Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 19. Ungkapan Cinta Arga



Alya telah membayangkan hal indah dan menyenangkan yang akan ia lakukan bersama Arga setiba mereka di rumah danau nanti. Ia tersenyum lebar dan tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok pria itu, terlebih saat Arga mengulurkan tangan hendak membuka pintu mobil dan balas tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya. Hati Alya membuncah senang, ia menyelipkan helai rambutnya ke balik telinga dengan pipi merona.


Selama enam bulan kebersamaan mereka di luar negeri, banyak hal yang telah terjadi. Setiap saat setiap waktu, Alya selalu ada di sisi Arga. Menemani dan mendampingi suaminya itu melewati semua hal dan terus-menerus memberikan semangat. Alya melihat bagaimana perjuangan Arga untuk bisa berjalan normal kembali.


Satu hal yang pasti dan tak dapat dipungkiri oleh Alya, kalau ia telah jatuh cinta pada suaminya itu. Tapi Alya berusaha menyimpannya dalam hati. Meski Arga selalu bersikap manis padanya, tapi tak sekalipun lelaki itu mengucap kata cinta padanya. Dan Alya bertekad akan membuat laki-laki itu jatuh cinta padanya.


“Arga!”


Suara lantang seseorang saat memanggil namanya, menghentikan gerakan Arga. Ia balik badan dan tersentak kaget begitu seorang wanita cantik berlari menubruknya dan langsung memeluknya erat. Tubuhnya terdorong ke belakang, dengan punggung menempel di badan mobil.


“Aku berharap akan bertemu denganmu di sini,” kata wanita itu dengan suara serak, ia menyandarkan wajahnya di dada Arga. “Miss you.”


Senyum di wajah Alya langsung memudar begitu melihat pemandangan di hadapannya itu. Dari dalam mobil, ia bisa melihat dengan jelas wanita yang sedang memeluk Arga itu bertubuh tinggi dan sangat cantik dalam balutan gaun warna hitam seksieh yang melekat ketat di tubuhnya.


Entah siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Arga di masa lalu, yang Alya tahu saat ini lelaki itu adalah suaminya yang sah. Tak ingin ada yang mengusik kehidupan rumah tangganya yang tenang bersama Arga selama ini, Alya memutuskan turun dari mobil dan menemui keduanya.


Wajah Arga tampak tegang, ia memegang bahu wanita itu dan meregangkan pelukan di tubuhnya. Ia menatap wanita cantik di hadapannya itu yang mendongak dan tersenyum hangat padanya.


“Nesya? Ngapain Kamu di sini?” tanya Arga. Ia menoleh cepat begitu mendengar suara pintu mobil terbuka, lalu melihat Alya keluar dari dalam sana dan berjalan ke arah mereka.


“Aku datang untuk menemuimu,” kata wanita bernama Nesya itu mengulang ucapannya lagi. “Aku merindukanmu, sudah lama kita tak bertemu.” Ia meraih tangan Arga dan memeluknya erat, lalu menempelkan pipinya di pangkal lengan laki-laki itu seraya menatap Alya yang datang mendekat.


“Hai,” sapa Alya ramah pada wanita itu yang kini menatapnya lekat dengan satu alis terangkat.


“Siapa wanita ini, Ga?”


“Dia ...”


Alya melipat tangan di dada dan menatap tajam Arga, menunggu laki-laki itu menyelesaikan bicaranya sembari menahan kesal di dada karena wanita di depannya itu terus saja bergayut manja di lengan Arga dan suaminya itu malah membiarkannya. “Apa Kau tidak ingin mengenalkan Aku pada teman wanitamu ini?” tanya Alya kemudian.


Arga tampak ragu sebelum akhirnya melepaskan pegangan tangan wanita itu di lengannya, lalu balas menatap Alya dan berdeham sejenak sebelum mulai bicara. “Alya, kenalkan ini Nesya. Dan Nesya, kenalkan ini Alya. Istriku.”


Tangan yang baru saja terulur itu tiba-tiba saja ditarik kembali begitu mendengar Arga menyebut Alya sebagai istrinya.


“What?!” Nesya tampak syok. Ia menatap Alya dan Arga bergantian, lalu menunduk dan melihat cincin yang melingkar di jari manis Alya. Matanya terbelalak, dengan mulut setengah terbuka seolah tak percaya pada apa yang didengarnya barusan. Ia meraih tangan Arga dan melihat cincin yang sama tersemat di jari manisnya. “Kamu bohong. Kamu pasti sedang bercanda, kan?”


“Aku tidak sedang bercanda, Nesya. Aku serius,” sahut Arga.


“Gak, gak mungkin.” Nesya menggoyangkan tangan di kedua sisi wajahnya, tetap tak percaya. “Aku ini masih kekasihmu, Ga. Bagaimana bisa kalian tiba-tiba menikah tanpa sepengetahuan Aku?”


“Apa yang dikatakan Arga itu memang benar. Kami memang sudah menikah hampir tujuh bulan yang lalu, dan baru saja kembali dari luar negeri setelah melakukan pengobatan untuk Arga di sana.” Jelas Alya, ia merasa perlu bicara dan mengatakan hal yang sebenarnya pada Nesya.


Arga lalu mengajak Nesya duduk di kafe yang ada di tempat itu, sementara Alya memilih untuk menunggu di dalam mobil. Mereka duduk saling berhadapan, Nesya tak bergerak di tempatnya menatap Arga tajam menuntut jawaban.


“Aku mengajakmu bicara di sini untuk meluruskan masalah di antara kita berdua, dan Aku tak ingin dia salah paham tentang kita." kata Arga balas menatap Nesya. "Setelah pertengkaran kita malam itu, Aku berusaha menghibur diri datang ke pub bersama Tony dan Deny. Kau bilang hubungan kita tak bisa diteruskan lagi. Aku egois, terlalu mengekang dan tidak benar-benar mendukung kariermu sebagai seorang model. Malam itu Kau mengakhiri hubungan kita, dan memilih pergi.”


Arga tercenung beberapa saat lamanya, benaknya mengingat kembali pertengkaran yang terjadi di antara mereka berdua. Sepertinya bukan kali itu saja mereka berselisih paham, bahkan sejak awal hubungan pun mereka sering kali bertengkar. Arga berusaha mengerti dan mengalah, meski harus banyak kehilangan waktu untuk sekedar jalan-jalan berduaan. Ia sangat mengerti bagaimana sibuknya Nesya yang banyak sekali mendapatkan tawaran iklan dan pemotretan.


“Saat itu Aku sedang emosi, dan Aku menyesal. Aku pergi ke luar negeri untuk menjalani pemotretan, tapi di sana Aku terus kepikiran Kamu. Aku memutuskan pulang lebih cepat. Tapi saat Aku datang dan menemui kedua orang tuamu di rumah, mereka bilang Kamu sudah pergi.” Ungkap Nesya dengan wajah memelas, ia benar-benar menyesal karena sudah meninggalkan Arga demi mengejar popularitas.


Nesya juga mengatakan kalau kedua orang tua Arga menolak memberitahu keberadaannya saat itu, dan malah memintanya untuk menjauhi putra mereka. Nesya juga tak tahu kecelakaan yang menimpa Arga, sampai ia mendengar kabar itu dari teman sesama model. Dan ia benar-benar menyesalinya karena tak berada di sisinya saat Arga butuh dukungan.


“Aku berusaha melupakan semuanya, melupakan pertengkaran kita. Melupakan keputusanmu yang lebih memilih berkarier dan pergi ke luar negeri ketimbang tinggal bersamaku. Malam setelah pesta itu berakhir, Aku pulang dalam keadaan kacau. Aku tidak tahu kalau mereka mencampurkan sesuatu dalam minuman kopiku, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Kaki kiriku remuk dan mata sebelah kiriku rusak.”


Arga tertawa pelan, pandangannya kini menyapu sekitarnya. Lalu lalang orang-orang yang keluar masuk pintu bandara, pada mereka yang melepas kepergian dan menyambut kedatangan orang tercinta dengan wajah sedih juga senyum penuh harap. Membuatnya sadar selama waktu yang terlewati sejak kecelakaan itu terjadi hingga ia sembuh kembali, ada seseorang yang selalu setia mendampingi. Dia Alya, istrinya kini.


“Aku menyesal, Ga. Aku ingin kita kembali menjalin hubungan seperti dulu lagi, beri Aku kesempatan untuk membuktikannya padamu.” Pinta Nesya, ia tak sungkan memohon karena tak ingin kehilangan kesempatan lagi.


Arga menggeleng, merasa cukup telah bicara banyak dan mengatakan yang sebenarnya tentang statusnya saat ini. “Aku sudah menikah, dan Aku sangat menyayangi istriku.” Arga memperlihatkan cincin di jarinya, tersenyum lalu mengecupnya penuh perasaan seperti ia mengecup kening Alya.


“Dia yang selalu ada saat Aku butuh seseorang untuk menguatkan langkahku, dia yang tidak pernah mengenal kata lelah dan terus ada di sampingku saat Aku butuh teman untuk mendengarkan semua keluhanku. Aku tidak akan pernah menyakiti hatinya atau pergi meninggalkannya sendiri. Aku kembali seperti dulu lagi juga karena dia.”


“Apa Kau mencintai dia?” tanya Nesya, berharap kalau Arga akan mengatakan tidak sebagai jawaban.


Arga tersenyum dan mengangguk, sejak memutuskan untuk menikah ia tahu kalau dirinya sudah jatuh cinta pada Alya. Dan jawaban itu membuat Nesya sadar kalau ia telah kehilangan Arga selamanya. Hati dan cinta laki-laki itu bukan lagi untuknya.


“Apa dia tahu kalau Kau cinta padanya?” tanya Nesya lagi, yang langsung menyadarkan Arga kalau selama ini ia tak pernah mengatakan perasaannya itu pada Alya.


Arga bangkit berdiri, tersenyum lebar dan mengucap terima kasih karena sudah diingatkan. Ia berjalan cepat menuju mobilnya, membuka pintu dan langsung merengkuh bahu Alya lalu memeluknya erat membuat wanita itu terkejut.


“Sudahkan kukatakan padamu hari ini kalau Aku sangat mencintaimu?” ungkap Arga yang tentu saja sangat mengejutkan buat Alya.


Alya menggeleng tak mengerti, tapi Arga terus memeluknya erat. Sekilas pandang, dilihatnya Nesya berjalan menjauh meninggalkan bandara tanpa menoleh lagi.


🌹🌹🌹