Diamond Girl

Diamond Girl
Bab 10. Gara-gara mati lampu



Alya menyukai kamarnya yang bernuansa warna putih dan biru, kamar itu menghadap langsung ke danau dan dilengkapi dengan tempat tidur besar yang terlihat nyaman. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di sana. Begitu kepalanya menyentuh bantal empuk di bawahnya, matanya langsung terpejam dan tidak berapa lama kemudian Alya tertidur dengan cepat.


Alya terjaga di tengah malam, begitu mendengar suara gemuruh dan kilatan-kilatan petir yang menyambar menembus kaca jendela kamarnya. Ia bergegas bangun hendak melihat keadaan Arga, dan hampir saja terjatuh saat lampu di kamarnya itu tiba-tiba saja padam.


Seluruh lampu di rumah itu padam, saat Alya berhasil mencapai pintu dan membukanya. Lalu terdengar bunyi langkah kaki terburu-buru menuruni tangga dan seseorang muncul dengan senter besar di tangan.


“Alya, Kaukah itu?”


Cahaya terang dari senter yang menyala menyambar ke arahnya, Alya mengerjap dan refleks melindungi wajahnya lalu menoleh cepat begitu melihat Rivan menurunkan senternya dan berjalan mendekat.


“Saya mau melihat keadaan tuan Arga, tapi semua lampu di rumah ini tiba-tiba padam.” Jelas Alya, ia mengekor di belakang Rivan saat laki-laki itu membuka pintu kamar Arga dan merasa lega begitu melihatnya masih lelap tertidur tak terganggu sedikit pun dengan keadaan rumah yang gelap gulita.


“Aku akan segera menyalakan genset. Apa Kau akan kembali ke kamarmu atau tetap berada di sini?” tanya Rivan, ia menyibak korden kamar Arga dan mengarahkan senternya ke luar. Tampak hujan lebat disertai angin kencang yang menggerakkan pohon-pohon cemara di sekitar rumah.


Alya menatap ke atas tempat tidur Arga, ia melihat tubuhnya bergerak dan laki-laki itu terbangun karena merasa ada orang berbicara di dekatnya.


“Aku akan tetap di sini,” jawab Alya dan bergegas mendekati tempat tidur Arga. “Apa Tuan butuh sesuatu?” tanya Alya, melihat Arga menggerakkan tangannya berusaha bangun.


“Aku hanya ingin duduk,” sahut Arga, dan Alya langsung membantunya duduk bersandar pada bantal besar di belakang punggungnya.


“Apa listrik di rumah ini padam lagi?” tanya Arga pada Rivan yang sedang mencari lampu emergency dan menemukannya di samping rak lemari pakaian. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya.


“Seperti yang Kau lihat. Saat hujan deras seperti ini, aliran listrik di rumah ini selalu saja padam.” Sahut Rivan dan bergegas ke luar. “Aku akan menyalakan genset.”


Alya duduk di sofa seraya menautkan kedua tangan, menunggu di sana hingga lampu di rumah itu kembali menyala dan akan segera kembali ke kamarnya. Untuk beberapa saat lamanya suasana di kamar itu hening, Arga duduk sembari memejamkan matanya dan Alya tampak menahan kantuk dan sesekali menguap.


“Aku haus,” kata Arga tiba-tiba, sambil menyentuh lehernya. Alya tersentak dan langsung sigap berdiri, mengambil botol air di atas meja lalu memberikannya pada Arga yang langsung mengernyitkan keningnya.


“Gelasnya?”


“Oh.” Alya menarik kembali tangannya, tak jadi memberikan botol air itu pada Arga. “Sebentar Saya ambilkan.”


“Ck, apa Kau ingin melihatku meminumnya langsung dari botol itu?”


Alya tidak menjawab, hanya diam dan langsung menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya pada Arga lagi. Lelaki itu langsung meminumnya sampai habis.


“Aku lapar,” kata Arga lagi, begitu selesai minum. “Aku mau makan potongan buah segar.”


Ganti Alya yang mengernyit. Ia tak mungkin berjalan ke dapur dalam keadaan rumah gelap seperti sekarang, sementara hanya ada roti yang tersedia di atas meja. Arga menolak ketika Alya coba menawarkan. “Tunggu sampai lampunya menyala sebentar lagi, Saya akan mengambilkannya untuk Tuan.”


Tak terdengar sahutan, Alya pun diam sambil melihat ke arah jam dinding di atasnya. Sepuluh menit berlalu, namun lampu di rumah itu belum juga menyala. Hujan turun semakin deras, hawa dingin mulai terasa menusuk hingga ke tulang. Alya duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua kaki rapat.


Rivan muncul di ambang pintu, bajunya basah dan ia tampak berantakan. “Kita kehabisan bensin,” ucapnya sambil menyeka wajahnya. “Barusan ada pemberitahuan kalau pemadaman listrik akan berlangsung sampai pagi. Ada tiang listrik wilayah kita yang tersambar petir, dan saat ini sedang dilakukan perbaikan.”


Itu artinya lampu di rumah itu tak akan menyala sampai pagi, dan saat ini mereka harus menunggu enam jam lagi bahkan mungkin lebih. Rivan lalu kembal ke kamarnya dan meninggalkan senternya pada Alya.


“Alya tunggu!” seru Arga, ia menggeser tubuhnya dan meminta Alya kembali untuk membantunya naik ke atas kursi rodanya. “Biar Aku ikut bersamamu, Kau bahkan belum satu hari berada di rumah ini. Apa Kau tahu di mana letak dapur di rumah ini?”


Alya meringis, dalam hati membenarkan. Ia mungkin akan kebingungan karena harus mencari-cari dalam keadaan listrik padam seperti sekarang.


Alya mendorong kursi roda Arga, dan laki-laki itu yang memegang senternya. Mereka menuju dapur dan Arga menunjukkan letak barang-barang di rumahnya. Alya membuka kulkas dan mengeluarkan buah yang diinginkan Arga.


“Sepertinya minum coklat panas saat cuaca dingin seperti ini menyenangkan, Tuan.” Kata Alya ketika menemukan coklat bubuk dalam kemasan, ia sudah selesai memotong buah untuk Arga dan laki-laki itu kini sedang menikmatinya.


“Terserah Kau saja,” sahut Arga melahap cepat potongan buah di depannya. Alya tersenyum, ia mulai memasak coklat panas di kompor untuk dirinya dan Arga.


“Huh, panas!” Arga menggigit ujung lidahnya sambil mengipaskan tangan di depan mulutnya. Ia taruh kembali mug berisi coklat panas buatan Alya itu ke atas meja.


Alya tertawa melihatnya, “Ya kan barusan dituang, masih panas banget. Uapnya saja masih kelihatan jelas.”


Arga meringis, “Kelihatannya enak, makanya jadi gak sabar pengen cepat minum.”


Alya lalu membantu mengipasi dengan tangannya, sementara Arga menunduk dan meniupnya pelan. “Sudah dingin kali, ya.” Arga menyeruput perlahan, lalu memejamkan mata merasakan sensasi hangat manis rasa coklat melumuri tenggorokannya. “Hem, sedapnya.”


Alya kembali tertawa, senang melihat Arga menyukai minumannya. Gara-gara mati lampu ia jadi berkesempatan menikmati coklat panas berduaan di dapur rumah Arga. Tak terasa perbincangan mengalir begitu saja di antara mereka berdua, hingga tak menyadari kehadiran Rivan di sana.


Rivan yang turun kembali hendak melihat keadaan Arga, segera menuju ke dapur begitu tak menemui adiknya itu di kamarnya. Ia tertegun melihat Alya dan Arga tampak berbincang akrab dan tertawa bersama di sana. Ia mengurungkan niatnya dan berbalik kembali menuju kamarnya lagi.


“Dari mana, Van?” Widia yang muncul di ambang pintu kamarnya tampak masih mengantuk, heran melihat Rivan yang berjalan cepat melewatinya.


“Dapur,” jawab Rivan singkat, langkahnya terhenti di anak tangga begitu Widia menanyakan keadaan adiknya. “Lagi sama Alya di dapur.”


“Mati lampu begini, ngapain mereka di dapur?” kantuk di wajah Widia langsung lenyap begitu mendengar Arga sedang berduaan bersama Alya di dapur.


Rivan tidak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya. “Rivan balik kamar dulu, Ma. Ngantuk.”


“Hmm, jadi penasaran?” Widia balik badan dan membangunkan Bian yang masih lelap tertidur. Ia menggoyangkan bahu suaminya itu. “Pa, temani Mama lihat Arga sama Alya di dapur, dong.”


Bian mengerjap, keningnya berkerut dalam. “Mama kan bisa lihat sendiri ke sana, kenapa minta ditemani segala?”


“Ish, Papa gak nyadar apa kalau sekarang lagi mati lampu? Ayo, ah!”


Mau tidak mau Bian bangun, menuruti keinginan istrinya itu. Ia mencabut lampu emergency yang menempel di dinding kamarnya.


Di dapur, Alya sedang berjongkok memasangkan kaus kaki untuk Arga, karena laki-laki itu mengeluh kakinya dingin. Arga menunduk memperhatikan sambil memegangi senter di pangkuan. Alya mengangkat wajah, tersenyum mengatakan pada Arga kalau lelaki itu pasti tidak akan kedinginan lagi sekarang sambil membetulkan letak selimutnya. Wajah mereka begitu dekat, dan dari jauh tampak Arga seperti hendak mencium Alya.


Mama yang datang dan melihat wajah keduanya begitu dekat, terkejut setengah mati. “OMG! Apa yang sudah kalian lakukan di sini?!”


🌹🌹🌹