
Menikah! Kata itu merasuk ke dalam pikirannya dan membuat tubuh Alya menggigil. Apa mereka berdua benar-benar akan melakukannya? Bisakah mereka melewati semua hal bersama-sama? Mereka bahkan baru saja saling mengenal, dan pria pemilik wajah tampan dengan alis mata tebal yang tengah duduk di atas kursi rodanya itu begitu intens menatapnya kini.
“Arga pasti sembuh dan bisa kembali berjalan, mata kirinya pun akan segera melihat dengan jelas kembali setelah dilakukan operasi.” Kata Widia, sembari menangkup tangan Alya. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk menjerat Alya, tidak juga sedang memanfaatkan keterbatasan fisik yang dialami putranya itu akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu untuk menarik perhatian dan simpati Alya.
Meski hanya sekilas, Widia bisa melihat dengan jelas kalau Arga tampak begitu nyaman dan lebih bersemangat saat bersama Alya. “Di saat-saat penting seperti ini, Arga sangat membutuhkan seorang pendamping yang bisa terus berada di sisinya. Dan Mama melihat, Kau adalah orang yang paling tepat untuk melakukannya.”
Kau juga satu-satunya wanita yang diinginkan putraku saat ini, bisik hati Widia. Berharap Alya mau memenuhi permintaan Arga padanya.
Harusnya Alya memikirkan semua terlebih dahulu, mempertimbangkan masak-masak sebelum mengambil keputusan. Setidaknya ia perlu bicara dan mendengar pendapat ibunya sebelum membuat komitmen. Tapi entah mengapa, dengan begitu mudahnya kepalanya mengangguk dan bibirnya berucap kata setuju.
Kelegaan tampak di wajah kedua orang tua Arga, begitu pula yang terjadi pada laki-laki itu. Seperti mimpi rasanya, semua terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan hari, semua persiapan pernikahan Arga dan Alya juga keberangkatan mereka ke luar negeri telah siap.
Siang harinya Arga mengajak Alya ke tepi danau, angin berembus kencang meliukkan pepohonan di sekitar mereka. Arga duduk diam menatap lurus ke depan, pada pemandangan air danau yang terlihat begitu tenang. Alya berdiri di belakangnya melakukan hal yang sama.
“Kita masih punya banyak hal yang perlu dibicarakan,” kata Arga memecah keheningan yang terjadi.
Alya menunduk, pandangannya membentur rambut tebal bergelombang milik Arga yang tampak bergerak-gerak tertiup angin. Ingin sekali menyentuhnya, tapi tersadar saat teringat ucapan Arga waktu itu padanya.
“Mengapa Kau langsung setuju saat Aku memintamu menikah denganku?” tanya Arga tanpa mengalihkan pandangannya.
“Saya ingin melihat Tuan sembuh, melihat Tuan bisa berjalan dan berlari kembali. Untuk itu Tuan butuh seorang pendamping yang bisa menemani Tuan setiap saat, kapan saja dan di mana saja. Dan Saya bisa melalukannya. Lagi pula Tuan juga sudah banyak sekali membantu ibu Saya,” jawab Alya.
Arga tersenyum mendengarnya, “Kau tahu bagaimana tugas seorang istri terhadap suaminya, bukan hanya sekedar mendampingi dan merawat dalam keadaan sakit. Tapi ada tugas lain yang lebih utama dan hak seorang suami ada di dalamnya.”
“Maksud Tuan?” tanya Alya tak mengerti, lalu sedetik kemudian wajahnya merona merah. Apa lelaki ini sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal intim yang layaknya terjadi pada hubungan suami istri? Tiba-tiba saja Alya merasakan tubuhnya merinding. “Tidak, itu tidak termasuk dalam perjanjian kerjaku!” sentak Alya gusar.
“Tentu saja tidak,” jawab Arga tersenyum samar. “Karena perjanjian itu dibuat saat Kau bekerja sebagai perawat pribadiku. Tapi saat Kita telah resmi sebagai pasangan suami istri, Aku bisa meminta ...”
“Tidak!” potong Alya dengan nada tinggi, ia bahkan tak berpikir sampai ke sana. “Kita harus bicara dari sekarang. Aku setuju menikah dengan Tuan, tapi tidak setuju kita melakukan itu. Kalau Tuan berkeras memaksa, Aku terpaksa mundur teratur.”
Lelaki itu benar, banyak hal yang harus mereka bicarakan saat ini. Bukan hanya bicara tapi meluruskan beberapa hal di luar perjanjian pertama, pikir Alya.
Mata Arga tampak berkabut, tak mengerti kenapa Alya terlihat marah. Bukankah wajar mereka membahas hal yang satu itu, toh sebentar lagi mereka juga akan menikah.
Alya terdiam, sadar kalau sudah bicara terlalu keras pada Arga. Meski lelaki itu terlihat tenang saat bicara padanya.
Arga memutar kursi rodanya, mencoba bergerak untuk keluar dari tempat itu. Tapi semakin ia bergerak, pasir di bawah kakinya mengisap ban kursi rodanya. Alya langsung mendekat dan bergegas membantu menariknya keluar.
“Kau lihat, bahkan untuk menggerakkan kursi rodaku saja Aku tak mampu melakukannya sendiri.” Kata Arga dengan wajah berubah kaku.
“Itu karena medannya yang sulit, pasir di bawahnya menghisap ban kursi roda Tuan.” Alya bergeser ke samping dan melepas sandalnya, pasir putih yang dipijaknya meninggalkan jejak kaki yang cukup dalam. “Lihat, kakiku saja tenggelam.”
Arga melirik sekilas, lalu mengulum senyum. Alya kesusahan mengangkat kakinya, tubuhnya tiba-tiba oleng dan terjatuh tepat di hadapan Arga. Lelaki itu spontan mengulurkan tangan dan meraih lengan Alya, tapi tubuhnya justru tertarik dan jatuh menimpa tubuh Alya.
Cup! Mata Alya terbelalak saat bibir Arga tanpa dapat dicegah dengan cepat menyentuh bibirnya. Kening bertemu kening, dan tubuh keduanya saling menempel ketat. Arga dapat merasakan jantung Alya yang berdegup kencang, wajahnya pun tampak memerah.
Alya mendorong kuat dada Arga, dan laki-laki itu tertawa lepas melihat Alya berlari meninggalkan ia sendirian di sana. Arga mencoba bangun lalu duduk menunggu hingga seseorang datang dan membawanya pulang.
Akhir pekan adalah waktu libur untuk Alya, ia bertemu ibunya dan mengabarkan rencana pernikahannya. Meski terkejut di awal, tapi ibu sangat gembira mendengarnya dan tak mempermasalahkan keputusan Alya itu. Ibu hanya ingin bertemu dengan calon menantunya dan berkenalan dengan keluarganya.
“Ibu, calon suamiku mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu, saat ini ia dalam masa pemulihan. Dan dalam waktu dekat rencananya setelah kami menikah, kami akan berangkat ke luar negeri untuk berobat di sana.” Ungkap Alya.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Ibu.
“Mata kirinya berkurang penglihatannya dan tulang kaki bagian kiri hancur.” Alya lalu menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialami Arga tanpa menyinggung perjanjian dirinya dengan laki-laki itu. Ia tak ingin ibunya sedih saat tahu kalau putrinya menikah tanpa dasar cinta, demi kesembuhan Arga alih-alih melakukan tugasnya sebagai perawat pribadi sang calon suami.
“Kasihan, pasti dia merasa sangat terpukul sekali.” Kata ibu, lalu memegang tangan Alya. “Sebagai seorang istri, Kau harus terus berada di dekatnya, mendampingi dan memberikan semangat.”
Kurang dari satu Minggu menjelang hari keberangkatan mereka ke luar negeri, Alya dan Arga menikah. Alya resmi menyandang gelar nyonya Arga Raditya Winata. Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat. Ibu dijemput dari rumah sakit, dengan menggunakan kursi roda menghadiri pernikahan Alya.
🌹🌹🌹