
Arga mengangkat wajahnya dan melihat Alya tengah menatapnya lekat. Lalu tiba-tiba saja wanita itu berjalan mendekat dan berusaha menyentuh lehernya.
“Kau!” Seru Arga tak suka, dengan cepat tangan kanannya bergerak menangkap pergelangan tangan Alya, dan mencengkeramnya kuat. “Berani sekali Kau menyentuhku!”
“Sakit!” Erang Alya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Arga. Bukannya terlepas, tubuhnya justru semakin merapat ke tubuh Arga ketika laki-laki itu menyentak pegangan tangannya dan wajah tampan itu sangat dekat dengan ujung hidungnya.
“Aku hanya ingin meminta kalungku kembali,” kata Alya lagi, masih berusaha melepaskan cekalan tangan Arga di tangannya.
“Kalungmu yang mana?” sentak Arga, seraya mengangkat wajahnya. Jarak mereka begitu dekat, ia bahkan bisa merasakan napas hangat Alya menyentuh kulit wajahnya.
Sejenak Alya tertegun, tak kuasa memalingkan muka dari pemandangan indah di depan matanya itu. Meski sebelah matanya tertutup perban, tetap saja tak bisa menyembunyikan ketampanan wajah lelaki di hadapannya itu.
“Ya, Tuhan. Sungguh elok ciptaan-Mu ini,” bisik Alya dalam hati, tak bisa menahan gerakan tangannya yang terulur begitu saja ingin menyentuh mata Arga yang tertutup perban.
“Rupanya Kau benar-benar ingin mati!” Arga benar-benar tak bisa mengendalikan amarahnya. Tadi lehernya yang ingin disentuh wanita ini, sekarang matanya yang coba diraba. Tanpa ampun, Arga memutar lengan Alya hingga wanita itu menjerit kesakitan.
Rivan terkesiap, tak menyangka Arga bisa melakukan hal itu. Seumur-umur, baru kali ini ia melihat adiknya itu berbuat kasar pada seorang wanita. Rivan bergerak cepat dan berusaha menghentikan.
“Hentikan, Ga. Kau menyakiti Alya!” tegur Rivan, membuat Arga menoleh padanya dan langsung melepaskan pegangan tangannya.
“Kau kasar sekali!” kata Alya sengit. Ia meringis, memijit lengannya yang sakit dan mengusap-usap tangannya yang memerah.
Heran bukan kepalang. Meski dalam keadaan sakit dan kakinya sulit untuk digerakkan, tapi tangan Arga masih berfungsi dengan baik. Bahkan tenaga laki-laki di depannya itu kuat sekali.
Kemeja katun rumah sakit tak bisa menyembunyikan otot biseps di lengannya. Alya yakin sekali, pukulan lelaki ini akan mampu meremukkan tulang-tulang lawannya. Sekarang pun Alya mulai merasakan tulang-tulang di lengannya sakit semua.
“Suruh wanita ini keluar dari ruanganku sekarang juga. Aku tidak ingin melihatnya ada di sini,” kata Arga mengarahkan telunjuknya pada Alya tanpa menoleh padanya.
“Aku tidak akan pergi dari ruangan ini sebelum Kau mengembalikan kalung milikku yang Kau pakai itu!” Alya bergeming, berdiri menantang dengan kedua tangan berada di pinggang.
“Kau!” teriak Arga nyaring.
“Apa!” balas Alya tak kalah nyaring.
“STOP!” Teriak Rivan seraya menutup telinganya, membuat kedua orang yang sedang bersitegang di hadapannya itu langsung menoleh padanya.
“Diam Kau!” jawab Alya dan Arga serempak.
“Astaga! Kalian ini, benar-benar ya!” Rivan menggelengkan kepala, setengah tak percaya melihat pada keduanya.
“Maaf!” Alya beringsut menjauh, dan berdiri di ujung ranjang. Tapi matanya tak lepas menatap kalungnya yang berada di leher Arga.
Rivan berjalan mendekati bibir ranjang dan duduk di sana. Wajah Arga tampak tegang. Rivan menepuk bahu Arga, menaruh tangannya sejenak di sana. Ia menghela napas sebelum mulai berbicara, “Ga, apa Kau ingat pernah menyuruh kami semua mencari wanita pemilik kalung yang Kau pakai itu?”
Arga mengangguk dan balas menatap Rivan. “Ya, Aku ingat.”
“Kau masih ingat dengan ciri-ciri wanita yang Kau sebutkan waktu itu?”
Sekali lagi Arga mengangguk, ia masih ingat dengan jelas rupa wanita itu yang mengenakan kacamata dan berambut panjang. Matanya sembab seperti habis menangis, dan ...
“Dia orangnya, Ga. Wanita itu adalah pemilik kalung yang Kau cari. Alya namanya.”
Arga tersentak dan langsung berpaling menatap Alya, seketika tersadar kalau wanita pemilik kalung yang dicarinya itu memang dia orangnya. Wanita yang baru saja ribut dan berani menantang dirinya.
“Kau!”
“Apa Kau sudah bisa mengingatku lagi?” Akhirnya, Alya tersenyum dan menarik napas lega. Ia beringsut mendekat. “Aku menjatuhkan kalungku tepat saat brankar yang membawamu melintas di depanku. Dan kalungku jatuh mengenai lehermu,” jelas Alya lagi.
“Sekarang, berikan kalung itu padaku.” Pinta Alya cepat sambil menadahkan tangannya ke depan wajah Arga.
“Wanita itu memakai kaca mata,” sahut Arga, tak ingin percaya begitu saja.
“Oh, kacamata ini.” Alya mengeluarkan kacamata dari dalam tas selempangnya. “Ini hanya kacamata biasa, Aku menggunakannya waktu itu untuk menutupi mataku yang bengkak.”
“Wanita itu berambut panjang,” kata Arga lagi.
Alya meraba rambutnya yang kini dipotong sebahu, ia sengaja memotongnya sendiri kemarin karena tampak lepek. Dan alasan utamanya adalah uang.
“Aku memotongnya sendiri kemarin, Kau lihat panjangnya pun tak sama rata. Aku tak punya waktu banyak untuk merapikannya dan tak punya cukup uang untuk pergi ke salon,” kata Alya berterus terang.
“Wanita itu ...”
“Wanita pemilik kalung yang Kau pakai itu kini berdiri tepat di depanmu. Sekarang, kembalikan kalung milikku!” jawab Alya memotong ucapan Arga.
Rivan senyum dikulum melihat tingkah keduanya, sepertinya Arga sedang mencoba menguji kesabaran Alya. Entah apa yang diinginkannya, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Bang, bisa tinggalkan kami berdua saja?” pinta Arga pada Rivan. “Ada sesuatu yang harus Aku bicarakan dengan wanita ini.”
“Tidak!” Alya bergegas menghadang di pintu, merentangkan kedua tangannya lebar tak membiarkan Rivan pergi dari sana.
“Hei, Kau mau kalungmu kembali tidak?” seru Arga kesal dengan tingkah Alya yang dianggapnya kekanak-kanakkan.
“Kau tidak bisa membiarkan kami berdua saja. Dia bisa memukulku kapan saja, dan Aku tidak yakin dia mau memberikan kalung milikku itu jika Kau meninggalkan kami.” Kata Alya tanpa mengindahkan ucapan Arga.
“Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini,” kata Rivan sambil mengedipkan matanya pada Arga, yang langsung ditanggapi adiknya itu dengan mencebikkan bibirnya.
“Kau!”
Rivan menurunkan lengan Alya dan menyingkirkan wanita itu dari pintu di belakangnya. “Aku bosan terus mendengar kata ‘Kau’ dari kalian berdua. Percaya padaku, adikku lelaki baik. Dia tak akan menyakitimu lagi, apalagi dia tahu kalau Kau pemilik kalung yang dipakainya itu.”
“Oh, ya. Kau yakin dia tak akan menyakitiku lagi?” ngilu di bagian lengannya belum hilang sepenuhnya, bagaimana kalau Arga memitingnya nanti.
Rivan mengangguk mantap, dan bergegas membuka pintu lalu keluar dari ruang inap Arga meninggalkan adiknya itu berdua saja dengan Alya menyelesaikan masalah mereka.
“Kenapa masih berdiri kaku di situ, bukankah Kau ingin kalungmu ini kembali?” tegur Arga yang langsung membuat Alya bergerak mendekat.
“Aku akan memberikan kalung ini padamu, tapi ada syaratnya.” Arga melepas kalung yang melingkar di lehernya dan memasukkannya ke saku celananya.
“Syarat apa, Kau tahu kalau kalung itu milikku. Kenapa harus pakai syarat segala? Kau hanya tinggal memberikan kalung itu padaku dan masalah kita selesai.”
“Kau mau menurut atau tidak?”
Alya kesal, ia langsung menjatuhkan bo kongnya begitu saja di tepi ranjang hingga menimbulkan bunyi keras dan Arga meringis merasakan kakinya mendadak ngilu.
“Kau tahu, Aku tidak punya banyak waktu. Ibuku sedang sakit parah dan butuh biaya banyak untuk operasinya, dan hanya kalung itu yang Aku miliki untuk biaya awal operasi.” Alya terduduk lesu.
“Aku akan mengembalikan kalung milikmu dan membantu biaya operasi ibumu, asalkan Kau mau menuruti syarat yang Aku ajukan padamu.”
“Syarat apaaa ituu?” Alya menatap Arga. Ia tak punya waktu banyak dan berharap laki-laki di depannya itu segera mengembalikan kalung miliknya.
“Jadilah perawat pribadiku, dan Kau harus tinggal bersamaku. Maka Aku akan membayar semua biaya operasi ibumu.”
🌹🌹🌹