Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 6. Memulai pencarian



Pagi-pagi sekali Alya terbangun dengan tubuh lelah luar biasa, dirasanya tulang di tubuhnya itu remuk semua. Semalam ia harus berhujan-hujan ria lagi, karena harus mengantar makanan pesanan pelanggannya saat itu juga yang tidak mau menunggu hujan reda.


Bos di tempatnya bekerja, memberinya lebih banyak pekerjaan dari pada biasanya. Dan tidak memberinya banyak kesempatan untuk Alya beristirahat.


Alya menghela napas, lalu mulai melipat alas tidurnya yang tipis dan usang. Bahunya tiba-tiba ngilu, Alya memijitnya pelan. Tak lama terdengar ia bersendawa, tak lain karena masuk angin seperti biasanya.


Ada saat di mana ia ingin mengeluh dan berbagi cerita pada seseorang, tapi sepertinya hal itu tak mungkin Alya lakukan. Semua rekan kerjanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Meski tahu apa yang terjadi pada kehidupan Alya dan ibunya saat ini, tak seorang pun dari mereka yang bisa membantunya.


“Alya.”


Alya menoleh, tersenyum menatap wajah ibunya yang sudah terbangun dari tidurnya.


“Maafkan Ibu, Kamu pasti kelelahan karena harus mengurus Ibu setiap harinya.”


Alya bangkit berdiri, membungkuk dan mencium pipi ibunya. “Alya tidak pernah merasa lelah melakukannya. Tuhan telah memberi Alya kekuatan lebih. Alya sayang Ibu, karena hanya Ibu satu-satunya yang Alya punya di dunia ini.”


Ibunya tersenyum haru mendengarnya, tangan kurusnya mengusap pipi Alya. “Ibu lihat Kau gelisah sepanjang hari, wajahmu juga tampak pucat. Apa semalam Kau kehujanan lagi?”


Alya hanya mengangguk, tapi tak mungkin menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Hanya akan membuat kesehatan ibu semakin memburuk nantinya.


“Hujan gerimis saja. Alya pakai jas hujan, kok.” Jawab Alya menepis kekhawatiran ibunya.


“Bantu Ibu bangun, Ibu ingin menghirup udara segar pagi hari.” Pinta ibunya, yang langsung disanggupi Alya.


“Ibu tunggu sebentar, Alya ambil kursi rodanya dulu.” Kata Alya setelah membantu memakaikan mantel hangat dan syal untuk ibunya, cuaca dingin di luar sana hanya akan membuat ibunya batuk jika tidak memakai pakaian tebal.


Alya menuruti keinginan ibunya, membawanya berkeliling sejenak sebelum perawat datang memeriksa kesehatan ibunya pagi itu.


“Ibu kedinginan?” tanya Alya merasakan bahu ibunya gemetar. “Kita balik ke kamar sekarang ya, Bu.”


Ibunya mengangguk, tanpa banyak bicara lagi Alya cepat-cepat membawa ibunya kembali. Di tengah jalan ia berpapasan dengan Rivan yang sedang berjalan sambil menghirup kopi di tangannya.


“Selamat pagi, Tuan Rivan.” Sapa Alya seraya tersenyum, ia membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu dari hadapannya.


Rivan tertegun sesaat, tak sempat menyahut karena Alya berlalu begitu cepat. Ia tak menyangka akan bertemu Alya pagi itu. Rivan menduga wanita tua yang berada di kursi roda itu ibunya. Sekilas ia bisa melihat kondisi tubuhnya yang lemah. Meski dari jarak cukup jauh, ia masih bisa mendengar suara batuknya yang sesekali terdengar.


“Jadi benar kalau ibunya sedang sakit,” gumam Rivan dalam hati, masih berdiri menatap punggung Alya yang semakin menjauh.


“Van, mana kopi untuk Papa?” suara Widia mengalihkan perhatian Rivan, ia menoleh cepat dan segera menyadari sesuatu.


“Astaga! Rivan lupa, Ma.” Rivan meringis sambil menepuk keningnya. “Biar Rivan balik ke kantin lagi.” Tanpa menunggu jawaban mamanya, Rivan balik badan dan berjalan cepat menuju kantin rumah sakit.


"Hem, anak itu. Masih saja sering lupa," kata Widia tersenyum melihat putranya yang berjalan menjauh, ia berdiri menunggu hingga Rivan kembali beberapa menit kemudian.


“Mama kok masih di sini, kenapa gak tunggu di kamar saja?” tanya Rivan melihat mamanya masih berdiri menunggunya.


“Tanggung, lagian Mama juga butuh udara segar. Gak melulu di dalam kamar,” sahut Widia, mengambil alih bungkusan dari tangan Rivan. “Sini, biar Mama yang bawa.”


“Sudah, lagi diajak bicara berdua sama papa. Makanya Mama keluar kamar,” sahut Widia yang ditanggapi Rivan dengan membulatkan bibirnya.


“Van, Mama khawatir sama adikmu. Sejak ia terbangun setelah operasinya, sikapnya jadi berubah. Arga jadi berubah pendiam dan gampang sekali marah," kata Widia, tak lama terdengar helaan napasnya yang berat.


“Arga belum bisa menerima keadaan dirinya, Ma. Peristiwa kecelakaan itu sudah membuat kaki kirinya rusak parah dan mata kirinya tak bisa melihat dengan jelas," sahut Rivan menanggapi ucapan mamanya.


“Apa Arga akan bisa berjalan normal seperti dulu lagi, apa mata kirinya bisa melihat dengan sempurna seperti dulu lagi. Mama khawatir sekali,” kata Widia tak dapat menyembunyikan kecemasan dirinya yang begitu kentara.


Putra bungsu kesayangannya harus mengalami kecelakaan yang berakibat fatal pada sebagian organ vital tubuhnya.


“Kita harus tetap optimis, tidak boleh putus harapan untuk kesembuhan Arga. Rivan percaya Arga akan bisa berjalan normal lagi,” kata Rivan mencoba menepis kekhawatiran yang menggayut dalam pikiran mamanya.


Keluarga besarnya sudah berusaha mengupayakan semua yang terbaik demi kesembuhan adik lelakinya itu.


Sementara di kamar inap Arga, lelaki itu tengah menimang kalung dalam genggaman tangannya. Wajah pucat Alya terbayang dalam benaknya.


Papa yang dimintainya tolong mencari keberadaan Alya, belum juga berhasil menemukannya. Hingga pagi tiba, saat dokter berkeliling memeriksa pasiennya, Arga masih terus terjaga.


“Aku ingin keluar dari sini dalam keadaan kakiku bisa berjalan kembali,” kata Arga pada dokter yang memeriksa kondisinya.


“Itu artinya Kau harus tinggal dan bertahan dalam waktu yang lama di rumah sakit ini,” sahut sang dokter tersenyum padanya, ia tahu bagaimana perasaan pasiennya itu saat ini.


“Apa tidak ada cara lain yang lebih cepat, Aku bisa melakukannya tapi tidak untuk tinggal di rumah sakit ini. Apalagi dalam waktu yang lama,” tukas Arga, ia berharap pengobatan yang diupayakan keluarganya bisa dilakukan tanpa harus tinggal lama di rumah sakit.


“Kau bisa melakukannya di rumahmu, dan itu artinya Kau memerlukan seseorang yang siap melayani dan mengawasimu setiap saat. Kau pasti paham apa yang Aku maksud. Bukan hanya perawat biasa, tapi yang bisa menjagamu setiap waktu.”


“Apa Dokter punya rekomendasi tentang orang itu?”


“Yang cocok menurutku, belum tentu cocok menurutmu. Banyak orang yang bisa merawat orang sakit, tapi tidak banyak orang yang memiliki kesabaran tinggi dan ketulusan hati juga tidak mudah tergiur iming-iming upah tinggi. Kau tahu apa yang Aku maksudkan,” kata dokter itu mengulang ucapannya lagi.


"Ya, Aku paham yang Dokter maksud."


Setelah dokter itu pergi, Arga meminta ponsel miliknya pada Rivan dan mulai pencarian seperti apa yang diucapkan dokter padanya.


“Apa yang Kau lakukan, jangan terlalu memaksakan diri. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya,” tegur Rivan melihat Arga sibuk mengetikkan jarinya di ponsel miliknya.


“Aku harus secepatnya mencari orang itu,” sahut Arga tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di hadapannya.


Rivan mengernyit, tak paham dengan maksud ucapan Arga padanya. “Siapa yang Kau maksud dengan orang itu?”


Namun Arga tidak menjawab, ia terus sibuk mencari. Tentu saja hal itu tak mudah dilakukan, hingga matanya sakit karena terlalu dipaksakan dan tertidur kelelahan setelahnya.


Arga terbangun lagi saat Rivan berbisik di telinganya. Ia membuka mata dan terkejut menatap seorang wanita muda yang berdiri tak jauh darinya, tengah menatapnya dengan wajah penuh harap.


🌹🌹🌹