Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 15. Tidak main-main



Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, mama dan Rivan yang selalu membantu menyeka tubuh Arga. Meski luka di bagian kakinya sudah mengering lama dan hanya menyisakan bekas goresan memanjang, tapi mama melarangnya untuk membasuh badannya. Setelah Arga menikah, tugas yang dilakukan mama dan Rivan itu beralih pada Alya istrinya.


Rupanya setelah lewat seminggu, Arga mulai gerah dan merasakan badannya lengket dan tak nyaman. Makanya ia ingin mandi dalam artian sebenarnya, dengan mengguyur sekujur tubuhnya. Sayangnya saat sedang keramas, aliran air tiba-tiba mati. Alhasil, Alya harus turun tangan kembali membantu suaminya itu membersihkan tubuhnya.


Canggung luar biasa, itu hal yang dirasakan Alya saat pertama kali menyentuh tubuh tegap Arga. Apalagi saat Arga memintanya menggosok bagian punggungnya, lalu beralih ke bagian dada dan perutnya yang liat dan kemudian turun ke bagian kakinya yang panjang.


Tangan Alya gemetar dan baju yang dipakainya jadi ikutan basah, terkena cipratan air mandi Arga. Alya terus mengatakan pada dirinya sendiri kalau saat ini ia adalah seorang perawat yang sedang membantu pasiennya membersihkan diri.


Tatap mata Arga mengikuti setiap gerakan tangan Alya di tubuhnya, membuat Alya makin salah tingkah dibuatnya. Seumur-umur, baru kali ini ia memandikan laki-laki.


“Kamu kedinginan, Ay?” Tanya Arga, melihat Alya bergidik dan mengerutkan bahunya. Ia sudah selesai mandi, dan sekarang hanya tinggal melepas celana pendeknya saja.


“Gak.” Alya menggeleng, buru-buru menarik handuk di rak lalu memberikannya pada Arga yang langsung mengusap wajah dan menggosok pelan rambutnya. Alya kemudian membereskan peralatan mandi Arga, lalu berdiri menunggu di dekatnya dan bersiap membantu laki-laki itu pindah duduk di kursi rodanya yang biasanya.


“Bajumu basah,” kata Arga lagi. Sudut bibirnya terangkat sedikit, tergoda untuk tersenyum. Tatap matanya yang tajam sedang mengamati baju Alya yang basah, dan berhenti sejenak pada bayangan dadanya yang indah.


Alya mengerutkan keningnya dan tersentak saat menyadari arah pandang mata Arga. Ia melangkah mundur dan melipat kedua tangan di dada dengan mata mendelik membalas tatapan Arga, dan lelaki itu menanggapinya dengan tertawa.


“Ay, bantu Aku berdiri.” Pinta Arga, menjejakkan kaki kanannya ke lantai kamar mandi. Alya menurunkan tangannya dan sigap membantu, melingkarkan lengan kiri Arga di bahunya sementara sebelah tangan laki-laki itu berpegangan pada dinding di dekatnya.


“Hati-hati, Tuan.”


Alya membetulkan lilitan handuk di pinggang Arga, lalu mundur selangkah tepat di belakangnya dan perlahan Arga menurunkan celananya yang basah. Tapi sepertinya Arga mengalami kesulitan. “Susah, Ay. Aku tidak bisa melakukannya sendiri.”


Astaga! Wajah Alya merah padam, merasakan seluruh tubuhnya menjadi panas dingin. Ingin menolak tapi tak mungkin, apalagi melihat wajah Arga yang meringis menahan nyeri karena berdiri lama dan hanya bertumpu pada satu kaki. Mau tidak mau Alya berjongkok lagi, membantu melepaskan celana Arga yang terlilit di bagian pahanya.


“Sudah!” kata Alya dengan suara serak, langsung membuang mukanya yang memerah. Barusan tanpa sengaja tangannya menyentuh paha Arga yang keras.


Tak berhenti sampai di situ saja, Arga meminta Alya untuk membantunya berpakaian. Baju tanpa bantuan Alya, Arga bisa memakainya sendiri. Tapi giliran bagian celana membutuhkan waktu yang cukup lama, dan berulang kali Alya harus meminta maaf karena kecanggungannya membuat Arga harus berdiri lama. Hingga beberapa menit kemudian, semuanya beres. Dengan menyingkirkan rasa malunya dan Alya tak percaya kalau ia sudah melakukan semuanya.


Hufh! Alya menyeka keningnya yang berembun lalu mengembuskan napas lega. Ia harus segera mengganti bajunya yang basah, sementara Arga duduk manis di sofa memainkan ponselnya.


“Ay, Aku lapar!” teriak Arga dari balik pintu kamar Alya, sontak saja membuat Alya bangun dengan cepat lalu buru-buru mengganti pakaiannya. Ia keluar kamar dan tertegun melihat Arga masih berada di depan pintu kamarnya.


“Kalau Kau tidak berkeras meminta kamar yang berbeda denganku, Aku juga tidak akan berteriak memanggilmu jika Aku butuh sesuatu.” Arga bicara dengan bibir memberengut. “Kau tahu, Aku serius memintamu untuk menikah denganku.”


Alya tertegun mendengar ucapan terakhir Arga padanya. “Aku juga serius menjalankan tugasku sebagai perawat pribadimu, Tuan.”


“Kau istriku. Kalau malam ini Aku memintamu tidur di satu ranjang yang sama denganku, apa Kau akan menolak melakukannya untukku?” Tatap mata Arga terasa menusuk ke dalam jantung hati Alya, membuat tubuhnya gemetar.


“Kau tahu, Aku masih sering mengalami mimpi buruk. Aku sering terjaga di tengah malam, dan terbangun dalam keadaan napas tersengal. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tersadar dan kembali tenang, dan orang itu adalah Kamu, Ay.” Imbuh Arga lagi.


Arga memberi kebebasan pada Alya untuk tidur terpisah dengannya, selama kedua orang tuanya dan Rivan tidak tinggal di sana. Lain cerita kalau mereka ada di rumah itu, Alya akan pindah dan tidur di kamar Arga.


“Baiklah, Tuan. Malam ini Aku akan tidur di kamarmu,” sahut Alya yang sukses membuat Arga tersenyum lebar. “Dan sekarang, Saya akan menyiapkan makan untuk Tuan.” Alya lalu bergegas melangkah ke dapur.


Sikap Arga mendadak berubah aneh dan terasa asing bagi Alya, lelaki itu terus-terusan mengikutinya sepanjang hari dan tidak membiarkannya sendirian barang sekejap. Entah sengaja atau memang ia perlu, ada saja yang dimintanya, sampai Alya nyaris kewalahan dibuatnya.


Seperti saat ini, jam sudah menunjuk angka 10. Tapi Arga bergeming duduk bersandar setengah berbaring di sofa, sibuk dengan laptopnya dan sama sekali belum beranjak dari sana sejak makan malam mereka selesai tadi.


Alya sudah mengantuk sekali, matanya berat. Tapi suaminya itu belum juga beranjak dari sofa, padahal Alya ingin sekali merebahkan tubuhnya yang penat di sana. “Tuan, ini sudah malam. Sebaiknya Tuan segera beristirahat sekarang.”


“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, sedikit lagi.” Kata Arga tanpa mengalihkan pandangannya. “Kalau Kau mengantuk, tidur saja dulu.” Arga sengaja berlama-lama di sofa karena tak ingin Alya tidur di sana, karena ia mau Alya tidur di ranjangnya.


Satu kuap lolos dari mulut Alya tanpa ia sempat menutupinya, Arga terkekeh mendengarnya. Alya duduk di tepi ranjang dengan tubuh miring, ia menggelengkan kepalanya mencoba mengusir kantuk yang menyerangnya. Tapi ia kalah, dan Alya tertidur dengan tubuh miring dan mata terpejam rapat.


Bunyi dengkur halus terdengar seiring napas Alya yang turun naik teratur. Arga menyimpan laptopnya ke atas meja dan meraih tongkatnya. Ia berjalan menyusul Alya tidur dan perlahan membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Dibetulkannya selimut yang menutupi pinggang Alya, menariknya hingga ke dada.


Ditatapnya intens wajah cantik yang berbaring di dekatnya itu, perlahan disibaknya helai rambut yang menutupi pipi Alya. Arga menggeser tubuhnya pelan dan dengan lembut mengecup kening Alya. “Kau tahu, Aku tidak main-main dengan ucapanku saat memintamu menikah denganku.”


▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎