
“Saya juga tidak tahu misi apa, saya hanya tidak sengaja mendengar perkataan ini dari prajurit bertopeng, itu saja,” ujar Candy.
Tiba-tiba terdengar suara alarm yang menandakan bahwa semua tahanan disuruh untuk berkumpul di suatu ruangan. Pada saat mereka berkumpul, Bob pun melihat ada seorang gadis sedang ngobrol dengan Vesty dan secara spontan berjalan menghampiri mereka.
“Hello! Nama saya Bob. Nama kamu ?” Bob bertanya dengan tatapan mata nakalnya memandang ke arah Candy.
“Saya rasa kamu gak perlu tahu nama saya, karena sekali kamu tahu pasti ujung-ujungnya akan memicu saya untuk menonjokmu,” ketus Candy.
“Woww, gualaakk amattt….tapi saya suka dengan cewek galak, hehe..”
“Sudah berapa lama kamu di sini ?” tanya Vesty kepada Candy.
“Sudah setengah tahun. ”
"Oh namamu Candy toh......"( belum sempat selesai ngomong, Candy pun langsung menatap Bob dengan tajamnya )
"Ehem...namamu unik kok, hehe.." ujar Bob karena takut akan tatapan mata Candy yang sangat horror tersebut.
“Pelatihan keras apa saja yang kamu alami selama setengah tahun ini.” Vesty bertanya lagi.
“Selama setengah tahun ini saya tidak menjalankan pelatihan apapun.”
“Haa? Lalu kamu ngapain saja selama setengah tahun ini ?” Bob bertanya kepada Candy.
“Itu karena saya telah melanggar peraturan, makanya saya dihukum untuk tidak melakukan pelatihan apapun selama setengah tahun.”
“Peraturan apa yang kamu langgar ? Enak benar bisa santai selama setengah tahun, saya juga mau ah melanggarnya, kasih tahu dong, apa yang kamu langgar ?” Bob berkata sambil perlahan-lahan mendekati Candy.
“Apa ? Enak ? Santai selama setengah tahun ? Emangnya saya ada bilang saya bersantai-santai selama setengah tahun ?” Candy berkata dengan nada suaranya yang mulai tinggi sambil melototi Bob yang berbicara seenaknya.
“Hukuman apa yang kamu alami selama setengah tahun ?” Vesty bertanya kepada Candy.
“Tidak diberikan makanan, semua makanan saya cari sendiri di tengah-tengah hutan, saya diasingkan di sebuah ruangan sempit dan gelap yang letaknya berada di tengah-tengah hutan. Setiap jam 11 siang dan jam 7 malam, itu adalah jam saya mencari makanan di tengah-tengah hutan. Pintu ruangan yang saya tinggal akan terbuka secara otomatis di jam 11 siang dan 7 malam. Setelah keluar dari pintu tersebut, maka pintu tersebut pun juga akan secara otomatis tertutup lagi. Saya hanya diberikan 30 menit untuk mencari makanan, jika sudah lewat dari 30 menit masih belum kembali ke ruangan, maka pintu itu tidak akan bisa dibuka lagi dan hanya akan terbuka lagi di jam berikutnya.”
“Baguslah kalau begitu, kamu bisa menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri kan? ” ujar Bob.
“Saya sudah coba, tapi tetap saja saya gagal melarikan diri, ada batas lingkaran yang tidak bisa dilewati, batas lingkaran tersebut berlistrik, saya dah berkali-kali kena setruman tersebut, sakitnya luar biasa sekali.”
“Terus….apakah kamu ketahuan kalau kamu coba melarikan diri ?” Vesty dengan seriusnya bertanya.
“Tentu saja ketahuan, aliran listrik yang saya sentuh itu mengeluarkan bunyi, tak lama kemudian saya langsung pingsan karena sengatan listrik tersebut. Setelah saya bangun, saya sudah berada di dalam sebuah ruangan yang sempit dan tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, suara tersebut menjelaskan bahwa dikarenakan saya tidak jera dan masih saja mencoba untuk melarikan diri, maka sejak saat itu jam keluar untuk cari makan diubah menjadi 1 hari sekali di jam 7 malam saja.”
“Astagaaaa, gimana caranya kamu bisa bertahan hidup sampai sekarang ?” Bob bertanya dengan terheran-herannya.
“Mau tak mau, setiap jam 7 malam saya harus mencari makanan sebanyak-banyaknya untuk bekal makan siang agar bisa bertahan sampai besok malamnya dan keluar lagi mencari makanan.”
“Berarti kamu dihukum karena “melarikan diri ” ?” Vesty bertanya kepada Candy.
“Iya, benar.” Candy menjawab sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Lalu…makanan apa yang kamu makan di sana ?” tanya Bob dengan penuh penasaran.
“Apa saja....yang penting bisa dimakan..” ujar Candy dengan dinginnya.
“A..apa saja?...jadi kamu makan segalanya yang kamu temui?” Bob tidak henti-hentinya bertanya lagi.
“Kamu kepo sekali sihhh…kalau mau lebih detail..ya udah, coba kamu alami sendiri aja, besok kamu boleh coba untuk melarikan diri dan cari tahu sendiri apa yang bisa kamu makan di tengah hutan sana. Huh!” kesal Candy.
Bob yang mendengarnya pun hanya bisa diam membisu saja.
“Tapi, seandainya kalau kita tidak mencoba lagi, kita akan terjebak dalam jangka waktu yang panjang di sini, lagian kita kan bisa bekerja sama untuk melarikan diri, itu lebih baik daripada cuma seorang saja yang melarikan diri, benar kan ?” Serlyne mengungkapkan idenya dengan penuh semangat.
“Betul juga, kita bisa bekerja sama, saya yakin kekuatan bersama akan lebih berhasil. Yang pastinya hanya kita bertiga saja kerjasamanya.” Bob berkata sambil menunjuk ke arah Vesty, Bob dan dirinya sendiri.
“Lebih baik kalian gak usah memikirkan soal melarikan diri lagi ?” Candy dengan tegasnya berkata.
“Kenapa ? karena kamu sudah mencobanya 2 kali, terus kamu merasa putus asa dan tidak mau mencoba lagi ? Apa salahnya mencoba lagi ? Iya, kan ?” Serlyne berkata sambil mengerutkan dahinya.
“Kecuali kalau kamu ingin membahayakan nyawa keluarga kamu.” Tiba-tiba Candy menjawab Serlyne dengan seriusnya.
“Apa maksudmu ?” Vesty bertanya kepada Candy.
“ Itu karena saya dah 2 kali mencoba untuk melarikan diri dan mereka tidak menyangka saya bisa bertahan selama setengah tahun di ruangan tersebut, oleh karena itu mereka langsung mengubah hukuman yang jauh lebih sadis, yaitu bagi siapa yang mencoba melarikan diri, maka keluarganya lah yang akan menanggung hukumannya.”
Semua yang mendengarkan penjelasan Candy langsung terdiam dan terlihat sangat syok.
“Apa hukumannya ?” Vesty bertanya kepada Candy.
“Hukuman mati, …maaf…gara-gara sayalah makanya hukuman tersebut diubah.”
Seketika itu, mereka bertiga hanya diam membisu dengan raut wajah mereka yang sedih. Mereka merasa sedih karena sedang memikirkan orangtua mereka yang jauh dari sisi mereka. Tak lama kemudian, terdengar suara dari kejauhan menyampaikan sesuatu kepada para tahanan.
“Sekarang kalian adalah “Para Tahanan”, jadi kalian harus siap siaga setiap saat untuk menerima pelatihan keras dari kami. Yang kuat akan bertahan, yang lemah harus menerima konsekuensi. Besok sebelum menjelang subuh, kalian semua sudah harus bangun dan bersiap-siap untuk ke suatu tempat pelatihan. Bagi yang telat, tentu saja akan ada hukuman yang setimpal untuk itu. Ingatlah! Janganlah sekali-kali menganggap remeh hukuman yang telah dtentukan oleh Sang Raja. Hari sudah malam, sekarang kalian boleh ke ruangan kalian masing-masing untuk beristirahat.”
Para tahanan yang mendengarnya pun langsung bubar dan kembali ke ruangan masing-masing untuk beristirahat.
**********
Tang.....tang....tang.......Terdengar suara pukulan ke tiang besi yang nyaring sampai-sampai membangunkan semua tahanan yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Suara apa itu, berisiiiik sekaliii .” Serlyne mengeluh sambil mengusapkan kedua matanya.
“Kalian sudah bangun? Bersiap-siaplah, ini adalah awal pelatihan kalian,” ujar Candy yang lebih awal bangun dari mereka semua.
“Bangun ! bangun ! tang....tang...tang....” Prajurit bertopeng berteriak sambil memukulkan tongkat besinya ke tiang besi.
Para prajurit bertopeng itu menarik paksa para tahanan dan menutupkan mata mereka dengan kain hitam dan membawa mereka masuk ke dalam kendaraan untuk pergi ke suatu tempat. Setelah sampai ke tempat tujuan, salah satu dari prajurit bertopeng melepaskan kain penutup mata mereka. Vesty dan Serlyne melihat tempat yang mereka tuju itu adalah sebuah hutan yang sangat luas. Tak lama kemudian, datanglah kendaraan lain yang juga menuju ke arah mereka. Kendaraan tersebut ditumpangi oleh para tahanan laki-laki termasuk dengan Bob.
“Senang rasanya bertemu dengan kalian lagi.” Bob berkata sambil siap siaga untuk memeluk mereka, namun Serlyne menghindari pelukannya.
“Apakah kalian sudah siap untuk menghadapi pelatihan tersebut ?” ujar Vesty.
“Iya, tentu saja dong ! Saya kan lelaki pemberani tak akan takut apapun.”
“Ampun deh, masih saja sempat bercanda.” sindir Serlyne kepada Bob.
“Tempat apa ini ? Kita disuruh olahraga ya di sana, di sana sama sekali gak ada apapun kok !” Bob berkata sambil menerawang sekitarnya.
“Diam dan majulah kalian !” Salah satu prajurit bertopeng berkata sambil mendorong mereka ke tempat tersebut.
Tiba- tiba saja terdengar suara yang menyapa mereka.
“Apa ? apaan? lari ? maksudnya ? si Bob dan Serlyne menggerutu sambil dibawa paksa ke area pelatihan tersebut oleh prajurit bertopeng.
Mereka berempat dengan para tahanan lainnya dibariskan ke belakang garis merah yang disebutkan tadi.
“Bagaimana ini ? apa yang akan terjadi dengan kita ?” Serlyne dengan paniknya berkata.
“Kita harus tetap tenang dan fokus.” Vesty berkata sambil memandangi sekitarnya dan waspada .
Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh bagaikan suara langkah kaki banyak yang berlari menuju ke arah mereka. Bum...bum....bum.....
“Lariiiiiiii.....” Bob langsung melangkahkan kakinya secepat mungkin, Serlyne yang bingung dan ketakutan juga ikut lari mengekor mengikuti Bob, begitu pula dengan para tahanan lainnya juga ikut-ikutan lari.
“Heiii….Bentarrr, itu bukan suara terompet,” teriak Vesty bermaksud untuk menghentikan mereka agar mereka berhenti berlari, tapi itu hanya sia-sia saja karena mereka terus berlari bagaikan rem mobil yang sudah rusak.
Candy memperhatikan Vesty tidak berlari, sehingga dia pun juga tidak ikut berlari.
Bob berlari dan menoleh ke belakang sesaat, ternyata itu adalah suara langkah kaki para badak dewasa yang berlari mengejar mereka.
“Aahhhhhhhhh! Badakkkkkkk! Matilah kita, matilah kita !” teriak Bob sambil menambah kecepatan larinya yang awalnya seperti anjing diupgrade kecepatannya menjadi seekor cheetah.
“Mamaaaaaaa, tolong akuuuu !” Serlyne berlari sambil berlinang air mata.
Dari kejauhan mereka terus berteriak “Badak, badak….”
“Hah? badak ? Saya tidak melihat apapun di sini.” Vesty berkata dalam hati dengan terheran-herannya.
Tak lama kemudian Vesty mendengar suara gemuruh lainnya, kali ini suara gemuruhnya lebih keras dan diikuti dengan suara gajah. Vesty dan Candy yang mendengarnya pun hanya berdiam memandangi sumber suara gemuruh tersebut, suara gemuruh tersebut terdengar makin lama makin dekat, seolah-olah gajah-gajah akan segera berlari menuju ke arah mereka. Sesaat itu juga, Vesty akhirnya mengerti bahwa suara gemuruh itu hanyalah halusinasi saja dan bagi siapa yang mendengarnya dan lari, maka mereka yang berlari tersebut akan secara otomatis hanyut ke dalam halusinasi tersebut. Tak lama kemudian, Vesty melihat kedua temannya berlari melewatinya dan terus diulang berulang-ulang kali, bagaikan mereka hanya berputar lari di daerah yang sama. Dan anehnya bagaimanapun Vesty berteriak memanggil mereka berdua agar berhenti berlari, mereka sama sekali tidak menghiraukan maupun memandangi Vesty selirikpun. Di saat itu juga Vesty menyadari bahwa mereka sama sekali bukannya tidak menghiraukan dia, melainkan itu dikarenakan mereka sama sekali tidak dapat melihat Vesty yang ternyata berada di dekat mereka.
“Bagaimana ini ?” ujar Candy yang mulai panik.
“Oh iya, saya bisa mengakhiri pelatihan ini kalau saya menemukan kotak biru yang disebutkan tadi. Tapi caranya ?” Seketika itu Vesty baru teringat akan kata “ terompet .”
“Oh iya, terompet.” Vesty dan Candy dengan serempaknya berkata sambil saling memandang.
“Kita harus tunggu suara terompet muncul barulah kita berlari,” ujar Vesty dengan yakinnya.
Tiba-tiba saja suara yang dinanti-nanti oleh Vesty muncul juga, Pottt.....pott.....pott.
Setelah mendengarnya, Vesty dan Candy mulai berlari dan menoleh ke belakang, saat dia menoleh ke belakang, dia melihat ada seorang prajurit berbadan kuda ( manusia setengah kuda / disebut dengan Centaur ) sedang berlari ke arahnya sambil meniupkan terompet.
“Ha? O..o..rang berbadan kuda ?” ujar Vesty sambil berlari.
“Apa? Berbadan kuda ?” Candy dengan herannya berkata sambil berlari.
Prajurit Centaur tersebut lari mendahului Vesty. Seketika itu, Vesty mulai teringat kata-kata “ jangan ketinggalan !”
“Jangan ketinggalan? Oh, ikutin, maksudnya suruh kita ikutin dia !” Vesty berkata sambil berlari.
Karena tadi Vesty berlari sambil memikirkan sesuatu, dia kehilangan akan jejak prajurit berbadan kuda tersebut. Tak lama kemudian, dia pun kembali ke garis merah awal tadi.
“Ha? saya kembali lagi ke sini ?”
Tiba-tiba terdengar suara terompet lagi ...Pott...pott...pott....
“Baiklah, akan saya kejar dirimu !”
Sedangkan nasib kedua temannya sudah sangat memilukan sekali, mereka berdua berlari secara nonstop sambil muntah-muntah dan Bob pada akhirnya Serlyne juga berhasil naik ke atas pohon tersebut.
“Ayo, cepat Bob !” Bob mendesak Serlyne sambil menjulurkan tangannya agar dia bisa menariknya naik ke atas pohon dan akhirnya mereka berdua selamat dari serangan badak-badak tersebut.
Vesty terus berjuang untuk terus berlari mengejar prajurit Centaur tersebut, dia khawatir akan ketinggalan lagi dan harus mengulangnya lagi dari awal. Dalam benak Vesty terus saja menegaskan dirinya sendiri agar jangan sampai ketinggalan lagi, seketika itu juga kecepatan Vesty dalam berlari langsung meningkat pesat.
Dan akhirnya, Vesty berhasil melihat suatu benda berwarna biru yang berkilau tampak di depan matanya dan seketika itu prajurit Centaur yang tadinya berlari langsung berhenti dan berdiam di samping kotak biru tersebut. Pada saat itu juga Vesty memberanikan diri untuk membuka kotak biru tersebut. Saat dia membuka kotak tersebut, di dalamnya hanya ada satu helai bulu angsa putih. Vesty sambil ngos-ngosan memegang bulu angsa tersebut, dia terheran-heran dan bingung dengan bulu angsa tersebut.
“Apaan ini ? Bulu angsa ? Hei, kami disuruh lari seperti ini hanya untuk mendapatkan bulu angsa ini ?” Vesty dengan kesalnya mengoceh sambil ngos-ngosan.
Vesty menatap prajurit Centaur tersebut yang berdiri tepat di samping kotak biru, berharap dia akan memberitahukan sesuatu kepadanya, tetapi prajurit Centaur tersebut hanya diam saja tidak berkata apapun.
Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara jeritan.....AAAaaahhhhhh.....Ternyata itu adalah suara jeritan kedua temannya Bob dan Serlyne.
“Ha? mereka masih dikejar ? Berarti pelatihan ini masih belum selesai. Tunggu ! Harus menggunakan barang yang ada dalam kotak ini agar bisa menghentikan pelatihan ini, jadi saya harus menggunakan barang ini untuk menghentikan semua ini. Tapi bagaimana caranya ?” Vesty menganalisisnya dalam hati.
Seketika itu juga Vesty memandang ke arah prajurit Centaur tersebut, setelah itu barulah dia teringat kembali kata-kata penting yang merupakan kunci dari penggunaan barang tersebut.
“Ini ! Untukmu.” Vesty berkata dengan polosnya sambil menyerahkan bulu angsa yang dipegangnya kepada prajurit Centaur tersebut.
Prajurit Centaur itu pun menerimanya, dia hanya terdiam saja tanpa ngomong apapun.
“Yes ! Saya berhasil, dia sudah menerimanya, akhiri pelatihan ini !” Vesty dengan senangnya berkata dengan sekeras-kerasnya ke segala penjuru hutan.
“Aaaaaaahhhhhhhhh.......” suara teriakan para tahanan lainnya masih terdengar oleh Vesty.
“Oh, bukti ! dia bilang harus ada bukti, buktinya gimana dong ?”
“Kamu ngomonglah ! Bilang bahwa kamu sudah menerima bulu angsa ini, ayo!” Vesty berkata sambil terus memandangi prajurit Centaur tersebut dan prajurit tersebut tetap saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Jangan-jangan kamu hanya bisa mendengar gak bisa ngomong ?”
Prajurit berbadan kuda tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Vesty yang mendengarnya pun langsung putus asa. Vesty meminta kembali bulu angsa yang sedang dipegang oleh prajurit berkuda itu dan prajurit berkuda itu pun memberikannya kepada Vesty.
Vesty memegang bulu angsa tersebut dengan posisi tangannya menempel di pipinya dan satu tangannya lagi dilipat ke dadanya. Pada saat dia sedang memikirkan cara yang lain, bulu angsa yang dia pegang tak sengaja mengenai hidungnya.
“ Hachiuuuuu..”
Seketika itu juga dia langsung mendapatkan cara yang bisa membuktikan bahwa prajurit berkuda itu telah menerima bulu angsa tersebut. Sedangkan Candy yang terpisah dengan Vesty juga langsung mendapatkan cara setelah mendengar suara bersin Vesty yang menggelegar tersebut.
“Bisakah kamu menundukkan kepala kamu mendekati saya ? Ada hal yang mau saya bisikkan kepada kamu,” ujar Vesty
Sang prajurit Centaur tersebut pun menuruti permintaannya dan menundukkan kepalanya. Pada saat Vesty ingin mendekatkan bulu angsa tersebut ke hidung prajurit berkuda tersebut, tiba-tiba saja.....
Hachiuuuuuuuuuu.....( suara bersin dari arah tempat Candy menggema seketika ) setelah itu suara bersin dari tempat Vesty pun juga ikut menyusul haachiuuuuuu....Suara bersin prajurit tersebut sangatlah nyaring hingga menyebar ke segala penjuru hutan. Tak lama kemudian, terdengar suara dari kejauhan.... “Pelatihan pertama sudah berakhir !”
Ternyata Candy lebih cepat menghempaskan bulu angsa tersebut ke lubang hidung prajurit Centaur tersebut. Vesty dan Candy pun merasa lega meskipun seluruh muka mereka berdua penuh dengan ingus karena percikan cairan bersin dari prajurit Centaur tersebut.
Sementara kondisi Bob, Serlyne dan lainnya tidak baik, mereka langsung pingsan di tempat dan mereka pun langsung digiring oleh para prajurit bertopeng ke dalam kendaraan untuk balik ke markas mereka masing-masing.
***** Bersambung ****