
Q’time kafe baru dibangun dua tahun yang lalu, letaknya berada di pinggiran kota dan menghadap langsung ke pantai. Tempatnya luas dan nyaman, mengusung konsep outdoor dengan nuansa yang menyatu dengan alam.
Pertama kali menginjakkan kaki di sana, mata Alya langsung dimanjakan dengan banyaknya tanaman hias yang mengelilingi tempat itu. Penyemprot rumput berputar-putar membasahi taman buatan yang berada di bagian tengah halaman kafe, yang rumputnya berwarna hijau gelap.
Rivan sang pemilik kafe, tersenyum lebar menyambut kedatangan Alya dan Arga. Sorot mata haru tampak jelas di raut wajahnya saat menatap Arga yang berjalan ke arahnya. Ia memeluk Arga erat seraya menepuk-nepuk bahunya. “Good job!”
Alya berdiri memperhatikan di belakang mereka, dan balas tersenyum saat Rivan melepaskan pelukannya lalu mengangguk padanya sembari mengacungkan jempolnya.
Bertiga mereka duduk bersama menikmati makanan yang tersaji, sambil mendengar Arga bercerita tentang apa saja yang terjadi selama mereka berada di luar negeri. Berulang kali Arga memuji bagaimana Alya yang tanpa lelah selalu setia mendampingi, hingga tak terasa dua jam sudah mereka di sana.
Alya pamit sebentar ke toilet, dan saat kembali setelahnya ia melihat Rivan sedang bicara serius dengan Arga. Alya berhenti sejenak, berdiri mengawasi dari jauh. Arga tampak tertunduk dan sesekali menghela napas, lalu meringis saat Rivan menunjuk ponsel di atas meja. Dilihatnya Arga menjawab sambil menggelengkan kepala dan mengarahkan telunjuknya ke kepala dan dadanya seolah meyakinkan Rivan agar percaya padanya.
“Itu ponsel Arga, apa mereka membicarakan soal pesan singkat yang dikirim Nesya?” Alya tercenung sesaat lamanya, dan tersentak begitu ujung nampan pelayan kafe yang lewat di sampingnya tanpa sengaja menyentuh bahunya.
“Maaf, Non.”
“Gapapa. Justru Saya yang harusnya minta maaf, karena menghalangi jalan.” Sahut Alya, lalu cepat-cepat kembali ke mejanya.
Melihat banyaknya pengunjung yang datang, Arga pun mengajak Alya pulang. “Sukses, Bang.” Bisik Arga sambil memeluk Rivan yang dibalas dengan ucapan yang sama untuknya.
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Arga mengingatkan Alya untuk mampir membeli beberapa makanan ringan untuk tamunya nanti malam.
“Berapa banyak tamu yang akan datang nanti malam?” tanya Alya, menahan mulut untuk bertanya lebih lanjut apa Nesya akan hadir bersama yang lainnya.
“Hanya beberapa orang saja,” jawab Arga sambil menyebut nama, dan nama terakhir yang disebutnya adalah Nesya.
“Jadi dia akan datang juga?” Alya memiringkan tubuhnya, menatap Arga yang tengah menyetir di sampingnya.
Arga menoleh cepat dan tersenyum mengangguk. “Iya, justru dia yang paling gencar mengajak yang lain untuk datang.”
Alya membulatkan bibirnya, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Teringat pesan singkat yang ada di ponsel Arga, ia menunggu laki-laki itu bicara. Tapi sampai mereka tiba di rumah kembali, Arga tak menyinggung sama sekali. Membuat Alya penasaran, dan berpikir kalau Arga tak ingin membahas masalah itu dengannya.
Jam di dinding menunjuk angka 10, sudah waktunya Alya pulang mengunjungi ibunya. Mereka sedang duduk berdua di sofa ruang tengah, dan Arga sudah menelepon sopir meminta untuk bersiap mengantar Alya. Namun keningnya berkerut melihat wanita itu malah sibuk dengan ponselnya, asyik melihat-lihat resep masakan.
“Aku lupa mengatakannya padamu, Aku sudah menelepon ibu dan berjanji akan mengunjunginya besok siang.” Jawab Alya saat diingatkan.
“Oh, ya? Boleh tahu alasannya?”
Alya meringis, melihat satu alis Arga naik. Tatap tajam mata laki-laki itu padanya membuat Alya tak bisa mengelak, ia sampaikan alasannya dan bicara yang sebenarnya.
“Hmm! Benar seperti itu? Aku rasa ada alasan lain yang lebih kuat, hingga membuatmu tetap bertahan di sini bersamaku. Karena Aku tahu, Kau tak pernah mau menunda waktumu sebentar saja jika itu berkaitan dengan waktu kunjunganmu menemui ibumu meski dengan alasan apa pun.” Desak Arga, membuat Alya kelimpungan.
Ya, itu memang benar. Dan alasan utamanya, karena Aku tak ingin wanita masa lalumu itu mencoba-coba untuk mendekatimu lagi dan merusak rumah tangga kita. Dia sudah merendahkan Aku dan mengatakan padamu kalau Aku tak pantas untukmu, Aku akan buktikan padanya! Jawab Alya, namun hanya terucap dalam hati.
“Tapi, Aku senang mendengar Kau terus mencemaskanku. Dan Aku juga senang Kau akhirnya mau menunda kepulanganmu dan menemaniku di sini.” Arga tersenyum penuh arti. Ia menggeser duduknya, merangkum bahu Alya dan merapatkan tubuhnya.
“Eh!” Alya mengerutkan bahunya dan memejamkan matanya, napas hangat Arga yang menyentuh kulit lehernya membuat bulunya meremang. Lelaki itu suka sekali menggodanya dan tak ragu menunjukkan kemesraannya pada Alya, apalagi saat hanya berdua seperti sekarang ini. Bukannya berhenti dan menjauh, Arga malah membenamkan wajahnya di rambut Alya.
“Gak usah repot pakai acara masak-masak segala, Ay. Pesan saja, Aku gak mau Kamu capek.” Kata Arga sambil mengendus rambut Alya.
“Aku sudah suruh bibi belanja, sayang kalau gak dimasak.” Alya menggeliat geli, dan Arga terkekeh dibuatnya.
“Geli ya, Ay?” tanya Arga seraya mengangkat wajahnya, Alya mengangguk cepat tanpa berani menolehkan wajahnya. “Tapi Aku suka.”
Sebelum Arga mengendus rambutnya lagi, Alya berhasil melepaskan diri dan berlari menuju dapur. Alya menarik salah satu kursi yang ada di sana dan duduk sambil menenangkan debur jantungnya yang masih tak beraturan. Bibi yang berada di dekatnya menatapnya bingung, namun tersenyum simpul setelah mendengar tawa renyah Arga di belakang mereka. Ia segera mengambil air minum dan memberikannya pada Alya.
Setelah merasa lebih tenang, Alya mulai menyibukkan diri di dapur, dibantu bibi asisten rumah tangganya. Ia menyiapkan masakan dan mengatur meja makan, mendelik dan berpura-pura marah saat Arga mencoba mengganggunya. Menjelang sore semuanya selesai dan Alya tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
Malam tiba, tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dari delapan orang yang hadir, hanya Nesya seorang yang wanita. Sebagai tuan rumah yang baik, ditemani Alya yang selalu berada di sampingnya, Arga menyambut mereka dengan ramah.
Kasak-kusuk terdengar saat Arga duduk bersama mereka di sofa ruang tamu, menanyakan siapa Alya. Nesya yang mengambil tempat duduk di dekat Arga menjawab spontan kalau Alya adalah istri Arga. Tentu saja mereka terkejut dan langsung memberondong Arga dengan banyak pertanyaan.
“Impossible! Kami semua tahu, terakhir kali Kau dekat dengan wanita itu adalah bersama Nesya. Kami tahu bagaimana bucinnya seorang Arga pada kekasihnya. Lalu bagaimana ceritanya sampai Kau tiba-tiba menikah dengan wanita lain?” tanya salah satu teman Arga, yang langsung disetujui temannya yang lain.
“Nothing is impossible, Aku menemukan cinta sejatiku setelah melewati pertaruhan nyawa.” Arga menceritakan kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya, dan bertemu dengan Alya yang menjadi perawatnya. Ia jatuh cinta dan akhirnya menikah dengannya.
Alya yang mendengar dari balik pintu tersenyum mendengarnya, ia lalu mengajak mereka semua mencicipi masakannya. Mereka duduk bersama di meja makan, dan semua memuji masakannya.
“Kau beruntung memilikinya,” cetus teman Arga. “Selain pandai memasak, istrimu juga pekerja keras.”
“Perempuan bekerja dan pandai memasak, bukankah suatu hal yang wajar dalam sebuah rumah tangga. Bukan hal yang spesial, hampir semua wanita di dunia ini melakukannya.” Sergah Nesya dengan nada tak suka.
“Tapi itu tidak berlaku padamu, Sya. Aku tahu Kau tak bisa melakukannya,” sindir yang lain, membuat wajah Nesya memerah karena mereka semua tertawa.
Nesya membuang muka dan bertambah kesal saat melihat Arga selalu sigap membantu Alya, dan tak sungkan menyuapinya makan di hadapan mereka semua.
🌹🌹🌹