Darklady

Darklady
Pelatihan Ke-3



( Di tempat pelatihan para tahanan )


“Oh ya, kapan pelatihan ketiga dimulai ya?” tanya Candy.


“Saya dengar-dengar sih kayaknya bukan di hutan lagi.” jawab Bob.


“Dari mana kamu tahu tempat pelatihannya bukan di hutan lagi?” Candy bertanya balik kepada Bob.


“Saya dengar dari tahanan lainnya, mereka bergosip dan berkata bahwa pelatihan ketiga tidak akan dilaksanakan di hutan lagi, yang saya dengar sih cuma itu saja.”


Pott..pott…suara terompet berbunyi menandakan bahwa sudah saatnya para tahanan kembali ke ruangan mereka masing-masing. Bob pun langsung pergi ke ruangannya, begitu pula dengan Candy dan Serlyne, mereka juga kembali ke ruangan masing-masing dan beristirahat.


**********


Tang…tang….tang… Semua tahanan yang mendengarkannya pun langsung bangun dan membasuhkan diri. Seperti biasanya, sebelum masuk ke dalam kendaraan, para prajurit bertopeng tersebut menutup mata para tahanan dengan menggunakan kain hitam dan mengikat kedua tangan mereka ke belakang. Setelah semua tahanan ditutup matanya dengan kain hitam, mereka semua pun disuruh naik ke dalam kendaraan untuk melaju ke suatu tempat. Beberapa jam kemudian, kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di suatu tempat, tempat tersebut tak lain adalah di tepi laut. Pada saat para prajurit bertopeng membuka kain penutup mata para tahanan, mereka yang pertama kali melihat laut pun langsung sangat takjub dengan mulut mereka yang ternganga.


“Wowww, i..ini yang dinamakan laut ? Amazingggg!” Bob berkata dengan matanya yang terlihat bersinar-sinar.


“Kenapa mereka membawa kita ke laut?” Serlyne terheran-heran.


“Saya juga tidak tahu, apakah pelatihan ketiga berkaitan dengan laut? Bagaimana menurutmu Vesty?” Candy pun mulai menebak-nebak.


“Saya rasa juga begitu.”


Kemudian salah satu prajurit bertopeng berdiri di depan para tahanan dan mengumumkan sesuatu.


“Kalian harus mengasah kemampuan kalian terlebih dahulu sebelum kalian menjalankan pelatihan ketiga. Hari ini kalian semua harus mengasah kemampuan berenang kalian dalam 5 hari di sana ( sambil menunjuk ke arah laut yang biru ), kalian bukan hanya harus bisa berenang, tetapi kalian juga harus melatih bagaimana caranya berenang sambil menghadapi ombak laut yang besar tersebut. Untuk sementara kalian akan tinggal di tenda-tenda sana selama seminggu ( sambil menunjuk ke arah tenda-tenda yang sudah disiapkan agak jauh dari tepi laut ). Jika dalam 5 hari ada yang belum bisa berenang, maka dia akan dikenakan hukuman. Oleh karena itu, kalian harus berhasil mengasah kemampuan berenang kalian selama 5 hari, kalau tidak kalian akan menanggung akibatnya sendiri.”


Setelah selesai mengumumkannya, para tahanan yang mendengarnya pun langsung berbisik-bisik gak karuan. Walaupun mereka dari kecil hidup di pulau Silence, mereka tidak pernah melihat laut secara langsung karena mereka tidak diperbolehkan untuk keluar dari zona mereka, makanya mereka tidak pernah melihat laut dari jarak yang dekat dan tidak tahu bagaimana caranya berenang, sehingga mereka semua langsung panik ketika mendengar bahwa mereka harus mengasah kemampuan berenang mereka selama 5 hari.


“Bussyettt, 5 hari? Harus sudah bisa berenang dan juga harus bisa menghadapi terpaan ombak yang besar itu? Saya gak yakin apakah saya bisa atau tidak.” Bob berkata sambil memandang ke arah laut yang biru tersebut.


“Yang saya takutkan adalah apakah saya akan tenggelam pada saat berlatih nanti,” ujar Serlyne.


“Yang bisa kita lakukan adalah berlatih segiat mungkin.” Candy berkata sambil menepuk pelan pundak Serlyne.


Setelah itu para tahanan pun masuk ke dalam laut dan mulai mengasah kemampuan berenang mereka di sana, tentu saja ada pelatih renang yang memberikan petunjuk kepada mereka di sana, mereka berlatih dari pagi hingga tengah malam. 3 hari kemudian, Serlyne, Candy dan Bob berhasil mengasah kemampuan berenang mereka dengan baik, tapi Vesty masih belum bisa mengasah kemampuan berenangnya dengan baik, dia masih tertinggal jauh.


“Ayolah Vesty, kamu pasti bisa melakukannya.” Candy menyemangati Vesty.


“Saya sudah berusaha, tapi tetap saja gak bisa.” Vesty mulai putus asa.


“Kamu harus bisa Vesty, tinggal 2 hari lagi,” ujar Serlyne.


“Ok, saya akan terus mencobanya lagi.”


Vesty terus saja mengasah kemampuan berenangnya tanpa menyerah, tapi bagaimanapun dia mencoba, dia tetap saja gagal.


“Sialll, ini terlalu sulit bagiku.” Vetsy berkata sambil menepuk air laut dengan kesalnya.


“Tenangkan dirimu Vesty, masih ada 2 hari lagi, kami pasti akan mengajarimu sampai kamu bisa.” Serlyne berusaha menghibur Vesty yang sudah mulai frustasi.


“Coba kamu berlatih lagi, jangan menyerah Vesty.” Bob juga ikut menyemangati Vesty.


Hari sudah mau gelap, para tahanan lainnya pun kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat, tersisa Vesty dan 3 temannya yang senantiasa menemaninya.


“Kalian bertiga baliklah, tidak perlu menemani saya.”


“Tidak!…saya ingin menemanimu,” ujar Serlyne.


“Kumohon, tinggalkan saya sendiri, please…”


“Sudahlah, biarkan dia sendiri.” Candy berkata sambil menarik tangan Serlyne.


“Jangan menyerah, teruslah mencoba.” Bob menepuk pelan pundak Vesty dan pergi meninggalkannya.


“Ayo, kita pergi.” Candy menarik tangan Serlyne dan pergi meninggalkan Vesty seorang diri di tepi lautan biru tersebut.


Vesty berdiri di tepi laut sambil menitikkan air mata secara diam-diam, terlihat Vesty sangat kesal akan dirinya sendiri yang tidak bisa mengasah kemampuan berenangnya dengan baik. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang menyentuh kakinya yang terendam oleh air laut, Vesty yang merasakan sentuhan tersebut pun langsung melihat ke bawah dan dia melihat ternyata itu adalah seekor kura-kura.


“Heiii, betapa lucunya kamu.” Vesty menjongkok sambil menghapus air matanya sambil membelai kura-kura tersebut.


“Saya tidak lucu, saya lebih suka dibilang ganteng ” Kura-kura tersebut mengeluh kepada Vesty.


“Ohhh ok..ok…kura-kura yang sangat ganteng sekali.” Vesty yang awalnya sedih mulai terhibur oleh perkataan lucu kura-kura tersebut.


“Whattt? Kamu bisa mendengar dan mengerti perkataan saya?” Kura-kura tersebut berkata dengan mata terbelalak.


“Iya, saya bisa mendengarkan suaramu.”


“Woww. amazing…ngomong-ngomong kenapa kamu nangis?”


“Oh, itu gak kok saya tidak nangis.”


“Ok, byeee.”


“Eiii, kok pergi kita masih belum ngobrol, saya mau berteman denganmu.”


“Sorry, saya gak mau berteman dengan pem….bo…hong, bye.”


“Ok…ok….sorry…Iya…saya memang nangis tadi.” Vesty berkata sambil menarik ekor kura-kura tersebut yang mencoba untuk pergi darinya.


“Nah gitu dong, sekarang kita adalah teman.”


Vesty yang mendengarnya pun langsung tersenyum.


“Kenapa kamu menangis?”


“Kami diberi 5 hari untuk belajar renang, hari ini adalah hari ke-3, sedangkan saya sampai sekarang masih belum bisa berenang.”


“Kan masih ada 2 hari, tidak usah khawatir la.”


“Masalahnya selama 3 hari ini saya masih tetap gak bisa berenang, apalagi 2 hari doang, itu tidak mungkin bisa.” Vesty berkata dengan sedihnya.


“Janganlah menyerah, cobalah lagi.”


Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari lautan biru tersebut.


“Pak tua, di mana kau?” Seekor kura-kura muncul dari permukaan air.


“Waduhhh, saya sudah dipanggil, byeee, besok ketemu lagi ya.”


“Siapa yang memanggilmu ? ”


Tak lama kemudian seekor kura-kura betina menghampirinya dan Vesty yang melihatnya pun langsung senang.


“Oh my god, lucunya diaaaa.”


“Sialan gadis ini, berani-beraninya bilang saya lucu, emangnya saya boneka apa?”


“Oh, maaf…Jangan tersinggung…oh..kamu cantik…bukan lucu, hehe.”


“Ka…kamu bisa mendengar suara saya?”


“Iya, oh iya…Salam kenal, nama saya Vesty.”


“Oh dear, namamu Vesty ya..Nama saya The Best dan ini istri saya namanya Benny.”


“Hai Benny, senang berkenalan denganmu.”


“Jangan dengarkan dia, namanya bukan The Best, namanya The Beast, mukanya hancur begitu dibilang The Best.”


“Hahaha..kalian sungguh lu…( pada saat Vesty ingin mengucapkan kata lucu, kedua kura-kura tersebut langsung melototi Vesty ) luar biasa maksudku, hehe.”


Tiba-tiba saja Vesty langsung melamun, dia melihat mereka berdua mirip dengan Tom dan Jessa. Seketika itu, Vesty langsung membayangkan wajah Tom dan Jessa.


“Saya sangat merindukan kalian.” Vesty berkata dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


“Ha? Apa? ” Benny dengan terherannya bertanya.


“Oh, gak…Maaf saya lagi ngawur.”


“Ayo, cepat pulang, kita gak ada waktu lagi.” Benny terus mendesak The Best untuk cepat-cepat pulang.


“Iya..iyaaaaa…Ok Dear, kami pulang dulu ya, byeeee.”


“Ok, senang sekali bisa berteman dengan kalian, byeeee!” Vesty berkata sambil melambai-lambaikan tangannya.


“Oh ya, latihan berenang dulu.” Vesty pun langsung melanjutkan latihan berenangnya.


Vesty terus berlatih sampai tengah malam.


( Esok harinya di pagi hari ).


“Di mana Vesty ?” Serlyne berkata sambil menoleh sekitarnya.


“Ha? Bukannya kalian 1 tenda, kalian gak melihatnya? ” Bob bertanya kepada Candy dan Serlyne.


“Tadi pas waktu kami bangun tidak melihat Vesty ada di dalam tenda, saya kira dia pagi-pagi dah pergi berlatih renang.” Candy menjelaskan.


“Tapi tidak ada siapapun yang berenang di sana, kalian lihat…tidak ada siapapun kan ? ” Serlyne berkata sambil menunjuk ke arah laut biru tersebut.


“Ke mana ya itu orang?” Bob berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Heiiii, guys…..” Vesty memanggil sambil berjalan ke arah mereka.


“Kamu dari mana saja sihhh, membuat kita khawatir aja!” Candy bertanya dengan kesalnya.


“Kamu baik-baik saja?” Serlyne bertanya dengan tatapan matanya yang terheran-heran.


“Ohhh, saya baik-baik saja kok.”


“Wah, saya lihat kamu begitu cerianya, pasti kemarin malam kamu telah berhasil mengasah kemampuan berenangmu, iya kan?” Bob dengan senangnya berkata.


“Betulkah itu?” Serlyne yang mendengarnya pun ikut senang.


“Hahaha…..( Mereka yang mendengar suara ketawa Vesty pun juga ikut ketawa ) Hahaha…”


“Enggak, saya masih belum bisa kok, ok..ayo kita lanjut berlatih.” Vesty berkata sambil berlari meninggalkan mereka ke arah laut biru tersebut.


Candy, Serlyne dan Bob yang mendengarnya pun langsung tercengang dan saling memandang satu sama lainnya.


Vesty masih berusaha untuk mengasah kemampuan berenangnya, sedangkan teman-teman lainnya sudah pada mahir berenang sana dan berenang sini. Vesty tetap tidak putus asa, dia tetap terus berlatih.


“Dia sama sekali gak ada kemajuannya.” Candy berbisik kepada Serlyne.


“Padahal teknik dia dalam berenang itu sudah benar, tidak ada yang salah kok.”


“Hmmm, kayaknya Vesty memang tidak ada bakat dalam berenang.”


“Kenapa kamu bilang begitu, Bob?” Serlyne bertanya kepada Bob.


“Kamu lihat sana, bukan Vesty saja yang masih belum bisa berenang.”


Candy dan Serlyne pun memandang ke arah yang ditunjuk oleh Bob, mereka berdua melihat ada seorang gadis yang juga kewalahan dalam berenang.


“Oh iya, coba kamu lihat…di sana …Kondisi dia sama dengan Vesty.”


“Apa mungkin karena mereka berdua memang gak ada bakat dalam berenang?”


“Itu tentu saja, setiap hal akan dikuasai dengan cepat jika orang tersebut memang memiliki bakat.” Bob kembali menjelaskan.


“Aduuhhh, ayolah Vesty kamu harus bisa, besok adalah hari terakhirmu untuk berlatih.” Candy mulai khawatir.


“Saya kira Vesty itu adalah orang sempurna, dia terus saja berhasil selama pelatihan pertama sampai pelatihan yang kedua…kalau dia begini terus, dia akan gagal di pelatihan ketiganya.” Bob berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, hari pun sudah mulai gelap dan seperti biasa Vesty masih terus melanjutkan latihan renangnya seorang diri. Awalnya Vesty berusaha untuk tetap tenang, berusaha untuk menutupi kepanikannya. Tapi lama kelamaan, karena dia masih saja tetap tidak bisa mengasah kemampuan renangnya dengan baik, dia akhirnya pun mulai frustasi dan menjadi sedih lagi. Pada saat dia mulai frustasi, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing berkata kepadanya.


“Kamu gagal lagi ya.” The Best berenang ke arah Vesty.


“Haiii, iya …saya tetap saja tidak bisa berenang.” Vesty berkata dengan sedihnya.


“Kapan penilaiannya?”


“Besok lusa, Mampuslah saya.”


“Jangan khawatir, saya akan membantumu.”


“Kamu? Gimana caranya kamu bantu saya…Teman-teman saya saja sudah berusaha mengajarkan saya berenang masih saja tetap gak bisa, apalagi kamu.”


“Eiii, jangan meremehkan saya lohhh, pokoknya percayalah kepada saya, saya pasti akan membantumu.”


Vesty yang mendengarnya pun hanya ragu-ragu sambil tersenyum kecil dan tak lama kemudian, seperti biasanya istrinya Benny memanggilnya untuk pulang. Vesty yang sudah berlatih sampai tengah malam pun akhirnya balik ke tendanya dan beristirahat. Esok harinya sinar matahari menyinari tenda-tenda para tahanan tersebut dan juga menyinari wajah Vesty yang sedang tidur dengan nyenyaknya.


“Emmm, cepat banget sudah pagi.” Vesty berkata sambil mengucek matanya.


Vesty pun tak menyerah, dia tetap saja melanjutkan latihan renangnya.


( Di hari penilaian )


Terdengar suara terompet yang ditiup oleh salah satu prajurit bertopeng…..pot…pot….pot...Seketika itu juga para tahanan yang masih tertidur menjadi terbangun olehnya.


“10 menit, saya hanya memberikan kalian 10 menit untuk bersiap-siap. Yang telat akan menerima akibatnya,” ketus salah satu prajurit bertopeng.


Para tahanan yang mendengarnya pun langsung bangun dan mulai membasuhkan diri serta mengganti pakaian. Setelah mereka mengganti pakaian, mereka langsung berbaris.


“Hari ini adalah hari penilaian, karena jumlah kalian yang banyak, maka kalian akan dipanggil 3 orang sekaligus untuk berenang di sana. Tiga orang yang dipanggil akan berenang dari sini sampai ke arah perahu sana ( sambil menunjuk ke arah perahu yang jaraknya lumayan jauh dari garis start yang sudah ditentukan tersebut ).Bagi yang dipanggil maka harus mulai mempersiapkan dirinya dengan baik.”


“Ok, yang pertama Alicia, Aaron dan Angel.” Salah satu prajurit bertopeng memanggil satu persatu dari para tahanan tersebut.


“Wow, saya sangat menantinya,hehehe.” Bob berkata dengan senangnya.


“Heiii, gak usah pamer kali?” Candy berkata sambil menyenggol badan Bob sambil melirik ke arah Vesty.


“Apaan sih…Bukan pamer, tapi udah gak sabaran, pengen cepat-cepat selesaikan misi ini, cuma itu kok maksud saya.”


“Iya, tapi gak usah bilang sambil tersenyum gitu, senyumanmu jelek, tahu….Kamu lagi menyindir Vesty ya?” Serlyne juga ikut-ikutan memarahi Bob.


“Alaahhhh, kalian lebay amat sih, tuhh lihat…( sambil menunjuk ke arah Vesty ) Dia gak kelihatan gelisah kok, dia terlihat tenang-tenang aja kok.”


Candy dan Serlyne yang mendengarnya pun langsung memandang ke arah Vesty dan mengamatinya.


“Iya juga ya, kok kayaknya Vesty gak panik? Jangan-jangan dia sudah bisa dan dia sengaja gak kasih tahu kita, kasih kita kejutan gitu.”


“Gak kok Candy, tadi pagi saya ada tanya ke Vesty apakah dia sudah bisa berenang atau belum, dia bilang masih belum bisa berenang.” Serlyne dengan yakinnya berkata.


Tak lama kemudian, Bob dipanggil dan dia pun langsung dengan percaya dirinya menunjukkan kemampuan berenangnya di hadapan banyak orang. Setelah itu, Bob dinyatakan berhasil menyelesaikan misinya, begitu pula dengan Candy dan Serlyne, mereka juga berhasil melakukan misinya dengan baik. Tak lama kemudian, akhirnya tibalah giliran Vesty dan 2 orang lainnya untuk menunjukkan kemampuan berenang mereka masing-masing.


“Ok, saya akan baik-baik saja.” Vesty berkata dengan suaranya yang kecil sambil menghela nafas.


“Sekarang giliran Vesty, apakah dia akan baik-baik saja?” Serlyne dengan gelisahnya berkata.


“Saya juga tidak tahu, kita lihat saja.”


Vesty dan 2 orang lainnya berdiri di garis start, sambil menunggu aba-aba dari prajurit. Di saat itu, Vesty menoleh sebelah kanannya, terlihat seorang gadis dengan wajah yang sangat gelisah dan panik berdiri dengan gemetarnya. Gadis tersebut mulai menitikkan air matanya, terlihat dia sangat ketakutan. Vesty yang melihatnya langsung tahu bahwa gadis itu sama dengannya tidak bisa berenang. Tiba-tiba saja, pot…pot…potttt….suara terompet pun berbunyi menandakan bahwa penilaian telah dimulai. Vesty dan 2 orang lainnya pun langsung menceburkan diri ke dalam laut dan mulai menggerakkan tangan dan kaki untuk menunjukkan kemampuan berenangnya. Vesty yang awalnya hampir tenggelam, tiba-tiba saja terapung bagaikan orang yang sudah mahir berenang. Ternyata ada seekor lumba-lumba besar yang menopang tubuh Vesty dari bawah sehingga tubuh Vesty bisa terapung. Vesty yang menyadarinya pun langsung kaget, dia pun langsung menggerakkan tangan dan kakinya seolah-olah dia bisa berenang.


“Hello Vesty.” Lumba-lumba tersebut dengan ramahnya menyapa Vesty.


“Hello, kamu kenal saya?”


“Pak tua Best yang meminta tolong saya untuk membantumu.”


“Siapa namamu?”


“Nama saya Blur.”


Pada saat itu juga, dia melihat gadis di sebelah kanannya masih jauh di belakangnya dan hampir tenggelam.


“Blur, Bolehkah kamu membantu gadis yang ada di belakang saya, dia hampir tenggelam?”


“Tidak bisa, kalau saya membantu gadis itu, maka saya akan ketahuan, jikalau para manusia tahu bahwa ada hewan yang bisa membantu manusia berenang, bisa heboh ntar.”


“Tapiiii….kasihan dia.”


Tak lama kemudian, gadis tersebut hilang dari atas permukaan laut. Vesty yang melihatnya pun langsung kaget.


“Bentar-bentar, gadis itu menghilang…pasti dia sudah tenggelam.” Vesty langsung menghentikan gerakan tangan dan kakinya.


Tak lama kemudian, dia melihat ada lambaian tangan yang meronta-ronta di permukaan laut.


“Ah itu dia, dia sedang meminta pertolongan.”


“Biarkan saja, toh yang lainnya pasti akan menolongnya kok.” Blur tetap bersikeras untuk tidak membantu gadis tersebut.


“Tidak ada orang yang menolongnya, ku mohon…cepatan antarkan saya ke arah gadis tersebut, kalau tidak dia akan meninggal.”


Karena Vesty terus memohonnya, maka akhirnya Blur memutuskan untuk menolong gadis tersebut. Blur langsung menopang tubuh Vesty ke arah gadis malang tersebut. Vesty pun menyesuaikan dirinya dengan cara menggerakkan tangan dan kakinya seolah-olah dia benar-benar sedang berenang. Beberapa saat kemudian, Vesty berhasil meraih gadis malang tersebut yang sedang meronta-ronta.


“Saya harus memanggil teman saya yang lain untuk menopang tubuh gadis itu.” Blur juga ikut panik.


“Tapi jangan sampai ketahuan oleh gadis itu,” sambung Blur.


Tiba-tiba saja gadis tersebut pingsan karena kehabisan nafas dan tenaga akibat meronta-ronta di dalam air.


“ Dia pingsan, bagaimana ini ?” ujar Vesty yang mulai panik.


“Kesempatan bagus, saya akan panggil temanku.”


Blur langsung memanggil temannya dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing. Tak lama kemudian, seekor lumba-lumba lain datang dari dasar laut menopang tubuh gadis yang pingsan tersebut dan Vesty mengarahkan tangannya ke tubuh gadis tersebut seolah-olah Vesty yang sedang menarik dan menolong gadis tersebut.


“Astaga, gadis tersebut hampir tenggelam, tapi di sana tidak ada satu petugas pun yang ditugaskan untuk menolong gadis itu ?” Serlyne berkata dengan kesalnya.


“Yang lebih astaga adalah ternyata Vesty benar-benar sudah bisa berenang.” Candy dengan senangnya berkata.


“Haha….Vesty ini ya bisa-bisa saja membuat kita khawatir, ternyata benar juga tebakanmu Candy, dia sebenarnya sudah bisa berenang, dia sengaja tidak kasih tahu kita. Awas kalau dia sudah balik ke sini, akan saya maki-maki dia telah buat kita panik.” Bob dengan bercandanya berkata.


“Untung saja Vesty menolong gadis itu.”


“Kamu benar juga, kok mereka tega amat tidak menyediakan petugas penyelamat.” Candy juga berkata dengan kesalnya.


“Kita sudah mau sampai ke perahu.” Vesty dengan semangatnya berkata.


“Ok, kawan kita percepat.” Blur memberikan aba-aba kepada temannya.


“Kalian dah sampai…kami akan langsung pergi ya, jangan sampai orang-orang yang ada di perahu sana tahu keberadaan kami, kamu harus merahasiakannya.” Blur berkata sambil memberi kode kepada temannya untuk siap-siap berenang ke dasar laut.


“Ada satu hal lagi, kamu tidak boleh memberitahukan kepada siapapun bahwa kamu bisa komunikasi dengan hewan, ngerti ? Blur juga ikut menegaskan.


“Mengapa ?” Vesty berkata sambil mendekati perahu yang berada di depan matanya.


Auuuuu….The Best tiba-tiba menggigit jari Vesty.


“Bilang aja ok, gak usah tanya-tanya,” ujar The Best yang tiba-tiba muncul dari dalam laut.


“ Ok..ok…lepaskan dulu gigitanmu, Best..sa..sakit.” Vesty berkata sambil menahan sakit.


The Best yang mendengarnya pun melepaskan gigitannya.


“Ingat janjimu,” ujar The Best.


“Ok, terima kasih atas bantuan kalian,” ujar Vesty dengan suaranya yang kecil.


Setelah itu The Best dan 2 ekor lumba-lumba tersebut langsung pergi meninggalkan Vesty.


Orang yang ada di perahu langsung meraih tangan gadis yang pingsan tersebut, setelah itu barulah orang tersebut meraih tangan Vesty dan mengangkatnya ke dalam perahu. Ternyata bukan hanya Vesty saja yang masih belum bisa berenang, ada juga beberapa gadis yang gak bisa berenang di kelompok berikutnya dan untung saja gadis tersebut yang hampir tenggelam diselamatkan oleh seanggotanya yang bisa berenang, jadi tidak ada korban yang serius pada saat penilaian tersebut berlangsung. Vesty dan lainnya pun dengan selamat kembali ke daratan.


Pakkk…tiba-tiba terdengar suara pukulan yang keras.


“Aduhhh, sakit…kenapa kamu pukul saya?” jerit Vesty.


“Siapa suruh kamu bohong kepada kami, kenapa kamu gak ngomong bahwa kamu bisa berenang ha?” Serlyne dengan kesalnya berkata.


“Ohh, maafkan saya…Saya gak berniat untuk bohong kepada kalian. Ka..karena saya sendiri belum yakin apakah saya bisa berenang atau tidak, makanya saya tidak berani bilang bahwa saya sudah bisa berenang. Mungkin saja tadi saya terlalu panik, makanya tiba-tiba saya bisa berenang, hehe….”


“Tidak bisa, kami tetap saja tersinggung.” Candy berpura-pura marah kepada Vesty.


“Waduhhh, ayolahhh…jangan begitu dong, kan kita teman.” ujar Vesty sambil tersenyum.


***** Bersambung *****