Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 24. Dia hanya masa lalu



Ini pertengkaran pertama mereka setelah menikah, terjadi saat Arga menjamu teman-temannya di rumah danau. Arga hanya bisa mengawasi Alya yang berlalu dan lewat di depannya, ingin menyusul namun langkahnya terhenti karena teman-temannya harus pamit pulang. Sekilas pandang ia bisa melihat wanita itu menyeka pipinya yang basah.


“Ga, kayaknya kita mesti balik lebih cepat.” Salah satu teman Arga menjabat tangannya dan merangkul bahunya. “Sori banget kalau kedatangan kami bikin Lo jadi bertengkar sama istri.”


Arga menggeleng sambil tersenyum kecut. “Bukan salah kalian, salah Gue yang lambat respons soal kehadiran mantan.”


“Lo harus bersyukur, keinginan Lo selama ini tercapai. Punya pasangan yang lebih memilih stay di rumah, ketimbang mengejar karier di luar rumah. Baik-baik sama istri, Lo beruntung dapetin Alya.”


Arga mesem, ia menyalami teman-temannya yang lain dan berjanji lain waktu kumpul bareng bersama lagi.


“Lo beresin dulu masalah Lo sama istri, abis itu kita semua bakal tagih janji Lo sama kita.”


“Siip!” Arga meringis mendengarnya, ia beranjak ke pintu untuk mengantar teman-temannya pulang. Wajahnya berubah kaku begitu melihat seorang temannya menghela bahu Nesya yang masih duduk anteng di kursi tamu, mengajak serta pulang. Namun wanita itu menolak karena masih ingin bicara berdua dengannya.


“Oke, kita tunggu di mobil sementara kalian bicara berdua di sana.” Sahut mereka menunjuk kursi teras rumah Arga.


Arga mengesah gusar. Semakin lama wanita itu berada di rumahnya, justru akan semakin menambah masalah. Setelah meyakinkan teman-temannya untuk memberinya waktu bicara selama lima menit berdua dengan Nesya, Arga bergegas keluar dan berdiri menunggu dengan kedua tangan bersedekap di dada sambil memperhatikan wanita yang dulu pernah begitu dekat dengannya itu berjalan menghampiri dirinya dengan wajah semringah.


Tak mengapa hanya lima menit. Ia yakin Arga akan mendengarkan kata-katanya, pikir Nesya dalam hati. Mereka berdua kini berdiri salung berhadapan dalam jarak yang begitu dekat.


“Kamu percaya Aku, kan. Aku tidak mungkin sanggup menyakiti wanita itu. Dia tak bisa menerima kehadiranku di rumah ini, dan semakin tak menyukaiku karena tahu hubunganku denganmu.” Nesya menyentuh lengan Arga, ia bicara dengan mendongakkan wajahnya dan menatap tepat pada manik mata Arga yang gelap.


Arga balas menatap mata Nesya, lalu turun pada bibir penuh yang dulu acap kali kerap memabukkan dirinya itu. Ia meresapi kata-katanya dan menunggu respons dirinya, apakah masih sama seperti waktu itu. Apa getar itu masih ada dalam hatinya?


“Aku memang pernah mencintaimu, tapi semua berubah setelah Kau pergi meninggalkanku.” Sahut Arga tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Nesya, menantang dirinya apakah ia mampu menolak pesona wanita cantik nan seksieh di hadapannya itu.


“Aku tahu Aku salah, dan Aku akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dan cintamu lagi.” Nesya melepaskan pegangan tangannya, ganti menangkup wajah Arga dan dengan berani mendekatkan wajahnya. “Aku masih mencintaimu dan tak pernah bisa melupakanmu. Aku ingin mendapatkan kesempatan kedua darimu, agar kita dapat bersama-sama lagi.”


Arga bergeming. Ia pernah mencintai Nesya, percaya kalau wanita itu pun cinta padanya. Mereka akan selalu bersama dan ia satu-satunya dalam hidupnya. Seiring waktu berjalan, Arga harus menerima kenyataan kalau ia bukan pilihan utama. Nesya lebih memilih kariernya lalu memutuskan hubungan dengannya dan pergi melanglang buana menggapai impiannya.


Arga ingat banyak pertemuan mereka yang sering kali diwarnai dengan pertengkaran, lalu malam-malam panjang yang dilaluinya dengan mata sulit terpejam. Hingga kecelakaan itu terjadi dan ia bertemu dengan Alya, dan wanita itu berhasil mengubahnya hidupnya kembali menjadi lebih berarti.


Setiap hari ia menjadi lebih bersemangat menjalani hari-harinya, tak ada lagi bayangan wajah Nesya yang dulu kerap mengganggu tidur malamnya. Berganti dengan senyum Alya yang menebar keceriaan pada hari-hari yang kini dilaluinya. Dan malam ini ia sudah melakukan kesalahan, dengan membuat Alya menangis.


Kesadaran itu menyentaknya, apakah ia benar-benar pernah mencintai Nesya? Karena tak ada rasa atau getar itu lagi sekarang, sedikit pun tak ada. Tak ada rasa rindu seperti dulu, apalagi keinginan untuk kembali bersama. Tidak sama sekali!


“Aku rasa lima menit waktumu bicara telah lewat. Maaf, Aku tidak tertarik untuk melakukannya lagi bersamamu. Kau lihat, Aku sudah menikah, dan Aku mencintai istriku Alya.” Tegas Arga sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya.


Arga berlalu dari hadapan Nesya yang terdiam di tempatnya dengan wajah bengong, masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terjadi kalau Arga sudah melupakan kisah mereka dan sama sekali tak menginginkannya lagi. Padahal ia berharap Arga akan kembali padanya, rupanya Alya sudah berhasil merebut laki-laki itu darinya.


“Kau mau pulang atau masih mau tetap berdiri bengong di tempat ini?” tegur seseorang di belakangnya dengan kening berkerut dan satu alis terangkat.


Nesya menoleh pada pintu rumah yang telah tertutup di depannya itu, lalu beralih menatap sosok lelaki muda yang berdiri tegap menatapnya. “Aku tidak percaya kalau Arga sudah melupakan Aku. Kamu tahu kan hubungan kami, Kamu juga tahu bagaimana cintanya Arga sama Aku selama ini?”


“Sadar, Sya. Semua sudah berubah, Arga sudah melupakanmu. Ia sudah menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya kini, berhenti mengganggu hidupnya lagi!”


Seperti kehilangan nyawanya, Nesya berjalan gontai menuju mobil di mana semua teman-temannya menunggu dan menatap kasihan padanya. Siapa yang bisa menebak hati seseorang, mereka saksi kebucinan Arga dan bagaimana Arga sempat down karena putus dan ditinggalkan Nesya.


Tapi lihatlah kini, Arga telah menemukan tambatan hati sesungguhnya dan tampak bahagia dengan pilihan hidupnya sekarang. Bukan untuk menutupi kekecewaan hatinya, tapi memang kenyataan sudah berbicara kalau Arga memang mencintai Alya istrinya dan benar-benar telah melupakan Nesya, cinta masa lalunya.


Di dalam rumahnya, Arga menyusul Alya ke dalam kamarnya dan mengetuk pintunya yang terkunci seraya memanggil sang pemilik nama. Di tangannya terdapat ponsel milik Alya, dan rasa bersalah itu makin mendera hatinya setelah mendengar rekaman percakapan antara Alya dan Nesya. “Ay, buka pintunya. Aku mau bicara.”


Alya duduk meringkuk di atas ranjang, dengan kedua lutut ditekuk dan tangan menopang wajahnya. Ia mengangkat wajahnya yang basah air mata dan menyekanya dengan cepat. Meski kecewa dan terluka hatinya, kakinya tetap melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Ia tercekat dan mundur dengan cepat begitu Arga menerobos masuk ke dalam kamarnya.


“Apa Kau sudah selesai berurusan dengan wanita itu dan sekarang hendak meminta pengertian dariku kalau dia memang layak mendapatkan kesempatan kedua darimu?” kata Alya dengan nada dingin, ia mengusap air matanya yang sialnya tak mau diajak untuk bekerja sama. Terus mengalir deras di pipinya.


“Kau ini bicara apa?” tanya Arga, ia perlahan mendekat dan semakin dekat hingga Alya merasa terpojok di dalam kamarnya sendiri.


“Aku hanya perempuan biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa dibandingkan dia. Mana boleh berharap lebih pada lelaki yang masih mencintai mantannya?” sahut Alya memalingkan muka saat jemari Arga memegang dagunya.


Mata hitam kecokelatan Arga menatap Alya tanpa berkedip, suasana temaram dari lampu kamar Alya itu membuat ia tak bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajah cantik di hadapannya itu.


“Yang Aku inginkan saat ini adalah Kamu, bukan dia. Kau istriku, dan dia hanya masa lalu buatku.”


Alya tak begitu saja percaya, “Jangan berbohong padaku, Aku tahu Kau masih mencintai mantanmu itu. Kau lebih memilih mendengarkan kata-katanya ketimbang melihat Aku istrimu!”


“Aargk! Aku baru saja mau bertanya padamu, tapi sepertinya Kau butuh bukti terlebih dahulu.” Sebelum Alya sadar apa yang akan dilakukan Arga selanjutnya, laki-laki itu sudah menarik tengkuknya dan merapatkan tubuh mereka. Ia membuka mulut untuk memprotes tindakan Arga dan laki-laki itu menggunakan kesempatan itu untuk membungkam mulutnya dengan bibirnya.


🌹🌹🌹