
Alya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia menepuk-nepuk pipinya lalu mencubit kecil pahanya. Sakit, itu artinya ia tidak sedang bermimpi. Ia lalu mengibas-ngibaskan tangan ke wajah. Berulang kali melakukan gerakan yang sama, berusaha mengusir rasa gugup yang menguasai hatinya.
Ini bukan kali pertama Alya berada di dalam kamar Arga, menemani laki-laki itu makan malam, minum obat setelahnya, lalu duduk di dekatnya sampai Arga terlelap tidur dan kemudian kembali ke kamarnya sendiri.
Tapi malam ini berbeda, statusnya telah berubah. Mereka sekarang suami istri, dan Alya tak perlu lagi harus kembali ke kamarnya karena Arga memintanya untuk tetap berada di sampingnya.
Jam di dinding sudah menunjuk angka 10, biasanya Arga sudah terlelap pada jam seperti ini. Alya sebenarnya sudah sangat mengantuk, dan ingin segera kembali ke kamarnya. Tapi entah kenapa malam ini laki-laki itu masih terlihat segar, dan tak berhenti terus saja mengunyah potongan buah segar. Padahal biasanya, ia akan menolak bila disuguhkan lewat jam delapan malam.
“Kepanasan?”
“Ya?” Alya menghentikan gerakan tangannya, menolehkan wajah pada Arga yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
“Apa Kau kepanasan?” Tanya Arga lagi.
Wajah Alya memerah, ia mengusap tengkuknya yang berkeringat. Gugup membuatnya jadi salah tingkah, dan berimbas pada suhu tubuhnya yang tiba-tiba saja memanas. “Ya, sedikit.”
Arga meraih remote AC di dekatnya dan mulai mengatur suhu kamar. Udara sejuk memancar memenuhi ruangan. Arga menepuk bantal kosong di sebelah kanannya, meminta Alya untuk mendekat.
“Tidurlah, Kau sepertinya sudah mengantuk.”
Alya menggeleng sambil tersenyum, masih tak beranjak dari tempat duduknya di sofa. “Saya harus tetap terjaga sampai Tuan tertidur lebih dulu.”
“Kau masih saja memanggilku dengan sebutan, Tuan.” Sergah Arga tak senang. “Aku ini suamimu, harusnya Kau panggil Aku dengan sebutan yang lebih mesra.”
Sejenak Alya tertegun mendengar ucapan Arga, tak tahu harus menjawab apa. Lelaki itu kini tengah menatap ke arahnya. “Sudah malam, sebaiknya Tuan tidur sekarang.”
Alya berjalan mendekat, menarik bantal besar di belakang punggung Arga dan membantunya merebahkan tubuhnya. Alya menarik selimut di dekat kaki Arga, namun gerakan tangannya terhenti begitu tangan Arga memegang lengannya. Tatapan keduanya bertemu, dan Alya bisa merasakan degup jantungnya yang berdebar kencang.
“Aku belum mengantuk,” kata Arga menolak untuk tidur.
Alya cepat-cepat memalingkan wajahnya, beralih menatap kaki kiri Arga yang terbuka. “Biar Saya pijat kaki Tuan,” kata Alya sembari melepaskan pegangan tangan Arga di lengannya.
Arga menurut, ia menggeser tubuhnya sedikit ke tengah. Alya mengambil lotion di atas meja dan mulai mengoles telapak kaki Arga. Alya berharap dengan memijat kakinya, Arga akan cepat terlelap. Perlahan tapi pasti, mata Arga mulai merapat. Alya tersenyum melihatnya, ia melepaskan tangannya dan berhenti memijat.
“Mau ke mana?” tanya Arga, membuka matanya begitu melihat Alya hendak keluar dari kamarnya.
“Saya harus kembali ke kamar Saya sendiri,” jawab Alya cepat, dan itu membuat Arga mengerutkan keningnya. Ia bergerak bangun dan duduk memasang wajah kesal.
“Kenapa tidak tidur di kamar ini saja, Aku toh tidak akan berbuat macam-macam denganmu.” Cetus Arga sebal.
Alya mengembuskan napas, bahunya luruh seketika. Ia berjalan kembali ke sofa, memeluk bantal di dada lalu merebahkan tubuhnya di sana.
“Kenapa tidur di sofa?”
Hening kemudian, tak terdengar lagi suara Arga. Alya memutar tubuhnya dan tersenyum melihat laki-laki itu sudah terlelap. Wajah Arga menghadap ke arahnya, Alya bisa dengan bebas menatapnya.
Bola mata Alya menyempit saat menatap garis wajah tampan Arga, ingin rasanya menyentuh helai rambut yang menjuntai di dahi itu. Pandangannya turun ke dada Arga yang turun naik seiring deru napasnya yang teratur, lalu turun lagi ke bagian kakinya yang terbuka.
Mau tidak mau Alya bangun dan membetulkan letak selimut Arga, berdiri sejenak di sana untuk memandang wajah tampan itu dari dekat dan tersenyum tanpa bisa menahannya.
Wajahnya menghangat begitu teringat kecupan singkat Arga di bibirnya yang dilakukan tanpa sengaja. Jantungnya berdesir aneh, Alya menepuk pipinya lagi. Sepertinya ia mulai tertarik pada suaminya itu, tapi bukankah itu hal yang wajar selama Alya tidak membiarkan dirinya jatuh cinta. Arga terlalu tampan, dan Alya percaya di luar sana banyak wanita cantik yang berlomba ingin menjadi pasangannya. Tapi laki-laki ini justru memilih dirinya.
“Eaargh!”
Alya tersentak dan sontak menegakkan tubuhnya, telinganya mendengar erang tertahan dari mulut Arga. Ia bergerak mendekat dan duduk di tepi ranjang.
“Tuan,” panggil Alya lembut, tangannya terulur mengusap kening Arga yang berembun. Sepertinya Arga mimpi buruk, bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Tangannya mengepal kuat dan napasnya kini mulai tersengal.
Arga bergerak gelisah dalam tidurnya, Alya mencoba membangunkannya. “Tuan.”
Grep!
Tangan Arga bergerak tak terduga menangkap tangan Alya yang sedang mengusap keningnya, dan mencengkeramnya kuat. Alya meringis dan sedikit meronta, tapi Arga semakin kuat menekan tangannya.
“Jangan bergerak!” gumam Arga pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga Alya yang langsung terdiam.
Alya mengernyit, menatap tepat ke mata Arga yang masih terpejam rapat. Lelaki itu mulai mengendurkan cekalan tangannya. Namun yang terjadi selanjutnya membuat Alya kembali tersentak. Tubuhnya jatuh tepat di sisi Arga saat tangan kuat laki-laki itu tiba-tiba saja menariknya.
Kerutan di kening Alya makin dalam begitu mendengar helaan napas Arga di dekatnya. Tubuh mereka saling merapat, lengan Arga kini memeluknya erat dan laki-laki itu kini membenamkan wajahnya di keharuman rambutnya.
Alya berbaring dengan tubuh kaku, menahan napasnya. Tubuh Arga terasa hangat, dan embusan napasnya menerpa kulit wajahnya. Alya sempat berpikir laki-laki itu sudah terbangun dan sekarang berpura-pura tertidur. Tapi ia harus menepis pikiran itu dari kepalanya karena sepanjang malam Arga hanya diam memeluknya.
“Tuan.” Alya setengah berbisik, tapi Arga tak terjaga. Ia makin tertidur pulas. Pelan-pelan Alya menarik tubuhnya melepaskan diri dari pelukan Arga, namun gerakannya itu justru membuat Arga semakin mengetatkan pelukannya.
“Jangan pergi dariku,” bisiknya pelan di telinga Alya.
Alya membeku di tempatnya, tak tahu harus berbuat apa. Ia menggigit bibir, berusaha menahan perasaannya. Ia mendongak menatap wajah tampan yang begitu dekat dengannya itu. Sesuatu tumbuh dalam hatinya dan membuatnya kembali tersentak.
Tidak, ia tidak boleh membiarkan rasa itu tumbuh subur dalam hatinya. Ia akan patah hati nanti, karena laki-laki itu menikahinya bukan atas dasar cinta. Dan Alya melakukannya karena kontrak kerja yang mengikatnya yang membuat dirinya harus terus berada di sisi Arga.
Kesadaran itu membuat Alya kembali melepaskan dirinya, dan ia berhasil melakukannya. Alya bangkit dan mematikan lampu kamar Arga, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri.
🌹🌹🌹