Darklady

Darklady
Hukuman



“Gimana? Kamu sudah mencari informasinya belum?” Pangeran Sam dengan penasarannya bertanya kepada pengawal pribadinya.


“Tuanku, saya dengar sih besok mulai ada pelatihan lagi, karena kemarin para tahanan baru saja selesai menjalani pelatihan kedua tersebut.”


“Trus pelatihan apa yang akan saya jalani besok?”


“Kalau ini saya masih belum tahu, Tuanku .”


“Kamu ini ya… cari informasi yang jelas dan lengkaplah, dasar tak berguna!” keluh Pangeran Sam.


“Maafkan saya, Tuanku.” Berkata sambil menundukkan kepalanya.


Tempat peristirahatan Pangeran Sam dan Brave ditempatkan secara terpisah, mereka akan terus melanjutkan pelatihan mereka hingga mereka mencapai umur 20 tahun. Mereka berdua tinggal di sebuah gedung tinggi yang memang dibangun secara khusus bagi keturunan keluarga Kerajaan Drovil sebagai tempat peristirahatan mereka selama mereka menjalani pelatihan-pelatihan tersebut dan mereka boleh kapan saja pulang ke rumah untuk melepaskan rindu mereka, sedangkan untuk para tahanan yang berasal dari penduduk biasa tidak bisa seenaknya pulang ke rumah, mereka harus menunggu selama 5 tahun atau lebih dari 5 tahun untuk pulang ke rumah dan itupun jika mereka benar-benar dinyatakan lulus atau selamat dalam menjalani pelatihan-pelatihan yang setahun demi setahun akan ditingkatkan kesulitannya tersebut.


“Menurutmu pelatihan apa yang akan saya hadapi?” Pangeran Brave bertanya kepada salah satu pengawal pribadinya.


“Maaf Tuanku, kalau itu saya kurang tahu.”


“ Terus …kamu tahunya apa?” Pangeran Brave berkata dengan kesalnya.


“Akan saya cari tahu sekarang, sekarang juga saya pergi cari tahu, Tuanku.”


“Masih tunggu apa lagi, cepat pergi sana!”


“Oh, baik…Tuanku.”


Beberapa jam kemudian, pengawal pribadinya langsung datang menghadap Pangeran Brave.


“Tuanku, pelatihannya adalah menguji keberanian.”


“Trus?” Pangeran Brave masih menantikan penjelasan lainnya.


“Cuma itu yang saya tahu, Tuanku.”


“Maksudnya keberanian dalam hal apa?”


“Maaf Tuanku, hanya itu saja yang saya tahu.”


Pangeran Brave yang mendengarnya pun hanya bisa menahan emosi dan dia pun memutuskan untuk segera tidur, karena pelatihan kedua yang ditunggu-tunggunya akan berlangsung besok pagi. Beberapa jam kemudian, terdengar suara ayam jantan berkokok, membangunkan 2 pangeran yang sedang tidur pulas.


Pangeran Brave yang mendengar suara ayam berkokok tersebut langsung terbangun dan merasa semangat untuk menjalani pelatihan kedua yang telah ditunggu-tunggu oleh mereka berdua. Sedangkan Pangeran Sam masih tertidur pulas di atas ranjangnya yang empuk, dia sempat mendengar ayam berkokok, tapi tak dihiraukannnya sehingga pengawal pribadinya yang turun tangan sendiri untuk membangunkannya.


“Tuanku, sudah pagi…..”


“Hemmm…” Pangeran Sam tidak menghiraukan panggilan tersebut dan dia masih terus saja tidur.


“Tuanku, Pangeran Brave sudah bangun lho!”


Seketika itu juga Pangeran Sam langsung membuka matanya.


“Kenapa kau gak bangunkan saya dari tadi sih?” kesal Pangeran Sam.


“Tuanku saya sudah dari jam 6 pagi membangunkan Anda, tapi Anda gak menghiraukan saya sama sekali.”


“Alaaa….jangan cari alasan, lalai tetaplah lalai,” kesal Pangeran Sam.


Pengawal pribadinya pun hanya bisa pasrah mendengarkan ocehan Pangeran Sam.


**********


“Kira-kira menurutmu mereka akan membawa kita ke mana ya?” tanya Serlyne kepada Candy.


“Entahlah, saya juga tidak tahu, mata kita tertutup oleh kain, gimana bisa tahu.” Candy menjawabnya dengan pasrah.


Mereka dituntun oleh para prajurit bertopeng ke arah hutan lebat. Para tahanan berjalan mengikuti para prajurit yang memimpin jalan di depan mereka. Tangan mereka diikat dengan tali, tali yang diikatkan ke tangan para tahanan tersebut dihubungkan satu sama lainnya agar tidak ada yang bisa melarikan diri. Mereka semua diikat tangannya dibariskan secara satu persatu bagaikan semut yang sedang berjalan.


Tiba-tiba saja para prajurit bertopeng yang memimpin jalan paling depan menghentikan langkah kaki mereka. Salah satu pimpinan prajurit bertopeng tersebut memberikan aba-aba tanda bahwa menyuruh anak buahnya untuk melepaskan kain penutup yang menutup mata para tahanan tersebut.


“Karena kalian telah gagal dalam menghadapi pelatihan kedua, maka hukuman kalian masih tetap saja akan berhubungan dengan “Tamu Spesial” kalian masing-masing. Hukuman kalian adalah menjadi “budak”, kalian harus menjadi budak “Tamu Spesial” kalian masing-masing dengan cara melayani “mereka”.


“Hah? “Melayani” mereka? Sudah gila apa mereka? Emangnya binatang tersebut adalah raja, suruh manusia yang melayani hewan,” keluh Bob.


“Kalian harus “melayani” dengan cara mencarikan makanan kesukaan “mereka”. Jika mereka memakan makanan yang kalian cari, maka hukuman kalian akan dianggap selesai. Sedangkan jika “tamu spesial” kalian enggan untuk memakan makanan yang kalian cari itu, maka kalian lah yang akan menjadi “santapan” mereka. Kalian akan diberikan 3 kali kesempatan untuk mencari makanan yang lain lagi untuk “Tamu Spesial” kalian masing-masing, jika “Tamu Spesial” kalian tidak memakan hasil buruan kalian. Di alas bawah sepatu kalian sudah diolesi dengan minyak hijau, jadi meskipun kalian berada di tempat yang jauh, kalian masih tetap bisa mencari jalan kembali ke tempat sini dengan mengikuti jejak minyak hijau dari jejak sepatu kalian, dengan begitu kalian tidak akan tersesat di hutan belantara ini. Satu Dan ada satu hal lagi, jangan coba-coba untuk melarikan diri, kalau tidak keluarga kalian yang akan kena akibatnya. ”


Para tahanan yang mendengarnya pun hanya bisa diam membisu.


“Ternyata cuma disuruh mencarikan makanan untuk “tamu spesial” sialan itu doang, gampang…gampang kok!” ujar Bob.


“Tamu spesial kamu apa? Kamu lupa ya?” Candy bertanya kepada Bob.


“Ya iyalah, saya masih ingat, macan tutul, emangnya kamu kira saya kakek-kakek apa, dah pikun gitu.”


“Trus makanan macan tutul apa?” Candy balik lagi bertanya kepada Bob.


“Ya, kayak rusa, kijang, zebra….pokoknya herbivora kan?” Bob masih menjawabnya dengan santai.


“Trus kamu mau memburu mereka semua, lalu menjadikan mereka makanan macan tutul. gitu?” Serlyne juga ikut-ikutan bertanya kepada Bob.


“Hah? berburu? Sa..saya gak pernah memburu hewan sebelumnya, apalagi jika harus membunuh hewan-hewan tersebut, sa…saya mana tega.”


“Kalau kamu tidak berburu gimana caranya kamu mendapatkan makanan untuk “tamu spesialmu” itu ?” Candy bertanya balik ke Bob.


“Sa…sa…saya gak mungkin berburu, itu terlalu sadis.”


“Makanya kamu jangan seenaknya bilang CUMA memberikan mereka makanan DOANG, kamu kira itu gampang apa,” ujar Candy.


Bob yang mendengar sindiran Candy langsung diam dan terbengong. Bob hanya terdiam bagaikan manusia yang berdiri tanpa ada rohnya, tatapan matanya menjadi kosong sejenak.


Setelah mendengar aba-aba dari pimpinan prajurit bertopeng tersebut, para tahanan pun langsung mempersiapkan mentalnya untuk menjalankan hukuman mereka tersebut. Karena “tamu spesial” Candy adalah tawon, dia pun bingung harus mencari makanan apa untuk tawon.


“Mmm, saya mau tanya, apa makanan tawon?” Candy bertanya kepada salah satu prajurit bertopeng di sana.


“Tugas kamu adalah cari sarang madu.”


“Tawon makan sarang madu?”


“Pokoknya cari saja sarang madu. Cepat pergi cari sana!” ketus prajurit bertopeng tersebut.


“Berarti saya akan disengat oleh lebah-lebah dong, gimana caranya saya mengambil sarang madu kalau gitu,” ujar Candy dalam hatinya.


Candy pun hanya bisa mengumpat dalam hatinya dan langsung pergi mencari sarang madu. Awalnya dia kesusahan mencari sarang madu, tapi tak lama kemudian dia menemukan sarang madu tergantung di salah satu batang pohon tepat di hadapannya, Candy yang melihatnya pun langsung lompat kegirangan. Pada saat Candy menghampiri tempat tersebut, alangkah terkejutnya dia melihat bahwa tempat tersebut dibatasi oleh sungai yang di dalamnya terdapat banyak sekali buaya, mulai dari yang besar dan kecil pun ada di dalam sungai tersebut, Candy yang melihatnya hanya bisa melongo melihat tempat tersebut, dia tak tahu harus berbuat apa agar bisa melewatinya dengan aman.


Selanjutnya Serlyne, dia harus mencari sesuatu hewan kecil yang bisa ditelan oleh ular yang dia takutin tersebut. Pada awalnya, dia melihat ada seekor tupai kecil yang tidak jauh dari pandangannya, tupai tersebut sedang memakan buah di bawah pohon rindang dengan santainya, Serlyne berusaha untuk menangkap tupai kecil tersebut, tetapi pada saat ia ingin menangkap tupai kecil tersebut, tupai kecil tersebut menoleh memandanginya dengan tatapan mata yang tidak berdosa dan Serlyne yang melihatnya menjadi tidak tega untuk menangkapnya.


“Waduhhh, gimana ini, dia begitu lucunya, mana mungkin saya tega menangkapnya terus menjadikannya makanan ular sialan tersebut? ” Serlyne dengan gelisahnya berkata dalam hati.


“Baiklah, kali ini saya mengabaikan dirimu tupai kecil, kamu tidak layak jadi makanan ular, akan saya cari mangsa yang lain saja.”


Serlyne pun mulai melanjutkan perjalanannya sambil memandang ke arah kiri dan kanan hutan tersebut. Pencariannya membawakan hasil, dia menemukan ada seekor bayi elang yang baru saja dilahirkan jatuh dari sarangnya di atas pohon yang berada tepat di sebelah kirinya.


“Ahaa, ini dia….bayi elang….saya harap dia sudah mati, jadi saya sama sekali tidak akan merasa berdosa.”


Pada saat Serlyne meraba bayi elang tersebut, bayi elang tersebut masih bergerak. Serlyne yang melihatnya pun menjadi kasihan karena bayi elang tersebut ternyata masih hidup dan kondisinya tidak begitu baik, salah satu sayapnya terluka dan berdarah.


Kamu masih hidup ya, pasti kamu merasa kesakitan ya? Gimana ini ya, dia masih hidup, gak mungkin saya jadikan dia sebagai makanan ular kan? Itu namanya pembunuhan berencana, tidak….saya tidak mau seperti ini….Gimana ya?”


Seketika itu juga Serlyne langsung mengurungkan niatnya untuk menangkap bayi elang yang mengalami cedera tersebut.


Serlyne pun memutuskan untuk memanjat pohon tersebut dan meletakkan bayi elang tersebut kembali ke sarangnya. Setelah itu, Serlyne terus melanjutkan perjalanannya untuk mencari mangsa yang tepat untuk “tamu spesialnya” itu. Tiba-tiba dari kejauhan dia mendengar suara teriakan binatang kecil yang memilukan….hruuu....hruuu…Serlyne langsung berlari ke arah suara teriakan tersebut. Alangkah terkejutnya dia melihat sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan hati, dia melihat seekor ular piton kecil sedang melilit tubuh burung hantu kecil yang sedang berusaha meronta-ronta ingin menyelamatkan dirinya dan ada satu burung hantu lainnya yang agak besar sedang berusaha menggunakan cakarnya untuk mencakar-cakar ular piton kecil tersebut.


“Kayaknya itu induknya yang ingin menolong anaknya,” ujar Serlyne sambil berjalan mendekati ular piton tersebut.


Induk burung hantu tersebut berusaha sekuat tenaga untuk menolong anaknya, tapi itupun tidak mempan, ular tersebut malah semakin mengencangkan lilitannya.


“Heii, heiiii…kau ular jahat enyah kau!” Serlyne segera menghampirinya.


Serlyne berusaha mencari tongkat kayu di sekitarnya untuk memukul ular piton tersebut. Tak lama kemudian, dia menemukan tongkat kayu yang cukup besar, setelah itu dia arahkan ke tubuh ular piton tersebut tapi sama sekali gak mempan, Serlyne langsung mengubah arah pukulannya ke arah kepala ular piton kecil tersebut. Saat ia memukul kepala ular piton kecil tersebut, ular tersebut mulai melonggarkan lilitannya dan akhirnya ular piton kecil tersebut pun menyerah dan melarikan diri. Induk burung hantu tersebut tetap saja terbang mengejar dan menggunakan cakarnya yang tajam mencabik-cabik tubuh piton kecil tersebut sampai berdarah-darah. Karena burung hantu tersebut tak henti-hentinya mencabik-cabik tubuh piton kecil tersebut, pada akhirnya piton kecil tersebut langsung mati di tempat. Serlyne yang melihatnya hanya langsung melongo sambil memeluk burung hantu kecil yang sudah lemas akibat lilitan ular piton tersebut.


“Apakah kamu baik-baik saja?” Serlyne berkata sambil mengelus-elus kepala burung hantu kecil tersebut.


Pada saat Serlyne dengan lembutnya mengelus-elus tubuh burung hantu kecil tersebut, induk burung hantu tersebut langsung bertengger di sebuah ranting pohon tepat di hadapannya. Sang induk terus menatap Serlyne dengan matanya yang besar nan bulat tersebut.


“Tenang saja, saya tidak akan menyakitinya, saya hanya ingin memastikan apakah dia baik-baik saja.”


Tak lama kemudian, burung hantu kecil tersebut langsung perlahan-lahan membuka matanya, Serlyne yang melihatnya pun langsung menjadi senang dan lega. Burung hantu kecil tersebut pun langsung pergi terbang menghampiri induknya. Pada saat burung hantu kecil itu terbang menghampiri induknya, mereka berdua tidak langsung terbang meninggalkan Serlyne, mereka berdua menatap sejenak Serlyne terlebih dahulu sambil mengeluarkan suara hruuu..hruuu sambil menggangguk-anggukkan kepala mereka, seolah-olah mereka sedang mengucapkan terima kasih kepada Serlyne yang sudah baik hati menolong mereka. Serlyne yang melihatnya pun langsung tersenyum kecil. Setelah kedua burung hantu tersebut terbang pergi meninggalkan Serlyne, dia pun langsung teringat akan tugasnya untuk mencari mangsa.


“Waduhhh, mangsa….saya harus cari mangsa….gimana nih?”


Tiba-tiba saja matanya tertuju pada ular piton kecil yang sudah mati tersebut.


“Ahaaa….itu kan bisa dijadikan mangsa! Yes….saya tidak perlu bersusah payah mencari binatang hidup untuk dijadikan mangsa “tamu spesial” ku yang sialan itu. Biarkan saja ular makan ular, toh sama-sama jahat.”


Serlyne pun langsung membawa ular mati tersebut untuk diserahkan kepada prajurit bertopeng. Dia mengikuti jejak kakinya sendiri untuk berjalan balik ke tempat awal tersebut.


Berikutnya Bob, saat Bob berjalan menyusuri hutan-hutan yang lebat tersebut, dalam pikirannya terlintas banyak sekali cara ataupun taktik untuk mendapatkan mangsa dengan cara tidak berburu ataupun membunuh. Cara pertama, dia berangan-angan, andai kata ada seekor rusa ataupun zebra kecil yang sedang berkeliaran sendirian, maka dia akan langsung mengambil batu besar menghantam kepalanya, membiarkan dia pingsan langsung membawanya dan menjadikannya mangsa.


“Hahaha,,,betul juga tanpa bunuh, cukup pukul sampai pingsan saja….( tiba-tiba saja ) Tapi….itu sama saja dengan penganiayaan, sama aja sadis….dan mana saya tahu itu pingsan atau mati? Kalau ternyata dia mati akibat pukulan saya, itu sama saja saya membunuh….aduhh…gimana nih!” Bob yang awalnya mengira cara pertamanya itu bagus, langsung menjadi gelisah.


“Tidak, tidak…itu hapus…hapus…Ok..sekarang cara ke 2.”


Dia mulai berangan-angan, { bagaimana kalau saya mencari katak beracun dan saya oleskan racun katak tersebut ke dalam rumput-rumput segar, saya tebarkan rumput-rumput tersebut ke tempat di mana terdapat hewan-hewan pemakan rumput dan anggap saja bagi siapa yang memakan rumput beracun tersebut, berarti dialah yang sial, karena bukan saya sendiri yang memberikannya secara langsung. Wooww…good idea…hehehe }. Tiba-tiba saja terdengar suara malaikat kecil terngiang di telinganya.


“Please deh, apanya yang sial ha? Itu sama aja dengan pembunuhan berencana, apa bedanya dengan ide pertamamu yang tadi? Iya, memang bukan kamu yang secara langsung memberikannya rumput tersebut, tapi kamu dengan sengajanya mengoleskan racun pada beberapa rumput tersebut, itu sama saja dengan pembunuhan berencana, ****!”


Seketika itu juga gambaran Bob yang ke 2 perlahan-lahan buyar dan hilang karena apa yang dikatakan hati nuraninya itu sangatlah benar.


“Jadi? Saya harus pakai cara apa dong? Kalau saya gagal 3 kali, saya yang akan jadi mangsanya, saya gak mau membunuh dan tak mau juga dibunuh dan dimangsa.”


Tiba-tiba saja Bob mendengar suara gemuruh, diapun menghampirinya. Tak jauh dari pandangan matanya, dia melihat 2 ekor kijang jantan sedang saling adu kekuatan dengan menggunakan tanduk mereka masing-masing yang besar tersebut. Kedua kijang jantan tersebut saling mendorong satu sama lain dengan tanduknya yang panjang nan tajam tersebut. Bob yang melihatnya pun hanya bisa melongo dan mematung seketika. Salah satu kijang jantan terlihat sangat lemah, dia berkali-kali terdorong dan tertusuk oleh tanduk lawannya, yang satunya tanpa ampun terus mendorongnya dan menusuk-nusuk kepala lawannya berkali-kali sampai dia berdarah-darah. Tak lama kemudian, kedua kijang jantan tersebut menghentikan perkelahian mereka, kijang jantan yang satunya sudah terluka sangat parah, dia hanya bisa terbaring sambil menahan sakit dan tak lama kemudian diapun langsung mati. Bob yang melihatnya pun langsung berkata.


“Ahaa….ini adalah planning ke 3….akan saya bawa bangkainya untuk dijadikan mangsa macan tutul.”


Bob pun langsung memberanikan diri mengambil bangkai tersebut, dia cepat-cepat menyeret bangkai tersebut karena dia takut akan ada hewan buas lainnya yang akan merebut bangkai yang ia seret tersebut.


“Hahaha…saya tidak menyangka, saya beruntung sekali mendapatkan “mangsa” tanpa harus menodai tanganku sendiri. Dan kamu…( melihat ke arah bangkai yang ia bawa ) janganlah dendam dengan saya ya….setidaknya saya menguburkan badanmu ke perut yang sama, jika saya membiarkan tubuh kamu di sini, pasti kamu dikubur di perut-perut hewan yang berbeda, ntar susah reinkarnasinya loh ! Jadi, niat saya adalah baik, hanya ingin menguburkan dirimu di tempat yang sama…mohon kamu ngerti ya.”


Sementara itu, Candy masih saja melongo di tempat yang sama, dia sedang berusaha memikirkan cara untuk bisa melewatinya tanpa harus diserang oleh buaya-buaya yang ada di sungai tersebut. Setelah Candy berpikir lama, dia pun akhirnya menyerah, dia memutuskan untuk mencari ke tempat lain yang ada sarang madunya. Candy pun mulai meninggalkan tempat tersebut dan mengarahkan dirinya ke tempat lain berharap dia bisa mendapatkan sarang madu lagi.


“Ahaa, lebih baik saya mencari tempat di mana adanya lebah, di mana ada lebah pasti di situ ada sarang madu mereka….hehe…betul juga. Nah…sekarang saya harus melihat apakah di sekitar sini ada sarang lebah atau tidak.” Candy berkata sambil menerawang sekitarnya.


Tiba-tiba saja Candy menghentikan langkah kakinya.


“Eiitt, bentar…Kalau lebah-lebah tersebut menyerang saya gimana ?”


Setelah itu, Candy pun melihat sekitar dan mematahkan beberapa ranting-ranting yang masih berdaun.


“Ini senjata untuk mengusir lebah, jika mereka ingin menyerang saya setidaknya saya ada senjata pelindung untuk mengusir lebah-lebah tersebut.”


Candy terus saja menerawang sekitarnya berharap bisa menemukan sarang lebah yang ia maksud tersebut. Tak lama kemudian, Candy mendengar suara kerumunan ….weng…weng…weng…..


“Lebah, itu suara lebah.”


Candy dengan senangnya berjalan ke arah suara-suara lebah tersebut berasal. Dia mencium bau yang sangat menyengat, ternyata itu bukan suara lebah, melainkan suara lalat-lalat yang sedang berkerumunan di bangkai zebra yang sudah membusuk.


“Hiiih! Saya kira lebah.” ujar Candy sambil menutup hidungnya menahan bau busuk yang sangat menyengat tersebut.


Setelah mencari begitu lama, akhirnya dia berhasil menemukan tempat yang ia maksud tersebut.


“Wowww, baru pertama kali saya melihat sarang madu yang begitu besar,” ujar Candy dengan takjubnya sambil menatap sarang madu yang ada di seberangnya tersebut.


Ternyata letak sarang madu tersebut dibatasi oleh rawa lumpur hisap (lumpur hidup).


Oh my god….yang pertama dibatasi oleh sungai penuh buaya, sekarang dibatasi oleh rawa lumpur hisap….hemmm…setidaknya ini lebih mending dibandingkan sungai yang penuh dengan buaya tadi. Sekarang saya harus betul-betul memikirkan cara agar bisa melewatinya dengan selamat.”


Karena rawa lumpur hisap tersebut tidak begitu lebar, maka Candy pun berusaha mencari batang pohon yang telah patah yang bisa ia rentangkan dari tepi ke tepi rawa tersebut dijadikan sebagai sebuah jembatan kecil untuk melewati rawa tersebut. Candy pun mulai melakukan aksinya untuk mencari batang pohon yang bisa ia jadikan sebagai jembatan, tak lama kemudian, Candy akhirnya menemukan batang pohon yang dicari-carinya tersebut. Candy pun menyeret batang pohon tersebut dengan sekuat tenaganya. Sret….sret…sret… (bunyi seretan batang pohon) dan akhirnya dia pun berhasil menyeret batang pohon tersebut ke rawa tersebut. Setelah dia merentangkan batang pohon dari tepi ke tepi lainnya, Candy pun dengan tenangnya mulai menapaki jembatan kecil tersebut. Candy dengan hati-hatinya melangkah satu demi langkah sambil merentangkan kedua lengannya agar bisa menyeimbangkan tubuhnya, dia benar-benar harus ekstra hati-hati karena kalau sekali jatuh, maka dia akan terhisap oleh lumpur tersebut. Dengan hatinya yang tenang akhirnya dia berhasil melewatinya dengan selamat dan Candy pun langsung memanjat ke atas pohon di mana terdapat sarang madu tersebut. Pada saat Candy memanjat ke atas pohon tesebut, tiba-tiba saja sekerumunan lebah terbang menjauh darinya. Candy yang melihatnya merasa terheran-heran, dia kira akan dia akan langsung diserang oleh lebah, tetapi para lebah tersebut malah terbang menjauh seolah-olah mengizinkan Candy untuk mengambil sarang madunya tersebut. Candy yang awalnya sangat dag dig dug itu menjadi lebih lega dan akhirnya dia pun dengan mudahnya mengambil sarang madu tadi.


“Ibu, kenapa kita biarkan manusia itu mengambil sarang madu kita?” ujar salah satu lebah kecil.


“Tidak apa-apa nak, kita bisa buat sarang madu lagi. Kita berhutang budi kepada seseorang dan kita harus menolongnya.”


“Manusia itu pernah menolong kita?”


“Bukan dia, tapi temannya yang pernah menolong keluarga kita. Penolong kita bernama Vesty.”


“Ooh, lalu kenapa kita harus menolong temannya?”


“Vesty yang meminta tolong ke kita untuk tidak menyerang temannya itu, dia mengambil sarang madu kita karena terpaksa bukan karena keinginannya, jadi biarkan dia ambil saja…toh kita bisa buat lagi sarang madunya.”


Setelah itu, Candy pun balik ke tempat asalnya tadi dengan mengikuti jejak kakinya kembali ke tempat awal. Bob juga berhasil , hasil tangkapannya juga diterima baik oleh “tamu spesialnya”. Sedangkan Serlyne, ular piton kecil yang telah mati tadi tidak diterima baik oleh “tamu spesialnya”, itu dikarenakan ular tidak mau memakan bangkai, mereka lebih suka memakan mangsa yang hidup, mangsa yang ia bunuh secara langsung dan setelah itu menelannya bulat-bulat.


“Kamu sudah gagal 1 kali, masih ada 2 kali kesempatan. Bagi kalian yang sudah menyelesaikan hukuman kalian boleh naik kendaraan di sebelah sana dan pulang.” Pemimpin prajurit bertopeng berkata dengan lantangnya.


“Waduhhh, gimana ini? Serlyne gagal.” Bob berbisik-bisik kepada Candy.


“Saya juga tidak tahu harus gimana, langit sudah mulai gelap, saya hanya berharap dia bisa menyelesaikannya sebelum langit gelap.”


“Apakah saya boleh menemaninya? Kasihan dia, dia itu perempuan, langit sudah sore, ada baiknya ada seseorang yang menemaninya,” Bob bertanya kepada pemimpin prajurit bertopeng tersebut.


“Kamu kira ini adalah permainan? Bisa ditemanin? Tidak ada peraturan seperti itu dan kalian tidak ada hak untuk memohon sesuatu kepada kami. Cepat naik ke kendaraan dan enyahlah!”


“Tapi……”


Bob belum selesai bicara, Candy langsung mencubit lengannya.


“Auchhh…sakitt…” ujar Bob kesakitan.


“Sudahlah Bob, percuma saja…tindakanmu hanya membuat suasana menjadi panas saja.”


“Bob, thanks…..niat baikmu saya hargai…tapi saya tidak mau menyusahkanmu, saya akan menyelesaikannya, kalian berdua pulanglah! Saya akan baik-baik saja, percayalah padaku,” ujar Serlyne yang berusaha tegar.


Bob dan Candy pun hanya bisa terpaksa meninggalkan Serlyne di sana dan masuk ke dalam kendaraan meninggalkan hutan tersebut.


“Bagi kalian yang telah gagal, gunakan kesempatan kedua kalian ini untuk menyelesaikan tugas kalian, jika tetap gagal di kesempatan ketiga, maka kalian akan menanggung akibatnya, kalian ngerti?” Pemimpin prajurit bertopeng berteriak dengan lantangnya.


Setelah mendengar aba-aba dari para prajurit bertopeng, para tahanan pun langsung siap siaga untuk mengincar mangsa yang lainnya lagi. Serlyne pun mulai melangkahkan kakinya ke arah hutan nan lebat tersebut.


“Sial, mangsa apa yang harus saya cari? Oh my god, apa yang harus saya cari?” Serlyne berkata dengan terisak-isak.


“Saya harus mendapatkan mangsa tersebut sebelum langit menjadi gelap.”


Tak lama kemudian, terdengar suara hruu..hruu…dari kejauhan. Tiba-tiba saja seekor burung hantu terbang melewati Serlyne dan burung hantu itu pun berhenti tepat di depan Serlyne. Burung hantu tersebut membawakan seekor tikus sambil menatap ke arah Serlyne.


***** Bersambung *****