
Pada saat mereka memasuki daerah hutan tersebut, dia melihat sebuah danau. Tidak ada jalan lain selain danau berwarna biru tersebut, mereka harus berenang agar bisa menyeberang ke seberang sana. Pangeran Brave pun yang pertama duluan berenang di danau tersebut dan diikuti oleh anggota-anggota tim lainnya.
“Gawat, harus berenang…di dalam danau ini tidak ada hewan yang bisa saya minta tolong, gimana ini?” Vesty berkata dalam hatinya.
Vesty sengaja menempatkan dirinya ke paling belakang, agar tidak ada yang menyadari bahwa dia sama sekali tidak bisa berenang. Pada saat yang lainnya sudah masuk ke danau dan berenang, barulah Vesty menceburkan diri ke dalam danau, dalam hatinya berkata ( Saya tidak bisa berenang, tapi saya bisa menahan nafas di dalam danau ). Setelah itu, dia pun langsung menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam air. Pada saat itu juga, Vesty berpijak di dasar danau dan mulai berjalan, ternyata itu berhasil, dia bisa dengan santainya berjalan di dasar danau tersebut. Vesty pun dengan hati-hatinya berjalan di dasar danau sambil memandang ke atas melihat tubuh anggota-anggota tim lainnya yang sedang berenang di permukaan danau tersebut. Tak lama kemudian, mereka semua pun berhasil menyeberanginya dan Vesty menunggu semua orang yang berenang tadi naik ke atas daratan barulah dia menyusul untuk naik ke atas daratan.
“Waduh, bagaimana caranya saya harus menaikkan badan saya ke permukaan danau ?” Vesty masih berada di dasar danau sambil menengok sekitarnya.
Tak lama kemudian, dia pun melihat ada akar pohon yang besar di dalam air dan ia pun langsung meraihnya sekaligus memanjat ke atas hingga berhasil naik ke atas permukaan danau dan terus memanjat hingga dia sudah berada di permukaan danau sambil memeluk erat akar pohon tersebut. Setelah dia berhasil melakukannya, Vesty langsung bergabung ke anggota-anggota lainnya.
“Vesty? Bukannya kamu tadi ada di barisan depan? Kan tim kamu paling depan tadi.” Candy dengan herannya bertanya.
“Oh itu tadi saya buang air besar. Jadi saya menghindar dulu dan mengeluarkannya.”
“Ohh, ada- ada saja kamu. Keadaan seperti ini kamu masih bisa sempat mengeluarkannya.”
Vesty pun melanjutkan perjalanannya mengikuti tim-tim anggota lainnya. Tak lama kemudian, terdengar teriakan yang sangat menggelegar.
“Kyaaaaa!!!”
Vesty dan yang lainnya yang berada di belakang pun langsung berlari ke arah depan. Pada saat itu juga, dia melihat ada 9 mayat yang terapung di permukaan sungai hitam dekat air terjun pas di hadapan mata mereka. Mereka melihat warna sungai tersebut begitu hitam pekat bagaikan berada di kolam tinta hitam.
“Cepat! Angkat mayat-mayat tersebut!” Pangeran Brave memerintah dengan paniknya.
Para anggota lainnya yang cowok pun berbondong-bondong mengangkat mayat-mayat tersebut. Wajah mereka hampir tidak dikenali lagi karena sudah membengkak.
“Tuanku, bagaimana dengan Pangeran Sam?” Pengawal pribadi dengan khawatirnya bertanya kepada Pangeran Brave.
“Di antara mayat-mayat tersebut tidak ada Sam, saya yakin itu. Baju yang dia pakai beda dengan tim-tim lainnya. Mayat-mayat itu bajunya semuanya sama, jadi ada kemungkinan Pangeran Sam masih hidup,” ujar Pangeran Brave.
Vesty, Candy dan Serlyne hanya bisa menangis sedih melihat pemandangan mengerikan seperti itu, mereka tidak dapat mengenali mayat-mayat tersebut.
“Tidak, ini pasti ilusinasi…pasti ilusinasi…Bob…Bob gak mungkin dia…” Serlyne dengan terisak-isaknya menangis.
“Sekarang bukan saatnya menangis! Ingat tujuan kalian ke sini adalah untuk mendapatkan batu cahaya biru,” teriak salah satu prajurit bertopeng.
“Cepat! Mulai berenang.” Pemimpin prajurit tersebut dengan lantangnya memerintah.
“Mata kamu ada masalah ya? Kamu suruh kita berenang? Kamu gak lihat di seberang sudah gak ada jalan lagi.” Pangeran Brave dengan kesalnya berkata.
Mereka tidak melihat adanya jalan lagi di sungai tersebut, di seberangnya cuma ada sebuah tembok doang. Pada saat itu juga, Vesty menemukan sesuatu.
“Heiii, semuanya lihat ini.” Vesty memanggil sambil menunjuk ke arah papan kayu yang berada di tepi danau tersebut.
Terdapat simbol berupa tanda panah mengarah ke bawah di papan kayu tersebut.
“Berarti kita harus menyelam ke dasar sungai terjun tersebut.” Pangeran Brave berkata dengan suaranya yang kecil.
“Tidak boleh, Tuanku. Kita gak tahu ada apa di dalam sungai tersebut sehingga mengakibatkan kematian pada mayat-mayat itu.” Pengawal pribadi Pangeran Brave berusaha untuk mencegah Pangeran Brave.
“Kapten Tim Biru pasti adalah seorang pengecut, makanya dia melarikan diri.” Pemimpin prajurit bertopeng dengan sindirnya berkata.
“Benar itu, kalau tidak gak mungkin hanya dia sendiri yang selamat,” ujar salah satu tahanan yang sedih menangisi salah satu sahabatnya yang meninggal tersebut.
“Dia bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab, saya lebih mengenalnya daripada kalian semua,” ujar Pangeran Brave dengan ekspresi wajahnya yang serius.
“Daripada kalian sembarangan menuduh, lebih baik kita langsung menyelam ke bawah sana dan pastikan kebenarannya.” Pangeran Brave berkata sambil menunjuk ke arah sungai tersebut.
“Ok, tunggu apa lagi cepatlah menyelam sana!” Ujar prajurit bertopeng yang sombong tersebut.
“Tunggu sebentar, marilah kita saling bergandengan tangan.” Vesty langsung angkat bicara.
Mereka semua yang mendengar perkataan Vesty pun sontak terdiam dan melongo, mereka merasa perkataan Vesty sangatlah konyol.
“Heiii, gadis kecil. Kami gak ada waktu untuk melindungi gadis penakut seperti kamu, kalau kamu takut tidak usah nyelam, akan saya antarkan kamu langsung ke dunia lain dengan menggunakan senjata ini,” ujar pemimpin prajurit berkata sambil menodongkan senjatanya ke kepala Vesty.
“Saya menyuruh kalian saling bergandengan tangan dengan saya bukan karena saya takut, karena saya ingin menolong kalian semua.” Vesty berkata dengan wajahnya yang serius.
“Hahahaha…ternyata anggota kalian ada yang shock sampai kehilangan akal sehatnya ya.” Pemimpin prajurit tersebut langsung berjalan meninggalkan Vesty.
Mereka semua yang mendengarnya langsung menggeleng-gelengkan kepala dan tidak menghiraukan perkataan Vesty. Ada dari mereka yang sudah menceburkan diri ke dalam sungai dan menyelam ke dalam sungai hitam tersebut. Di saat itu juga, Candy langsung memegang tangan Vesty dengan eratnya, selanjutnya Serlyne ikut memegangi tangan Candy. Vesty yang menyadarinya pun menjadi tersenyum hangat.
Tak lama kemudian, Kara juga ikut menggandeng tangan Serlyne. Di saat itu juga, Pangeran Brave dan pengawal pribadinya terbengong melihat mereka saling bergandengan tangan.
“Apakah kamu mau join?” Vesty memandang ke arah Pangeran Brave.
“Gila! Saya masih normal..agak sinting ya kalian, pakai gandengan tangan pula, dikiranya lagi jalan-jalan apa di dalam sana.” Ucap Pangeran Brave.
Setelah itu dia langsung menceburkan diri ke dalam sungai hitam tersebut dan disusul dengan pengawal pribadinya.
“Ingat! Tak peduli dalam kondisi apapun, kalian masing-masing jangan melepaskan tanganku. Apakah kalian siap?”
“Ya, kami siap.” Kara berkata dengan berdegup kencang.
“Ok, 1…2….3…( byurrrr….)” Kara menggandeng tangan Serlyne, Serlyne menggandeng tangan Candy dan Candy menggandeng tangan kiri Vesty.
Seketika itu mereka berempat pun langsung menceburkan diri mereka ke dalam sungai tersebut sambil bergandengan tangan. Pada saat mereka berada di dalam sungai hitam tersebut, mereka saling bergandengan tangan dengan eratnya. Serlyne, Candy dan Kara bisa merasakan keanehan bahwa mereka bisa bernafas dengan normal bagaikan berada di atas daratan. Vesty dengan sengaja membiarkan tubuhnya dan tubuh teman-temannya tenggelam sampai ke dasar laut. Mereka sama sekali tidak bisa melihat sesuatu di dalam sungai hitam tersebut, tetapi mereka bisa merasakan bahwa sungai hitam itu sangatlah dalam. Semakin dalam mereka ke bawah, warna air sungai tersebut perlahan-lahan menjadi warna biru, bagaikan pada awalnya mereka menembus lapisan kabut hitam dan kemudian menembus lapisan kabut berwarna biru. Tak lama kemudian, dia melihat Pangeran Brave meronta-ronta karena sudah kehilangan nafas dan di saat itu juga, dengan spontannya Vesty langsung meraih tangan Pangeran Brave yang sedang meronta-ronta. Seketika itu juga Pangeran Brave langsung merasa dirinya bagaikan telah diberikan tabung oksigen hingga bisa bernafas normal di dasar sungai tersebut. Di saat itu juga Pangeran Brave sempat menarik kaki pengawal pribadinya yang hampir pingsan tersebut. Setelah itu, Vesty pun mengarahkan mereka sampai ke dasar sungai dan berjalan di dasar sungai tersebut. Pangeran Brave dan pengawal pribadinya sangat kaget, mereka hampir tidak percaya apa yang mereka rasakan, mereka bisa dengan santainya berjalan di dasar sungai tersebut. Pengawal pribadi Pangeran Brave hanya bisa membelalakkan matanya memandang ke arah Pangeran Brave yang juga membelalakkan matanya bagaikan mata kodok yang sedang melotot. Mereka terus saja berjalan di dasar sungai tersebut, begitu pula dengan Candy dan yang lainnya mereka juga merasa kaget. Tak lama kemudian, Vesty melihat sebuah garis cahaya tak jauh dari depan matanya dan dia pun melangkahkan kakinya ke arah di mana cahaya itu berasal. Tak lama kemudian, dia melihat ada sebuah jalan keluar berupa lubang gua dan mereka pun berjalan masuk ke dalam lubang gua tersebut. Setelah mereka melewatinya, anggota-anggota lainnya pun berenang ke atas permukaan sungai tersebut, Candy menarik tangan Vesty sambil berenang ke atas permukaan sungai. Setelah mereka semua berhasil mencari jalan keluar, mereka langsung berenang menepi. Sesampai di sana, mereka melihat sebuah hutan yang bukan berwarna serba biru lagi, tetapi berwarna hitam pekat, bagaikan hutan tersebut baru terbakar sampai hangus. Vesty dan lainnya hanya bisa tercengang melihatnya, mereka pun hanya bisa saling memandang satu sama lainnya. Seketika itu juga, Vesty merasakan ada sesuatu yang sedang mengawasi mereka, sekali dia menoleh, dia melihat ada sesuatu yang bersinar dari kejauhan. Vesty pun langsung berlari ke arah tersebut.
“Vesty, kamu mau kemana?” Kara memanggil Vesty.
“Mencari batu cahaya biru.” Setelah itu semua yang mendengarnya pun langsung mengikutinya berjalan masuk ke dalam hutan hitam tersebut.
Pada saat Vesty berjalan memasuki hutan tersebut, dia melihat 2 benda yang bersinar berwarna biru dan sekejap saja 2 benda yang bersinar tersebut hilang dari pandangannya. Vesty pun langsung terus mengejarnya tanpa berhenti melangkahkan kakinya. Tak lama kemudian, dia pun melihat sesuatu yang bergerak, ternyata itu adalah panther hitam yang sepasang matanya mengeluarkan cahaya biru. Vesty yang melihatnya pun langsung tercengang.
“Akhirnya kita bertemu, Darklady sudah menunggumu,” ujar panther hitam itu kepada Vesty.
Vesty yang mendengarnya pun semakin tercengang dan hanya bisa diam berdiri mematung begitu saja.
“Apa katamu? Darklady?” Vesty dengan terheran-herannya bertanya.
Panther hitam tersebut langsung berlari meninggalkan Vesty seorang diri di sana.
“Heiiii, jangan pergi…siapa itu Darklady?” Vesty memanggil sambil mengejarnya.
Vesty terus saja berlari mengejar panther hitam tersebut dan tiba-tiba saja dia tidak sengaja jatuh ke dalam lubang. Pada saat dia membuka matanya, dia melihat Serlyne, Candy, Kara dan pengawal pribadi Pangeran Brave yang sedang mengelilinginya sambil memandanginya. Vesty yang menyadarinya pun sontak terkaget-kaget.
“Ada apa dengan saya ?”
“Kamu gak ingat? Tadi setelah kita naik ke atas permukaan air, kamu bilang melihat sebuah cahaya, setelah itu kamu pun langsung pingsan,” ujar Candy.
“Pingsan? Saya tadi jatuh ke dalam sebuah lubang.”
“Lubang? Mana ada lubang di sini ? Dari tadi kamu terbaring di sini tak sadarkan diri. Kamu pasti bermimpi tadi,” ujar Serlyne.
“Apa? Berarti tadi saya lagi mimpi ? Lalu…kenapa saya merasa itu seperti nyata?” ujar Vesty dalam hati.
“Oh, kamu sudah sadar? Dasar…merepotkan saja, tiba-tiba pingsan begitu saja,” ketus Pangeran Brave yang berjalan menghampiri mereka.
“Dasar gak tahu berterima kasih,” ketus Candy.
“Apa katamu? Lancang sekali kau mengatai Pangeran Brave,” ujar pengawal pribadi Pangeran Brave.
“Sekarang saya mau tanya, kalian berdua bisa selamat berkat siapa?” Candy dengan kesalnya bertanya.
“I…itu….,” ujar pengawal pribadi sambil memandang ke arah Pangeran Brave.
“Hei, kami berhutang budi padamu, saya tidak akan lupa itu,” ujar Pangeran Brave dengan ekspresi wajahnya yang gengsi untuk mengatakan “terima kasih”.
“Bagaimananapun terima kasih,” ujar pengawal pribadi Pangeran Brave sambil menatap Vesty yang masih dalam keadaan bingung.
Setelah itu, Vesty pun langsung berdiri sambil memandang ke arah hutan hitam tersebut.
“Ayo jalan!” Vesty berkata sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah hutan hitam nan lebat tersebut.
“Ke mana Vesty ?” Kara dengan penasarannya bertanya.
“Tentu saja mencari batu cahaya biru,” ujar Vesty sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke hutan tersebut.
Setelah mereka berlima mendengarnya, mereka pun langsung mengikuti langkah kaki Vesty memasuki hutan hitam itu dan mereka pun siap untuk melanjutkan petualangan mereka untuk mencari batu cahaya biru yang harus mereka dapatkan tersebut.
***** Bersambung ( ke Season 2 ) *****