Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 23. Kecewa



Waktu seakan merangkak jalannya, rasanya lama sekali menunggu pertemuan mereka malam itu selesai. Alya yang duduk di sebelah Arga, berusaha bersikap tenang dan menahan diri untuk tidak melirik arloji di tangannya setiap lima menit sekali. Ia pun lalu meminta permisi untuk ke kamar kecil, berbisik pelan di telinga Arga yang mengangguk mengiyakan sembari mengusap punggungnya.


Sudah lewat jam sepuluh malam, tapi Arga dan teman-temannya masih asyik berbincang di teras rumah ditemani banyak camilan. Alya sudah membereskan sisa-sisa makan malam mereka semua, dan mengatur rapi dapur rumahnya kembali. Ia memilih untuk duduk menunggu di depan televisi sambil memainkan ponselnya, tapi tak bisa mencegah matanya yang dihinggapi rasa kantuk meredup hingga beberapa kali kuap lolos dari mulutnya.


“Hai,” sapa seseorang mengejutkan Alya dan berhasil membuat matanya terbuka lebar. Nesya mengambil tempat duduk di depannya, dengan kaki menyilang dan tangan memegang gelas minuman. Gaun ketat yang ia kenakan tersingkap naik saat kakinya bergerak hingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus.


“Hai, Nesya.” Balas Alya ramah. Wanita itu hanya menatapnya sesaat, sebelum menye sap minuman di tangannya.


“Sejak kapan kau mengenal Arga?” tanya Nesya tanpa basa-basi dan terkesan kaku, ia mengurai lipatan kakinya dan duduk dengan punggung tegak. Saat ia mendekatkan wajahnya dan bicara dengan Alya, belahan dadanya terlihat jelas.


“Hampir delapan bulan yang lalu, kami bertemu di rumah sakit saat ia mengalami kecelakaan.” Jawab Alya tanpa berniat menutupi keadaan yang sebenarnya. Tapi wanita itu tak perlu tahu soal kesepakatannya dengan Arga dan semua yang telah dilakukan laki-laki itu pada ibunya.


Seolah ada yang menggerakkan jari tangannya, Alya yang sedang memainkan ponselnya tanpa sengaja menekan tombol rekam. Ia lalu meletakkan benda pipih itu ke bawah meja, persis di atas majalah yang tersusun rapi di sana.


“Kau pasti senang sekali malam ini, karena semua teman pria Aku yang hadir di rumah ini menyanjung dan memujimu.” Kata Nesya lagi, terdengar sinis dan sangat tidak bersahabat.


“Aku melakukan semua hal sesuai dengan kemampuan yang Aku miliki, dan Aku tidak berharap pujian dari siapa pun.” Tegas Alya masih dengan senyum di bibir.


“Wanita mana yang tidak suka dipuji.” Nesya tersenyum sinis, ia menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap tajam Alya. “Jangan berpura-pura polos di depanku, Aku tahu wanita seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Kau mendekati Arga karena menginginkan hartanya saja, bukan?”


Alya mengernyit, melihat cara Nesya menatapnya dengan pandangan merendahkan yang begitu kentara. Wanita itu menggoyang-goyangkan gelas di tangannya, sebelum menye sapnya kembali.


“Aku tidak melakukan hal rendah macam yang Kau tuduhkan padaku itu. Meski Aku miskin sekali pun, pantang bagiku mengejar-ngejar seorang pria kaya hanya untuk mendapatkan hartanya saja. Apalagi kalau pria itu tidak menaruh perhatian sedikit pun padaku dan malah mengabaikan keberadaanku di dekatnya,” sindir pedas Alya yang mampu membuat panas telinga Nesya yang mendengar ucapannya.


“Kau bukan tipenya dan tidak pantas untuknya, lebih baik Kau tinggalkan Arga dan lupakan soal hubungan kalian ini.” Nesya mendengkus kesal, ia menegakkan tubuhnya kembali. Bibirnya yang penuh dan dipoles dengan pemerah bibir yang berwarna terang itu mencibir, membuat Alya hampir saja terpancing emosinya.


Baiklah, Kau memang wanita cantik dan seksieh. Tapi Kau bukan siapa-siapa bagi Arga. Aku yakin banyak pria di luar sana yang tertarik dan berusaha mengejarmu dan ingin jadi kekasihmu. Tapi kenapa Kau malah terus mengejar Arga, suamiku? Geram hati Alya yang hanya terucap dalam hati.


Alya terkesiap dan mengusap wajahnya yang basah dengan cepat, ia tak sempat menghindar saat wanita itu menyiramnya. Tapi Alya masih bisa menahan gerakan tangan Nesya yang terangkat dan siap menampar wajahnya, ia cengkeram kuat pergelangan tangan wanita itu dan memitingnya ke belakang. Hingga terdengar jerit kesakitan Nesya sampai ke luar ruangan.


“Kurang ajar, berani Kau mengatakan itu padaku. Kau yang merebut dia dariku, dan Aku tak akan membiarkan Kau mengambilnya darimu. Jika Aku tidak bisa memilikinya, Kau juga tidak boleh memilikinya. Lepaskan tanganku!” sumpah serapah Nesya keluar tanpa bisa dibendung, dan Alya tak mau begitu saja melepaskannya.


“Apa yang sudah kalian lakukan?” teriakan Arga bergema seiring langkahnya yang berjalan mendekat, disusul dengan kedatangan teman-temannya yang lain. Suara teriakan Nesya membuat obrolan mereka terhenti mendadak. “Ay, lepaskan tanganmu. Kau bisa menyakitinya!” tegur Arga.


Spontan saja Alya melepaskan cekalan tangannya, tubuh Nesya terdorong maju dan kakinya hampir saja menabrak ujung meja di depannya.


“Aow, sakit!” jerit Nesya seraya memegangi lengannya yang nyeri, matanya terlihat berkaca-kaca dan tak lama kemudian wanita itu menangis terisak lalu berlari menubruk Arga. “Aku datang untuk menyapanya, tapi dia tak suka malah marah-marah padaku dan berusaha menyakitiku.”


“Keterlaluan Kamu, Ay!” kecam Arga. “Biar bagaimana pun juga, Nesya adalah tamu kita. Sudah sepatutnya kita memperlakukannya dengan baik sama seperti tamu yang lain.”


Alya terperangah tak percaya, Arga percaya begitu saja pada ucapan Nesya. Wanita itu yang mulai dan mencari masalah dengannya, dan ia hanya berusaha membela diri karena Nesya sudah menyiram wajahnya dan hendak menamparnya. Semua mata kini tertuju padanya, seperti sedang mencemooh dirinya karena telah berbuat kasar pada Nesya.


“Dia menyiram wajahku dan hendak memukulku, Aku hanya berusaha membela diri. Apa itu salah? Dan Kau percaya begitu saja ucapannya," sergah Alya dengan sorot mata kecewa.


“Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian sebenarnya, dan semua itu bukan urusanku. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan Arga, dan jujur saja sampai detik ini Aku masih sangat mencintainya dan tidak pernah berhenti mencintainya. Tapi Aku sadar diri telah bertindak bodoh dengan melepas cinta kami dan lebih memilih karierku, tapi Aku tetap setia dengan cintaku padanya dan tak pernah berpaling pada laki-laki lain. Rupanya hal itu mengganggunya, ia tidak bisa menerima wanita lain ada dalam hidup suaminya dan berniat menyingkirkan Aku darimu.” Nesya mendongakkan wajahnya, masih memeluk Arga. Ia bicara tanpa menoleh pada Alya, matanya hanya tertuju pada Arga yang terlihat serba salah setelah mendengar pengakuannya.


Alya menggeleng tak percaya, benar-benar pandai bersandiwara. Bicara pun rasanya akan lebih menyakitkan untuknya, karena fokus Arga sepertinya sedang tertuju pada Nesya dan bukan pada dirinya.


Air menggenang di pelupuk mata Alya, sebutir menetes turun di pipinya. Dan Alya menyekanya dengan cepat. Ia mencoba tersenyum meski bibirnya terasa kaku. “Aku permisi, sepertinya kehadiranku di sini sudah tak banyak berarti lagi buatmu.” Alya bergegas masuk ke kamarnya dan menumpahkan tangisnya di sana, tangis pertamanya untuk Arga.


🌹🌹🌹