
Alya duduk kaku di sebelah Arga yang sedang menerima panggilan telepon, tenggelam dalam pikirannya sendiri dan nyaris tak mengucap sepatah kata pun selama dalam perjalanan pulang menuju rumah danau. Benaknya masih dipenuhi dengan bayangan wajah Nesya yang kecewa, lalu ungkapan cinta Arga yang tiba-tiba padanya.
Harusnya ia bahagia, karena tahu bagaimana perasaan Arga yang sesungguhnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia merasa bersalah pada Nesya karena sudah merebut Arga darinya.
Mengapa laki-laki itu tak pernah bercerita padanya kalau ia masih terikat hubungan dengan wanita lain saat meminta dirinya menikah dengannya? Pertanyaan itu kini terus berputar di kepalanya. Wanita itu sangat cantik, dan penampilannya terlihat sempurna. Pasti berasal dari keluarga berada seperti Arga. Berbeda sekali dengan dirinya yang berasal dari keluarga biasa dengan penampilan yang sangat sederhana.
Terdengar helaan napasnya yang berat. Sejenak Alya memejamkan mata sembari menyandarkan kepala ke sandaran kursi di belakangnya, ketika rasa perih itu tiba-tiba menghunjam dadanya. Sesuatu mengusik hatinya, membuatnya tersentak dan Alya langsung membuka matanya.
“Ay, mama titip salam.” Suara lembut Arga mengalihkan perhatian Alya, lelaki itu berbisik dengan ponsel masih menempel di telinga.
Alya menoleh cepat, seketika pipinya merona merasakan embusan hangat napas Arga di wajahnya. Ia pun memundurkan wajah, tersenyum dan mengangguk berusaha menutupi rasa gugupnya. Sudah setengah tahun lebih dirinya menikah dengan Arga, tapi tetap saja rasa gugup selalu menguasai dirinya terlebih saat berada dalam jarak yang begitu dekat seperti saat ini.
“Mama sama papa lagi di luar kota, makanya gak bisa jemput kita. Lusa baru balik. Bang Rivan juga lagi ada di lokasi, pulang malam. Besok pagi katanya mau ngajak sarapan bareng di kafenya,” imbuh Arga lagi, dan Alya kembali mengangguk mengerti.
“Terserah Kamu, saja. Aku nurut,” sahut Alya pelan.
Arga mengangkat sebelah tangannya dan merengkuh bahu Alya, mengusap-usapnya pelan lalu menundukkan wajah dan mengecup sekilas keningnya. “Kamu ngantuk, Ay? Kalau ngantuk, tidur aja dulu.”
“Gak ngantuk, kok.” Alya menggeleng sebagai jawaban, dan meregangkan pelukan Arga di tubuhnya. Tapi rupanya apa yang diucapkannya tak sejalan dengan apa yang terjadi setelahnya. Mulutnya tiba-tiba terbuka lebar dan kuapnya lolos begitu saja, tanpa Alya sempat menutupnya. Arga tertawa melihatnya, dan Alya tersipu malu dibuatnya.
“Gemas sama Kamu, Ay. Sini baring di pundakku,” kata Arga lalu menarik bahu Alya agar merapat kembali padanya.
“Tuh, ada yang telpon lagi.” Kata Alya begitu mendengar ponsel Arga kembali berbunyi. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali.
“Aku angkat dulu, ya.” Arga melepaskan rangkulannya di bahu Alya dan kembali sibuk menerima telepon dari para sahabatnya yang silih berganti menghubungi, menanyakan kabar dirinya dan ingin segera bertemu muka dengannya.
Alya mencoba memejamkan matanya lagi, dan ia benar-benar tertidur. Satu sentuhan lembut di pipi kirinya, membuat matanya terbuka. “Apa kita sudah sampai di rumah?” gumam Alya dengan suara serak.
Arga tersenyum sembari menyibak helai rambut Alya yang jatuh menutupi pipinya. “Sudah, sejak lima menit yang lalu.” Jawabnya enteng.
Mata Alya melebar, ia menoleh ke belakang dan melihat sopir tengah menurunkan barang-barang mereka dari dalam bagasi mobil dan ada asisten rumah tangga yang sudah menunggu di teras rumah. “Kok Aku gak dibangunin, sih?”
“Tadinya mau Aku gendong langsung ke dalam kamar, tapi keburu bangun waktu Aku cium pipimu barusan.” Jawab Arga tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
“Jangan coba-coba, ya. Itu kaki baru sembuh, belum boleh dibuat nahan beban yang berat-berat. Ingat apa kata dokter. Masih dalam tahap pemulihan!” sergah Alya cepat.
“Memang janji apa sama Aku?” Alya mengernyit, mencoba mengingat-ingat.
“Kalau kakiku pulih dan bisa kembali berjalan, Aku berjanji membawamu berlari di punggungku.”
“Oh, itu.” Wajah Alya menghangat, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain tepat saat sopir telah selesai memindahkan barang-barang ke teras rumah. “Tenang saja, Aku pasti akan mengingatkanmu jika kulihat kakimu telah pulih sempurna.”
Arga tersenyum mendengarnya, Alya lalu turun dari mobil disusul Arga di belakangnya. Langkahnya terhenti tiba-tiba begitu mendengar Arga bicara, “Besok malam teman-teman Aku akan datang kemari. Rencananya dadakan, Ay. Dan Aku tidak bisa menolak mereka.”
“Besok malam?” Alya mengulang ucapan Arga, tertegun sesaat lamanya. Saat mereka menikah, tak seorang pun dari teman-teman Arga yang tahu, demikian pula dengan semua sahabat Alya. Karena semua dilakukan secara cepat dan mendadak, setelah rencana pengobatan kaki Arga mengemuka. “Apa mereka tahu soal status hubungan di antara kita?”
“Aku rasa mereka semua tidak tahu.” Arga menggeleng, wajahnya berubah tiba-tiba. Kecelakaan tunggal yang dialaminya saat menyetir di bawah pengaruh minuman, memang berusaha ditutupi oleh pihak keluarganya. “Entah kalau Nesya buka mulut soal pertemuan dengan kita di bandara tadi.”
Arga menatap Alya seolah baru teringat suatu hal yang penting, dan Alya memalingkan wajah menghindar dari tatapannya. Ia tak ingin laki-laki itu melihat rasa sakit yang terpancar dari matanya. Sejak awal ia sadar kalau pernikahan mereka itu dirahasiakan dan tidak diketahui oleh umum, hanya kerabat dekat saja yang tahu. Meski begitu tetap saja membuat hati Alya luka, apalagi setelah melewati banyak waktu berdua.
“Kalau memang mereka tidak tahu soal kita, itu akan jauh lebih baik. Lagi pula Aku juga sudah berjanji pada ibuku untuk mengunjungi beliau besok. Jadi Kau bisa berkumpul lagi dengan teman-temanmu," ungkap Alya, dan tak perlu khawatir akan ada yang tahu tentang hubungan mereka berdua.
Alya berharap laki-laki di hadapannya itu akan memintanya tinggal di rumah ini untuk menemani menemui teman-temannya nanti. Bukankah Arga mencintainya, dan itu baru saja diungkapkannya. Ia bahkan lebih memilih dirinya ketimbang mantannya. Tapi sepertinya harapannya itu tak akan terwujud, setelah mendengar jawaban dari mulut Arga.
“Sampaikan salamku pada ibumu. Maaf kalau Aku tidak bisa menemanimu besok, Aku akan menemuinya lusa sekaligus menjemputmu pulang.”
“Baik, akan Aku sampaikan.” Alya mengangguk dan hanya bisa menelan kekecewaannya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan segera membersihkan diri lalu memilih beristirahat di kamarnya sendiri.
Hingga menjelang malam, Alya masih terlelap. Ia bahkan belum terbangun ketika Arga masuk ke dalam kamarnya dan berniat membangunkannya untuk mengajaknya makan malam.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Alya terjaga dan merasakan perutnya meronta. Ia bangun dan mencuci muka, lalu menengok Arga terlebih dahulu di kamarnya. Dilihatnya botol obat di atas meja dan tersenyum setelah melihat isinya, Arga sudah meminum obatnya tanpa harus menunggunya. Pandangannya beralih ke atas ranjang. Lelaki itu tampak tertidur pulas dengan ponsel masih berada dalam genggaman tangannya.
Alya membetulkan letak selimut di pinggang Arga, lalu meraih ponselnya berniat meletakkannya ke atas meja. Matanya melebar begitu melihat banyaknya chat dari teman-teman Arga, dan salah satunya ada nama Nesya di sana. Banyak pesan Nesya melalui aplikasi hijau itu yang belum terbaca Arga.
Dengan tangan bergetar, Alya memberanikan diri mengintip pesan singkat itu tanpa membukanya. Dua baris kalimat yang terbaca olehnya itu sontak membuat dadanya sesak seketika.
🌹🌹🌹