
Di kamarnya, Alya sedang berganti pakaian lalu mematut diri di depan cermin. Wajahnya terlihat cerah, dan bibirnya yang sedikit bengkak itu kini tampak tersenyum. Hatinya senang karena Arga mau ikut menemaninya menginap di rumah ibu.
Mengenakan baju santai berupa kaos longgar lengan panjang berbahan rajutan warna abu-abu dipadu dengan rok jeans warna senada, Alya tampak fresh. Rambut panjang sebahunya dibiarkan tergerai indah. Satu sapuan tipis di bibirnya, sebagai bagian akhir dari dandan cantik pagi hari ini.
“Sayang, sudah siap?” panggil Arga. Lelaki itu muncul di depan pintu, berdiri di sana sambil menggulung lengan kemeja abunya dengan mata tertuju pada Alya. Senyumnya mengembang melihat tampilan sang istri sudah jauh lebih segar dari sebelumnya.
Sama seperti dirinya, Arga sudah selesai mandi dan berganti pakaian setelah olah raga pagi dadakan yang mereka lakukan yang sempat membuat tubuh Alya lemas tak bertenaga.
“Sudah,” sahut Alya singkat dan tak lupa tersenyum lalu berjalan mendekat. Tangannya terulur, merapikan kerah baju suaminya yang terlipat di bagian ujungnya.
Rambut Arga yang masih setengah basah, dibiarkan kering alami. Beberapa helainya jatuh dan menempel di keningnya. Dagunya tampak samar kehijauan, setelah bercukur pagi tadi. Tampak segar sekali, dan tetap tampan seperti biasanya.
Tanpa sadar Alya senyum-senyum sendiri. Teringat bagaimana semalam Arga menggodanya dengan memainkan dagunya di seputar lehernya, membuat tubuhnya meremang seketika.
“Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu, jadi curiga Aku?” tanya Arga, gemas melihat senyum Alya dan langsung menarik pinggang ramping istrinya itu untuk merapat padanya. Satu kecupan ringan ia sematkan di bibir Alya, yang langsung menunduk malu-malu dengan pipi merah merona.
“Gak kenapa-napa, lagi pengen aja. Masa senyum sama suami sendiri, curiga?” sahut Alya sambil mengusapkan ibu jarinya secara berulang ke lengan Arga, berharap laki-laki itu tak melihat perubahan wajahnya.
Arga tertawa lalu menciumnya lagi, kali ini lebih dalam dan lama. Tubuh Alya meleleh dalam pelukannya, Arga melepaskan pagutannya cepat untuk sekedar menghirup udara segar sebelum mereka berdua kehabisan napas.
Masih berpegangan pada satu lengan Arga, Alya lalu mundur selangkah untuk meredakan debur jantungnya yang bertalu kencang. Setelah dirasa cukup tenang, ia bersandar di dekat meja rias yang ada di belakangnya. Terlalu lama berduaan di dalam kamar seperti ini, bisa-bisa mereka kesiangan jalan.
Arga memutar tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas memandang Alya. “Hmm, kenapa wajahmu mudah sekali memerah?” tanyanya lagi disertai senyum jahil.
“Biasa aja. Kamu ngarang, deh.” Alya berdalih, padahal jelas-jelas mukanya memerah.
“Sepertinya Aku bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini.” Seringai tipis tampak di wajah Arga sebelum ia memejamkan mata dan mengulum senyumnya, seolah sedang membayangkan suatu hal yang menarik dan menyenangkan hatinya.
Seolah bisa menebak apa yang sedang dibayangkan Arga, Alya merasa perlu untuk menghentikannya sebelum terlalu jauh. "Hentikan membayangkan hal itu lagi!” desis Alya dengan nada sebal, menutupi rasa gugupnya.
Arga mengerjapkan matanya, menatap Alya bingung. “Hentikan apa, emang menurutmu Aku lagi bayangin apa?”
“Kau pasti tahu apa yang Aku maksud.” Alya mencebik, pikirnya Arga sedang membayangkan apa yang terjadi pada mereka semalam hingga berlanjut pagi ini. Bagaimana lelaki itu telah membuat dirinya menjadi suami seutuhnya, dan Alya telah memberikan miliknya yang paling berharga. Alhasil, pipinya kembali merona. Dan itu tak lepas dari pengamatan Arga.
“Kau tahu.” Arga menatap Alya lekat, “Aku sedang memutar semua kenangan manis yang kita lalui bersama sebelum kaki ini kembali berdiri kuat seperti saat ini. Saat tanganmu untuk pertama kalinya menyentuh tubuh ini.”
“Lucu, gemesin, tapi romantis. Kadang Aku juga suka senyum-senyum sendiri kalau ingat bagaimana Kamu harus bantu Aku mandi pas mati air waktu itu. Kamu jadi ikut basah-basahan padahal sudah mandi.” Arga terkekeh sendiri.
Alya jadi malu sendiri, tak mengira kalau apa yang Arga bayangkan tak sama dengan apa yang ia pikirkan. Dan itu tercetus lewat ucapannya, yang tak mungkin bisa ditariknya kembali.
“Aku pikir Kau sedang membayangkan apa yang terjadi pada kita pagi ini,” sahut Alya sambil menggigit bibirnya. “Menyenangkan memang, meski terasa perih pada awalnya, tapi selanjutnya bisa bikin ketagihan.”
“OMG! Jadi Kamu mau lagi, apa yang tadi masih kurang?” Arga terlonjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Alya. Diraihnya tangan Alya dan dikecupnya berulang.
“Eh, gak gitu maksudnya.”
Alya gelagapan dibuatnya. Bola mata Arga bersinar jenaka, lelaki itu memainkan kedua alis matanya dengan gaya menggoda.
Mulanya Alya tak paham dengan maksud pertanyaan Arga barusan, tapi merasakan sesuatu mengeras di bagian bawah perutnya membuat ekspresi wajahnya menegang tiba-tiba.
“Loh, kok jadi kenceng lagi?” Alya menundukkan pandangannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka.
Arga meringis, “Tanggung jawab, Ay. Gara-gara Kamu pengen, Aku jadi mau lagi.”
“Eh?!”
Alya terkesiap, jantungnya berdesir tak keruan. Ia bergeming di tempatnya dan tak mampu bergerak. Tak ingin membiarkan kesempatan lewat begitu saja di depannya, Arga memutar pinggang Alya dan membawanya dalam dekapannya. Tahu-tahu Alya merasakan dalam sekejap tubuhnya sudah mendarat di atas tempat tidur bersama Arga yang membungkuk di atasnya.
“Mau ya, sayang.”
Alya mengerjapkan matanya, tak menyangka kalau ucapannya tadi akan membuat mereka berakhir di atas ranjang lagi dan harus menunda keberangkatan mereka hampir satu jam dari waktu seharusnya.
“Tapi, gimana dengan pak Eko? Kasihan kan harus nungguin kita dari tadi,” balas Alya sambil menyebut nama sopir yang bekerja di rumah mereka. Ia harus menelan ucapannya ketika tangan Arga mulai bergerilya di tubuhnya.
Arga menempelkan bibirnya di telinga Alya, gemas pada istrinya itu. Di saat genting seperti sekarang, masih sempat memikirkan nasib pak Eko sopirnya. “Gak usah pikirin pak Eko, pikirkan saja Aku.”
Beberapa saat kemudian Arga sudah tampak segar lagi, sementara Alya tampak bersungut-sungut karena harus mengganti setelan bajunya yang sudah kusut akibat ulah tangan lihai Arga. Ia mengeplak gemas lengan suaminya itu yang dengan sengaja menahan dirinya agar tetap berada di atas ranjang. Baru setelah ciuman panjangnya dibalas Alya, Arga melepaskannya dan turun dari ranjang.
“Ayo, berangkat!” Alya menarik lengan Arga keluar dari kamarnya, dua koper kecil miliknya dan Arga sudah tersedia di ruang tamu.
Setelah mengunci semua pintu dan memastikan rumah dalam keadaan aman saat ditinggalkan, mereka menuju mobil yang sudah siap sejak tadi. Ada pak Eko yang menunggu sambil mengelap kaca mobil.
“Terima kasih, Pak Eko.” Arga menyelipkan amplop putih ke dalam saku baju pak Eko yang tersenyum sambil membungkukkan setengah badannya, balas mengucap kata yang sama. Sudah sepakat kalau Arga yang akan menyetir sendiri mobilnya, sementara asisten rumah tangga dan sopir diliburkan. “Kami pergi dulu," pamit Arga dan Alya kemudian.
“Hati-hati, Tuan Muda, Nona. Semoga selamat sampai tujuan,” kata pak Eko mengiringi kepergian Alya dan Arga dengan doa.
Sejak pagi tadi laki-laki paruh baya itu datang dan memanaskan mesin mobil, namun sudah lebih dari dua jam sang majikan belum turun dari kamarnya. Ucap syukur keluar dari bibirnya seusai membuka amplop dari Arga, merasa terharu hingga membuat matanya berkaca-kaca.
🌹🌹🌹