
Tak berhenti hanya di situ saja, bibir Arga turun ke pucuk hidung Alya, lalu bergeser ke bagian pipinya. Ia kecup keduanya, dan Alya kembali memejamkan matanya. Tangannya kini menangkup jemari Arga yang berada di kedua sisi wajahnya. Tak terasa sudut matanya mengembun dan setitik air mata jatuh menetes di pipinya.
Arga menarik wajahnya, tersentak saat merasakan pipinya basah oleh air mata Alya. “Kenapa menangis, apa Aku menyakitimu?”
Alya menggeleng tanpa membuka mata. Ia tersenyum merasakan jemari Arga mengusap lembut pipinya. “Aku tak tahu perasaan apa yang sedang Aku rasakan saat ini, tapi Aku senang bisa bersama-sama dengan Tuan di sini.”
“Apa itu artinya Kau senang akhirnya kita menikah?” tanya Arga, perlahan Alya membuka matanya dan bulir bening jatuh membasahi pipinya lagi.
Alya mengangguk dan tersenyum, “Aku senang, kita akan pergi bersama-sama. Aku akan terus berada di samping Tuan setiap saat, dan akan jadi orang pertama yang melihat Tuan bisa berjalan normal dan berlari kembali.”
Tak tahan melihat bibir ranum yang tersenyum padanya itu, Arga mendekatkan wajahnya lagi dan melabuhkan bibirnya di bibir Alya. Sesaat Arga bisa merasakan tubuh Alya menegang, bagaimana respons bibir Alya yang mengatup rapat saat menyambut ciumannya. “Apa ini ciuman pertamamu?”
Semburat merah mewarnai pipi Alya karena ucapan Arga sama sekali tidak salah. Ini pengalaman pertama untuknya, dan tubuhnya yang gemetar sudah cukup sebagai jawaban. Arga tersenyum lebar, diusapnya dengan ibu jarinya sudut bibir Alya yang basah akibat ulahnya.
“Jangan tegang begitu, sayang.” Bisik Arga pelan, ia menatap mata Alya lekat-lekat. “Coba buka bibirmu,” pinta Arga, dan Alya menurut meski terlihat salah tingkah dan mencoba memberanikan diri balas menatap wajah Arga.
Tak pelak lagi, wajah tampan yang tengah tersenyum padanya itu membuat jantung Alya berdebar kencang. Tanpa dapat dicegah, mulut Alya terbuka seiring napasnya yang memburu. Ia tak kuasa menahan rasa aneh yang timbul di hatinya secara tiba-tiba setelah tadi Arga mencium wajahnya dan tak sabar ingin merasakan sensasi menyenangkan saat bibir laki-laki itu menyentuh bibirnya lagi.
Namun suara dering telepon di saku baju Arga membuyarkan harapan di benak Alya dan ia langsung menjauhkan tubuhnya dan berdiri di belakang kursi roda Arga. Rona malu tersirat jelas di wajahnya, untung saja Arga tak melihatnya karena laki-laki itu tengah memunggunginya dan fokus menerima telepon dari mamanya.
Untuk pertama kalinya, tanpa diminta Alya tidur di kamar Arga. Setelah membereskan koper milik suaminya itu dan menaruhnya di ruang tengah bersama dengan koper miliknya, Alya menemani Arga menonton pertandingan bola di televisi.
Terlalu bersemangat, hingga tayangan usai Arga malah tak bisa tidur. Ia merasa lapar, sementara Alya sudah tak kuat menahan kantuk dan terlihat sudah menguap beberapa kali.
“Ay, Aku lapar.” Arga menjawil pipi Alya yang berbaring miring di sampingnya, dengan mata setengah terpejam.
Alya bangun, duduk sejenak dengan tubuh bergoyang menahan kantuk. “Makan buah aja, ya.”
Arga mengangguk, ia perhatikan Alya menuju wastafel dan membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum mengambil beberapa buah dari dalam kulkas yang ada di kamarnya.
“Kalau sudah selesai makannya, cepetan tidur. Sudah malam,” kata Alya mengingatkan, ia mengulurkan piring berisi potongan buah ke tangan Arga yang menerimanya dengan mengucap terima kasih padanya. Alya lalu berpindah tempat ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
“Kenapa tidur di sana lagi?” protes Arga melihat Alya menarik selimut dan mulai memejamkan matanya di sofa. Tak ada jawaban, Arga mengerutkan keningnya. Ia memanggil Alya lagi, tapi rupanya wanita itu sudah terlelap.
Arga menghabiskan cepat makanannya, menaruh piring kosong ke atas meja di dekatnya lalu meraih tongkatnya dan berjalan tertatih mendatangi Alya. Ia menarik kursi yang ada di sana dan duduk di hadapan Alya. Wanita itu tak terusik sama sekali dengan suara berisik yang terdengar nyaring di dekatnya.
“Kasihan, Kau pasti kelelahan harus terus mengurus suamimu ini.” Arga menatap wajah Alya, tangannya terulur mengusap lembut rambut wanita itu yang tergerai dan jatuh menutupi sebagian pipinya.
Arga tahu, ia mulai jatuh hati dengan Alya. Suka dengan semua perhatiannya, suka saat mereka bersama. Untuk sesaat lamanya ia pandangi wajah Alya sambil memainkan jemarinya di rambut Alya. Ia telah mendapatkan kesempatan kedua untuk melanjutkan hidupnya. Dulu ia dekat dengan banyak wanita meski hanya menganggap mereka semua teman biasa, tapi kini ia punya seseorang yang berarti dalam hidupnya. Alya, wanita sederhana yang telah membuat hari-harinya kini lebih berwarna.
Keesokan harinya kedua orang tua Arga bersama Rivan datang untuk mengantar mereka ke bandara. Ditemani seorang asisten yang bertugas membantu mereka di sana nanti, siang itu Alya dan Arga berangkat ke luar negeri. Melalui perjalanan yang cukup melelahkan selama lebih dari tujuh jam lebih di dalam badan pesawat, mereka akhirnya tiba di negara tujuan.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh dokter yang akan merawat Arga di sana, mereka menempati sebuah apartemen milik sang dokter yang merupakan sahabat baik Bian Winata yang letaknya dekat dengan rumah sakit tempatnya bertugas.
“Lelah?” tanya Arga, tersenyum melihat Alya langsung merebahkan tubuhnya di sofa kamar yang mereka tempati bersama.
Alya mengangguk, lelah luar biasa rasanya. Ini pengalaman pertamanya terbang ke luar negeri, tapi ia tak bisa langsung berleha-leha karena Arga harus menyegarkan dirinya segera dengan cara mandi.
“Mau mandi sekarang?” tanya Alya, yang langsung diangguki Arga. Dan sudah menjadi tugas Alya kini untuk membantu melakukannya.
Perbedaan waktu yang hanya berjarak dua jam saja dengan negara kita, tak menjadi masalah untuk mereka. Satu hari beristirahat untuk memulihkan diri dirasa cukup, Arga langsung memulai pengobatannya.
Dua bulan pertama berada di sana, Arga mengalami kemajuan pesat. Kaki kirinya perlahan mulai bisa digerakkan kembali, ia terus berlatih dan mulai berjalan tanpa harus menggunakan kursi roda lagi.
Demikian juga dengan mata kirinya. Setelah dilakukan operasi, mata Arga sembuh dan ia bis melihat normal kembali. Selama waktu itu berlangsung, Alya dengan setia selalu menemani. Mereka pun sudah terbiasa satu sama lain, hubungan keduanya semakin dekat meski tak pernah lebih dari ciuman di bibir.
Waktu berlalu cepat, tak terasa sudah enam bulan lamanya mereka berada di luar negeri. Arga sudah bisa berjalan normal kembali, pengobatannya berlangsung cepat karena ditangani seorang yang sangat ahli di bidangnya. Meski sudah dinyatakan sembuh total, tapi Arga masih harus berobat jalan selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan kekuatan otot dan tulang di bagian kaki kirinya.
Saatnya kembali ke tanah air, mereka hanya tinggal berdua saja setelah asisten mereka ditarik pulang karena melihat perkembangan kesehatan Arga yang bisa ditangani oleh Alya sendiri selama berada di luar negeri.
“Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tegur Arga saat mereka tiba kembali di tanah air, berjalan bergandengan tangan berdua melewati pintu keluar di bandara. Di sana, ada mobil yang akan menjemput mereka.
“Aku senang sekali, akhirnya kita kembali ke tanah air dan melihatmu sudah bisa berjalan kembali.” Jawab Alya, tersenyum dengan raut bahagia.
“Semua berkat Kamu, Ay.” Balas Arga. “Terima kasih.” Arga mengecup tangan Alya yang berada dalam genggaman tangannya.
Mobil yang menjemput mereka sudah tiba, sopir langsung memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Arga membukakan pintu untuk Alya, dan menunggu sampai wanita itu masuk ke dalam mobil lalu Arga berjalan memutar dan menyusul masuk setelahnya.
“Arga!” teriak seseorang memanggil nama Arga, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan tersentak kaget saat seorang wanita cantik berlari menubruknya dan langsung memeluknya erat. “Miss you.”
🌹🌹🌹