Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 25. Ungkapan hati



“Bukti apa yang ingin Kau tunjukkan padaku? Apa dia bilang kalau ...”


Kata-kata Alya menggantung di udara. Sebelum ia berhasil menyelesaikan ucapannya, Arga sudah membungkam mulutnya dan menarik pinggangnya agar merapat ke tubuh laki-laki itu. Jemari tangan Arga bergerak menekan tengkuk Alya, dan dengan leluasa menempelkan bibirnya pada bibir Alya.


Arga mencium Alya kuat, tak memberi kesempatan wanita itu untuk bersuara apa lagi melancarkan protes. Meski Alya berusaha melepaskan diri dan mendorong dada Arga kuat dengan kedua tangannya, namun laki-laki itu bergeming di tempatnya. Seperti mendorong tembok tebal saja rasanya, tak bergerak sedikit pun.


“Buka mulutmu dan cium Aku,” pinta Arga saat mengangkat wajahnya, membuat Alya tercekat lalu menggeleng cepat.


“Tidak, Aku tidak mau.”


“Aku tahu, Kau ingin menciumku. Lakukan Ay,” desak Arga dengan mata mulai meredup.


“Tidak, Aku tidak bisa.” Sekali lagi Alya menggeleng, ia memalingkan muka saat tangan Arga terulur dan menahan dagunya.


“Lihat Aku, Ay. Kita sudah menikah, Aku suamimu. Apa Kau takut terbawa perasaan saat menciumku, lalu kita berakhir di atas ranjang?”


Kesal diingatkan statusnya saat ini, Alya mengangkat wajah dan menatap Arga tajam. “Aku sangat sadar dengan status hubungan kita saat ini. Tapi Kau lebih memilih mendengarkan ucapan mantanmu itu ketimbang memberi kesempatan Aku untuk bicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.”


Arga tersenyum dan balas menatap Alya. “Sepertinya Kau melupakan ponsel milikmu.” Arga mundur selangkah lalu merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan ponsel milik Alya. “Aku sudah tahu semuanya, Ay. Aku sudah melihat dan mendengar semua percakapan kalian dari rekaman video di ponselmu ini. Aku minta maaf kalau sikapku tadi sudah membuatmu kecewa padaku.”


Alya mendekat dan menyambar cepat ponsel miliknya dari tangan Arga, tapi laki-laki itu berkelit dan malah menyembunyikan tangannya ke balik punggungnya. Alya mendelik sebal, dan Arga mencebik sambil mengacungkan ponsel ke atas. Alya mencoba lagi, tapi gagal hingga ia bertambah kesal.


“Apa sih, maumu? Kau datang dan meminta maaf, tapi tak mau mengembalikan ponselku!” Alya berkacak pinggang, tapi Arga menggeleng dan perlahan menggeser tubuhnya mendekat ke ranjang.


Alya memutar tubuhnya, posisi mereka berbalik sekarang. Arga duduk di tepi ranjang, sementara Alya berdiri membelakangi pintu kamarnya.


“Kiss me, darling.” Sahut Arga sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya.


Semburat merah menjalar di wajah putih Alya. Jantung yang tadi sudah tenang kini berdebar kencang lagi. “Kau ini bicara apa?” ganti Alya yang bertanya seperti ucapan Arga padanya sebelumnya.


“Aku hanya menjawab sesuai pertanyaanmu.” Arga bangkit berdiri dan berjalan mendekati Alya yang melangkah mundur dan terhenti di pintu. “Aku mau Kau cium Aku.”


“Kau bicara seperti itu padaku seolah-olah Aku telah terbiasa melakukannya padamu,” balas Alya dengan suara bergetar, jantungnya berdebar semakin tak terkendali.


Arga menghentikan langkahnya, mereka saling pandang untuk beberapa saat lamanya. Arga memperhatikan sekilas jemari tangan Alya yang tadi bergerak cepat menyambar ponsel dari tangannya namun gagal, kini mendadak bergerak canggung. Ia tersenyum penuh arti, yakin kalau Alya juga teepengaruh dan menyukai ciumannya.


“Itu yang Aku harapkan, mulai sekarang Kau akan terbiasa melakukannya tanpa kuminta sekali pun.”


Arga tersenyum senang, menyadari respons Alya yang menyambut hangat ciumannya. Semakin yakin dengan perasaan hatinya kini, tak ada bayangan wajah mantan atau rasa yang masih tertinggal. Satu-satunya yang nyata dan ada dalam benaknya kini hanya Alya seorang. Ia mencium Alya sepuas hatinya, seolah ingin menuntaskan asa yang lama ditahannya dan kini tersampaikan.


“Aku menginginkanmu, Ay.” Bibir Arga kini turun dan berhenti di ceruk leher Alya, menyapu hangat seputar kulit lehernya dan memberikan kecupan-kecupan halus di sana.


Lutut Alya gemetar hebat. Mengikuti nalurinya, Alya mengalungkan lengannya di leher Arga dan jemarinya sudah terbenam di ketebalan rambut Arga. Dibiarkannya laki-laki itu mencium dirinya lagi dan lagi. Hingga ia terengah dan hampir kehabisan napas, Arga lalu melepaskan pagutannya cepat.


Dua kening saling menempel dengan napas saling memburu. Alya masih memejamkan matanya dan kedua tangan berada di pundak Arga, sementara tangan lelaki itu berada di pinggangnya.


“Kamarmu gelap,” kata Arga, mengangkat wajah alih-alih berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdegup kencang. Ia lalu menyapukan pandangan ke sekitar ruangan kamar yang dihiasi temaram cahaya dari lampu tidur yang memang sengaja dinyalakan Alya, karena wanita itu berniat untuk beristirahat dan tidur lebih cepat setelah perselisihannya dengan Nesya.


Cahaya itu mengenai mereka berdua, menimbulkan bayangan kepala Arga yang bergerak-gerak di atas wajah Alya. Arga kembali menatap Alya dan tersenyum lebar melihat mata yang terpejam itu perlahan terbuka.


“Apa, gelap apa?” Alya mengerjapkan matanya yang setengah terpejam, menatap Arga bingung. Mendadak oleng karena ciuman dadakan Arga barusan telah membuat kesadaran dirinya menghilang dalam sekejap dan belum kembali sepenuhnya saat ini. Bibirnya pun terasa tebal dan masih berkedut, Alya bahkan harus menundukkan wajah untuk melihat apakah kakinya masih menapak di lantai kamar.


Arga meraih tangan Alya lalu menuntunnya keluar menuju kamarnya. Alya membuka matanya lebar saat menyadari ia sudah berada di sana, dan Arga mendudukkannya di atas ranjangnya.


“Apa yang ingin Kau lakukan? Bukankah Kau hanya perlu menekan sakelar lampu untuk membuat terang kamarku. Tak perlu harus membawaku ke kamar ini, bukan?” tanya Alya tak mengerti, dan mulai berpikir macam-macam. Takut kalau Arga berbuat lebih dan meminta sesuatu darinya, sesuatu yang sampai detik ini belum sanggup ia berikan.


Arga bergerak menuju laci meja dan menarik lembar kertas dari dalam sana, yang kemudian Alya ketahui adalah surat kontrak perjanjian antara dirinya dan Arga. “Seperti yang kukatakan padamu, Aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu dan menginginkanmu dalam hidupku selamanya.”


Tubuh Alya kembali bergetar, ia menatap lembar kontrak di tangan Arga. Meski mereka telah menikah dan Arga telah mengungkapkan perasaan hatinya, tapi kontrak perjanjian di antara mereka masih tetap ada.


Mereka menikah hanya di atas kertas, dan Alya bukan istri sungguhan. Lebih tepatnya, ia perawat untuk Arga suaminya. Meski terkadang Alya terbawa perasaan dan tak ingin ada yang mengusik rumah tangganya.


“Kau tahu, kita terikat perjanjian kontrak sejak awal. Aku sudah menerima uang darimu, dan Aku berkewajiban merawatmu sebagai balasan atas semua sikap baikmu pada ibuku. Kita menikah juga demi untuk mempercepat penyembuhan luka di kakimu, karena Aku harus tetap berada di sampingmu untuk merawatmu. Tapi, hutang tetaplah hutang. Harus tetap dibayar lunas,” ungkap Alya.


“Ah, ternyata ini yang membuatmu terus menjaga jarak denganku.” Arga menghela napas, lalu menatap Alya lekat. “Sebenarnya sudah sejak lama Aku ingin melenyapkannya.”


Alya terbelalak melihat lembar kertas di tangan Arga terurai menjadi sobekan-sobekan kecil, melayang di udara lalu jatuh dan berserakan di lantai.


“Aku sudah menghapus kontrak itu dari hidup kita, tak ada catatan apa pun tentang hal yang berkaitan dengan sejumlah uang yang sudah Kau terima.” Arga merengkuh bahu Alya dan mendekapnya erat, “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Ay. Aku mencintaimu dan menginginkanmu, berharap Kau pun memiliki rasa yang sama sepertiku.”


Satu kecupan hangat dilayangkan Arga di kening Alya, dalam dan lama. Tak ada jawaban dari bibir Alya, cukup tangannya yang menyusup di pinggang laki-laki itu sebagai jawabnya.


🌹🌹🌹