Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 17. Janji hati



Cuaca hari itu sedang baik. Angin berembus sejuk dan sinar matahari tampak bersahabat dengan alam, tak seterik hari kemarin. Air di danau juga tampak tenang, memang sangat cocok untuk memancing. Setelah mendapatkan banyak pelajaran tentang teknik memancing dari Arga, Alya tak sabar ingin mencoba langsung.


Arga mulai menyiapkan peralatan, membagi menjadi dua bagian untuknya dan Alya lalu mengajaknya ke tepi dermaga. Tak terasa sudah lebih dari satu jam mereka di sana. Arga duduk tenang di bangkunya dengan joran di tangan, di sampingnya ada ember berukuran sedang berisi ikan hasil pancingan.


Tak jauh darinya, Alya melakukan hal yang sama. Dengan joran di tangan ia duduk menyandarkan punggungnya ke papan kayu yang terasa hangat dengan kedua kaki menjuntai. Rambut panjang sebahunya berkibar-kibar tertiup angin. Hanya bedanya, ember di samping Alya masih kosong karena umpan miliknya tak juga mendapatkan sambaran ikan.


“Sepertinya Aku memang tidak berbakat memancing. Tuan lihat, tak satu pun ikan tertarik memakan umpanku.” Kata Alya menolehkan wajahnya dengan bibir mengerucut, ia lalu menarik jorannya keluar dan melemparnya kembali.


“Sabar,” sahut Arga sambil tersenyum. “Tunggu sebentar lagi, Kau pasti akan mendapatkannya.”


“Semoga saja,” balas Alya, tersenyum kecut. Butuh kesabaran tinggi memang untuk melakukan hobi yang satu ini, di samping kemauan dan yang utama adalah ketenangan. Dan Alya merasa, cukup hari ini saja ia melakukan hal itu.


Dua puluh menit berlalu, tak ada perubahan dan Alya mulai bosan. Ia beranjak berdiri, namun joran di tangannya tiba-tiba mengencang. Sepertinya kali ini ada ikan yang menyambar umpan miliknya. Di bawah sana air tampak bergelombang. Alya menahan joran di bawah ketiaknya dan secara perlahan memutar tali pancingnya. “Tuan, lihat! Aku mendapatkannya.”


“Strike!” teriak Arga sambil mengacungkan jempolnya.


Alya tertawa, ia kembali fokus dengan joran di tangannya. Satu sentakan kuat pada tali pancingnya membuat Alya terkejut dan ia merasakan joran di tangannya terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh ke danau. “Tidaak!”


Tak ingin kehilangan ikan pertamanya, Alya langsung menceburkan diri ke danau dan berusaha mengambil jorannya. Ia berenang dengan cepat dan berhasil mendapatkan jorannya, lalu berenang ke tepi.


“Oh My God!” Arga menatap tak percaya, melihat Alya nekat menceburkan dirinya. Ia berusaha berdiri dengan berpegangan pada dinding di sampingnya, dan berteriak marah pada gadis itu. “Apa yang Kau lakukan, cepat naik!”


Alya berhasil mencapai tepi danau, merebahkan dirinya sejenak di sana dengan napas tersengal. Ia bisa mendengar teriakan marah Arga padanya, tapi tak digubrisnya. Alya berdiri dan berjalan terseok dengan joran di tangan, tubuhnya basah kuyup dan rambut kotor penuh pasir.


Joran di tangannya bergerak-gerak, rupanya ikan itu masih tersangkut di ujung kailnya. Alya melepasnya sambil bergumam tak jelas karena ikan itu terus meronta berusaha melepaskan diri. Alya sampai di atas dermaga dan menunjukkan ikan pancingan pertamanya pada Arga.


“Tuan, lihat. Aku berhasil mendapatkannya,” kata Alya bangga, suaranya terdengar bergetar.


“Kau pikir Aku akan senang mendengarnya!” teriak Arga gusar melihat Alya basah kuyup, wajahnya penuh kecemasan. Ia tahu air danau itu sangat dingin. Sekarang pun tubuh gadis itu tampak gemetar kedinginan. “Kau membahayakan dirimu sendiri dengan melompat ke danau hanya untuk mengambil kembali joranmu yang terjatuh.”


“Ini ikan hasil pancingan pertamaku, bagaimana mungkin Aku melepaskannya begitu saja setelah menunggu berjam-jam lamanya di sini.” Balas Alya, menatap Arga dengan bibir mencebik lalu beralih menatap ikan di tangannya yang megap-megap dengan mulut terbuka.


Tak tega melihat makhluk kecil itu terus meronta, Alya melontarkannya kembali ke danau. “Aku hanya ingin menunjukkannya padamu, Tuan. Tapi sepertinya Kau tak suka melihatnya.”


Sudut bibir Arga berkedut, ia berusaha menahan senyumnya. Wajah Alya tampak memelas saat melepas ikan hasil pancingannya. Sekarang gadis itu berdiri memunggunginya, bajunya yang basah melekat erat di kulit tubuhnya yang pucat dan mencetak jelas bentuk tubuhnya. Arga juga bisa melihat dengan jelas bayangan di balik pakaian basah yang dikenakan Alya. Tanpa dapat di cegah, sesuatu dalam dirinya menggeliat tegang.


Alya tersentak dan tersadar, wajahnya seketika memanas. Kenangan saat membantu Arga mandi waktu itu melintas dalam benaknya. Tatap mata yang sama, Alya sadar sekali kalau ia sudah membangkitkan kembali gairah laki-laki itu padanya. Sesuatu di balik celananya tampak mencuat. Wajah Alya semakin memerah. Arga hanya terluka pada sebelah mata dan bagian kaki kirinya saja, meski duduk di atas kursi roda bukan berarti ia mati rasa.


Tanpa sadar Alya melipat kedua tangannya di depan dada, melangkah mundur perlahan lalu bersembunyi di balik pintu hingga kini Arga hanya bisa melihat wajahnya saja. “Tuan, Aku harus mengganti pakaianku.”


“Begitu lebih baik,” sahut Arga cepat. “Akhirnya Kau sadar juga apa yang sudah Kau lakukan itu membuat cemas orang lain.” Dan tampilanmu yang seperti itu membuat jantungku berdebar tak keruan, imbuh Arga dalam hati.


Alya tercenung sesaat, tak mengira akan membuat cemas Arga. Ia berjalan cepat kembali ke rumah dan mulai membersihkan diri. Satu jam kemudian ia telah siap dengan dirinya dan kembali menemui Arga di rumah dermaga.


Aroma wangi ikan bakar memenuhi ruangan saat Alya tiba di sana, dilihatnya Arga tengah duduk santai sambil membolak-balik ikan di panggangan. Air liur Alya terbit seketika, ia langsung berjongkok di samping Arga dan mencubit kecil ikan bakar yang sudah matang di atas piring.


Rasanya nikmat sekali, Alya mengulangnya lagi dan lagi membuat Arga tertawa melihatnya. “Minumlah dulu, Kau akan tersedak kalau makan seperti itu.”


Alya menoleh dan mengambil gelas minum dari tangan Arga. “Terima kasih.”


Arga menyelesaikan pekerjaannya, berdua mereka menyantap makanan. Ketika hari semakin siang, mereka kembali ke rumah. Arga tetap mencoba berjalan dengan menggunakan kruk, meski Alya melarangnya. Peluh bercucuran di wajah tampannya, tinggal setengah jalan menuju rumah mereka Arga ambruk jatuh ke tanah dan membuat panik Alya.


“Capek Ay, kakiku sakit.” Arga meringis sambil memegangi pahanya, tanpa banyak bicara lagi Alya berlari ke dalam rumah dan kembali dengan mendorong kursi roda Arga lalu membantunya duduk di sana.


“Jujur, Aku tidak ingin menjadi beban untukmu. Aku berusaha untuk melakukannya sendiri, Aku berusaha keras agar bisa berjalan lagi tanpa harus menggunakan kursi roda sia lan ini!” maki Arga sembari memukul kursi rodanya, tapi Alya bergeming dan terus mendorong kursi rodanya.


Tepat di depan pintu masuk, Alya berhenti. Ia berjalan memutar dan berjongkok di depan Arga. “Tuan tidak pernah jadi beban untukku, Tuan adalah dewa penolongku. Apa jadinya nasib ibuku tanpa bantuan Tuan selama ini.”


Ditatapnya wajah tampan yang tengah menunduk lesu itu, diangkatnya dengan sebelah tangannya. Alya tertegun menatap sudut mata Arga yang berembun.


“Kau tahu, Aku ingin berjalan normal lagi, Aku ingin bisa berlari dan menggendongmu di punggungku. Bisa Kau mewujudkan harapanku itu dengan terus berada di sisiku?”


Tanpa ragu Alya mengangguk, “Aku berjanji pada Tuan akan mengabdikan hidupku untukmu.,” ucapnya dalam hati.


“Aku tidak ingin Kau melakukannya karena merasa berhutang budi padaku,” kata Arga lagi, dan ia tak bisa menahan diri ketika Alya menggeleng sebagai jawaban. Kedua tangannya menangkup wajah Alya, dan dengan penuh kelembutan yang ia punya Arga mencium kening Alya lama.


🌹🌹🌹