
Lampu senter di tangan Widia menyorot tajam ke arah dua anak manusia yang sedang berduaan di dapur rumahnya.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini!” Widia berteriak marah melihat Arga yang menundukkan wajah dan Alya yang tengadah menatapnya dengan kedua tangan berada di pangkuan Arga.
Prakk! Senter di tangan Widia jatuh terlepas dari genggaman tangannya, hingga mengejutkan keduanya. Secepat kilat Alya menarik tangannya dari atas paha Arga hingga selimut yang menutupi kaki Arga tertarik jatuh ke lantai bersamaan dengan gerakan tangannya yang tiba-tiba.
“Mama?” Arga memutar kursi rodanya menghadap Widia.
“Keterlaluan, kalian! Dalam cuaca buruk seperti ini, bisa-bisanya kalian melakukan perbuatan tercela seperti itu.” Widia berdiri marah, mata melotot dengan kedua tangan di pinggang. Emosi membuat napasnya turun naik dengan cepat. Bian yang berada di belakangnya berusaha menenangkan.
Alya berdiri ketakutan di belakang Arga, sekujur tubuhnya gemetar hebat melihat Widia yang sedang emosi. Mata wanita itu mengarah tajam padanya, dan Alya tak berkutik tak berani mengangkat wajah membalas tatapan marah Widia padanya.
“Mama kecewa sama kalian. Apa yang sudah kalian lakukan benar-benar tidak bisa Mama maafkan,” kata Widia dengan raut wajah kecewa. “Mama pikir Alya perempuan baik-baik, tapi ternyata ...” Widia menghentikan bicaranya dan menggeleng tak percaya. “Dia datang ke rumah ini hanya untuk merayu Arga, dan putraku yang naif ini begitu mudahnya tergoda oleh bujuk rayunya.”
Alya tersentak, terkejut mendengar semua ucapan Widia yang ditujukan padanya. Apa yang baru saja keluar dari mulut Widia benar-benar membuat hatinya terluka, sebuah tuduhan keji yang tidak berdasar.
“Ma? Teganya Mama berkata seperti itu pada Alya,” kata Arga, ia menoleh pada Alya yang berdiri dengan wajah pucat di belakangnya. "Kami tidak melakukan hal tercela seperti yang Mama tuduhkan barusan. Alya sedang membantu memasang kaus kaki Arga dan membetulkan letak selimut di kaki Arga, itu yang sebenarnya terjadi, Ma."
“Maafkan Saya, kalau ternyata kehadiran Saya di rumah ini mengganggu ketenangan keluarga ini. Tapi satu hal yang perlu Nyonya ketahui, Saya memang perempuan miskin yang sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan sakit ibu Saya. Tapi Saya tidak pernah melakukan perbuatan tercela apalagi sampai menjual harga diri Saya dengan merayu lelaki kaya agar mau menuruti semua keinginan Saya.” Entah dari mana datangnya keberanian Alya untuk berbicara, menjawab semua tuduhan Widia yang dilontarkan padanya. Ia datang ke sana dengan niat bekerja, dan bukan untuk merayu Arga.
“Saya datang ke rumah ini untuk bekerja sebagai perawat pribadi tuan Arga, sesuai dengan kesepakatan yang sudah Saya tandatangani. Saya sudah terima uang dua ratus juta di muka, sebagai upah kerja Saya dan Saya bertanggung jawab pada tuan Arga sampai ia sembuh dan bisa berjalan kembali. Itu janji Saya padanya,” imbuh Alya berusaha menahan tangisnya, yang membuat hati Arga semakin tak nyaman mendengarnya.
“Dua ratus juta?” ulang Widia dengan kedua alis bertaut.
“Ibu Alya sakit parah, dan harus segera dioperasi. Karena hanya dengan operasi saja yang bisa menyelamatkan nyawanya. Arga bersedia membantu asalkan Alya bersedia menjadi perawat pribadi Arga dan tinggal di rumah ini, itu persyaratan yang Arga ajukan padanya. Dan Alya setuju,” ungkap Arga yang membuat Widia menyesal mendengarnya dan merasa sangat bersalah pada Alya.
“Maafkan, Mama. Mama benar-benar menyesal menuduhmu yang bukan-bukan. Mama tidak tahu apa yang terjadi pada ibumu, dan Arga baru cerita sekarang pada Mama.” Widia datang mendekati Alya, dan memegang bahunya. “Maukah Kau memaafkan Mama?”
Alya tak kuasa menahan tangisnya saat Widia menariknya masuk dalam pelukannya. “Maafkan, Mama. Mama bersalah pada kalian berdua.” Widia mengusap-usap punggung Alya.
Bian mengembuskan napas lega, tak mengira emosi istrinya itu akan cepat mereda begitu mendengar penjelasan Arga tentang sakit ibu Alya. Ia berjalan mendekati Arga dan menepuk bahu putranya itu.
Badai hujan dan petir sudah mereda di luar sana, meninggalkan rintik hujan yang masih tersisa. Listrik di tempat itu pun sudah menyala, tak perlu menunggu hingga pagi tiba.
Alya duduk bersama Arga dan kedua orang tuanya di sofa ruang keluarga, ia sudah tampak tenang dan bisa tersenyum kembali. Widia memintanya untuk tetap duduk bersamanya karena masih ingin mendengar banyak cerita tentang kehidupan Alya dan ibunya. Dan selama mereka bersama, Widia terus memegang tangan Alya.
“Apa Kau sudah punya kekasih?” tanya Widia tiba-tiba, membuat wajah Alya seketika merona. “Mama bertanya seperti ini karena tak ingin ada yang marah melihat kedekatan kalian berdua. Bukankah Alya harus terus berada di samping Arga? Dan sesuai kesepakatan kalian, Alya hanya boleh pulang di akhir pekan.”
“Tidak akan ada yang marah melihat kedekatan kami, Ma. Alya belum punya kekasih,” jawab Arga cepat, membuat Widia tersenyum geli menatapnya.
Bian tergelak mendengarnya, Alya mengulum senyum, sementara Arga hanya bisa tertawa getir. Ia menatap wajah mamanya lalu beralih menatap Alya dan Bian.
“Kali ini tidak akan ada perempuan-perempuan cantik yang mengejar-ngejar Arga lagi. Apalagi kalau mereka tahu keadaan Arga yang cacat kaki dan mata kiri buta seperti ini.”
Seketika Widia terdiam, ia tak menyangka akan mendengar jawaban pahit dari mulut putranya. “Sayang, Kamu pasti bisa berjalan normal lagi. Dan mata kirimu itu bukan buta permanen, pasti sembuh dan bisa melihat lagi.”
“Kau pasti sembuh, Papa sudah menghubungi sahabat Papa yang bekerja sebagai dokter spesialis di luar negeri. Dia yang akan mengobati mata kirimu dan membantumu bisa berjalan kembali,” kata Bian berusaha menyemangati Arga, ia sudah melakukan banyak hal demi kesembuhan putranya dan salah satunya mengajak Arga berobat ke luar negeri.
“Itu artinya Alya harus ikut bersamaku,” jawab Arga yang membuat Alya tersentak dari duduknya.
“Itu terserah bagaimana Alya saja, apa ia mau ikut bersamamu ke luar negeri atau tetap berada di sini.”
“Harus mau! Tugasnya sebagai perawat pribadiku, dan ia harus terus berada di dekatku.” Desak Arga yang membuat Widia mendengkus sebal mendengarnya. “Aku mau berobat ke luar negeri asalkan Alya ikut bersamaku.”
“Kau ingin sembuh tidak?!” tanya Bian sedikit kesal.
“Keputusanku sudah bulat, Aku akan pergi ke sana kalau Alya ikut denganku. Jika tidak, Aku akan menjalani sisa hidupku dengan mata kiri buta dan kaki lumpuh selamanya.”
“Kenapa Tuan bicara seperti itu, semua yang dilakukan Ayah Tuan itu demi kesembuhan Tuan sendiri. Bukankah Tuan ingin kembali berlari dan melihat normal seperti dulu lagi? Itu artinya Tuan harus menurut dan berobat di luar negeri,” kata Alya angkat bicara ikut menanggapi ucapan Arga.
“Aku akan melakukannya kalau Kau ikut bersamaku, apa Kau ingin melanggar kesepakatan yang sudah Kau tandatangani?”
“Kau memaksa Alya ikut bersama denganmu seolah-olah Alya ini milikmu, dan ia tidak memiliki hak untuk menolak keinginanmu.” Sindir Widia, tapi tetap saja ucapannya itu tak dapat mengubah pendirian Arga yang bersikeras ingin Alya ikut bersamanya ke luar negeri.
“Bagaimana kalau kalian menikah saja, dengan begitu Alya bisa terus berada di sampingmu.” Kata Bian yang sukses membuat Alya tercengang dan Widia yang tersenyum cerah. Hati Alya ketar-ketir mendengarnya.
“Menikah?” kata Arga dengan kening berkerut.
“Iya, menikah. Dengan begitu tidak ada alasan buat Alya untuk menolak ikut bersamamu. Lagi pula itu lebih baik buat Arga ke depannya, karena ada Alya istrinya yang akan terus menemannya dan mengurus semua keperluan Arga. Dan kami di sini bisa lebih tenang melepas Arga berobat ke luar negeri,” kata Bian menyampaikan alasannya.
“Alya, apa Kau ingin melihatku bisa berjalan kembali, dan melihat dengan kedua mata yang normal seperti dulu lagi?” Tanya Arga pada Alya.
“Tentu saja, itu harapan terbesar Saya saat ini.” Jawab Alya.
“Kalau begitu, bersedia Kau menikah denganku?”
🌹🌹🌹