Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 16. Waktu bersama



Cahaya mentari pagi yang menembus kisi-kisi jendela kamar membuat Alya terjaga. Ia mengerjap dan perlahan membuka matanya. Pandangannya membentur dua kancing atas piama Arga yang terbuka, di mana tubuh Alya kini berbaring miring dengan sebelah tangan berada di atas dada laki-laki itu.


Perlahan wajah Alya mendongak, senyum tersungging di bibirnya. Arga berbaring telentang dengan sebelah tangan berada di atas kepalanya, napasnya turun naik dengan teratur. Beberapa helai rambut ikalnya jatuh menutupi keningnya. Meski tampak sedikit berantakan, tapi tetap tak bisa mengurangi ketampanan yang dimilikinya.


Mengikuti nalurinya, ujung jemari tangan Alya terulur dan menyentuh rambut di kening Arga. Lalu turun perlahan mengikuti garis wajahnya, hidungnya yang mancung dan berhenti pada garis bibirnya yang tegas dan berlama-lama di sana.


“Saat tidur seperti ini, Kau masih saja terlihat begitu tampan.” Bisik Alya pelan, dan tanpa sadar menyurukkan kepalanya lebih dekat ke dada Arga yang masih terlelap.


Gerakan Alya itu rupanya mengusik tidur Arga. Lelaki itu menggerakkan tangannya memeluk lengan Alya lalu menolehkan wajahnya, hingga ujung hidungnya berada di kerimbunan rambut Alya dan wajah Alya menempel di dadanya. Hangat napas Arga yang menyentuh rambut dan pipinya itu, seketika membuat Alya mengerutkan bahu dengan jantung berdebar kencang.


“Hem, wanginya.” Gumam Arga masih dengan mata terpejam, ia mengetatkan pelukannya dan menempelkan wajah di rambut Alya.


Astaga! Alya terkesiap dan menarik diri cepat, tersadar pada apa yang sudah dilakukannya. Ia tertidur di kamar Arga dari semalam dan terjaga pagi ini dengan posisi tubuh berbaring memeluk Arga.


“Ada apa?” tanya Arga dengan suara serak dan mata mengerjap-ngerjap bingung. Ia terbangun karena gerakan tiba-tiba Alya yang mengejutkannya. “Hati-hati, Ay!” serunya tertahan dan langsung duduk menegakkan punggungnya.


Alya yang bangun tergesa, hampir saja terjatuh tersandung kakinya sendiri. Beruntung ia masih bisa menahan tubuhnya dan berpegangan pada rak lemari di dekatnya.


“Aku harus segera kembali ke kamarku,” kata Alya, tanpa menunggu jawaban Arga ia bergegas keluar dari sana.


Lelaki itu senyum dikulum sambil menyugar rambutnya, kemudian mengusap wajahnya. Hari masih pagi, Arga membaringkan tubuhnya kembali sembari menarik bantal yang dipakai Alya tadi. Membenamkan wajahnya sesaat lamanya, merasakan aroma khas yang ditinggalkan Alya di sana lalu memeluknya di dada.


Jam di dinding menunjuk angka 7, tapi Alya masih berbaring diam di kamarnya. Tadi ia mengintip ke kamar sebelah dan melihat Arga tertidur sambil memeluk bantal. Seketika wajahnya memerah, membayangkan dirinya yang dipeluk Arga.


Lusa hari keberangkatan mereka ke luar negeri, setelah sempat tertunda beberapa hari karena Arga memberikan kesempatan pada Alya untuk menemui ibunya. Melihat kondisi ibunya yang semakin membaik pasca operasi, Alya jadi tak lagi khawatir berlebihan untuk bepergian dalam waktu lama.


Ah, lebih baik Aku membereskan barang-barang yang harus kubawa besok, pikir Alya. Hingga ia lupa menengok Arga di kamarnya, padahal jam sudah menunjuk angka 9 pagi. Suara sapu lidi yang bergerak seirama di halaman samping rumah menyentak keasyikan Alya berbenah. Ia pun bergegas kembali ke kamar Arga, tapi tak mendapati laki-laki itu di sana.


“Tuan!” panggil Alya. Ia berkeliling di dalam rumah, tapi tetap tak melihat Arga. Dan kursi roda yang biasa dipakai laki-laki itu ada di dekat pintu keluar menuju taman belakang rumah.


“Non, tuan Arga lagi di gazebo dekat tepi danau.” Kata asisten rumah tangga memberitahu keberadaan Arga.


“Iya, terima kasih, Bik.” Sahut Alya dan langsung berlari menemui Arga di sana. Dilihatnya laki-laki itu sedang duduk setengah berbaring di kursi panjang yang dibuat sedemikian rupa menyerupai tempat tidur tunggal, sedang menatap pemandangan indah danau di depan sana. “Tuan, kenapa tidak memanggil Aku kalau mau kemari?”


Arga menoleh, tersenyum melihat kedatangan Alya yang muncul dengan raut cemas di wajahnya. Ia lambaikan tangannya, meminta Alya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dekatnya.


“Terus, Tuan bisa? Susah gak sih jalan pakai alat itu?” tanya Alya mengamati tongkat yang tersandar di sebelah lengan Arga.


“Masih kagok, Ay. Maklum masih belum terbiasa, ketiak Aku juga rasanya lumayan nyeri.” Ungkap Arga, ia menekan-nekan pangkal lengannya yang terasa pegal juga mengurut pelan pahanya.


“Sini biar Aku bantu pijat,” kata Alya menawarkan diri, dan Arga dengan senang hati menerimanya. Ia menggeser tubuhnya sedikit, memberi tempat pada Alya. “Tunggu sebentar, Aku ambil lotion dulu.”


Alya berlari masuk ke dalam rumah, lalu kembali lagi dengan membawa lotion di tangannya. “Biar gak kesat,” kata Alya, lalu meminta Arga membuka bajunya.


“Pahaku juga pegal, Ay. Lumayan jauh kan jalan kemari tadi,” kata Arga, sambil memukul-mukul pelan pahanya dengan pinggir telapak tangannya. Ia tak tahu kalau ucapannya itu membuat Alya jadi salah tingkah dan berefek pada pijatan di tangannya. “Aow, sakit Ay.”


“Kalau yang itu biar Tuan yang pijat sendiri.” Jawab Alya dengan pipi memerah, dan tanpa sengaja menekan kuat di bagian pangkal lengan Arga.


“Iya, Aku cuman mau kasih tahu Kamu saja.” Jawab Arga sambil mesem, sadar kalau Alya malu mendengar ucapannya.


Saat asisten rumah tangga menawarkan sarapan untuk mereka telah siap di meja makan, Arga meminta untuk dibawa saja ke gazebo. Berdua mereka sarapan sambil menikmati pemandangan danau yang indah.


Arga lalu mengajak Alya memancing ke rumah danau yang ada di dermaga, dan perjalanan ke tempat itu sekaligus buat latihan untuk Arga. Meski terus meringis dan kerap meminta berhenti, tapi Arga pantang untuk menyerah.


“Kalau kakiku normal, tidak sampai lima menit kita pasti sudah ada di dermaga.” Kata Arga, membuat Alya yang berjalan perlahan di sampingnya tersenyum mendengarnya.


“Tuan pasti bisa berjalan normal kembali, asal Tuan rajin berlatih dan rutin melakukan pengobatan sesuai anjuran dokter.” Alya menanggapi.


“Kalau itu terjadi padaku, hal pertama yang akan kulakukan adalah menggendongmu di punggungku dan membawamu berlarian sepanjang danau ini.” Kata Arga sambil menatap Alya, membuat wanita itu tertegun balas menatapnya.


Aku akan bersabar menunggu hari itu terjadi, bisik hati Alya.


Mereka sampai di dermaga, Arga meminta beristirahat dan langsung menjatuhkan bo kongnya di sofa panjang yang ada di sana. Alya tertawa melihatnya, tanpa ragu ia membantu mengusap peluh yang mengembun di kening dan leher Arga.


Kalau dulu mungkin Arga akan menolaknya, tapi sekarang dengan senang hati ia menerima semua perhatian yang diberikan Alya padanya. Dan pada kesempatan berharga itu, mereka menikmati waktu bersama. Arga mengajari Alya memancing, dan Alya membiarkan Arga memeluk tubuhnya dari samping.


🌹🌹🌹