendiri tanpa bantuan Alya.


“Kening Tuan berkeringat,” kata Alya melihat dahi Arga berkeringat, dan spontan meraih tisu hendak mengusap wajah Arga.


“Mengerti, Tuan.” Sahut Alya, mundur menjauh menjaga jarak aman dari tuan muda Arga yang sedang menatap tajam ke arahnya.


“Sekarang, tolong Kau siapkan baju ganti untukku. Aku tak mungkin terus memakai pakaian ini setelah seharian berada di rumah sakit,” perintah Arga.


“Siap, Tuan.”


Alya menurut, mengambilkan baju seperti yang diperintahkan Arga padanya. Karena terburu-buru, ia menjatuhkan laci besar di samping lemari yang berisi pakaian dalam milik Arga.


“Kau?” Arga langsung diam mematung, ia tak bisa berucap lagi dan membiarkan saja Alya membereskan pekerjaannya.


“Maaf. Saya tidak sengaja menjatuhkannya, Tuan.” Alya gugup, wajahnya langsung memanas begitu tangannya meraih dan memasukkan kembali perkakas pribadi milik Arga. “Ini pakaian ganti yang Tuan mau. Saya permisi ke dapur, ambil makanan dulu untuk Tuan.”


Tanpa menunggu jawaban dari Arga, Alya bergegas keluar kamar dan menutup rapat pintu di belakangnya itu. Ia berhenti sejenak untuk bersandar di dinding, mengatur napas menenangkan debar jantungnya yang berdegup kencang.


Setelah merasa lebih tenang, Alya menuju ruang makan keluarga yang terlihat jelas dari depan kamar Arga. Ada mama dan papa Arga di sana, sementara Rivan tak tampak bersama mereka.


“Sini Alya, Kau harus makan bersama kami dulu. Baru kembali ke kamar Arga,” panggil Widia begitu melihat Alya muncul di dekat mereka.


“Saya sudah makan tadi siang, Nyonya. Saya kemari hanya ingin mengambilkan makan untuk tuan Arga, karena sebentar lagi waktunya tuan Arga minum obat.” Tolak Alya halus.


“Ayo, jangan menolak. Kamu juga butuh tenaga ekstra buat menghadapi sikap Arga yang kadang uring-uringan,” sahut Widia, ia menepuk kursi di sebelahnya menyuruh Alya duduk di sana.


“Tidak usah merasa sungkan dengan kami, Alya. Justru kami merasa senang karena Kamu mau menjadi perawat pribadi Arga, anak itu jadi lebih kalem di dekat Kamu.” Kata Bian sambil terkekeh.


Alya pun menurut, dan dengan cepat menghabiskan makannya. Ia kembali menolak saat Widia menawarkannya potongan buah di mangkuk sedang dan hanya mencomot satu saja. Ia pamit karena takut Arga menunggunya lama, dan segera mendorong kereta berisi makanan yang telah disiapkan asisten rumah tangga Winata untuk Arga.


“Kenapa lama sekali?!” tegur Arga melihat kedatangan Alya, lelaki itu sudah selesai memakai piama tidurnya.


“Barusan diajak makan sama tuan dan nyonya Winata,” jawab Alya, sembari mendorong kereta makanan ke dekat ranjang Arga. Ia melangkah mundur dan memberi keleluasaan pada Arga untuk makan dengan tangannya sendiri.


“Suapi,” kata Arga sambil berusaha menggeser tubuhnya lebih ke tepi. “Terlalu jauh, dan Aku tidak mungkin menjangkaunya.”


Alya mengernyit, ia berjalan mendekat dan meletakkan meja kecil ke hadapan Arga. Lalu meletakkan makanan di atasnya. “Silakan, Tuan. Sekarang Tuan bisa menjangkaunya,” kata Alya seraya tersenyum manis.


Arga bergumam tak jelas, tapi Alya pura-pura tak mendengar. Ia duduk di sofa kamar Arga, menonton acara kuis musik yang sedang tayang di salah satu stasiun televisi sambil menunggu Arga selesai dengan makanannya.


🌹🌹🌹