
( Di tempat kediaman Pangeran Sam dan Brave )
“Tuanku, besok pagi Anda harus siap-siap ke tempat pelatihan ke-2.”
“Iya, iya saya tahu kenapa sih terus saja kasih tahu, telinga saya jadi gatal dengarnya, tahu gak!”
“Saya takutnya Tuan tidur kesiangan lagi, makanya saya ingetin terus, supaya Tuan tidak terlambat lagi.”
“Kamu sedang menyindir saya ya ?” Pangeran Sam melototi pengawal pribadinya.
“Nggak, nggak kok hehe….Tuanku kok Anda ngomong gitu, saya gak bermaksud demikian kok.”
“Ngomong-ngomong…si anak ingusan itu lagi ngapain?”
“Si anak ingusan? Siapa Tuanku?” Pengawal pribadi bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Kamu lagi pura-pura **** ya! Emangnya selain dia, siapa lagi yang saya sebut anak ingusan? Kamu?”
“Oohhh, hehehe…Waduhh Tuanku, kayaknya saya dah benar-benar pikun deh, maksudnya Pangeran Brave ya!”
“ Lagi ngapain dia ?”
“Oh, itu saya kurang tahu Tuanku. Soalnya dia kan tinggal di kediaman sebelah, jadi saya gak bisa pantau deh.”
“Pasti dia sedang ketakutan dan tegang akan pelatihan esok nanti.” Pangeran Sam berkata dengan ekspresinya yang terlihat sedang mengejek.
“Mana mungkin, namanya aja Pangeran Brave si Berani, mana mungkin dia ketakutan.” Pengawal pribadinya komat-kamit dengan suara yang kecil.
“Apa? Kamu ngomong apa?” Pangeran Sam menatap dengan sinisnya.
“Ohh, gak ada Tuanku, saya lagi membaca kata-kata doa kok, hehe…”
“Doa?”
“Iya Tuanku,saya berdoa supaya Anda dan Pangeran Brave bisa berhasil menjalankan pelatihan ke 2,” ujar pengawal pribadinya.
“Ngapain berdoa untuk anak ingusan itu…kamu pengawal pribadinya siapa sih?” Kesal Pangeran Sam.
“Oh iya..ya…betul itu, saya doakan besok Pangeran Sam akan berhasil mengalahkan Pangeran Brave.”
“Gak usah berdoa…besok saya pasti akan menang lagi kok..hahaha…”
( Esok paginya )
Uuuuu..uuukkkk… (Suara ayam berkokok), Pangeran Brave sudah bangun sebelum ayam berkokok, dia terlihat sangat semangat sekali menantikan pelatihan ke 2 yang ditunggu-tunggunya.
“Kapan berangkatnya?” Pangeran Brave bertanya kepada pengawal pribadinya dengan matanya berbinar-binar.
“Masih 2 jam lagi Tuanku.”
“Ha? 2 jam lagiii? Lama amatt,” keluh Pangeran Brave.
“Tuanku, Anda jam 5 sudah bangun, padahal pelatihannya jam 8 baru dimulai, sekarang baru jam 5.30 Tuanku.”
“Kenapa waktu tidak bisa berjalan dengan cepat ya, saya sudah muak untuk menunggu,” kesal Pangeran Brave.
“Sabar ya, Tuanku, atau…Anda tidur lagi saja, pasti Anda tidurnya kurang nyenyak…tenang saja Tuanku, saya akan membangunkan Anda tepat waktunya.”
“Gak mau! Tidur hanya membuang-buang waktuku saja.”
“Baiklah, Tuanku…Apakah ada hal yang harus saya lakukan untuk Anda?”
“Ada.”
“Apa itu, Tuanku?” bertanya sambil memancarkan senyuman.
“Enyah kau dari hadapan saya, ntar kalau dah saatnya untuk berangkat baru kamu ke sini lagi, saya ingin sendirian di sini, tidak ingin ada orang lain di samping saya.”
Setelah mendengar perkataan Pangeran Brave, senyuman di wajahnya pun menjadi pudar.
“Ohhh, baiklah Tuanku. Jika ada keperluan apa yang perlu saya lakukan untuk Anda, segera kasih tahu saya Tuanku, akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin.”
“Saya bilang enyah! Sekarang juga!”
“Oh, ba..baiklah Tuanku.”
Sedangkan pangeran Sam masih saja terhanyut dalam dunia mimpinya. Tak lama kemudian, pengawal pribadinya pun masuk ke dalam kamar tidurnya dan mulai membangunkannya.
“Tuanku, bangunlah…sekarang sudah jam 7. Anda harus berangkat sebelum jam 8.” Pengawal pribadi Pangeran Sam berkata sambil menggoyang pelan tubuh Pangeran Sam.
“Hemmm….sana pergi!” Pangeran Sam berkata sambil menarik selimutnya kembali menutupi wajahnya dan terus melanjutkan tidurnya.
Pengawal pribadi yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah 15 menit berlalu……
“Tuanku, bangun …sudah jam 7.15, Anda harus berangkat jam 7.30…Pelatihannya mulai jam 8, Tuanku.”
Bagaimanapun pengawal pribadinya berusaha membangunkannya, Pangeran Sam tetap saja tidak menghiraukannya. Pengawal pribadinya yang melihatnya langsung menarik nafas dalam-dalam…..
“TUANKUUUUUU, BANGUUUUUNNN…BANGUNNNNNN….BANGUNNNNN.” Dia berteriak dengan nyaringnya seperti orang kesurupan sambil menggoyang hebat tubuh Pangeran Sam.
“Iya..iya…saya bangun…gila ya kamu, mau bikin saya jantungan ya ha?”
“Maaf Tuanku, saya terpaksa melakukannya…habis saya dari tadi bangunin, Anda gak bangun-bangun.” Pengawal pribadinya berkata sambil meraba-raba tenggorokannya yang merasa sakit akibat berteriak keras-keras.
“Emang jam berapa sekarang?”
“Jam 7.20, Tuanku.”
“Ha???? jam 7.20??? Kamu mau cari mati ya ha? Kenapa baru sekarang kamu bangunin saya ha ??? Kamu mau saya telat dan terlihat memalukan di mata anak ingusan itu ya, kalau saya telat, kamu akan menerima akibatnya…..bla....bla…bla….” Pangeran Sam terus saja ngoceh-ngoceh sambil meninggalkan ranjangnya dan berlari ke arah kamar mandi untuk membasuh dirinya.
“Ya ampun, saya dah bangunin dari jam 7, mana dihiraukannya, ujung-ujungnya saya lagi yang kena batunya.” Pengawal pribadinya juga ikutan ngoceh dengan volume suaranya yang super kecil, takut kedengaran oleh Pangeran Sam. Setelah Pangeran Sam membasuh diri, dia pun langsung turun ke bawah untuk siap-siap menaiki kendaraan yang akan menjemputnya ke tempat pelatihan kedua tersebut.
“Mana tuh anak ingusan ? Hahaha ….pasti dia bangun kesiangan, belum bangun kali ya!”
“Tuanku, 15 menit yang lalu Pangeran Brave sudah berangkat.” Pengawal pribadi Sam menjelaskan kepada Pangeran Sam.
“Tuanku, kalau Anda tidak masuk ke dalam kendaraan sekarang, Anda akan benar-benar merasa malu karena akan telat nantinya.”
Pangeran Sam yang mendengarnya pun hanya terus saja ngomel-ngomel gak jelas dan masuk ke dalam kendaraannya sambil terus melanjutkan ocehannya itu.
“Hei, pakai kecepatan super, saya tidak mau terlambat!” perintah Pangeran Sam.
Sesuai keinginan Pangeran Sam, kendaraan yang ia tumpangi tersebut pun melaju dengan sangat cepatnya.
“Tunggu! Bukannya kita mau berlatih? Kenapa kita dibawakan ke tempat sini ?” keluh Pangeran Brave yang mulai mengerutkan dahinya.
“Tuanku, inilah tempat pelatihan ke 2 kalian.” Salah satu prajurit bertopeng memberikan penjelasan kepada Pangeran Brave.
Tak lama kemudian, kendaraan yang ditumpangi Pangeran Sam pun tiba dan Pangeran Sam langsung turun dari kendaraannya tersebut.
“Wowww, gak salah nihhhh…tempat pelatihannya mewah sekali, bukannya di hutan ya?” Pangeran Sam berkata dengan girangnya.
“Apanya yang mewah? Sama sekali gak ada tantangannya, membosankan..huh!”
“Kamu mau tantangan? Ini ( menunjuk diri sendiri )….saya adalah tantangan kamu, akan saya tantang kamu sampai kamu malu.”
“Kamu? Henggg…gak pantas!” Pangeran Brave berkata sambil melirik pangeran Sam dengan pandangan matanya yang seolah-olah sedang meremehkan pangeran Sam.
“Apa katamu ha? Kalau berani ngomong sekali lagi.”
Pangeran Brave tidak menghiraukannya, dia hanya langsung masuk ke dalam gedung mewah tersebut. Pangeran Sam yang merasa geram juga menyusul masuk ke dalam sambil terus mengoceh memarahi Pangeran Brave.
“Mana pimpinan kalian ? Saya ingin menanyakan sesuatu,” kesal pangeran Brave.
“Tuanku, saya adalah pimpinan di sini, ada apa, Tuanku?”
Kamu anggap saya apa? Kenapa menjadikan gedung ini sebagai tempat pelatihan? Yang saya mau adalah suatu tempat yang bisa membuat saya tertantang, bukannya tempat membosankan seperti ini.”
“Tuanku, maaf kalau membuat Anda menjadi sangat tidak nyaman, tapi pelatihan kedua kali ini memang perlu dilakukan di dalam gedung ini, gedung ini disediakan khusus untuk kalian berdua, Tuanku.”
“Khusus? Untuk kami berdua? Berarti mereka yang lainnya tidak menjalankan pelatihan kedua di sini, iya kan ?”
“Benar itu, Tuanku.”
“Emang kenapa sihhhh dengan tempat ini, kamu tadi tuli ya..kan sudah dijelaskan tempat ini khusus disediakan untuk kita yang merupakan orang-orang istana, dasar maunya apa sih!” Pangeran Sam menyindir pangeran Brave.
“Siapa yang mengatur semua ini?” ujar Pangeran Brave yang masih saja terlihat kesal.
“Ratu Lotus, Ibunda Anda, Tuanku.”
“Ckckckckckk…anak mamii tohhhh.” Pangeran Sam berkata dengan suaranya yang menyindir.
“Apa katamu?” Pangeran Brave yang mendengarnya pun langsung melototi pangeran Sam.
“Waduhhhh, saya takut sekaliiiiii….cuihhh…kamu kira saya akan takut akan tatapan konyolmu itu.”
Di saat itu juga, Pangeran Brave langsung berjalan menghampirinya dengan tatapan killer dia pun berkata kepada Pangeran Sam…
“Saya bukanlah anak mami.” Pangeran Sam berkata sambil menatap tajam pangeran Sam.
Seketika itu juga pangeran Sam mulai merasa merinding akan tatapan tajamnya dan dia pun diam-diam menelan air liur.
“Tuanku, pelatihan kedua akan segera dimulai. Pelatihan kali ini adalah latihan “keberanian”. Kalian akan adu keberanian dengan “tamu spesial” kalian masing-masing dan “tamu spesial” ini adalah pilihan kalian masing-masing. Jika “ tamu spesial” ini kalah, maka kalian akan dinyatakan berhasil, tapi jika kalian yang kalah, maka kalian harus melakukannya lagi sampai berhasil. Selamat berjuang !”
“Tak ada hukuman bagi yang gagal ? Tantangan apa ini?” keluh Pangeran Brave yang merasa sangat kesal.
“Anak aneh, minta pelatihannya di hutan dan minta dihukum pula, dasar anak sinting!” Pangeran Sam kembali menyindir pangeran Brave.
Tak lama kemudian, datanglah 2 prajurit bertopeng yang sedang memegang 2 buah gelas berisi ramuan warna biru. Pangeran Sam yang melihatnya langsung terbelalak.
“Tunggu..,tunggu…apa itu? Yang dimaksud “keberanian” adalah dengan cara meminum ini? Hahahaha….guammpaang amat.”
“Bukan Tuanku, tantangannya bukan meminum ini saja, ramuan inilah yang akan mempertemukan kalian dengan “tamu spesial” kalian masing-masing.”
“Tamu spesial ? Maksudnya ?” Pangeran Brave balik bertanya.
“Iya, Tuanku. Tantangan Anda adalah mengalahkan “Tamu Spesial” kalian masing-masing.”
“Lalu? Kenapa mesti meminum ini? Ooooh…kalian mau menambahkan vitamin ke tubuh kita, supaya kita bisa mengalahkan “Tamu Spesial” yang dimaksud tersebut, iya kan ?” Pangeran Sam dengan yakinnya berkata kepada pimpinan prajurit bertopeng tersebut.
“Berarti kita akan terhanyut dalam ilusinasi setelah meminum itu ?” ujar Pangeran Brave.
“Iya, benar Tuanku.”
“Siapa yang benar? Saya kan ?” Pangeran Sam balik bertanya lagi.
“Yang benar adalah pangeran Brave, Tuanku.”
Pangeran Sam yang mendengarnya pun hanya bisa berdiam diri, sedangkan Pangeran Brave melirik ke arah pangeran Sam dengan senyuman sinisnya.
( Kuranggggg ajarrr, beraninya dia menertawakanku, awas kau anak ingusan, akan saya balas kau…tunggu saja…) Pangeran Sam dengan kesalnya berkata dalam hati.
“Tunggu apa lagi, ayo cepat!” Perintah pangeran Brave sambil menjulurkan tangannya supaya bisa cepat-cepat meminum ramuan tersebut.
“Bentarrr, bagaimana tampang “tamu spesial” yang kalian maksud itu ?” Pangeran Sam dengan penasarannya bertanya.
Maaf, Tuanku…kalau itu saya gak tahu…tapi jika Anda sudah menemukannya dan kalau kalah olehnya, maka Anda akan langsung tersadar sendiri dari ilusinasi kalian masing-masing.”
“Apakah ada pertanyaan lainnya, Tuanku?”
“Tidak ada, cepatlah mulai !” Perintah pangeran Brave yang sudah tidak sabar lagi.
Kedua prajurit bertopeng tersebut pun langsung memberikan ramuan tersebut kepada Pangeran Sam dan Pangeran Brave.
“Owekk…ramuan apa ini? Pahit dan berbau amis,” keluh Pangeran Sam yang baru saja meminum ramuan tersebut.
“Maaf Tuanku, ini adalah ramuan rahasia, tidak boleh dibocorkan kepada siapapun, lebih baik Anda meminumnya hingga habis.” Ujar salah satu dari prajurit bertopeng yang berdiri di sebelah Pangeran Sam.
Pangeran Brave tidak mengatakan apapun, dia langsung meminumnya hingga habis tak tersisa. Pangeran Sam yang melihatnya pun langsung memaksakan dirinya untuk meminum ramuan tersebut hingga habis. Tak lama kemudian, kedua pangeran tersebut perlahan-lahan mulai memejamkan matanya dan langsung terhanyut dalam ilusinasi mereka masing-masing.
***** Bersambung *****