Darklady

Darklady
Pilihan untuk Bertahan Hidup



“Eiii,?? Bukannya kamu induk burung hantu tadi ? Tikus ?”


Burung hantu tersebut terus berjalan mendekatinya seolah-olah ia ingin memberikan tikus yang dia tangkap tersebut kepada Serlyne sebagai ucapan terima kasih.


“Untuk saya?”


Tiba-tiba saja Serlyne terbengong sejenak.


“Oh ya, ular kan suka makan tikus, tapi ini tikus sudah mati, sedangkan ular tidak mau memakan bangkai, gimana ini?”


“Emmm, jika kamu membawakan tikus yang masih hidup, itu akan membantu saya. Bisakah kamu membawakan saya tikus yang masih hidup?” Serlyne berkata sambil berjongkok berhadapan dengan burung hantu tersebut.


Burung hantu tersebut hanya menatap Serlyne sambil terus berjalan mendekatinya dan terus mendekatkan tikus mati tersebut ke arah Serlyne seolah-olah ia menyuruh Serlyne untuk menerimanya. Serlyne yang melihatnya tahu bahwa burung hantu tersebut tidak akan mengerti apa yang dia katakan barusan. Oleh karena itu, Serlyne pun berusaha menggunakan bahasa tubuhnya dengan upaya agar burung hantu tersebut mengerti akan perkataan Serlyne.


“Saya…tidak mau…tikus mati…saya ….mau …tikus yang masih hidup.” Serlyne berkata sambil melakukan gerakan agar burung hantu tersebut bisa mengerti apa maksudnya.


Tak lama kemudian, burung hantu tersebut langsung terbang menjauh meninggalkan Serlyne seorang diri dan seekor tikus yang sudah mati tersebut.


“Eii, eeii jangan pergiiii….bentar…mungkin saja dia mengerti apa yang saya maksud dan dia pergi menangkap tikus yang hidup untuk saya.” Serlyne yang awalnya kecewa menjadi sedikit terhibur.


“Berarti saya harus tunggu terus dong di sini, supaya dia bisa lebih mudah menemukanku…tapi…..kalau dia benar-benar pergi dan tidak menangkap tikus hidup untuk saya…bukankah waktu saya akan terbuang di sini hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak ada kepastiannya?”


“Atau saya coba saja menyerahkan tikus mati ini ke “tamu spesial”ku itu,”


Serlyne pun membawa tikus mati itu ke prajurit bertopeng dan hasilnya ditolak oleh “tamu spesial” nya sendiri. Kini tinggal 1 kali kesempatan terakhir saja yang dimiliki oleh Serlyne untuk mencari mangsa. Serlyne langsung terus melanjutkan perjalanannya untuk mencari mangsa. Serlyne terus berjalan dengan harapan agar dia bisa mendapatkan mangsa yang dia inginkan. Tak lama kemudian, dia melihat ada kera kecil yang sangat kurus dan terluka di bagian lengannya dan di sampingnya terdapat induknya yang sudah tidak bernyawa lagi. Di saat itu juga, terdengar suara elang yang ingin terbang ke arah kera tersebut, Serlyne yang melihatnya langsung memeluk kera kecil itu ke dalam ke pelukannya agar tidak dimangsa oleh elang tersebut. Tak lama kemudian, elang tersebut bagaikan kilat langsung mencengkeram tubuh sang induk yang sudah tidak bernyawa tersebut.


“Fiuuhhh, untung saja keburu, kalau tidak kamu juga akan dicengkeram olehnya dan dimangsa olehnya.” Serlyne berkata sambil membelai-belai kera kecil tersebut.


“Waduhh, kayaknya tulang lengan kamu patah, gimana ini ya.” Serlyne berkata sambil meraba-raba pelan lengan si kera kecil tersebut.


“Kamu kurus sekali, pasti kamu sudah berhari-hari tidak minum susu ya, akan saya carikan makanan untukmu, kamu harus bertahan ya.”


Serlyne pun langsung melihat sekelilingnya, dia berharap bisa melihat buah yang bisa dia petik untuk si kera kecil malang itu. Tak lama kemudian, dia melihat adanya pohon yang berbuah tak jauh dari pandangannya, kemudian Serlyne pun langsung memanjat pohon tersebut dan memetik buahnya. Setelah memetiknya, Serlyne langsung memberikan buah tersebut kepada kera kecil yang berada dalam pelukannya. Tapi bagaimanapun Serlyne menyuapinya, kera kecil tersebut tetap saja tidak memakannya, matanya terlihat sayu bagaikan ingin tidur, dia sama sekali enggan untuk membuka mulutnya.


“Bukalah mulutmu, kamu harus makan….jika tidak, kamu akan mati, saya tidak bisa menyembuhkan lenganmu yang patah, tapi setidaknya saya bisa memberikanmu makanan, ayolah! buka mulutmu, jangan sia-siakan makanan ini.” Serlyne berkata sambil terus menempelkan buah cherry tersebut ke mulut kera kecil tersebut dengan harapan agar dia mau membuka mulutnya dan memakannya.


Di saat itu, tiba-tiba Serlyne mendengar sebuah sorakan dari kejauhan….Yesss…Saya telah berhasil….Yesss…..Ternyata itu adalah sorakan dari salah satu tahanan yang akhirnya berhasil mendapatkan mangsa yang ia inginkan. Serlyne langsung menyadari bahwa langit sebentar lagi akan gelap, sedangkan Serlyne sendiri sangat takut jika dia harus sendirian berada di dalam hutan yang gelap nanti.


“Sebentar lagi langit akan gelap, apalagi ini adalah kesempatan terakhirku, gimana ini? Saya gak mau berada di sini sampai tengah malam, itu sangat menakutkan.”


Tiba-tiba Serlyne memandang ke arah kera kecil yang dia peluk, dia melihat kera kecil itu sudah tidak dapat ditolong lagi, sehingga dia mempunyai pemikiran untuk menjadikannya mangsa “tamu spesialnya” tersebut.


“Tidak, tidak…tidak boleh…Sadarlah! dia masih hidup, kamu gak boleh menjadikannya mangsa, ini sama saja dengan membunuhnya.” Serlyne berkata sambil menepuk-nepuk pipinya menyadarkan dirinya sendiri.


Setelah dia memikirkannya dalam waktu yang sangat lama, akhirnya dia pun dengan terpaksa membawa kera kecil tersebut untuk dijadikan mangsa “tamu spesial” nya tersebut. Perasaan Serlyne sangat kacau, dia merasa bersalah tetapi di sisi lain dia harus memikirkan keselamatannya sendiri karena tak lama lagi langit akan gelap dan keadaan hutan di malam hari sangatlah bahaya, hingga mau tak mau dia harus mengorbankan kera kecil tersebut. Serlyne berjalan menuju ke tempat di mana prajurit bertopeng itu berada. Selama perjalanannya, Serlyne terus saja menangis dan tidak henti-hentinya mengucapkan kata maaf kepada kera kecil yang berada di pelukannya dalam keadaan yang sangat lemas sekali. Tak lama kemudian, Serlyne pun sampai di tempat tujuan dan menyerahkan mangsa tersebut kepada salah satu prajurit bertopeng yang berada di sana. Pada saat dia menyerahkan kera kecil malang tersebut kepada prajurit bertopeng, Serlyne tidak tega melihat kera kecil tersebut, dia menyerahkannya dalam keadaan mata tertutup sambil terus mengalirkan air mata dan terus mengucapkan kata maaf kepada kera kecil yang malang tersebut.


Setelah salah satu prajurit tersebut memberikan mangsa tersebut kepada “tamu spesial” , prajurit bertopeng tersebut langsung memberitahukan Serlyne bahwa mangsa tersebut diterima baik oleh “tamu spesialnya”. Seketika itu juga Serlyne menangis sekencang-kencangnya.


*********


Vesty yang berhasil melewati tantangan “Keberanian” berada dalam ruangannya sendirian, tak lama kemudian, dia mendengar suara kendaraan, dia tahu bahwa para tahanan lainnya telah kembali dari hukuman mereka masing-masing. Saat dia melihat dari jendela, dia hanya melihat 2 temannya Candy, Bob dan para tahanan lainnya. Vesty pun langsung menghampiri mereka.


“Apakah kalian baik-baik saja ? Senang melihat kalian bisa balik dengan selamat.”


“Iya, kami baik-baik saja, hanya….” Candy tidak meneruskan perkataannya.


“Hanya kenapa? Ngg? Mana Serlyne? Kayaknya belum semuanya kembali ke sini ya? Ada apa dengan Serlyne?” Vesty bertanya dengan herannya.


“Kami beruntung, berhasil melewati hukuman tersebut dengan lancar, tapi Serlyne belum berhasil melewatinya, dia sedang mencobanya lagi, saya harap dia bisa berhasil.” Bob memberikan penjelasan kepada Vesty.


“Serlyne pasti akan baik-baik saja.” Candy menepuk pelan pundak Vesty.


“Iya, kita bersama-sama mendoakan yang terbaik untuk Serlyne.” Bob juga ikut bergabung menepuk pelan pundak Vesty.


Beberapa jam kemudian, mereka mendengar suara kendaraan. Seketika itu juga mereka bertiga langsung melihat ke arah ventilasi berbentuk jeruji, mereka berharap bisa melihat Serlyne di sana. Tak lama kemudian Serlyne turun dari kendaraan tersebut, mereka bertiga yang melihatnya pun langsung lega dan senang. Pada saat itu juga mereka bertiga langsung pergi menghampiri Serlyne. Pada saat mereka menghampirinya, dia melihat Serlyne berjalan seperti orang yang tidak memiliki roh dengan tatapan matanya yang kosong.


“Ada apa Serlyne ? Apa yang terjadi ?” Vesty berkata dengan paniknya.


“Iya, ada apa Serlyne, jangan dipendam dalam hati.” Candy juga ikut menghiburnya.


Serlyne yang awalnya hanya diam dengan ekspresi wajahnya yang kosong langsung menitikkan air matanya sambil melihat ke arah Vesty dan memeluk Vesty sambil menangis sekencang-kencangnya. Teman-teman lainnya hanya bisa tercengang melihat Serlyne yang begitu sedihnya sampai-sampai memeluk erat Vesty. Tak lama kemudian, Serlyne perlahan-lahan mulai tenang, setelah dia merasa agak baikan, dia pun langsung menceritakan kejadian yang membuatnya sangat sedih tersebut. Teman-temannya Vesty, Candy dan Bob dengan sabarnya mendengarkan curhatan hati Serlyne.


“Menurut kalian apakah saya kejam?”


“Kejam dari mananya! Lagian kan kamu sudah berusaha untuk menolongnya, apalagi kera kecil tersebut juga tidak bisa diselamatkan, anggap aja kera kecil itu diberi kesempatan untuk reinkarnasi lagi, kan beres sudah!” Bob berusaha menghibur Serlyne.


“Betul itu…..Kamu jangan kepikiran bahwa kamu yang membunuhnya, toh dia memang sudah sekarat sejak awal.” Candy ikut menghibur Serlyne.


“Hei, ngomonglah sesuatu,” ujar Bob kepada Vesty.


“Kamu juga dalam keadaan terpaksa makanya melakukan hal itu, apalagi itu adalah kesempatan terakhirmu. Yang penting kamu sudah berusaha menolongnya, iya kan? Besok lusa kita masih harus menjalani pelatihan ketiga, sebaiknya kita cepat-cepat beristirahat dan kumpulkan tenaga untuk besok lusa nanti.” Vesty berkata sambil menepuk ringan punggung Serlyne.


***** Bersambung *****