
Alya terbangun pagi-pagi sekali, ia bergegas merapikan kamarnya dan setelahnya membersihkan diri. Ia harus segera menyiapkan sarapan pagi untuk Arga karena hanya ada mereka berdua di rumah itu sekarang.
Rivan dan kedua orang tuanya sudah pulang ke rumah mereka di kota dan meninggalkan rumah tepi danau untuk ditempati Alya dan Arga, sementara asisten rumah tangga yang bekerja di sana akan datang jam sembilan pagi ini.
“Selamat pagi.”
Alya mengangkat wajahnya, tak menduga akan mendengar sapaan ramah disertai senyum manis Arga pagi itu. Alya mengira akan melihat wajah masam dan sikap sinis Arga setelah ia memilih kembali ke kamarnya semalam dan meninggalkan laki-laki itu tertidur sendirian di kamarnya.
“Selamat pagi,” kata Alya balas tersenyum, ia sedang menikmati teh hangat dengan setangkup roti berlapis selai kacang coklat di meja makan ketika lelaki itu tiba-tiba muncul di sana.
Rambut Arga masih terlihat berantakan dan dagunya banyak ditumbuhi rambut halus, sepertinya Arga terbangun pagi itu dan langsung mencarinya ke dapur.
“Aku belum mandi,” kata Arga sambil mengusap dagunya perlahan, seolah bisa menebak apa yang dipikirkan Alya.
Wajah Alya langsung merona, ia meraih gelas tehnya dan meminumnya dengan cepat. Seringai tipis muncul di wajah tampan Arga, merasa senang pagi harinya disuguhi wajah cantik Alya yang tersipu malu. Sempat kesal karena tak melihat wanita itu ada di kamarnya saat terbangun pagi tadi, ia pun bangun dengan tergesa. Meski sedikit kesulitan karena harus berpindah ke atas kursi roda, tapi Arga berhasil melakukannya.
Alya melirik arloji di tangannya, jam enam lewat empat puluh lima menit. Sebentar lagi waktunya Arga membersihkan diri lalu sarapan pagi dan minum obat. “Saya akan mengantar sarapan pagi untuk Tuan ke kamar.”
Alya bergegas bangkit dari kursinya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya, ia mengambil nampan berisi sarapan pagi untuk Arga yang sudah ia siapkan sejak tadi.
“Tidak perlu,” tolak Arga, ia memutar kursi rodanya mendekati tempat duduk Alya tadi. “Mulai sekarang, Aku harus membiasakan diri sarapan di meja makan bersamamu.”
Alya tercenung sesaat mendengar ucapan Arga, dengan nampan masih berada di tangan. Sarapan bersama, bukankah memang seperti itu harusnya yang dilakukan sepasang suami istri yang saling mencinta. Apalagi buat pasangan yang baru menikah seperti mereka, apa-apa selalu ingin dilakukan bersama-sama.
Tapi kan pernikahan mereka bukan atas dasar cinta. Jadi tidak perlu membiasakan diri melakukan hal-hal bersama, pikir Alya. Ia setuju menikah dengan Arga karena sudah terlibat perjanjian kontrak kerja sebelumnya. Arga butuh Alya untuk jadi perawat pribadinya yang harus selalu ada di dekatnya kapan pun dan di mana pun berada. Sementara Alya sudah menerima uang terlebih dahulu dan telah setuju dengan perjanjian kontrak yang sudah ditandatanganinya itu.
“Malah bengong!”
Alya tersadar dengan cepat begitu Arga menjentikkan jemari tangannya di dekatnya. Ia lalu mengitari meja makan dan menyimpan nampan ke hadapan laki-laki itu.
“Duduk dan temani Aku sarapan,” pinta Arga lebih seperti sebuah perintah pada Alya, dan Alya menurut. Ia duduk di samping Arga dan menemaninya sarapan hingga selesai.
“Saya akan menyiapkan pakaian ganti untuk Tuan, sudah waktunya Tuan mandi sekarang.” Alya mendorong kursi roda Arga kembali memasuki kamarnya, lalu menyiapkan baju ganti untuknya.
Alya mengambil kursi roda khusus yang biasa dipakai Arga saat ia membersihkan diri. Sebelah kaki kanannya masih bisa berfungsi, Arga lalu menjejakkan kakinya dengan berpegangan pada lengan Alya untuk berpindah tempat.
Sambil menunggu Arga selesai mandi, Alya membereskan kamar tidur laki-laki itu. Ia harus melakukannya sendiri, karena Arga tak ingin ada orang lain selain Alya dan keluarga inti yang boleh masuk ke sana.
Setengah jam kemudian, Alya sudah selesai membereskan kamar Arga. Istirahat sejenak duduk di sofa sembari menyalakan televisi. Hingga sayup-sayup ia mendengar teriakan Arga dari dalam kamar mandi.
“Tuan, ada apa?” tanya Alya dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
“Bibi kan belum datang, sekarang masih jam delapan.” Sahut Alya sambil melirik arloji di tangannya. “Bukannya ada air bersih di dalam bak kamar mandi.”
“Iya, Aku tahu. Tapi Aku gak bisa ngambilnya. Ketinggian!”
Alya menggigit jarinya, itu artinya ia harus masuk ke dalam kamar mandi dan membantu Arga membilas rambutnya. Tangannya sudah menegang gagang pintu. Setengah ragu antara masuk ke dalam atau menunggu bibi datang, jantung Alya berdebar kencang. Tiba-tiba saja ia memilih untuk membuka kran sendiri, Arga hanya perlu memberitahu letaknya saja.
“Tuan, katakan saja di mana Saya harus buka kran tandonnya?” tanya Alya kemudian.
“Mataku perih, Ay!” Arga malah berteriak sebagai jawaban.
Alya menarik napas dalam-dalam, tak ada pilihan lain ia harus segera masuk ke dalam dan sekali sentak pintu kamar mandi itu pun terbuka. Arga terlihat mengusap-usap matanya dengan tangan yang dipenuhi buih sampo, rambutnya basah dan lepek. Ia bertelanjang dada, dan celana panjang yang dipakainya pun sudah basah semua.
“Jangan dikucek-kucek gitu matanya,” tegur Alya membersihkan tangan Arga yang penuh buih sampo dengan air bersih yang baru saja diambilnya. Ia lalu mengambil handuk kecil di rak, membungkukkan setengah badan dan secara perlahan mengusap wajah Arga.
“Perih, Ay.” Kata Arga sambil memejamkan matanya kuat, ia menahan tangan Alya dan memegangnya erat.
“Coba Saya lihat mata kiri, Tuan. Buka pelan-pelan,” pinta Alya sambil melepas pegangan tangan Arga di tangannya.
Arga meringis sambil mengerjapkan matanya. Syukurlah tidak sampai iritasi, Alya pun segera membersihkan wajah Arga dengan handuk basah. Wajahnya kembali merona, Alya berdeham sejenak dan berusaha tetap fokus saat pandangan matanya membentur pemandangan dada lebar Arga yang terbuka.
Alya cepat-cepat memutar tubuh, menunda untuk membersihkan dada Arga yang basah lalu meminta laki-laki itu untuk menyandarkan punggung dan memejamkan matanya. Alya kemudian membilas rambut Arga sampai bersih, dan mengeringkannya dengan handuk.
“Sudah selesai,” kata Alya, membereskan perlengkapan mandi Arga dan mengembalikannya ke tempat semula.
“Belum selesai,” sahut Arga yang membuat Alya menoleh padanya. “Mandi itu seluruh tubuh dibersihkan, bukan hanya rambut saja. Kau juga harus membantu menggosok punggungku.”
“Tapi, Tuan kan ...” ucapannya menggantung di udara, wajah Alya merah padam. Ia melihat bagaimana Arga berusaha membuka dan menurunkan celana panjangnya.
“Aku ini suamimu, harusnya tak perlu sungkan dan malu-malu seperti itu. Lagi pula Kau sangat tahu kondisiku saat ini. Kalau Aku bisa melakukannya sendiri, Aku tidak akan meminta bantuanmu.”
“Baiklah, akan kulakukan. Anggap saja ini memang tugas yang harus kulakukan sebagai seorang perawat pribadimu,” bisik hati Alya dan ia mengalah, melakukan seperti yang diinginkan Arga.
Selanjutnya Alya mulai membasahi punggung Arga dan menggosoknya seperti permintaan laki-laki itu padanya. Alya harus menahan napas dengan wajah bersemu merah saat Arga memintanya menggosok bagian dadanya. "Mataku masih perih, Kau saja yang melakukannya."
Alya tak bisa menolak lagi, berulang kali ia harus memalingkan wajahnya setiap kali tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata Arga yang menatapnya dengan pandangan aneh.
🌹🌹🌹