
Alya berdiri terpaku menatap wajah tampan Arga yang tengah terlelap di atas ranjang. Sebelah tangan lelaki itu berada di sisi wajahnya dan sebelahnya lagi menyusup di bawah bantalnya. Sebagian rambutnya menjuntai ke dahi, dan dua kancing teratas piama tidurnya terbuka menampakkan dadanya yang bidang.
Ingin rasanya menyentuh wajah itu dan mengusap rambutnya, tidur dan berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuhnya. Sayang itu tak berani dilakukannya, Alya cukup tahu diri dengan hanya menatapnya. Meski telah melewati banyak waktu bersama, Arga selalu memperlakukannya dengan baik dan tak pernah melewati batas walau mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.
Ponsel Arga berkedip, menandakan ada pesan masuk kembali dan berhasil mengalihkan perhatian Alya. Ia menoleh sekilas, namun tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Kau pasti berbohong padaku soal yang satu itu. Aku masih tidak percaya kau sudah menikahi wanita itu, dia tidak pantas bersanding denganmu.
Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi tetap saja Aku tidak percaya ceritamu, Kau hanya mencari-cari alasan untuk menghindar dariku. Menikah dengan wanita itu sungguh sebuah alasan yang lucu dan sangat tidak masuk akal, karena Aku tahu dia bukan tipemu.
Kata-kata itu kembali terngiang dalam benaknya, menimbulkan rasa pedih dan luka di hati Alya. Wajahnya memanas, sudut matanya tiba-tiba mengembun. Ditatapnya kembali wajah Arga, yang bergerak dalam tidurnya. Selimut di kakinya tersingkap, memperlihatkan bekas luka di kakinya yang mulai samar.
Hufh! Alya mengembuskan napas, mendongak menatap langit-langit kamar.
Kalau Aku tak pantas untuknya dan pernikahan ini seperti sebuah lelucon untukmu, lalu siapa yang Kau pikir pantas bersanding dengannya? Apa Kau merasa lebih pantas untuknya, yang mengatas namakan cinta namun pergi meninggalkan dia?
Alya menghapus sudut matanya cepat saat kesadaran itu datang dan menyentaknya, ia harus tetap bersikap tenang dan tidak boleh terpengaruh dengan kata-kata Nesya sebelum mendengar langsung dari suaminya. Ya, Arga suaminya yang sah secara hukum dan agama. Tak ada yang boleh mengusik rumah tangganya.
Perlahan Alya mendekat, merapikan letak selimut Arga lalu berbalik dan kembali ke kamarnya. Ia sudah mengambil keputusan untuk menunda kepulangannya, dan besok pagi-pagi sekali ia akan menelepon ibunya.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun matanya sulit untuk terpejam. Bolak-balik di atas ranjang, pada akhirnya Alya memilih bangun. Otaknya terus berputar cepat, hingga rasa kantuk enggan menghampiri. Ia duduk menopang dagu sambil memeluk kedua lutut menatap gulungan ombak di pantai. Ajaib, secara perlahan bola matanya meredup dan Alya tertidur dengan posisi duduk.
Alya terjaga dari tidurnya saat dering telepon berbunyi, dan mendengar suara Arga yang menerimanya. Ia tersentak bangun dan menatap bingung sekelilingnya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Aneh, kenapa Arga bisa tidur di ranjangnya. Bukankah semalam laki-laki itu terlelap di kamarnya saat Alya menengoknya dan ia sendiri duduk menatap keluar jendela dalam kamarnya? Sejenak Alya memijit pelipisnya, bangun secara mendadak membuat kepalanya berdenyut.
“Baiklah, Ma. Jangan khawatir, Aku dan Alya baik-baik saja. Pagi ini kami janji bertemu di kafe abang buat sarapan pagi. Oh, ya. Sampaikan salam kami buat oma di sana, cepat pulih.” Arga menutup sambungan teleponnya dan menaruh ponselnya kembali ke atas nakas di sampingnya.
“Ada apa?” Alya menegakkan punggungnya begitu melihat Arga selesai bicara dan berdiri menatapnya. Ia menarik selimut hingga batas dada, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Apa yang terjadi?”
“Mama titip salam buatmu,” sahut Arga. “Kepulangannya ditunda karena oma tiba-tiba saja harus masuk rumah sakit.”
“Bagaimana keadaannya, apa sakitnya parah?”
“Mama bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan, oma hanya kecapaian saja. Maklum sudah sepuh, perjalanan jauh kemarin bikin tekanan darah oma naik. Tapi sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik,” jelas Arga.
Alya melompat turun dari ranjang begitu melihat Arga merebahkan tubuhnya lagi di sana. Lelaki itu mengernyit, namun urung bertanya begitu matanya menatap Alya yang menjatuhkan bo kongnya di sofa.
“Aku pikir Kau tak nyaman dengan kehadiranku di sini, sampai-sampai Kau harus melompat turun dari tempat tidurmu.”
Seolah bisa menebak jalan pikiran Alya, Arga balas menatapnya lekat. “Kau tahu Aku selalu merasa lapar saat malam, jadi Aku mencarimu ke mari dan menemukanmu tertidur di kursi. Aku berusaha membangunkanmu, tapi Kau begitu lelap. Jadi Aku memindahkanmu ke ranjang ini.”
Wajah Alya merona, jadi itu sebabnya kenapa laki-laki itu bisa berada di dekatnya. Ia berdeham sejenak sebelum mulai bicara, “Apa Kau makan setelahnya?”
Arga menggeleng dengan bibir mencebik, “Aku tidak menemukan buah potong untuk bisa Aku makan.”
Alya tersenyum mendengarnya. Mereka baru saja pulang ke rumah, tentu saja tak banyak barang tersimpan di kulkas. Ia menatap jam di dinding, sudah saatnya untuk memulai aktivitas. Dan rencananya hari ini Alya akan menyuruh asisten rumah tangga mereka berbelanja sekaligus membeli sejumlah kebutuhan untuk menjamu tamu Arga nanti malam.
“Biar bibi nanti yang belanja,” kata Alya, dan Arga mengangguk sambil menguap lebar lalu tak lama kemudian kembali memejamkan matanya.
Pagi tiba, matahari bersinar cerah. Langit tampak biru, dan semilir angin bertiup sepoi. Alya sudah menyiapkan secarik kertas untuk catatan bibi berbelanja, juga membuatkan sarapan untuknya dan Arga. Ia juga sudah menelepon ibunya yang senang mendengar kabar menantunya yang pulih lebih cepat. Setelah itu Alya mulai mengatur tata letak ruang tamu dan meja makan. Semua dilakukannya sendiri saat Arga masih terlelap di kamarnya.
Arga bangun setelah mencium aroma kopi menguar kuat di dekatnya, ia mengerjapkan mata dan tersenyum melihat di atas meja sudah tersedia dua tangkup roti bersama air putih dan secangkir kopi juga obat yang harus selalu diminumnya. Jam dinding menunjuk angka 7, sudah waktunya bangun. Pagi ini ia bersama Alya akan bertandang ke kafe Rivan untuk makan bersama.
Arga membawa sarapannya keluar dan menaruhnya ke atas meja makan, ia kemudian kembali ke kamarnya dan mulai membersihkan diri. Setengah jam kemudian, Arga siap dengan dirinya dan segera mencari Alya di sekitar rumah. Dilihatnya wanita itu sedang duduk berjongkok menyiangi tanaman di halaman rumah.
“Ay, jam setengah sembilan kita ditunggu bang Rivan di kafenya.”
Alya mengangguk tanpa menolehkan wajahnya, tangannya masih asyik mencungkil tanah di dekat kakinya. “Iya, sebentar lagi Aku selesai. Tunggu bibi datang, abis itu kita berangkat.”
“Iya, Kamu mandi dulu. Habis itu temani Aku sarapan,” pinta Arga, lalu ikutan berjongkok di belakang Alya tanpa wanita itu menyadarinya.
“Aku sudah mandi kok, barusan.” Alya mengendus lengan bajunya, “Bau ya? Iya, sih. Aku belum ganti baju, masih pakai yang semalam.” Alya meringis dan berpaling menatap Arga. Seketika wajahnya berubah memerah begitu ujung hidungnya menyentuh wajah laki-laki itu, dan ia hampir terjengkang saking terkejutnya. Beruntung tangan kuat Arga berhasil menahannya.
“Aku suka wangimu, khas Alya banget.” Sahut Arga dengan wajah menunduk dan kedua tangan masih memeluk tubuh Alya. Tanpa dikomando, bibir Arga menyentuh sudut bibir Alya dan menye sapnya pelan.
Mulanya hanya sekali, Arga menarik wajahnya. Alya mengerjapkan matanya. Tak tahan melihat bibir Alya yang basah akibat ulahnya, Arga bergumam pelan dan mengulangnya lagi. Ini sarapan spesial untuknya sebelum menyantap sarapan pagi sesungguhnya.
Seperti terkena hipnotis rasanya, Alya mandah saja dan malah membalas ciuman Arga. Meski terkesan masih kaku karena belum berpengalaman, Alya mengikuti nalurinya dengan mengalungkan tangannya ke leher Arga yang memegang kuat pinggulnya dan membawanya berdiri.
Andai saja tidak terdengar suara salam bibi yang datang dan berdiri menunggu dari balik pagar rumah, Alya tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia cepat-cepat melepaskan diri dan bergerak menjauh seraya membalas sapaan asisten rumah tangganya itu lalu bergegas membuka pagar rumah.
“Bibi langsung ke pasar ya, ini catatan sama uang belanjanya. Kalau Bibi pulang dan kami belum kembali, tolong bersihkan saja sayur sama buahnya.” Alya menyerahkan catatan dan uang belanja ke tangan bibi yang tampak bengong menatapnya.
Tanpa menunggu jawaban asisten rumah tangganya itu, Alya langsung melesat masuk ke dalam rumah diiringi tatapan bengong bibi dan Arga yang meringis melihat tingkahnya.
🌹🌹🌹