
( Di kediaman Raja Drovil )
“Hahahaha…benarkah itu? Tim kita telah menyelesaikan 3 misi? Bagus, bagus itu… saya tidak menyangkanya sama sekali. 20 tahun yang lalu, mereka hanya bisa menyelesaikan 1 misi saja.”
“Itu benar, Yang Mulia. Untuk saat ini mereka berhasil menyelesaikan 3 misi.”
“Tim apa yang belum menyelesaikannya?”
“Tim Biru, Yang Mulia.”
“Berarti itu tim yang dipimpin oleh Pangeran Sam.”
“Lapor, Yang Mulia. Ratu Rose ingin menemui Yang Mulia.”
“Saya sedang sibuk, usir aja dia!”
Tiba-tiba saja Ratu Rose menerobos masuk ke dalam dan menunjukkan ekspresinya yang dendam dan menatap tajam ke arah Raja Drovil.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kau menerobos masuk tanpa izin dari saya.”
“Berani-beraninya kamu memasukkan Sam ke tim Biru, semua orang Istana sudah tahu bahwa Pulau Merah dan Biru adalah Pulau yang paling berbahaya. Kamu juga melarang pengawal pribadi mereka untuk ikut ke sana, kamu sengaja kan? Kamu sengaja membiarkan putraku dan Brave ke pulau yang berbahaya agar tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan posisimu, iya kan?” Ratu Rose berkata dengan emosinya.
“Perempuan gila, pengawal! Seret dia keluar ! Sekarang juga!”
“Kalau terjadi apa-apa dengan putraku, saya tidak akan tinggal diam, saya akan membunuhmu! Dasar Tua Bangka! Kalau saya tidak bisa membunuhmu, selama saya masih hidup saya akan terus mengutukmu sampai kamu mati! Ingat itu!” Ratu Rose mengumpat sambil meronta-ronta karena dia ditarik oleh pengawal-pengawal di sana.
“Berani-beraninya kau bilang saya Tua Bangka! Pengawal, masukkan dia ke dalam penjara dan jangan kasih dia makan tanpa izin dari saya, cepat!”
Ratu Rose pun ditarik secara paksa dan dimasukkan ke dalam penjara.
“Sial! Tinggal 1 misi lagi, saya tidak akan membiarkan upaya kali ini sia-sia begitu saja!”
“Kirim beberapa prajurit ke sana dan sampaikan kepada tim-tim lainnya yang selamat untuk berangkat ke pulau Biru dan selesaikan misi tersebut.”
“Tapi Yang Mulia….. Para tim lainnya akan dipulangkan karena mereka telah berhasil menyelesaikan misi-misi mereka masing-masing. Itu sudah peraturan kita dari awalnya, Yang Mulia.”
“Saya adalah Raja di Pulau ini, saya berhak untuk mengubah peraturan tersebut. Lakukan apa yang saya perintahkan, jika tidak nyawamu yang akan melayang. Jika ada tim yang melawan, langsung ditembak mati di tempat, ngerti!”
“Ba..baik, Yang Mulia.” Pengawal tersebut langsung ketakutan dan langsung pergi melaksanakan perintah Sang Raja Drovil.
( Di tempat tim-tim lain berkumpul )
“Lapor, Tuanku. Kita kedatangan tamu yang tak diundang,” bisik pengawal pribadi Pangeran Brave.
Pangeran Brave pun langsung berjalan keluar dari tendanya, dia melihat ada beberapa prajurit bertopeng yang diutus oleh Sang Raja.
“Siapa kalian?”
“Kami diutus oleh Sang Raja, Yang Mulia menyuruh saya untuk menyampaikan suatu hal kepada mereka semua.” ujar pemimpin prajurit bertopeng tersebut.
“Hal apa? Biarkan saya yang menyampaikannya.” tegas Pangeran Brave.
“Tidak bisa, karena Yang Mulia menyuruh saya yang harus menyampaikannya secara langsung kepada mereka. Jadi, kamu tidak perlu ikut campur.” ujarnya dengan angkuh.
“Baiklah, silakan.” Pangeran Brave membiarkan prajurit tersebut mengambil alih.
“Tim Biru memerlukan kalian untuk membantu mereka menyelesaikan misinya. Jadi sebelum kalian menyelesaikan misi di Pulau Biru, kalian tidak diperbolehkan untuk pulang.”
“Menurutmu, apakah Ayah memberi perintah seperti itu karena khawatir akan keselamatan Pangeran Sam atau karena ingin mendapatkan batu cahaya biru?” Pangeran Brave bertanya kepada pengawal pribadinya.
“Saya juga tidak tahu, Tuanku.”
“Kenapa peraturannya diubah seperti itu? Kami sudah bersusah payah menyelesaikan misi kita masing-masing dan kami harus melaksanakan 1 misi lagi?” ujar salah satu tahanan yang tidak setuju akan perintah tersebut.
“Benar itu…iya benar itu.” Beberapa tahanan lainnya juga ikut bersuara.
Seketika itu juga, suasana pun menjadi gaduh dan tegang. Para tahanan lainnya tak henti-hentinya protes.
Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dan tembakan tersebut mengenai salah satu tahanan yang barusan saja protes tersebut hingga mati di tempat. Para tahanan yang melihatnya pun langsung histeris.
“Apa yang kau lakukan, kenapa menembaknya?” Pangeran Brave dengan emosinya mendorong salah satu prajurit bertopeng yang menembak mati tahanan tersebut.
“Dia sudah mati.” Vesty berkata sambil memegang leher tahanan yang ditembak tersebut.
“Ini adalah perintah dari Sang Raja, bagi siapa yang melawan, maka akan ditembak mati,” ujar pemimpin prajurit bertopeng sambil memandang dengan sombongnya ke arah Pangeran Brave.
“Turuti perintah atau mati. Kalian pilihlah sendiri.”
Para tahanan yang lainnya pun hanya bisa pasrah menerima perintah tersebut tanpa bersuara apapun. Vesty dan Pangeran Brave hanya bisa menatap prajurit-prajurit tersebut dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan.
“Apa yang kalian tunggu, sekarang berangkat dan siapkan kapal-kapal tersebut.” Pemimpin prajurit bertopeng tersebut memerintah dengan sombongnya.
“Sebentar!” Pangeran Brave menghentikan perintah pemimpin prajurit tersebut.
“Pangeran Brave, saya rasa sebaiknya kamu tidak usah ikut campur.” ujar prajurit yang angkuh tersebut berbisik ke arah telinga Pangeran Brave.
Pangeran Brave yang mendengarnya pun langsung terkejut, dia tidak menyangka bahwa pemimpin prajurit tersebut tahu akan identitasnya.
“Sang Raja sudah memberikan kami perintah, bagi siapa yang melawan, maka dia akan dibunuh, tak terkecuali dia adalah Pangeran sekalipun.” Prajurit tersebut berkata dengan suara lantangnya di hadapan banyak tahanan.
Para tahanan yang mendengarnya pun langsung terkaget-kaget dan berbisik-bisik, mereka tidak menyangka bahwa Kapten tim merah adalah seorang Pangeran. Vesty yang mendengarnya pun langsung kaget dan memandang ke arah Pangeran Brave. Tak lama kemudian, para tahanan pun langsung dipaksa untuk naik ke atas kapal, Pangeran Brave pun disuruh naik ke atas kapal.
Setelah berlayar selama 2 hari 2 malam, mereka akhirnya tiba di Pulau Biru. Sama seperti pulau Merah dan Putih, pulau tersebut semuanya berwarna biru. Sesampai di sana, mereka pun langsung melihat keadaan sekitar.
“Karena kalian adalah tim Keberanian, maka tim kalianlah yang memimpin jalan di depan,” ujar pemimpin prajurit bertopeng yang angkuh tersebut.
“Apa? Berani-beraninya kamu memerintah Pangeran Brave!” ujar pengawal pribadi Brave yang sangat kesal akan perkataan prajurit tersebut.
“Ok, tidak masalah. Orang yang lemah memang harus kita lindungi. Jangan khawatir, tim kami dan tim lainnya akan berusaha melindungimu, Si Lemah!” ujar Pangeran Brave sambil menyindir prajurit angkuh tersebut.
Sontak perkataan Pangeran Brave tersebut langsung diikuti dengan senyuman dan tawa kecil oleh semua para tim lainnya. Prajurit yang angkuh tersebut pun hanya bisa menahan malu dan menahan amarahnya. Setelah itu, Pangeran Brave memimpin tim Merah melangkah maju masuk ke dalam hutan Biru tersebut, begitu pula dengan tim-tim lainnya.
***** Bersambung *****