Darklady

Darklady
Kecepatan di Pulau Hijau



“Kalau tim kamu Serlyne, bagaimana caranya kalian berhasil menyelesaikan misi kalian?”


“Sesampai di pulau tersebut, kami melihat ada papan kayu yang tertancap di sana yang bertuliskan “1/3” itu saja,” ujar Serlyne


“Ngg? Apa maksud dari 1/3 ?” tanya Candy.


“Tidak ada satupun dari kami yang tahu maksud dari 1/3 itu.”


“Pada saat kami selesai melihat petunjuk tersebut, tiba-tiba saja air laut yang ada di belakang kami menjadi naik dan dengan cepatnya menerpa ke arah kami. Dengan spontannya kami langsung dengan sekuat tenaganya berlari masuk ke dalam hutan. Kami pun berhasil menghindarinya dengan naik ke tempat yang lebih tinggi, lalu tak lama kemudian kami melihat di depan kami tidak ada jalan lain selain jembatan gantung. Alas jembatan gantung tersebut adalah papan kayu yang tersusun secara horizontal. Pada saat kami berjalan melewati jembatan gantung tersebut, tiba-tiba saja satu persatu alas papan kayu tersebut patah dan jatuh ke dalam jurang, kami yang menyadarinya pun langsung mengubah langkah kaki kami yang awalnya jalan pelan menjadi langkah berlari. Karena itu adalah jembatan gantung, maka kami berlari sambil tergoyang-goyang dan di saat itu juga salah satu anggota kami terjatuh ke dalam jurang. Tiba-tiba kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?”


“Terjadi apa?” Candy dengan penasarannya bertanya.


“Kami tiba-tiba kembali ke tempat awal, ke tempat pertama kali kami sampai di pulau tersebut. Di saat itu juga kami baru sadar bahwa pulau tersebut bagaikan ilusinasi dan mengisyaratkan bahwa kami harus melewati rintangan tersebut secara berkelanjutan, apabila gagal di tengah-tengah rintangan, maka harus kembali ke awal dan mengulanginya lagi.”


“Bagaimana nasib anggotamu yang terjatuh tersebut?” Vesty bertanya kepada Serlyne.


“Dia tidak ada pada saat kami kembali ke tantangan yang pertama. Dia benar-benar terjatuh ke dalam jurang.”


“Setelah itu, bagaimana kelanjutannya ?” ujar Candy yang sangat penasaran.


“Ya, kami mau tak mau harus menghadapinya lagi.”


“Setelah berhasil melewati jembatan tersebut, kami tiba di satu lapangan hutan yang gersang. Pada saat itu juga, kami mendengar suara gemuruh yang sangat dahsyat, sekali kami menengok ke belakang, ternyata itu adalah angin tornado yang sedang berjalan berputar dengan ganasnya ke arah kami. Kami pun langsung berlari dengan gilanya, dengan cepatnya berlari agar tidak terhempas oleh tornado tersebut. Tapi tetap saja beberapa dari tim kami pun gagal melewatinya dan terhempas jauh oleh angin tornado tersebut.”


“Lalu kalian harus mengulangi berapa kali baru bisa berhasil?”


“Waduh, kami tidak menghitungnya, yang saya tahu adalah kami mengulanginya terus-menerus tiap harinya hingga bisa berhasil.”


“Jadi, siapa yang berhasil bertahan sampai akhir?”


“Coba kamu tebak.” Serlyne dengan bangganya berkata.


“Woww, kamu ya…sungguh hebat sekali, bahkan kapten tim kamu juga KO?”


Serlyne pun mengangguk-angguk dengan bangganya.


“Jadi, kamu sendirian pulang ke sini?” Vesty bertanya kepada Serlyne.


“Pada saat hanya tersisa saya seorang diri, saya terus berlari menghindari tornado tersebut hingga sampai ke satu terowongan pipa besar, saya langsung merangkak masuk ke dalam. Di dalam sangatlah gelap, saya tidak bisa melihat apapun tapi saya masih tetap bisa mendengar suara gemuruh tornado tersebut. Semakin lama saya merangkak, semakin redup pula suara gemuruh tornado tersebut, makin lama makin sunyi tak terdengar apapun dan tak bisa melihat apapun. Setelah lama kemudian, akhirnya saya melihat cahaya di depan mata saya dan akhirnya saya menemukan jalan keluar. Begitu saya keluar, saya dikelilingi oleh kabut putih dan saya melihat sesuatu yang berkilauan berwarna hijau, saya pun mendekatinya, ternyata itu adalah batu cahaya hijau yang menempel di batang pohon. Saya pun tanpa ragunya mencabut batu tersebut dari batang pohon tersebut. Setelah saya mencabutnya, tiba-tiba kabut yang menghalangi pandangan mata saya perlahan-lahan menghilang dan di saat itu juga alangkah kagetnya saya ketika melihat 10 anggota tim saya berdiri di sana, keadaan mereka sangatlah kacau, baju mereka ada yang basah kuyup karena gagal di rintangan pertama, ada yang terluka karena jatuh dari jurang dan ada yang bajunya sampai sobek-sobek karena terhempas oleh tornado. Begitu saya melihat mereka, saya sangat lega sekali, lega karena mereka masih hidup. Kondisi saya juga gak karuan, rambut acak-acakan, badan menjadi bau dan basah kuyup karena mengeluarkan banyak keringat.”


“Jadi 1/3 itu artinya lewati 3 rintangan beruntun dulu baru mendapatkan 1 batu cahaya hijau ?” ujar Candy.


“Bingo.” Serlyne menjawab sambil menatap Candy.


“Oh, untunglah tidak ada korban jiwa.” Vesty dengan murungnya berkata.


“Ada apa Vesty, kamu terlihat sedih.” Candy bertanya sambil memandangi Vesty.


“Di tim merah kami kehilangan 2 orang, seorang gadis dan satunya lagi prajurit bertopeng.”


“Kehilangan? Maksudnya?” tanya Serlyne yang penasaran.


“Kalau prajurit bertopeng sih saya gak kasihan, saya hanya kasihan gadis tersebut.” ujar Candy.


“Meninggal karena?” tanya Serlyne.


“Mati karena digigit oleh kelinci.”


Setelah mendengar perkataan Vesty, Candy dan Serlyne semakin terbengong dan syok.


“Kamu yakin yang menggigit gadis itu adalah kelinci?” Serlyne dengan ragunya bertanya.


“Sudah kuduga kalian tidak akan percaya, kalian bisa tanya dengan kapten di tim kami atau tanya dengan anggota-anggota lainnya di tim merah.”


Setelah Candy dan Serlyne melihat keseriusan di wajah Vesty, barulah mereka percaya akan perkataan Vesty.


“Berarti pulau yang kalian tuju tersebut adalah pulau yang paling berbahaya dong.”


Seketika itu juga Vesty berkata dalam hati ( Kalau saja saya tidak mempunyai kekuatan untuk bisa berkomunikasi dengan hewan-hewan di sana, pasti kami semua akan mati di sana, sama seperti 20 tahun yang lalu, mereka semua mati di pulau tersebut ).


“Vesty..Vesty…” Candy memanggil sambil menggoyang-goyang pelan tubuh Vesty.


“Oh ya., ada apa?” ujar Vesty.


“Astaga, kamu melamun lagi.” Serlyne berkata sambil menggeleng-geleng kepalanya.


“Oh, maaf..tadi kalian ngomong apa?”


“Ngomong-ngomong tim Bob kok belum ada kabar ya, dari tadi kami tidak melihat adanya kembang api biru yang dilepaskan.” Candy berkata sambil mengerutkan dahinya.


“Oh iya juga ya.” Serlyne mulai menyadarinya.


Seketika itu juga raut wajah mereka bertiga berubah menjadi serius dan mulai panik.


“Tuankuuu, untung saja Anda selamat.” Pengawal pribadinya berlari menghampiri Pangeran Brave dengan senangnya.


“Sssstttt…kamu mau seluruh orang tahu identitas saya ya!”


“Upss, hehe maaf Tuanku saya terlalu senang melihat Anda kembali dengan selamat.” Pangawal pribadi berkata dengan suaranya yang dikecilkan.


“Bagaimana dengan tim Biru?”


“Belum ada kabar, Tuanku.”


“Belum ada kabar, kok bisa? Sam dia sangat ahli dalam ketahanan tubuhnya kok.”


“Pangeran Sam pasti akan selamat, Tuanku..Anda jangan terlalu khawatir.”


“Ka..kamu buta ya , emangnya saya terlihat khawatir apa.”


***** Bersambung *****