Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 27. Suami seutuhnya



Pagi menyapa, sinar mentari pagi yang menembus kisi-kisi jendela kamar Arga membuat Alya terjaga. Matanya mengerjap perlahan lalu terbuka sepenuhnya, ia bergerak menyamping dan pandangannya langsung membentur dada bidang Arga yang berada tepat di depannya.


Alya mengangkat wajah, tersenyum menatap Arga. Sebelah tangannya menangkup pipinya yang menempel di bantalnya, dan sebelah tangannya yang bebas dengan berani memainkan kancing teratas piama Arga yang terbuka.


Lelaki itu masih tampak pulas tertidur dengan posisi tubuh miring sama seperti dirinya. Satu sudut bibirnya melengkung seolah sedang tersenyum. Rambut poninya jatuh luruh di keningnya dan tampak berantakan, tapi tak mengurangi sedikit pun kadar ketampanannya.


“Benar-benar makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna,” gumam Alya tak mampu mengalihkan pandangannya. “Dan Aku hampir-hampir tak percaya telah menikah dengannya.”


Tak berhenti hanya sampai di situ saja, ujung jemari Alya semakin berani dan kini menyelinap masuk menyentuh dada Arga. Terdengar lenguh tertahan. Alya terkesiap, lalu menarik cepat tangannya dan menggigitnya hingga meninggalkan bekas di kulitnya.


Mengabaikan suara yang didengarnya barusan, Alya justru fokus pada suasana hatinya. Tak menyangka bahwa apa yang ia lakukan, justru menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya yang terasa hingga ujung jari kakinya.


“Apa yang sudah Aku lakukan?” Alya menangkup mulutnya, berharap Arga tak terusik karena ulahnya. Ia mengesah gusar, hanya dengan menyentuh sedikit saja respons tubuhnya sudah sedemikian rupa. Apa jadinya kalau Arga yang ganti menyentuhnya di tempat yang sama seperti yang sudah laki-laki itu lakukan padanya semalam?


Beberapa menit kemudian yang dilakukan Alya hanya berdiam diri dan terus memandang Arga, lalu menahan napas ketika lelaki itu bergerak dalam tidurnya. Alya merapat ke pelukan Arga saat tangan kuat itu menyelinap melewati bawah ketiaknya dan menariknya mendekat.


Tak bisa dipungkiri, rasanya sungguh nyaman berbaring dalam dekapannya seperti sekarang ini dan menempelkan wajah di dada bidang itu. Merasakan embusan napasnya yang menyentuh kulit wajahnya, juga hangat tubuhnya seperti sebuah selimut untuknya.


“Tuhan, terima kasih telah Kau hadirkan dia dalam hidupku.” Bisik Alya pelan. Sempat harus menahan asa mengingat pernikahan yang dijalani tak lebih seperti sebuah tugas untuknya. Tapi seiring waktu berjalan juga kebersamaan di antara mereka, tumbuh benih-benih cinta di hati Arga padanya.


Tak bisa menahan dirinya, tangan Alya terulur lagi dan menyentuh paras tampan suaminya itu. Menyusuri setiap detail garis wajahnya dengan ujung jemarinya, satu kecupan ia sematkan di pipi mulus itu sambil berucap kata sayang untuknya.


“Hmm.” Terdengar suara tertahan Arga dengan mata masih terpejam. Alya dibuat terkejut dan kembali harus menahan napas ketika dilihatnya tangan Arga bergerak membelit pinggangnya lalu sebelah kaki lelaki itu naik menindih pahanya.


“Sayang?” panggil Alya, mencoba menurunkan kaki Arga dari pahanya, namun hanya berhasil menggesernya turun sedikit saja. “Kalau kelamaan seperti ini, kaki Aku bisa keram.” Bujuk Alya lembut, meminta Arga memindahkan kakinya.


Alya menarik napas lega. Entah sudah bangun atau sedang pura-pura tertidur lagi, tapi Arga mengerti maksud ucapan Alya dan langsung menjauhkan kakinya. Ia juga melepaskan pelukannya di pinggang Alya dan kini berbaring telentang dengan satu tangan berada di atas kepalanya dan satunya lagi menyusup di bawah bantalnya.


Alya terkekeh, gemas melihat tingkahnya. Semalam adalah malam pertama mereka tidur bersama setelah saling mengungkapkan perasaan hati masing-masing. Perasaan cinta Alya pun tumbuh dan semakin berkembang, bahagia yang kini tengah dirasakannya.


Teringat kejadian semalam, seketika pipi Alya merona. Meski mereka tak jadi melakukan itu, tetap saja Arga tak mau melepaskannya begitu saja. Tubuhnya langsung meleleh begitu Arga mendekapnya dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman mesra namun penuh tuntutan, keinginan untuk mendapat balasan yang sama dari Alya.


Pemanasan kata Arga sebelum ke bagian inti. Tapi saat Arga mulai bertindak lebih jauh dan menginginkan lebih, tubuh Alya langsung menegang kaku. Arga harus bersabar dan menahan hasratnya, meski kepala berdenyut nyeri.


Alya tak tahu apa yang terjadi pada tubuh suaminya itu. Sambil menggumamkan kata ‘pengalaman pertama’ yang menjadi alasan Alya, cukup membuat Arga mengerti ketegangan yang sedang dirasakan istrinya itu. Ia mencoba untuk tidur kembali, sayang itu tak berhasil ia lakukan.


Hingga menjelang pagi, ia kembali harus menahan diri mendapati Alya terbangun dan menyentuh dadanya. Andai wanita itu tahu kalau ia tak tidur sejak semalam, mana berani Alya menyentuhnya seperti sekarang ini.


Baiklah, cukup sudah. Arga tak bisa menahannya lagi sementara bagian inti tubuhnya mulai berontak. Ia membuka matanya sedikit, dan tersenyum samar melihat Alya melakukan peregangan dengan menggerakkan kedua tangan ke atas. Wanita itu menoleh cepat saat merasakan sebuah lengan kuat menghalang dan mengunci gerakan tubuhnya.


Dengan memasang gaya setengah mengantuk, Arga membuka mata dan tersenyum menatap Alya. “Aku akan terus bersabar menunggu sampai Kau mau melakukannya denganku.”


Alya terbelalak dan bangun dengan cepat, lelaki itu ternyata mendengar semua ucapannya dan sudah bangun sejak tadi. Arga bahkan hanya diam dan membiarkan saja tangannya itu mengabsen dan menyusuri setiap garis wajah tampannya.


“Ish! Kenapa harus pura-pura tidur, sih. Aku kan jadi malu,” rajuk Alya dengan wajah tertunduk malu, karena ketahuan sedang mengagumi wajah Arga yang dikiranya masih tidur.


Arga tergelak, ikut bangun dan menegakkan tubuhnya dengan posisi saling berhadapan. “Tak perlu malu seperti itu, Aku kan suamimu. Bukannya semalam Kau katakan semua yang ada di tubuhku ini adalah milikmu?” Arga kembali mengingatkan.


Masih malu-malu, Alya mengulurkan tangan menyentuh kepala Arga. “Aku suka sekali melihat rambut tebal bergelombang ini, terasa nyaman bila disentuh.”


“Kau boleh sentuh sesuka hatimu, karena Aku milikmu.” Arga meraih tangan Alya dan mengecupnya mesra. “Tetaplah di sini bersamaku,” bisik Arga yang terdengar jelas di telinga Alya.


Untuk sesaat lamanya, Alya terdiam membeku. Napasnya tercekat, tangan Arga kini memegang dagunya dan lelaki itu menatapnya lekat.


“Aku harus bangun sekarang. Apa Kau lupa, hari ini Aku akan pergi mengunjungi ibuku.” Sahut Alya beranjak turun dari atas ranjang. Tapi gerakan tangan Arga yang menarik lengannya, jauh lebih cepat.


Cup! Hanya sekilas bibir itu menyentuh bibirnya, tapi cukup membuat dada Alya berdesir dan detak jantungnya kembali tak beraturan. Ia jatuh dan terbaring kembali di atas ranjang, dan lelaki itu berada di atasnya dengan mata menggelap dipenuhi kabut gairah.


“Kalau tadi malam gak jadi, kita coba pagi ini ya, sayang. Pelan-pelan saja,” pinta Arga dengan nada memohon.


Susah payah Alya menelan salivanya, tak tahu harus menjawab apa. Ia masih merasa tegang dan takut, tapi jika harus menolak lagi tentu akan membuat kecewa hati suaminya itu setelah semalam keinginannya tak terpenuhi.


Jantung Alya berdebar kencang ketika Arga merendahkan tubuhnya dan melabuhkan bibirnya di bibir lembutnya, sementara jemari Arga merayap turun membuka kancing baju Alya satu demi satu. Seulas senyum terbit di bibir Arga saat tangannya merasakan kelembutan kulit Alya tanpa terhalang baju lapisan lagi.


Napas Alya tersengal, tubuhnya gemetar tiba-tiba. Arga bisa merasakan hal itu saat tangan Alya yang hangat memegang bahunya, dan mata itu mengerjap padanya. Tapi Arga tak lagi mampu mencegah dirinya, ia menunduk dan menyentuh bibir Alya lagi. “Aku tak akan menyakitimu, sayang. Percayalah."


Suara Arga yang tenang dan kelembutan sikapnya lambat laun meredakan ketegangan Alya. Lelaki itu membimbingnya perlahan, merasakan apa yang belum pernah ia rasakan selama ini dan membawanya ke sebuah tempat indah yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.


“Kau milikku seutuhnya, hari ini dan selamanya.” Arga menciumnya kuat. Saat rasa perih itu menyergapnya, Alya menggigit bibirnya dan Arga kembali membujuk dan menenangkannya dengan sentuhan lembutnya yang membuai.


Air mata menitik turun membasahi pipinya, dan Arga mengecupnya lembut. Berbagai rasa berbaur dalam diri Alya, saat Arga merebahkan tubuhnya lagi di sampingnya dan memeluknya erat. “Terima kasih, sayang. Kau membuatku jadi lelaki dan suami seutuhnya.”


🌹🌹🌹