Darklady

Darklady
Keberanian di Pulau Merah



“Ingat! Misi kalian adalah menemukan batu cahaya Merah dan harus mengatasi segala rintangan dengan keberanian kalian.” Pangeran Brave berkata dengan seriusnya.


“Cari batu merah di pulau Merah sama saja bagaikan mencari jarum di dalam lautan,” ujar salah satu tahanan.


“Iya, apakah kita bisa berhasil menemukannya?” Salah satu tahanan lainnya juga ikut berkomentar dengan berbisik-bisik.


“Daripada kalian ngeluh, lebih baik fokuskan pikiran kalian ke misi kalian.” Pangeran Brave berkata sambil menyindir para tahanan yang mengeluh tadi.


Vesty hanya menerawang di sekitarnya, dia berharap bisa menemukan binatang yang bisa dia ajak bicara untuk mengenal lebih dalam tentang pulau Merah tersebut. Para tahanan lainnya pun mulai berjalan memasuki daerah pulau Merah tersebut, mereka berjalan mengikuti Pangeran Brave yang memimpin jalan di depan mereka. Seketika itu juga, mereka melihat ada 2 jalan di sana, yang satunya menuju ke arah kiri dan satunya menuju ke arah kanan.


“Saya rasa kita perlu berpencar, kita di sini ada 12 orang. Jadi kita bagi 2 kelompok, saya akan memimpin jalan arah ke kiri dan kamu ( menunjuk salah satu prajurit bertopeng yang juga ikut bertugas ) memimpin jalan ke arah kanan.”


“Baik.”


“Kalian berlima ikut saya ke arah kiri.” Pangeran Brave memerintah sambil menunjuk Vesty, Kara dan 3 anggota lainnya.


Vesty dan 4 anggota lainnya pun berjalan mengikuti Pangeran Brave dan para tahanan lainnya berjalan ke arah kanan. Karena rasa penasaran yang tinggi, Vesty pun tidak dapat menahannya dan bertanya kepada Pangeran Brave.


“Bisakah kamu memberitahu kita bagaimana caranya agar bisa menemukan batu cahaya merah tersebut?”


“Dengan menyelesaikan misi, saya dengar jika kalian berhasil menyelesaikan misi yang diminta oleh pulau Merah ini, maka batu cahaya merah tersebut akan muncul di hadapan kita.”


“Misi apa?”


“Tentu saja keberanian.” Pangeran Brave dengan juteknya berkata sambil terus melanjutkan langkah kakinya.


Ohhh…jadi kalau telah berhasil menyelesaikan misi tersebut dan dinyatakan telah berani, maka batu cahaya tersebut akan muncul tanpa harus kita cari…Vesty berkata dalam hatinya. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara aneh yang menggema di dalam hutan merah tersebut. Para tahanan yang lainnya pun berbisik-bisik karena mereka mulai merasa takut.


“Suara apa itu?” Kara dengan paniknya berkata.


“Itu suara beruang. Beruang grizzly.” ujar Vesty dengan yakinnya.


“Heiii, kalian itu tim berani, cuma dengar suara binatang aja sudah ketakutan, gimana mau menyelesaikan misi?” ketus Pangeran Brave.


Pangeran Brave langsung memimpin mereka ke arah di mana suara itu berasal dan para tahanan lainnya mengikutinya. Pada saat itu juga mereka melihat ada beberapa tengkorak manusia yang berserakan di sepanjang jalan yang mereka telusuri. Terlihat tengkorak manusia tersebut adalah tengkorak manusia yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.


“Ka…kapten, di..di sana ada sesuatu yang bergerak.” Salah satu tahanan berkata sambil menunjuk ke suatu tempat.


Pangeran Brave dan tahanan lainnya pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah yang mencurigakan tersebut. Pada saat itu juga mereka melihat dari kejauhan sesuatu berwarna merah bergerak.


“Itu beruang grizzly. Cepat…Sebelum dia mengetahui keberadaan kita, kita harus menghindarinya.” Vesty dengan paniknya berkata.


“Yang kapten itu siapa? Kalian harus mendengarkan perintahku.”


“Beruang itu sangat lapar, dia sedang mencari mangsa. Ada baiknya kita menghindar dulu, setelah itu baru kita memikirkan strategi untuk menghadapinya.” ujar Vesty.


“Heran, siapa yang mengelompokkan kalian ke tim Merah sih, semuanya adalah pengecut, huh! Itu cuma seekor beruang, takut apa?” Pangeran Brave langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri beruang tersebut.


Vesty yang melihat Pangeran Brave ingin pergi ke arah beruang tersebut langsung menarik lengan Pangeran Brave.


“Kapten, beruang itu bukan hanya seekor saja, dia sedang memanggil teman-temannya.”


“Lepaskan, saya bilang lepaskan!” Pangeran Brave dengan emosinya memerintah Vesty.


Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari belakang…Aaaahhhhhh……salah satu dari anggota mereka diseret oleh sesuatu. Para tahanan yang lainnya hanya bisa melihat salah satu anggotanya diseret hingga menghilang di tengah-tengah lebatnya hutan yang serba merah tersebut.


“Semuanya berkumpul jadi satu, jangan ada yang berpisah!” Pangeran Brave memberikan perintah.


“Semuanya ikutin saya!” Para tahanan yang mendengarnya pun berlari mengikuti Pangeran Brave.


Pada saat mereka dengan sekuat tenaganya berlari, mereka berpapasan dengan anggota tim mereka yang ditugaskan berjalan ke arah kanan tersebut.


“Kenapa kalian tinggal bertiga, mana yang lainnya?” Pangeran Brave dengan paniknya bertanya kepada prajurit bertopeng yang bertugas memimpin tim ke arah kanan tersebut.


“Lapor, kapten. Mereka diseret oleh sesuatu, saya gak tahu apa itu gerangan.” Prajurit bertopeng berkata dengan ngos-ngosan.


“Diseret ?” ujar Pangeran Brave.


Tiba-tiba saja Kara yang berada di samping Vesty diseret dan seketika itu juga Vesty yang menyadarinya langsung memegang tangan Kara. Di saat itu Vesty langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang panjang dan lengket menarik badan Kara dari belakang, Vesty yang menyadarinya langsung mengeluarkan pisau kecilnya yang ia selipkan di sepatu botnya dan langsung memotongnya dan akhirnya Kara berhasil terlepas dari benda lengket tersebut.


“Apa ini?” Vesty mencoba menarik potongan benda lengket tersebut dari badan Kara.


Pangeran Brave langsung mencabutnya sekuat tenaga, benda lengket tersebut berwarna putih abu-abu.


“Itu adalah lidah bunglon. Sebaiknya kita harus tetap waspada dengan sekeliling kita.” Vesty menjawabnya dengan yakin.


“Lidah bunglon? Dengan ukuran segini besar?” ujar salah satu anggota yang tidak percaya akan omongan Vesty.


Pangeran Brave dan para tahanan lainnya yang mendengar perkataan Vesty langsung menatap dengan sinis ke arah Vesty. Mereka menganggap Vesty terlalu sok tahu.


“Kalau kamu merasa diri sendiri hebat, buktikan bahwa itu memang lidah bunglon, jangan hanya ngomong doang.” Setelah Pangeran Brave berkata demikian, dia langsung menabrak pelan pundak Vesty dan berjalan melewatinya.


“Semuanya ikut saya tetap berjalan ke arah depan. Kita habisi semua hewan yang ada di pulau ini.”


Vesty pun hanya bisa diam membisu akibat sindiran Pangeran Brave yang dilontarkan kepadanya.


“Vesty, apakah kamu yakin itu lidah bunglon?” Kara bertanya kepada Vesty.


“Iya, saya yakin itu.”


“Berarti bunglon di sini adalah bunglon raksasa dong, lidahnya begitu besar.”


“Kamu percaya dengan omonganku?”


“Iya, saya percaya.”


“Terima kasih, hanya kamu yang mempercayai perkataanku.”


“Karena saya tahu kamu bukanlah orang yang suka berbohong.”


Tak lama kemudian, terdengar lagi suara beruang grizzly yang semakin menggelegar. Vesty yang mendengarnya pun langsung berlari ke arah Pangeran Brave.


“Kaptennnn, kaptennn, tunggu bentar.”


Pangeran Brave tetap tidak mau menghentikan langkah kakinya dan tidak mau menggubrisnya. Vesty langsung mengejar Pangeran Brave dan menarik tangannya.


“Jangan bunuh! Mereka tidak jahat.”


“Saya rasa kamu itu sudah gak waras, apakah kamu dibuat gila oleh pelatihan selama 5 tahun? Awalnya bilang mereka bahaya, sekarang malah bilang mereka gak bahaya. Enyahkan dia dari hadapan saya ( memandang ke arah prajurit bertopeng yang berada di sampingnya ).”


Prajurit bertopeng pun langsung mendorong paksa Vesty.


“Jika kamu tidak mendengarkan perkataanku, kamu akan menyesal dan saya tidak akan tinggal diam melihat kamu membantai mereka.” Vesty dengan emosinya berkata.


Pangeran Brave yang mendengarnya langsung naik pitam. Prajurit bertopeng langsung mengeluarkan senjatanya ingin membunuh Vesty karena telah lancang melawan Pangeran Brave. Seketika itu juga, Pangeran Brave menahan tindakan prajurit bertopeng tersebut.


“Kamu saya keluarkan dari tim.” Pangeran Brave berkata kepada Vesty dengan tatapan matanya yang sangat dingin.


“Biarkan dia musnah seorang diri di pulau ini.” Setelah itu Pangeran Brave langsung melanjutkan perjalanannya meninggalkan Vesty seorang diri di sana.


Kara yang melihatnya pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia harus mengikuti perintah Pangeran Brave dan hanya memandang Vesty dari kejauhan. Vesty yang ditinggalkan seorang diri di sana pun hanya bisa pasrah saja.


“Akan saya buktikan bahwa saya tidak gila.” Vesty langsung ke tempat di mana Kara diserang oleh bunglon tadi.


“Yang benar saja! Hewan-hewan disini tidak jahat? Kalau tidak jahat kenapa bisa banyak tengkorak manusia yang berserakan di sini.” Pangeran Brave dengan kesalnya mengoceh.


Tak lama kemudian, dari kejauhan dia melihat seekor beruang grizzly yang sedang tertidur pulas. Prajurit bertopeng yang melihatnya pun langsung membidikkan senjatanya ke arah beruang yang tertidur pulas tersebut, namun dicegah oleh Pangeran Brave.


“Kita hanya membunuh jika hewan tersebut yang duluan menyerang kita.” ujar Pangeran Brave.


Tiba-tiba saja dari belakang datanglah seekor beruang grizzly yang ukurannya jauh lebih besar dari dugaan mereka. Beruang tersebut menyerang prajurit bertopeng dengan mencakarnya dan menghempasnya ke tanah. Pangeran Brave dan lainnya langsung mengeluarkan senjata mereka untuk menyerang balik beruang tersebut. Tindakan brutal yang dilakukan oleh para tahanan lainnya membuat beruang tersebut semakin marah dan agresif. Beruang tersebut langsung menghantam tahanan lainnya hingga terluka dan di saat itu juga beruang tersebut hampir menggigit Kara dan berhasil dihalang oleh Pangeran Brave. Di saat itu juga, tiba-tiba saja satu persatu dari mereka diseret dari kejauhan. Pada saat Pangeran Brave menoleh, beruang tersebut langsung membuka lebar-lebar mulutnya ingin menggigit kepala Pangeran Brave dan tiba-tiba saja Pangeran Brave langsung ditarik dari kejauhan dengan cepatnya. Siuu…siuuu…..suara tarikan yang begitu cepatnya terdengar di telinga Pangeran Brave. Pada saat itu juga, Pangeran Brave langsung terlepas dari benda lengket tersebut dan terhempas ke tanah. Pangeran Brave menahan sakit dan ketika ia perlahan-lahan membuka matanya, dia terkaget-kaget melihat anggota timnya berdiri utuh tepat di depannya.


“Ka..kalian masih hidup?”


“Tentu saja masih hidup.” Vesty berkata dan berdiri tepat di belakang Pangeran Brave.


“Kamu?” Pangeran Brave dengan kagetnya berkata sambil memandangi Vesty.


“Kamu ingin bukti kan? Keluarlah!” Vesty berkata sambil menoleh ke belakang.


Tak lama kemudian datanglah seekor bunglon dengan ukuran melebihi manusia menghampiri Vesty. Pangeran Brave dan para tahanan lainnya hampir tak percaya akan apa yang mereka lihat tersebut. Mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga lebar-lebar.


“Be..benar bunglon,” ujar prajurit bertopeng.


Krak..krak..krak..tiba-tiba saja topeng yang dikenakan Pangeran Brave retak dan wajahnya terlihat jelas oleh para tahanan lainnya.


“Wah, gantengnyaaa.” Kara dengan terpesonanya berkata.


“Sial!” Pangeran Brave mengumpat sambil memegang topengnya yang retak tersebut.


“Kenapa kamu bisa bersama dengan bunglon itu? Siapa kamu sebenarnya?” Pangeran Brave dengan kesalnya berkata.


“Saya cuma tahanan biasa saja dan bunglon ini tidak ada niat jahat sama sekali, beruang tadi juga tidak ada niat jahat,” ujar Vesty menjelaskan.


“Kamu buta ya, kamu tadi gak tahu bahwa beruang tersebutlah yang duluan menyerang kami.” Prajurit bertopeng memarahi Vesty.


“Seorang induk akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya, bagi mereka manusia sangatlah beracun…wajar saja dia menyerang kalian pada saat kalian menghampiri anaknya yang sedang tertidur pulas sambil membidikkan senjata.”


“Kamu bilang bunglon itu tidak berniat jahat, lalu kenapa dia menyeret 3 anggota tim kita dan di mana keberadaan 3 orang tersebut?” Pangeran Brave masih tetap tidak percaya.


“Kalau soal itu saya tidak tahu, tapi buktinya kalian masih hidup kan?”


Pangeran Brave dan lainnya hanya terdiam saja mendengarkan perkataan Vesty. Karena mereka masing-masing sangat kelelahan dan kehilangan tenaga akibat serangan beruang tadi, mereka pun beristirahat di bawah pepohonan karena bentar lagi akan menjelang malam.


“Kapten, semua makanan kita tertinggal di tempat beruang tadi, gimana ini?”


“Gimana? pergilah berburu sana.”


Tak lama kemudian, Vesty datang menghampiri mereka berdua dan membawakan banyak buah untuk mereka.


“Jika tidak ingin diserang lagi, janganlah berburu di sini!” Vesty dengan juteknya berkata.


“Heiii, kami makannya itu daging, bukan buah-buahan gadis sialan!” Prajurit bertopeng memaki Vesty yang berjalan menjauhi mereka berdua.


Tak lama setelah prajurit tersebut memaki Vesty, bunglon raksasa tersebut langsung menggunakan lidahnya menyeret prajurit tersebut dan menghempaskannya ke tanah.


“Hati-hati kalau kamu bicara, gadis itu sudah ada pengawal pribadinya sendiri.” Pangeran Brave dengan sindirnya berkata.


“Wow, kamu menyuruhnya untuk menghempasnya?” Kara bertanya kepada Vesty.


“Sialan, akan saya balas gadis sialan itu.” ujar prajurit tersebut dengan kesalnya.


Prajurit yang masih merasa kesakitan tersebut langsung pergi berburu mencari makanan. Tak lama kemudian, dia melihat ada 3 ekor kelinci berwarna merah yang sedang bersantai-santai di bawah pepohonan tepat di hadapan matanya. Seketika itu juga dia memperlambat langkah kakinya agar tidak mengagetkan kelinci-kelinci tersebut, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati kelinci tersebut dan akhirnya grabb….dia berhasil menangkap kelinci tersebut, tetapi yang anehnya kelinci yang lainnya tidak kaget dan kabur, 2 ekor lainnya malahan tetap berada di tempat tadi dan sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Sekali ia angkat kelinci yang tersebut, dia melihat sesuatu yang aneh pada wajah kelinci tersebut. Gigi kelinci tersebut tidak seperti gigi kelinci biasanya, 2 gigi depannya tajam seperti taring harimau dan seketika itu juga…


“Aaaahhhhh…….” Terdengar suara jeritan yang menggelegar. Para tahanan dan Pangeran Brave yang mendengarnya pun langsung kaget dan langsung bersikap waspada. Pangeran Brave pun langsung berlari ke arah sumber jeritan tersebut, begitu pula dengan Vesty dan lainnya juga ikut mencari sumber jeritan tersebut. Sesampai mereka di tempat tersebut, mereka melihat sebuah pemandangan yang mengerikan, prajurit bertopeng tadi telah terkapar di tanah dengan lehernya yang bersimbah darah. Pangeran Brave langsung menghampirinya, saat dia meraba leher prajurit tersebut, baru dia sadar prajurit tersebut sudah meninggal kehabisan darah. Ada 2 bekas gigitan di leher prajurit tersebut, bagaikan digigit oleh vampire.


“Astaga…dia diserang oleh hewan buas apa?” Kara berkata dengan wajahnya yang pucat pasi.


Di saat itu juga, Pangeran Brave langsung mencengkeram kerah baju Vesty.


“Pasti kamu menyuruh hewan buas untuk menyerangnya, iya kan?”


“Apaan? Lepaskan saya! Lepaskan!”


“Siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu bisa memerintah hewan buas untuk membunuhnya.”


“Saya tidak melakukannya.” Vesty dengan emosinya berkata.


Pada saat itu juga, pandangan Vesty langsung ke arah salah satu anggota timnya yang sedang menggendong sekor kelinci merah.


“Kelinci itu yang membunuhnya!”


“Kelinci? Kamu kira bisa membodohiku ha?”


“Cepat…jauhkan dirimu dari kelinci itu. Itu bukan kelinci biasa,” teriak Vesty.


“Apa maksudmu?” ujar salah satu anggota yang menggendong kelinci tersebut.


Tak lama kemudian, kelinci yang berada di pelukan gadis itu langsung menyerang gadis itu dan menggigit lehernya. Para tahanan yang melihatnya langsung berteriak histeris, Pangeran Brave yang melihatnya langsung melepaskan cengkeramannya, Vesty langsung berlari ke arah gadis tersebut dan menarik kelinci tersebut agar kelinci itu melepaskan gigitannya tersebut, tapi tak berhasil karena gigitannya sangatlah kuat. Untung saja bunglon langsung datang membantu dengan menggunakan lidah panjangnya untuk menyeret kelinci tersebut dan langsung memakannya. Tapi sayang sekali, gadis tersebut tidak bisa diselamatkan karena dia sudah kehilangan banyak darah akibat gigitan kelinci buas tadi. Vesty dan yang lainnya pun hanya bisa ikut bersedih.


“Yang harus kalian waspadai adalah hewan-hewan herbivora dan hewan-hewan yang terlihat lucu. Hewan-hewan yang terlihat buas, mereka sama sekali tidak membahayakan.”


“Tidak membahayakan? Lalu gimana nasib 3 anggota kita yang diseret oleh bunglon, pasti sudah dimakan olehnya kan? Kelinci tadi saja dimakan olehnya,” ujar Pangeran Brave.


“Bunglon itu tidak memakan manusia, dia hanya menangkapnya.” lanjut Vesty.


Dan tiba-tiba saja terdengar suara panggilan.


“Kapteennnn, kami di siniiii.” 3 anggota tim yang hilang tersebut ternyata bersembunyi di atas pohon.


Para tahanan yang melihatnya pun menjadi lega dan senang.


“Saya sudah bilang kan? Bunglon itu tidak memakan mereka.”


“Sekarang kita harus ke tempat di mana beruang grizzly itu berada, karena di situlah tempat yang mungkin bisa mengantarkan kita ke batu cahaya merah tersebut.”


“Apa maksudmu? Kenapa kita harus balik ke tempat itu? Kamu dah lupa kami hampir saja terbunuh oleh beruang grizzly tersebut,” keluh Pangeran Brave.


“Apakah kalian tidak sadar, bahwa ke manapun kita berada, tempatnya selalu sama saja. Kalian lihat pohon besar itu, dari tadi saya terus melihat pohon besar itu.” Vesty berkata sambil menunjuk ke arah pohon besar tersebut.


“Benar juga, kalau kamu gak bilang saya juga tidak terlalu memperhatikannya,” ujar Kara yang mulai menyadari akan keberadaan pohon besar tersebut.


“Di sini adalah hutan, gak ada aneh kalau banyak pohon besar yang mirip,” ujar Pangeran Brave.


“Pada saat kita memilih jalan ke kiri, saya melihat pohon ini dan saya ada memberi tanda X dengan pisau kecil di batangnya, kalau kamu gak percaya kamu cek aja sendiri.”


Pangeran Brave pun langsung berjalan menghampiri pohon besar tersebut dan ternyata benar di batang pohon tersebut terdapat tanda sayatan pisau berbentuk X.


“Baiklah, kita ke tempat beruang grizzly itu, sekarang juga!” perintah Pangeran Brave.


Mereka pun bergegas ke tempat beruang grizzly tersebut. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka menemukan tempat beruang grizzly tersebut. Beruang-beruang di sana sedang asyik bersantai. Pangeran Brave mulai bersiap-siap membidikkan senjatanya untuk berjaga-jaga. Vesty yang melihatnya langsung menahan senjata Pangeran Brave.


“Kumohon, jangan….Percayalah padaku, mereka tidaklah buas, kumohon!”


Pangeran Brave yang mendengarnya pun langsung menyimpan kembali senjatanya.


“Ok, sekarang apa rencanamu?” Pangeran Brave bertanya.


“Saya akan berjalan ke sana.”


“A..apa? Kamu dah gila?” ujar Kara.


“Percayalah kepada saya, saya tahu apa yang harus saya lakukan.” Setelah itu Vesty pun langsung berjalan ke arah beruang-beruang grizzly merah yang besar tersebut.


“He,,heiii…Sial..” Pangeran Brave langsung mengeluarkan senjatanya lagi untuk berjaga-jaga.


Vesty dengan tenangnya berjalan menghampiri beruang-beruang besar tersebut, dengan tatapan matanya yang ramah dia berusaha memberikan rasa nyaman kepada beruang-beruang tersebut. Tak lama kemudian, beruang tersebut bersuara bagaikan manusia yang sedang bicara.


“Apa yang ingin kalian lakukan?” Salah satu induk beruang grizzly bertanya kepada Vesty dengan galaknya.


“Kami hanya ingin menuju ke sana ( sambil menunjuk jalan di belakang beruang-beruang tersebut ). Kami tidak ada niat jahat.”


Bagi Vesty sendiri suara yang ia keluarkan sama seperti dia bicara dengan orang-orang seperti biasanya, tapi bagi mereka yang mendengarnya itu bagaikan Vesty sedang berkoar-koar bagaikan meniru suara binatang.


“Apa yang sedang dia lakukan?” Pangeran Brave dengan herannya berkata.


“Dia sepertinya sedang berbicara kepada beruang itu.” Kara dengan tercengangnya berkata.


“Ngawur! Mana mungkin manusia bisa berbicara dengan hewan,”


“Kamu ngerti apa yang saya bicarakan?” Beruang grizzly langsung kaget ketika Vesty menjawab pertanyaannya.


“Kenapa kalian ingin menuju ke jalan sana?” ujar salah satu beruang grizzly yang lainnya.


“Kami diberi misi untuk mencari batu cahaya merah, setelah mendapatkan batu cahaya merah tersebut, maka kami akan langsung meninggalkan pulau ini. Itu saja.”


“Percayalah kepada saya, kami hanya ingin numpang lewat ke sana. Kami tidak ada niat untuk menyakiti kalian.”


“Tapi manusia itu membawa senjata, manusia yang membawa senjata adalah ancaman besar bagi kami.”


“Dia tidak akan menembak kalian, saya berani jamin itu.”


“Suruh dia buang senjatanya, baru kalian boleh lewat. Jika tidak, kami yang akan membunuh kalian semua.”


“Saya tidak ingin kejadian 20 tahun yang lalu terulang lagi, mereka semua membidikkan senjata ke saudara kami dan menembak salah satu saudara kami secara brutal sehingga saudara-saudara kami pun menyerang manusia-manusia tersebut hingga mati.”


“20 tahun yang lalu? Siapa mereka itu ?” ujar Vesty dengan herannya.


“Saya tidak tahu mereka siapa. Jika kalian tidak mau berakhir seperti mereka, maka buang senjata itu, sekarang juga!”


Vesty yang mendengar permintaannya langsung menoleh ke arah Pangeran Brave.


“Kapten, buang senjatamu.” Vesty dengan seriusnya berkata kepada Pangeran Brave.


“Apa? Kamu gila ya, senjata ini untuk melindungi kalian semua. Tidak akan saya buang.” Pangeran Brave dengan keras kepalanya menolak.


“Kenapa? Dia enggan untuk membuangnya?” Beruang grizzly mulai kesal.


“Cepatlah buang, mereka tidak nyaman dengan senjata yang kamu pegang tersebut.”


Pangeran Brave tetap saja tidak mau mendengarnya dan masih bersikeras memegang senjatanya, di saat itu juga Kara langsung merebut senjata Pangeran Brave dan langsung membuangnya jauh-jauh.


“Kau gila ya!” Pangeran Brave dengan kesalnya memarahi Kara yang merebut dan membuang senjatanya itu.


“Lihat! Senjatanya sudah dibuang,” ujar Vesty.


“Bagaimana menurutmu?” Induk beruang grizzly bertanya kepada beruang lainnya.


“Biarkan mereka lewat. Toh senjatanya sudah dibuang, jadi kita aman,” ujar beruang grizzly lainnya.


Tak lama kemudian, beruang-beruang yang tadinya bersantai di tengah-tengah jalan langsung menyingkir dan menepi hingga jalan tersebut terbuka untuk dilewati.


“Terima kasih.” Vesty berkata dengan senangnya.


Para tahanan hampir tidak percaya apa yang dilihat oleh mereka, terutama Pangeran Brave, dia sampai tercengang tanpa bisa berkata apa-apa.


“Kamu sudah lihat? Mereka bukanlah hewan yang jahat.” Setelah itu Vesty pun berjalan duluan melewati jalan yang dibuka oleh beruang-beruang grizzly tersebut.


Seketika itu Pangeran Brave yang melihatnya langsung terpesona akan keberanian Vesty, secara slow motion dia melihat ekspresi wajah Vesty yang berbicara kepadanya terasa sangatlah keren di matanya.


“Kapten…kapten..kamu lagi bengong apa? Ayo cepat jalan, sebelum beruangnya ngamuk, buruan lewat,” ujar Kara.


“Ooohhh iya..iya saya tahu.”


Setelah mereka berhasil melewati jalan tersebut, Vesty dan tahanan lainnya berjalan menelusuri hutan. Tak lama kemudian, mereka langsung tercengang melihat ada sebatang pohon berwarna hijau berdiri tegak agak jauh dari pandangan mereka. Pohon itu satu-satunya yang berwarna hijau, mereka pun dengan antusiasnya berjalan menghampiri pohon hijau tersebut. Pada saat Vesty mendekati pohon tersebut, dia melihat ada sesuatu yang menempel di batang pohon hijau tersebut.


“Eiii, kalian lihat ini, i..ini batu merah! Kita sudah menemukannya.” Vesty dengan girangnya memanggil-manggil.


Mereka langsung menghampirinya dan memastikannya.


“Iya ini dia batu yang kita cari.” Pangeran Brave juga langsung tersenyum lebar-lebar.


Pada saat itu juga, Pangeran Brave berusaha mencabut batu merah tersebut dari batang pohon hijau tersebut, tapi bagaimanapun Pangeran Brave sekuat tenaga mencabutnya, batu merah tersebut tetap saja tidak bisa lepas dari batang pohon hijau tersebut. Seketika itu Pangeran Brave langsung menoleh ke arah para tahanan lainnya.


“Pisau, saya perlu pisau kecil untuk mencongkelnya.”


“Oh gak usah, ini sudah terlepas.” Vesty dengan santainya berkata sambil memegang batu merah yang sudah berada di tangannya tersebut.


Semua yang melihat langsung melongo melihat Vesty dengan mudahnya mencabut batu merah dari batang pohon hijau tersebut, kemudian semuanya memandang ke arah Pangeran Brave.


“Li..lihat apa? Tadi tanganku licin, makanya susah untuk mencabutnya,” ujar Pangeran Brave sambil menahan malu.


Tak lama setelah Vesty mencabut batu merah tersebut, tiba-tiba saja hutan yang awalnya lebat tersebut terbelah menjadi 2 dan membentuk satu jalan. Mereka yang melihatnya pun langsung melewati jalan tersebut, ternyata jalan tersebut membawa mereka ke arah laut yang tandanya bahwa misi mereka telah berhasil. Terlihat kapal merah mereka terapung di permukaan laut, mereka pun langsung naik ke kapal. Tak lama kemudian, Pangeran Brave pun melepaskan kembang api merah ke atas langit.


“Untuk apa itu?” Vetsy dengan penasarannya bertanya.


“Tanda bahwa kita sudah berhasil.”


Beberapa saat kemudian setelah Pangeran Brave melepaskan kembang api merah ke atas langit, tiba-tiba terlihat juga kembang api putih dan hijau yang dilepaskan ke atas langit dari kejauhan.


“Itu berarti tim ketelitian dan kecepatan telah berhasil melaksanakan misi mereka.” Vesty berkata dengan senangnya.


“Baguslah kalau begitu,” ujar Pangeran Brave yang juga ikut senang.


Mereka pun langsung naik ke kapal melaju ke tempat di mana mereka akan berkumpul kembali dengan tim-tim lainnya.


***** Bersambung *****