Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 8. Menjadi perawat pribadi tuan Arga



Alya kembali ke ruang rawat inap ibunya dengan wajah tegang. Kalung miliknya sudah berada di dalam genggaman tangannya bersama selembar cek dari Arga. Ia membuka pintu dan melihat dokter Lia sedang memeriksa kondisi ibunya.


“Bagaimana keadaan Ibuku, Dokter?” Tanya Alya, ia berdiri di tepi ranjang ibunya yang tersenyum lalu menguap panjang saat melihat kedatangannya.


Tangan kurus ibunya itu perlahan mengusap lengannya, Alya menunduk dan mencium kedua belah pipinya. Tak lama kemudian mata ibunya terpejam, tertidur karena pengaruh obat yang baru diminumnya.


“Ibumu akan membaik jika segera dilakukan operasi,” sahut dokter Lia, menatap iba pada Alya. Ia tahu bagaimana usaha keras Alya selama ini, demi kesembuhan ibunya.


“Lakukan segera, Dokter. Aku sudah mendapatkan uang untuk biaya operasi ibuku.” Alya memperlihatkan cek di tangannya.


Dokter Lia menarik lengan Alya keluar ruangan, ia meraih lembar cek di tangan Alya dan matanya langsung terbelalak begitu membaca nominal angka yang tertera di sana.


“Dua ratus juta?!” Dokter Lia menggeleng tak percaya, ia menatap tajam gadis muda yang berdiri dengan menundukkan wajah di hadapannya itu. “Bagaimana Kau bisa mendapatkan cek ini. Apa yang sudah Kau lakukan di luar sana, Al?”


“Aku tidak melakukan hal tercela seperti yang Dokter pikirkan,” sahut Alya dengan suara sedikit bergetar. “Percaya padaku, Dokter.”


“Kau pergi pagi-pagi sekali, pamit padaku akan mencari kalungmu yang hilang. Lalu Kau kembali dengan selembar cek di tangan.” Dokter Lia melambaikan cek di tangannya itu, “Apa tidak ada yang ingin Kau ceritakan padaku tentang cek ini, Al? Aku butuh penjelasan yang masuk akal sekarang.”


“Dokter, semua itu tidak penting sekarang. Kesembuhan ibuku jauh lebih penting. Aku akan segera menguangkan cek ini dan membayar biaya operasi ibuku,” kata Alya menarik lembar cek dari tangan dokter Lia.


“Alya!” seru dokter Lia, menatap nanar punggung Alya yang semakin menjauh. Ia tak bisa mencegah Alya yang berlari cepat meninggalkannya.


“Biar Saya jelaskan bagaimana Alya bisa mendapatkan cek itu.” Suara seseorang di belakangnya mengalihkan perhatian dokter Lia. Ia menoleh dan terkejut melihat dua orang laki-laki yang memiliki kemiripan wajah sedang berjalan ke arahnya.


“Siapa kalian?” tanya dokter Lia, matanya menyipit menatap seorang dari mereka berdua yang duduk di atas kursi roda. Keadaannya cukup memprihatinkan dengan mata sebelah kiri ditutup perban, begitu pula dengan kaki kirinya yang terbungkus perban hingga pangkal paha.


Rivan mendorong kursi roda Arga menempel di dinding, ia mengenalkan dirinya sebagai kakak dari Arga dan mulai menjelaskan kejadian sebenarnya hingga Alya mendapatkan cek bernilai dua ratus juta.


“Alya sudah menandatangani kontrak dan akan bekerja sebagai perawat pribadi adikku, dia akan tinggal bersama di rumah kami sampai adikku sembuh dan bisa berjalan kembali. Ia bisa pulang hanya di akhir pekan saja,” jelas Rivan.


“Ia hanya tinggal berdua dengan ibunya selama ini, harus ada yang merawat ibunya pasca operasi. Dan itu tidak mungkin dilakukan Alya kalau ia harus tinggal bersama kalian.”


“Kami sudah menyediakan tempat yang lebih layak untuk mereka tinggal dan menempatkan seorang perawat yang akan menjaga ibunya selama Alya berada di rumah kami,” sahut Arga melirik pintu ruang rawat ibu Alya yang sedikit terbuka, ia bisa melihat dengan jelas tubuh ringkih seorang wanita tua yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Cukup masuk akal, pikir dokter Alya. Tapi sampai kapan Alya harus bekerja sebagai perawat pribadi Arga, ia tak bisa menebaknya.


Operasi ibunya dilakukan keesokan harinya, Alya terus menunggu hingga lampu kamar di ruang operasi padam dan dokter keluar menemuinya. Syukurlah semua berjalan lancar, dan operasi ibunya berhasil.


Dua hari pasca operasi ibunya, Alya datang ke tempat kerjanya. Berpamitan pada rekan kerjanya di sana dan langsung mengundurkan diri setelah sebelumnya melunasi semua hutang-hutangnya pada atasannya.


Alya mulai berkemas, membawa beberapa lembar pakaian untuk tinggal di rumah Arga. Saat ibunya bertanya tentang biaya operasinya, Alya hanya menjawab kalau ada keluarga baik hati yang dengan suka rela membantu mereka. Dan sebagai wujud rasa terima kasihnya, Alya akan bekerja pada mereka tanpa menjelaskan pada ibunya kejadian yang sebenarnya.


“Semoga mereka semua diberi kesehatan dan umur panjang. Sampaikan salam dan rasa terima kasih Ibu pada mereka,” kata Ibu dengan wajah haru.


Sesuai janjinya, seminggu setelah operasi ibunya, Alya datang ke ruang rawat inap Arga. Ia sudah siap bekerja, dan Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia meminta Alya membantunya makan alih-alih disuapi.


Kedua orang tua Arga yang datang, heran melihat kehadiran Alya di sana. Ditambah sikap Arga yang berubah manja, tidak biasanya minta disuapi makan. Arga tak ambil pusing sikap mamanya yang tampak penasaran, ia lalu mengenalkan Alya pada mereka sebagai perawat pribadinya.


“Perawat pribadi?” Widia kembali mengerutkan keningnya, “Apa itu artinya ia akan tinggal bersama kita nanti?” tanyanya sambil berbisik di telinga Rivan.


“Iya, Ma.” Rivan mengangguk.


Kerutan di kening Widia makin dalam. “Apa dia salah satu perawat yang bekerja di rumah sakit ini?” tanya Widia semakin penasaran, sambil terus menatap Alya yang sedang melayani Arga makan.


“Sudahlah, Ma. Biarkan saja Arga dengan pilihannya, toh kelihatannya anak itu jadi lebih anteng.” Bian Winata merangkum bahu istrinya itu dan membawanya duduk di sofa, meski begitu ia juga tak kalah penasaran dengan sosok Alya yang jadi perawat pribadi putranya itu.


“Wanita itu adalah pemilik kalung yang ada di tangan Arga,” bisik Rivan, mereka bertiga duduk berjejer di sofa yang sama dan sama-sama memandang ke arah Arga dan Alya.


“Kok Mama lihatnya gimana, gitu. Aneh aja, gak biasanya Arga seperti itu. Mama mau bantu suapin makan kemarin aja ditolak, ini kok mau?”


Rivan senyum dikulum, Bian setengah mati menahan tawa melihat wajah penasaran istrinya. “Mungkin Arga merasa nyaman sama Alya, Ma. Makanya jadi perawat pribadinya.”


“Nanti kalau mereka sudah selesai, dan ada waktu senggang. Mama mau bicara berdua sama Alya. Mama kan juga pingin kenalan sama dia,” kata Widia tak sabar.


Saat waktu senggang yang ditunggu itu tiba, justru mereka kedatangan dokter yang memberitahu kalau Arga sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Rupanya Arga sudah tidak betah berlama-lama di sana, dan meminta segera keluar dari rumah sakit.


Arga akan menjalani terapi fisik di rumah karena akan ada dokter yang datang memeriksa. Mungkin ia akan terus berada di kursi roda hingga bisa berjalan kembali, sampai waktu itu tiba ada Alya yang akan menjadi perawat pribadinya.


🌹🌹🌹