Darklady

Darklady
Mencari "Tamu Spesial"



Beberapa saat kemudian, pangeran Brave tiba-tiba sudah berada di hutan yang penuh dengan salju, pohon-pohon di hutan tersebut diselimuti oleh salju sehingga semuanya berwarna putih bersih.


“Wowww, kerennnn saya berada di surga……akhirnya saya bisa mulai berpetualang sekarang.” Pangeran Brave pun melanjutkan perjalanannya dengan penuh semangat.


Pada saat pangeran Brave melakukan perjalanannya, tiba-tiba turunlah salju.


“Wahhhh, turun salju….ini pasti akan menjadi sebuah pelatihan yang mengasyikkan.”


“Saya sudah berjalan begitu lama, mana ada “tamu spesial” di sini, satu orang pun tidak kelihatan.”


Tak lama kemudian, dia mendengar suara hewan kesakitan, pangeran Brave yang mendengarnya pun langsung pergi mencari asal usul suara tersebut. Ketika dia berhasil menemukan asal dari suara kesakitan tersebut, dia terkejut melihat seekor zebra yang sedang tumbang tak berdaya digigit oleh seekor macan tutul salju, macan tutul salju tersebut menggigit leher zebra tersebut hingga mati tak berdaya. Pangeran Brave yang melihatnya pun langsung dag dig dug, dia harus menyembunyikan dirinya dengan segera agar macan tutul salju tersebut tidak melihatnya. Pada saat pangeran Brave melangkah mundur, kraakkk…dia tidak sengaja menginjak ranting-ranting pohon yang berada tepat di belakangnya, macan tutul salju yang memiliki pendengaran yang tajam itu pun langsung menghentikan santapannya, dia menatap ke arah sekitar sejenak. Pangeran Brave langsung terdiam mematung, dia berharap pandangan macan tersebut bisa terhalang oleh salju yang turun dengan derasnya. Salju turun semakin derasnya hingga menyebabkan pandangan di sekitarnya menjadi terhalang, keadaan tersebut mengakibatkan pangeran Brave susah untuk membuka matanya untuk melihat di mana keberadaan macan tutul salju itu berada. Tiba-tiba saja dia mendengarkan suara nafas yang membuat ia merinding tepat di belakangnya dan seketika itu juga Pangeran Brave dengan dag dig dugnya perlahan-lahan menoleh ke belakang, ternyata itu hanyalah seekor buffalo yang berdiri tepat di belakang pangeran Brave.


“Oh my goddd, kau mengagetkan saya saja, husss sana….”


Seketika itu juga buffalo tersebut langsung menyerang pangeran Brave dengan tanduknya, pangeran Brave yang gak sempat menghindar pun langsung jatuh terjungkir balik. Pangeran Brave terkejut, dia tidak menyangka bahwa buffalo itu akan menyerangnya. Saat pangeran Brave berdiri, dia menyadari bahwa lengan sebelah kirinya terluka dan berdarah. Tak lama kemudian, buffalo yang tadi menyerangnya kembali lagi, buffalo tersebut ingin menyerangnya lagi, pangeran Brave yang melihatnya pun langsung segera melarikan diri, berlari sekencang mungkin. Pada saat pangeran Brave berlari sekuat mungkin, kakinya tiba-tiba tersandung oleh batu dan dia pun terjatuh. Saat dia terjatuh, tak jauh di depannya ada sebatang tongkat yang ujungnya lumayan lancip dan tajam, pangeran Brave yang melihatnya pun langsung mengambil tongkat tersebut dan langsung berdiri dengan posisi siap siaga untuk melawan buffalo tersebut dengan tongkat yang ada di tangannya tersebut dan ketika buffalo sudah hampir mendekatinya, pangeran Brave langsung mulai menakutinya dengan mengayun-ayunkan tongkat yang ada di tangannya ke arah buffalo tersebut. Buffalo tersebut tidak takut, dia terus menyerangnya. Pangeran Brave pun langsung mengambil tindakan tegas, dia langsung menancapkan tongkat tajam tersebut ke arah tubuh buffalo beberapa kali, buffalo tersebut kesakitan dan langsung lari meninggalkan pangeran Brave yang sudah mulai kehabisan tenaga.


“Hos..hos..hoss..buffalo sialannnn.” Pangeran Brave yang ngos-ngosan langsung melepaskan tongkat yang ia pegang dan langsung terkapar di tanah yang penuh dengan lapisan salju tersebut.


“Hos..hos..hos…benar-benar suatu petualangan yang menegangkan….tetapi ( mulai tersenyum ) saya menyukainya, selama saya masih hidup.”


Sedangkan pangeran Sam, dia tiba di padang gurun dengan cuacanya yang sangat panas. Pangeran Sam yang awalnya memakai baju luar pun tak tahan lagi dan melepaskan baju luarnya.


“Busyettttt, panas sekali….emangnya di sini ada “tamu spesial” yang tinggal sini ya, pasti tampangnya gosong dan hitam.”


Pangeran Sam terus melanjutkan perjalanannya sambil mengoceh-ngoceh gak jelas. Pada saat itu juga, dia melihat tak jauh dari pandangan matanya ada beberapa ekor unta yang sedang beristirahat dan bersantai di sana.


“Unta? Pasti ada pemiliknya di sana….eh, bentar emangnya tempat ini adalah Arab ya…hmmm mungkin saja “tamu spesial” saya adalah orang Arab, tapi kok satu bayangan orang pun gak ada ya di situ.”


Pangeran Sam pun langsung berjalan ke arah di mana unta-unta itu berada, setelah dia mendekati tempat tersebut, dia tetap saja tidak melihat ada satu orang pun di sana.


“Lho, kok? Gak ada orang?”


“Saya haus sekali, tenggorokan saya menjadi kering. Air….air, saya perlu minum air.”


Pangeran Sam melihat sekelilingnya, berharap bisa menemukan sumber air untuk diminum.


“Oh iyaa….Unta kan tahu di mana sumber air berada, tapi masa saya tanya ke untanya, emangnya dia bisa bicara apa?”


Pangeran Sam melirik ke salah satu unta yang sedang bersantai tersebut, pangeran Sam menatap dalam-dalam unta tersebut.


“Kawanku, saya haus sekali, kamu tahu air ? Air…( melakukan gerakan meminum air ) Saya mau minum air, bisakah kamu mengarahkan saya ke sumber air?”


Pangeran Sam menatap dengan lama sekali ke arah unta tersebut dan unta tersebut tidak memberikan respons apapun.


“Memang sudah gila ya saya, sudah tahu dia itu adalah unta, bukan manusia…mana mungkin bisa ngomong…dasar bego…..” ujar Pangeran Sam sambil menepuk jidatnya sendiri.


“Ok, saya harus terus jalan, tidak mungkin dengan bodohnya menunggu di sini.”


Pangeran Sam pun langsung melanjutkan perjalanannya untuk mencari “tamu spesial” yang harus dikalahkannya tersebut. Setelah berjalan begitu lama, dia melihat seekor karakal ( sejenis kucing besar ) yang berada tepat di depannya, karakal tersebut sedang menatap tajam ke arah pangeran Sam. Karakal tersebut terlihat sangat kelaparan, terlihat sekali bahwa dia ingin menerkam pangeran Sam. Pangeran Sam yang menyadarinya pun langsung mengeluarkan keringat dingin sambil menelan air liur karena saking takutnya.


“Oh my ghostttttt, apa yang harus saya lakukan?”


( Analisis pertama : Jika saya sekarang lari, itu hanya membuat dia makin yakin bahwa saya adalah mangsanya dan akan langsung mengejar dan menerkam saya. Analisis kedua : Jika saya berdiam diri saja di sini, dia akan mendekati saya perlahan-lahan, saya tidak akan ada kesempatan untuk melarikan diri dan akhirnya dia akan dengan sangat mudahnya menerkam saya. Ok…jadi kesimpulannya adalah mumpung jarak saya dengan dia sangat jauh, maka……. ). Setelah pangeran Sam menganalisisnya dalam hati, dia pun langsung berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke belakang. Pangeran Sam terus saja berlari sekencang mungkin tanpa mengeremnya bagaikan kendaraan yang sudah rusak remnya.


“Hos…hos..hos….Bussyeetttt, saya harus lari sampai kapan…hos..hos..hos…”


Pangeran Sam langsung menoleh ke belakang, ingin melihat apakah karakal tersebut masih mengejarnya atau tidak. Pada saat dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat adanya karakal di belakangnya dan seketika itu juga pangeran Sam pun mengerem langkah kakinya.


“Hos…hos…hos,…..” Pangeran Sam berhenti dan memandang ke sekitarnya.


“Gilaaa, sial sekali bisa-bisanya saya bertemu dengan kucing besar tersebut. Untung saja dia tidak mengejar saya sampai ke sini, kalau gak… mungkin saya dah diterkamnya.”


Setelah itu pangeran Sam duduk bersandar di salah satu bebatuan yang besar, pada saat dia bersandar dengan santainya, tiba-tiba dia melihat suatu bayangan tepat berada di depan matanya. Karena cuaca di saat itu sangatlah panas, maka bayangan yang dipantulkan sangatlah jelas, bayangan tersebut berbentuk seekor binatang dengan 2 telinganya yang berdiri tegak berbentuk lancip di ujung atasnya. Pangeran Sam yang melihatnya tahu bahwa ada seekor hewan yang berada di atas batu besar yang ia sandar tersebut. Pangeran Sam pun perlahan-lahan menengok ke belakang ingin melihat binatang apa gerangan yang berada di belakangnya tersebut. Setelah dia menengoknya, pangeran Sam langsung memalingkan wajahnya kembali dan diam sejenak.


( Waduhhh, matilah saya, itukan kucing besar yang tadi, kok dia bisa tahu saya ada di sini sih! ) Pangeran Sam berkata dalam hatinya dan seketika itu langsung mengeluarkan keringat dingin. Pangeran Sam langsung meraba-raba batu besar yang berada di sampingnya lalu perlahan-lahan berdiri, pada saat ia ingin melangkahkan kakinya untuk berlari, karakal tersebut langsung menyergap tubuh pangeran Sam. Karena saking cepatnya karakal itu menyergapnya, pangeran Sam tidak sempat untuk menghindarinya dan akhirnya pun pangeran Sam mau tak mau harus bergulat dengan karakal tersebut. Di saat itulah pangeran Sam mengambil kesempatan untuk menggunakan batu besar yang dia pegang, dia mengayunkan batu besar tersebut ke wajah dan kepala karakal. Awalnya pangeran Sam tidak ingin menggunakan batu besar itu untuk melukai karakal itu, dia hanya ingin menggunakannya untuk melemparinya sekedar menakutinya saja untuk mengusirnya, tetapi karakal tersebut sangatlah buas, dia tidak henti-hentinya menyerang, bahkan dia sempat menggigit tangan pangeran Sam, seketika itu juga dalam keadaan yang sangat mendesak, dia terpaksa mengayunkan batu besar tersebut beberapa kali ke arah karakal tersebut dan pas mengenai kepala karakal hingga berdarah, namun karakal itu tetap saja menyerang dan tidak mau menghentikan serangannya. Pangeran Sam langsung mengayunkan lagi dengan sekuat tenaga ke arah salah satu mata karakal tersebut dan akhirnya karakal tersebut menghentikan serangannya karena salah satu matanya terluka dan berdarah sehingga mengakibatkan pandangan karakal itu menjadi buyar. Pada saat karakal tersebut menghentikan serangannya, Pangeran Sam langsung segera menjauhkan dirinya dari karakal tersebut. Karakal yang terluka tersebut berlari pergi meninggalkannya dan di saat itulah pangeran Sam langsung merasa lega.


“Astaga, akhirnya selesai juga…sialannnn…mana sih “ Tamu spesial” yang dimaksud itu?” Pangeran Sam berkata dengan kesalnya sambil memegang luka bekas gigitan di tangannya tersebut.


Tiba-tiba saja, pangeran Sam merasakan nyeri di kakinya dan tak lama kemudian, pangeran Sam pun langsung pingsan dan tumbang. Pada saat pangeran Sam membukakan matanya, dia berada di tempat semula, tempat pelatihan kedua tersebut. Pangeran Sam melihat pangeran Brave yang berada di sampingnya masih dalam keadaan tidak sadar, Pangeran Sam yang melihatnya pun merasa kebingungan.


“Kok, dia belum sadar ? Trus, kenapa saya sudah sadar? Emangnya saya dah bertemu dengan “tamu spesial” saya ? Ketemu aja belum, kenapa saya bisa sadar…kalau saya sadar kan berarti saya telah dikalahkan oleh “tamu spesial” kan? Betul kan?” Pangeran Sam bertanya sambil mengerutkan dahinya.


“Tuanku, Anda sudah bertemu dengannya dan memang benar Anda telah dikalahkan oleh “tamu spesial” Anda sendiri.”


“Apaan sih? Saya gak ngerti, saya hanya melihat unta dan kucing besar di sana, saya sama sekali tidak melihat ada satu orang pun di sana.”


“Tuanku, “tamu spesial” Anda bukanlah manusia.,..melainkan hewan, Tuanku.”


“Ha? Hewan ? Heiiii…kalian tahu apa ha? Saya yang mengalahkan dia kali, buktinya saya berhasil melukai seekor kucing besar di gurun tersebut, kucing besar tersebut bahkan menggigit tangan sebelah kananku, nih lihat!” Pangeran Sam berkata sambil memperlihatkan tangan kanannya kepada mereka.


Di saat itu juga, pangeran Sam kaget melihat tangan kanannya tidak mengalami luka sedikitpun.


“Kok, gak ada lukanya…oh iya, itu kan hanya ilusinasi saja..****.”


“Pokoknya saya memang telah mengalahkan kucing besar itu, titik.”


“Iya benar, Tuanku.,..tapi “tamu spesial” yang mengalahkan Anda bukanlah karakal tersebut.”


“Ha? Karakal? Apaan itu?


“Itu adalah sejenis kucing besar yang tinggal di gurun, Tuanku.”


“Ohhh…. Kalau begitu, hewan apa yang mengalahkanku?”


“Tuanku, apakah Anda masih ingat terakhir sebelum Anda pingsan, Anda merasakan gejala apa?”


“Hmmm, nyeri di kaki, sakitnya luar biasa sekali.”


“Tuanku, coba Anda lihat kaki sebelah kanan Anda.”


Pangeran Sam pun langsung mengecek kaki kanannya dan dia melihat ada tanda 1 bentolan merah berada di kakinya seperti bekas sengatan.


“Apa ini? Kok ada bekas sengatan seperti ini?”


“Itu adalah bukti bahwa Anda telah dikalahkan, Tuanku.”


“Dikalahkan? Oleh siapa? Saya tidak melihat ada binatang yang merayap ke tubuh saya kok dan saya juga tidak melihat adanya ular di sana.” Pangeran Sam berkata dengan bingungnya.


“Kalau ular yang menggigit bekas gigitannya pasti ada 2 bentolan bukan 1 bentolan, Tuanku.”


“Langsung ngomong ke intinya kenapa sihhh….jadi hewan apa yang mengalahkanku?”


“Ha? Kalajengking? Saya sama sekali tidak takut dengan kalajengking kaliii…enak saja saya dikalahkan oleh kalajengking.”


“Tunggu….berarti “Tamu spesial” saya adalah kalajengking?”


“Benar, Tuanku.”


“Apa? Enak saja…setidaknya saya harus dikalahkan oleh hewan yang lebih buas kek…bukannya hewan sekecil itu.”


“Gak….saya mau mengulangnya. Saya ingin mengulanginya dan ingin mengganti “tamu spesial” saya sendiri, kalau anak ingusan itu tahu bahwa saya dikalahkan oleh seekor “kalajengking” doang, bisa-bisa saya direndahin sama dia. Pokoknya yang tadi dicancel, saya gak mau.”


“Tapiiii….Tuanku, bukan kami yang boleh memutuskannya.”


“Siapa yang memutuskannya ? Biar saya yang ngomong.”


“Sang Raja, Tuanku.”


Pangeran Sam yang mendengarnya pun langsung terdiam membeku, itu dikarenakan dari kecil dia tidak pernah berbicara maupun berdekatan dengan sang ayah. Baginya sang ayah sangatlah menakutkan dan terasa asing baginya. Pangeran Sam pun hanya bisa pasrah saja.


“Jadi…selanjutnya gimana?” Pangeran Sam dengan pasrahnya bertanya kepada pimpinan prajurit bertopeng tersebut.


“Tuanku, bagi yang kalah harus mengulanginya sampai ia menang melawan “tamu spesialnya” sendiri. Tapi yang dimaksud dengan mengulangi ini adalah bukan mengulanginya untuk mengganti “tamu spesial” nya sendiri dan “tamu spesial” yang sudah ditentukan tidak bisa diubah lagi, Tuanku.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi, mana ramuannya? Biar saya minum lagi….akan saya kalahkan kalajengking sialan tersebut.”


“Bukan sekarang, Tuanku.”


“Kenapa bukan sekarang?” Karena sekarang sudah mau menjelang malam, jadi besok baru dilanjut kembali.”


“Ha? Dah mau menjelang malam? Emangnya saya sudah lama di dalam dunia ilusinasi? ” Pangeran Sam berkata sambil melihat ke arah jendela.


“Woww, ternyata lama juga ya saya di alam sana.”


“Teruss, anak ingusan itu kenapa belum bangun-bangun? ” Pangeran Sam berkata sambil melihat ke arah pangeran Brave yang masih duduk tak sadarkan diri di sana.


Pangeran Sam pun akhirnya beristirahat sejenak, sedangkan pangeran Brave masih sedang berjuang di dunia ilusinasinya. Pangeran Brave melanjutkan perjalanannya melewati salju yang turun dengan derasnya sambil memegang tongkat tajam untuk berjaga-jaga. Tak lama kemudian, dia mendengar suara gaduh, suara tersebut seperti suara hewan yang sedang berkelahi, oleh karena itu pangeran Sam pun segera pergi ke tempat di mana suara itu berasal. Tak jauh dari pandangan matanya, dia melihat ada beberapa ekor serigala yang sedang merebut makanan, mereka sedang merebut bangkai rusa. Mereka dengan ganasnya merebut bangkai tersebut dengan cara saling menarik menggunakan mulutnya. Pangeran Brave yang melihatnya hanya bisa menyaksikannya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Pada saat itu juga, tiba-tiba datanglah seekor beruang kutub besar yang juga langsung merebut bangkai rusa tersebut. Para serigala tersebut langsung lari menghindar karena tidak mampu melawan beruang kutub tersebut dikarenakan bobot tubuhnya yang 2 kali lipat lebih besar dari mereka. Para serigala tersebut hanya bisa pasrah melihat bangkai rusa yang sudah tersisa setengah badan direbut oleh beruang kutub besar tersebut.


“Oh my….god…i..itu beruang kutub? Besar sekali.” Pangeran Brave bersembunyi di balik pepohonan agar tidak terlihat oleh beruang kutub tersebut.


Pangeran Brave masih belum berani melanjutkan perjalanannya karena beruang kutub tersebut masih menyantap makanannya di depan matanya, dia takut jika dia bergerak maka keberadaannya akan diketahui oleh beruang kutub tersebut. Pangeran Brave pun hanya bisa diam menunggu di balik pepohonan hingga beruang kutub tersebut benar-benar telah pergi menjauh darinya. Setelah pangeran Brave tunggu sekian lama, akhirnya beruang kutub tersebut pun mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat yang tadi, tiba-tiba saja…Haaachiuuu….pangeran Brave tiba-tiba saja bersin karena suhunya yang terlalu dingin. Di saat itu juga, beruang kutub yang tadinya pergi menjauh langsung membalikkan badannya ke arah tempat di mana pangeran Brave bersembunyi. Sontak pangeran Brave yang menyadarinya menjadi panik dan ketakutan.


“Sialll, gimana ini?” Pangeran Brave langsung melangkah mundur secara pelan-pelan untuk menghindari beruang kutub tersebut.


Pangeran Brave berusaha untuk tidak membiarkan beruang kutub tersebut melihatnya, karena sekali beruang kutub tersebut melihatnya, maka peluang hidup akan semakin kecil. Pangeran Brave berhasil berpindah ke pepohonan lainnya dan bersembunyi di balik pohon tersebut dengan posisi berdiri melihat sekitarnya dengan hati-hati. Tak lama kemudian, dia diserang oleh sesuatu dari belakang, hewan tersebut langsung menggigit leher pangeran Sam yang seketika itu juga membuat pangeran Brave langsung sadar dari ilusinasinya.


“Tidakkkk….” Pangeran Brave berteriak sambil memegang lehernya.


Pangeran Brave melihat ada 3 orang di hadapannya yang sedang melihatnya, 3 orang itu adalah pimpinan prajurit bertopeng, pengawal pribadinya sendiri dan pengawal pribadi Pangeran Sam. Mereka terkejut melihat pangeran Brave berteriak begitu kencangnya, selama ini pangeran Brave dikenal dengan manusia yang gak pernah berteriak maupun ketakutan seperti tadi, makanya mereka sangat tercengang melihat ekspresi pangeran Brave yang sangat ketakutan tersebut.


“Hos…hos..hoss…be…berapa lama saya di alam sana? ”


“Tuanku, anda sudah berada sana selama 14 jam.”


“14 jam? Sebegitu lamanya saya ada di sana?”


“Benar, Tuanku.”


“Tuanku, apakah Anda tahu siapa “tamu spesial” Anda?” pengawal pribadi Brave bertanya kepada pangeran Brave.


“Saya tidak melihat ada 1 orang pun di sana….jangan-jangan….”tamu spesial” yang kalian maksud adalah hewan ya?”


“Benar, Tuanku.”


“Binatang yang membuat Anda sadar dan ketakutan seperti ini dialah “tamu spesial” Anda, Tuanku.”


“Saya tidak yakin binatang apa itu, yang saya tahu adalah binatang terakhir yang saya lihat adalah beruang kutub, kejadiannya berlangsung sangat cepat, saya gak sempat melihat binatang apakah itu gerangan, tapi saya rasa “tamu spesial” saya adalah beruang kutub.”


“Bisakah saya lihat luka di leher Anda, Tuanku ?” Pimpinan prajurit bertopeng bertanya kepada pangeran Brave.


Pimpinan prajurit bertopeng tersebut pun langsung mengecek luka di leher pangeran Brave, dia melihat terdapat luka 2 gigitan seperti gigitan 2 taring yang tajam. Pimpinan prajurit yang sudah terlatih tersebut langsung dengan mudahnya mengetahui binatang buas apakah yang bisa menghasilkan gigitan seperti tersebut.


“Tuanku, “tamu spesial” Anda bukanlah beruang kutub, melainkan adalah macan tutul salju ( snow leopard ). Gigitan beruang kutub akan lebih besar dan dalam karena rahangnya yang sangat kuat, tetapi bekas gigitan Anda tidaklah dalam dan bekas gigitannya tidak besar, melainkan itu seperti gigitan macan tutul salju yang memiliki gigi taring lancip dan kurus sama seperti bekas luka Anda, Tuanku,” ujar pimpinan prajurit bertopeng tersebut dengan yakinnya.


“Snow leopard ? Itu adalah hewan yang pertama-tama saya lihat di dunia ilusinasi saya.”


“Di mana dia?” Pangeran Brave melirik kiri kanan mencari pangeran Sam.


“Pangeran Sam sudah beristirahat di loteng atas, Tuanku.” Ujar Pengawal pribadi Sam.


“Kok? Kamu ada di sini, bukannya kamu pengawal pribadinya? Kenapa tidak ikut dia ke loteng atas?”


“Oh iya, Tuanku…saya disuruh oleh Pangeran Sam untuk…” Belum selesai dia berbicara Pangeran Brave langsung memotong pembicaraanya.


“Untuk memantau saya kan?”


“Ehh,….hehe…iya benar, Tuanku.”


“Dasar, tukang pantau. Saya dah lelah, saya mau istirahat dulu.”


“Makan dulu, Tuanku…akan saya siapkan makanan dulu….habis makan baru Anda tidur, besok baru akan dilanjutkan lagi.”


“Besok? Lanjut lagi?”


“Iya Tuanku, atau mau diundur lusa saja Tuanku, takutnya Anda kelelahan..”


“Hahaha…baguslah besok bisa berpetualang lagi, ngapain harus diundur, buang-buang waktu saja.” Ujar Pangeran Brave dengan penuh semangat.


Pangeran Brave lalu naik ke atas loteng dan pergi beristirahat.


“Gimana? Siapa “tamu spesial” anak ingusan itu?” Tanya pangeran Sam kepada pengawal pribadinya.


“Tamu spesialnya adalah macan tutul salju, Tuanku.”


“Macan tutul salju…sialll…kok “tamu spesialnya” lebih keren daripada punya saya.”


“Tuanku, sudah malam….lebih baik Anda segera tidur, simpan tenaga untuk petarungan besok.”


Pangeran Sam hanya bisa menahan rasa kesalnya dan langsung berbaring di atas ranjangnya.


***** Bersambung *****