
Dalam sekejap, Alya mendapati tubuhnya sudah berada di atas ranjang. Terbaring telentang dengan tangan masih merangkul leher Arga. Rambut hitam sebahunya tergerai di atas bantal. Dan lelaki itu membungkuk di atasnya, terus menatapnya lekat dengan kedua tangan berada di sisi tubuhnya.
“A-pa yang akan Kau lakukan?” Tanya Alya tergagap, ketika tangan Arga bergerak perlahan membuka kancing teratas bajunya.
Bukannya menjawab, Arga hanya tersenyum dan menutup mulut Alya dengan ujung jemarinya. Alya tak mampu bergerak, tidak juga saat tangan Arga kembali melanjutkan aksinya membuka kancing kedua dan ketiga baju yang dipakainya.
Mata Arga menyipit dan keningnya langsung berkerut saat menyibak baju Alya dan melihat kaus ketat yang ada di baliknya. “Kau memakai baju berlapis saat hendak tidur seperti sekarang ini?”
Alya mengangguk dan menggigit bibirnya, hanya diam tak menjawab pertanyaan Arga padanya. Tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya, pasti laki-laki itu akan kesal padanya. Karena bukan hari ini saja Alya memakainya, bahkan sejak awal pernikahan mereka Alya telah membiasakan dirinya memakai pakaian berlapis.
Arga mengesah pelan, “Kenapa? Kau takut Aku akan memaksamu dengan merobek bajumu, jadi Kau dengan sengaja memakai pakaian seperti ini saat bersamaku?”
Alya kembali diam, tangannya turun dan mencengkeram leher bajunya. Namun tangan Arga dengan lembut menepisnya. Rona merah menjalar di pipi Alya, dan ia terkesiap saat jemari Arga menyentuh tepi lehernya.
“Aku hanya menyentuhmu sedikit, tapi reaksimu sudah seperti ini.”
“Ini pengalaman pertamaku.” Akhirnya Alya mampu bersuara, setelah terdiam cukup lama. “Aku tak tahu harus bagaimana ...”
“Aku tahu,” potong Arga cepat, ia menahan dagu Alya agar tetap melihatnya lalu menunduk dan mencium bibirnya. “Aku tahu apa yang harus Aku lakukan denganmu, dan Kau tak perlu takut padaku. Tak mungkin Aku menyakiti wanita yang Aku cintai.”
Alya terbelalak, lalu melipat bibirnya ketika Arga mencoba ingin menciumnya lagi. “Kenapa Kau merobek kontrak perjanjian di antara kita?” Alya mencoba mengalihkan perhatian Arga.
“Karena kita tak membutuhkannya lagi,” sahut Arga, ia mengusap tangan Alya dan membawanya ke bibirnya.
“Kenapa?”
“Aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu. Akan kutunjukkan padamu bagaimana caraku mencintaimu, dan akan terus Aku lakukan sampai Kau yakin dan percaya padaku.”
Jawaban itu menyentuh sisi terdalam hatinya. Air mata merebak di pelupuk mata Alya, air mata bahagia karena cinta Arga padanya. Diulurkannya jemarinya menyusuri alis tebal mata Arga, hidungnya yang mancung, lalu turun ke bibir tipis yang di atasnya mulai ditumbuhi kumis tipis.
“Sayang, kalau Kau lakukan hal itu lagi. Aku tak yakin bisa menahan diriku sekarang.” Bibir Arga bergetar mendapat sentuhan lembut tangan Alya. Diraihnya lagi jemari tangan wanita itu dan dikecupnya dengan gemas hingga menimbulkan suara, sementara matanya tak lepas terus menatap wajah Alya.
“Aku juga mencintaimu,” kata Alya dengan suara serak, mencoba tersenyum meski matanya basah. Sekian lama menahan diri, Alya tak bisa lagi menyembunyikan perasaan hatinya setelah tahu bagaimana cintanya Arga padanya.
“Tuhan, betapa leganya hatiku kini.” Kegembiraan melingkupi hati Arga, senang mendengar pengakuan Alya. Tubuhnya langsung luruh di samping Alya, ia berbaring miring dan menarik wanita itu masuk dalam pelukannya. Alya tak kuasa menahan perasaannya, ia balas memeluk tubuh Arga dan menangis di dadanya.
“Hei, kenapa menangis sayang?” Ujung jemari Arga menyeka sudut mata Alya yang basah, dan wanita itu mencoba tertawa di sela tangisnya. “Ini awal kebahagiaan kita, tersenyumlah.”
Alya mengangguk dan mencoba tersenyum sembari meresapi pelukan tubuh Arga yang terasa hangat dan menenangkan. Lalu bayangan wajah Nesya melintas dalam benaknya, membuat senyumnya sirna seketika. Alya mendongak menatap Arga yang tersenyum padanya dengan tatapan galak. Matanya yang sedikit bengkak, tampak melotot.
“Ingatlah, mata, hidung, bibir yang sedang tersenyum ini, dan semua yang ada padamu adalah milikku. Tak boleh ada orang lain yang menyentuhnya, apa lagi mencoba merebutnya dariku.” Kata Alya mengungkapkan isi hatinya.
Arga tergelak mendengar ucapan Alya, nada kesal terdengar jelas di dalamnya. Tak lama terdengar suara Arga mengaduh begitu cubitan Alya mendarat di perutnya.
“Coba ulang, katakan sekali lagi. Bagian mana saja dari tubuhku ini yang menjadi milikmu?” Arga memejamkan matanya sejenak, membiarkan Alya mengabsen wajahnya lagi.
“Ini, ini, dan ini juga. Pokoknya semuanya milikku!”
Arga menahan senyumnya, ia tak mengira Alya begitu cemburu pada Nesya yang sempat memeluknya dan bergayut manja di lengannya tadi.
“Iya, sayang.” Jawab Arga setelah beberapa saat lamanya, ia membuka matanya kembali saat merasakan tubuh Alya merapat dan membenamkan wajah ke dadanya. “Maafkan Aku, tidak seharusnya Aku membuatmu cemburu.”
“Aku gak cemburu!” sergah Alya berdalih dengan wajah memerah, ia menggelengkan kepala berulang dan gerakannya itu sontak membuat Arga kegelian karena gesekan rambut kepala Alya di bagian dadanya.
“Aku yakin sekali akan hal itu.” Sambil bergumam tak jelas, Arga mengerang dan menyusupkan tangannya ke balik punggung Alya dan mencari-cari kaitan penyangga dada miliknya itu.
“Aku hanya tak suka melihat kedekatan kalian,” sahut Alya, tubuhnya mendadak tegang begitu merasakan usapan lembut tangan Arga di punggungnya yang polos. Rupanya lelaki itu berhasil melepas kaitan bra miliknya.
Arga mengeratkan pelukannya, ia menyurukkan wajahnya ke wajah Alya membuat wanita itu menengadah menatapnya hingga bibir Arga dengan mudah menemukan bibir Alya. “Aku menginginkanmu malam ini, sayang.” Erang Arga tiba-tiba di bibir Alya.
Alya terkesiap, jantungnya berdesir dan ia tak kuasa menolak namun tak juga mengiyakan. Ini pengalaman pertama untuknya. Jemari Arga kini mulai menyusup di antara mereka, menjalar ke bagian depan dan mengusap perutnya yang rata terus semakin naik.
“Alya sayang, Aku mau Kamu malam ini.” Arga meletakkan tangannya di dada Alya, dan bibirnya berbisik di telinganya sementara tangannya bergerak perlahan mengusap dada Alya membuat wanita itu mengge linjang merasakan sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakannya.
“A-apa ini?!” Napas Alya tercekat, sesuatu yang mengeras di bagian perutnya membuat ia tersentak. Ia mengecilkan perutnya, namun tetap saja ada yang mengganjal di sana.
Secara naluriah Alya mendorong dada Arga dengan kedua tangannya, dan laki-laki itu terjatuh ke lantai kamar menimbulkan suara cukup keras. Alya menangkup bagian perutnya, rasa aneh menggelitik perutnya. Napasnya masih tersengal, dan matanya langsung melebar begitu melihat Arga berdiri dan ada sesuatu yang menonjol di bagian celananya.
“Ay, ada apa denganmu?” tanya Arga dengan raut bingung, sambil mengusap sikutnya yang ngilu karena terkena lantai.
“Jangan lakukan itu lagi, A-aku belum siap!” sahut Alya dengan suara bergetar, menghindar dari tatapan tajam mata Arga yang menusuk.
Arga tertawa masam, ia melangkah mendekati Alya dan membiarkan wanita itu melihat bukti nyata bagaimana besarnya pengaruh Alya pada dirinya. “Baiklah, Aku tidak akan memaksamu malam ini. Tapi Aku tidak mau Kau menjauh dariku malam ini.”
“Apa maksudmu?”
Arga membaringkan tubuhnya di samping Alya yang duduk tegak di atas ranjang, dan menarik tangannya agar berbaring di sampingnya.
“Katanya gak akan maksa Aku malam ini, tapi kok ...”
Arga hanya tertawa mengabaikan protes Alya, ia kembali memeluk dan mencium bibir wanita itu dengan mesra. “Aku benar-benar menginginkan dirimu malam ini.” Pandangan mata Arga menggelap, ia memegang dagu Alya dan mengangkat wajah itu agar menatapnya. “Aku ingin menjadi suami yang seutuhnya untukmu.”
Alya tertegun sesaat, tangan Arga menempel di dadanya tepat di jantungnya yang berdegup kencang. “Aku akan terus berusaha meyakinkan hatimu bahwa Aku adalah suami terbaik untukmu, dan Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu sepanjang waktu.”
🌹🌹🌹